
" Aku tidak tahu bujuk rayu semacam apa atau kebaikan apa yang sudah anda lakukan sehingga Dila menerima lamaran anda, disini saya hanya berusaha untuk menerima keputusan Dila, saya rasa Dila lebih tahu mana yang baik untuk hidupnya, karena itu Dila lebih memilih anda".
Nino memang sakit hati, tapi akal sehatnya masih bisa berpikir dengan jernih, apalagi suami Dila sengaja datang ke tempat kerjanya hanya untuk meminta maaf untuk apa yang telah terjadi. Sungguh kejadian yang sangat langka seorang suami meminta maaf kepada mantan sang istri.
Mungkin karena itulah Dila lebih memilihnya, karena pribadinya yang lebih baik dari siapapun.
" Kopinya sudah dingin silahkan diminum", Nino sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
Indra pun meminum kopi itu hingga habis setengah gelas. " Saya rasa hanya itu yang ingin saya sampaikan, untuk selanjutnya saya anggap tidak pernah ada masalah diantara kita, karena seperti yang anda katakan barusan, kalau keputusan mutlak di tangan Dila, saya berusaha, anda juga sudah berusaha, Yang Maha Kuasa lah yang mengatur dan menuntun hati Dila untuk memilih. Dan saya harap tidak akan ada masalah di kemudian hari".
" Kalau begitu saya permisi pamit, terimakasih banyak, dan maaf telah mengganggu waktu kerja anda", bahasa yang Indra dan Nino gunakan berubah menjadi begitu formal, tidak seperti awal percakapan tadi yang agak santai.
Indra berdiri dan keluar dari ruangan Nino. Saat menutup pintu ruangan Indra bertemu dengan petugas yang tadi dimintai tolong mengurus surat pengantar kepindahan untuk Dila.
" Surat pengantarnya sudah jadi, biar saya minta tanda tangan pada Pak kades terlebih dahulu sebentar, Bapak bisa duduk sebentar untuk menunggu".
Sebenarnya sudah sejak tadi surat pengantar itu selesai di cetak, karena sudah ada file blankonya di dalam komputer, namun mengetahui jika suami Dila dan pak kades sedang berbicara empat mata dan serius, sang petugas tidak berani mengetuk pintu dan memilih menunggu hingga percakapan kedua laki-laki itu selesai.
" Ini Pak surat pengantarnya, semoga perjalanan ke Jakarta diberi kelancaran", ujar pegawai desa itu sambil menyerahkan kertas pada Indra.
" Terimakasih banyak, saya permisi", Indra mengulurkan tangan dengan menggenggam amplop untuk diberikan kepada petugas itu. Dan berlalu menuju ke dalam mobil.
Disimpannya kertas pengantar tadi di dalam dashboard mobil. Indra merasa sedikit kesal dengan seringai Nino saat dirinya mengatakan bahwa awalnya Dila sempat menolak lamaran darinya. Seolah Nino menertawakannya, untung saja Indra masih bisa menahan amarahnya dan tidak terpancing emosi.
Indra langsung melajukan mobil menuju rumah mertuanya, sambil mengatur emosinya agar tidak terbawa sampai di rumah. " Jadi masa lalu saja bangga, lihat... aku lah yang memilikinya sekarang, akulah pemenang hatinya, jadi akulah yang paling Dila cintai", ucap Indra bermonolog dalam mobilnya.
Sesampainya Indra di rumah, dia mendapati Dila tengah menata barang-barang yang hendak dibawa ke Jakarta.
Kamarnya juga sudah rapi, kado-kado yang menumpuk semalam sudah tidak ada, Dila sudah membuka semua kadonya dibantu oleh El dan Dita. Terlihat di ruang tengah begitu banyak kertas kado masih bercecer.
Namun Dila tidak berniat membawa semua barang-barang itu ke Jakarta, akan menambah banyak barang bawaan jika barang-barang pemberian itu dibawa. Semua sengaja di tinggal di rumah orang tuanya.
Malam pun tiba, usai makan malam dan sholat Isa bersama, Dila dan Indra berpamitan untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
" Dadah Tante Dita.... sampai ketemu di Jakarta!", teriakan El membuat lambaian tangan Dita semakin tinggi karena mobil yang ditumpangi El, Indra dan Dila semakin jauh meninggalkan rumah, dan lama kelamaan ditelan kegelapan malam. Ya... mereka mengundurkan keberangkatan dari sore menjadi malam, karena begitu banyak yang harus di urus terlebih dahulu.
Air mata Siti dan Toto belum sepenuhnya kering setelah tadi sama-sama menangis saat berpelukan dengan Dila. Mungkin akan butuh waktu sangat lama hingga mereka bertemu lagi. Seperti itulah seorang anak, saat kecil di besarkan, disekolahkan dan dibiayai hidup. Setelah besar dibawa pergi oleh pasangannya, meski Siti dan Toto bersedih, namun mereka berdua juga bahagia karena Dila menemukan jodoh laki-laki yang baik, dari keluarga baik-baik dan sangat menyayangi Dila.
Indra menitipkan amplop putih besar pada Dita untuk diberikan pada Toto setelah dirinya pergi nanti. Dan Dita menyerahkan amplop putih yang dititipkan kakak iparnya pada sang bapak setelah mereka pergi.
" Ini titipan dari Mas Indra Pak".
Toto melihat amplop putih yang cukup tebal itu dan membukanya saat sudah masuk kedalam rumah.
Isinya adalah segepok uang, sertifikat tanah, dan sertifikat sawah yang ternyata diam-diam Indra beli pada salah satu tetangga Toto yang beberapa hari lalu sedang butuh banyak uang dan menawarkan sawah dan tanah pekarangan pada Indra waktu Indra baru saja sampai dari Jakarta.
Toto juga membuka sepucuk surat yang diselipkan di dalam amplop itu, disurat itu tertulis jika sawah dan lahan itu sekarang menjadi milik pak Toto sepenuhnya. Indra juga meminta maaf karena tidak berani memberikannya secara langsung kepada ayah mertuanya itu.
Air mata yang belum kering di pipi kembali meleleh keluar saat Toto membaca surat itu.
Dita dan Siti hanya saling bertatapan penuh tanya, dan baru tahu apa yang membuat ayahnya menangis setelah mereka bergantian membaca surat dari Indra.
_
_
" Ayah dan Ibu sepertinya sebentar lagi sudah sampai di Jakarta", Rizal dan Fatma berangkat tadi pagi, di jemput oleh supirnya, sehingga Di mobil Indra saat ini hanya berempat, bersama dengan Ari.
Perjalanan yang lumayan jauh dan lama, membuat Dila ikut memejamkan mata di samping El untuk tidur, karena sejak kemarin dirinya memang kurang istirahat karena acara di rumah orang tuanya yang begitu padat.
6 jam perjalanan non stop, membawa Indra beserta keluarga kembali ke rumahnya. Bi Darsih dan Bi Ana menyambut mereka dengan wajah bahagia.
Mereka sampai di Jakarta jam 2 dini hari, El sudah sempat bangun saat masih di jalan tadi, dan kini kembali sudah tertidur lagi.
Dila dan Indra merebahkan El di kamarnya, sedangkan mereka masuk ke kamar mereka sendiri untuk beristirahat.
" Makasih ya Mas, untuk semuanya".
__ADS_1
Dila sempat melihat Indra menyerahkan amplop putih pada Dita tadi, pasti sesuatu diberikan pada keluarganya di kampung secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, dan Dila tidak mempermasalahkan hal itu. Selama itu membuat kedua orang tuanya bahagia.
" Untuk apa kamu bilang makasih?", Indra merebahkan diri di samping Dila. " Aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan sebagai suamimu".
" Tentu saja untuk semuanya, karena kamu sudah menuruti keinginan ibuku untuk mengadakan resepsi pernikahan di kampung, meski aku tahu kamu sebenarnya sangat sibuk, belum lagi kamu berhasil membawa ayah dan ibu ke kampung, mereka pasti kesulitan tidur beberapa malam ini karena kamar di rumah bibiku sempit dan panas".
Dila hanya menduga saja, karena kedua mertuanya adalah orang yang sudah kaya sejak dahulu kala, mungkin beliau berdua belum pernah tidur di kamar sempit dan panas seperti di kampungnya, tapi baik ayah ataupun ibu mertuanya tidak ada yang protes ataupun merasa keberatan dan tetap terlihat bahagia meski dalam hatinya entah seperti apa.
Yang jelas malam ini pasti mereka bisa tidur nyenyak karena kembali ke kamar mereka yang nyaman.
Namun yang di perkirakan Dila ternyata salah besar, karena justru Rizal dan Fatma sedang tidak bisa tidur malam ini, karena tadi siang mereka terus tidur di dalam mobil saat di perjalanan menuju Jakarta. Alhasil malam ini mereka berdua hanya tiduran sambil mengobrol membahas orang-orang kampung yang ternyata mulutnya cukup nyinyir juga, baik bapak-bapak maupun ibu-ibunya. Rizal dan Fatma sependapat tentang hal itu.
" Masa datang ke resepsi orang malah membicarakan si pengantin yang jelas-jelas ada di depan mereka, untung saja putra kita bisa menahan diri dan tidak marah-marah di panggung ya Yah...", Fatma memang sempat mendengar gunjingan para tamu yang hadir saat di resepsi kemarin.
" Lagian mana kita tahu kalau Dila akan jadi mantu kita, semua kesalahan berawal dari Indra putra kita, tapi ibu juga nggak benar-benar menyalahkan Indra sih Yah, ibu suka dengan Dila, bahkan Dila sudah seperti pengganti Indri, yang bisa nemenin mama belanja, bisa asyik diajak ngobrol, dan yang paling penting Dila begitu tulus menyayangi El, nggak kaya ibu kandungnya El yang minggat entah kemana".
Mood Fatma yang dari tadi baik-baik saja berubah rusak gara-gara mengingat mantan menantunya yang minggat dan tak pernah ada kabar, seperti lenyap di telan bumi.
" Sudah jangan bahas dia lagi kalau hanya merusak mood kamu, sebaiknya sekarang kita tidur, sudah sangat larut, besok ayah harus ke kantor, dan ibu juga harus kerumah Indra, mengecek apa mereka sudah sampai rumah apa belum". Rizal mengajak istrinya untuk tidur.
Pagi harinya Fatma benar-benar datang ke rumah Indra, dan menjumpai El sudah selesai sarapan bersama yang lain.
" Apa ibu mau sarapan juga?", ajak Dila sambil menyalami sang ibu sungkem.
" Ibu sudah sarapan dirumah tadi sekalian nemenin ayah. Ibu sengaja datang kesini mau ngajak kamu sama El ke salon, mau pijat sekaligus perawatan, kita sudah lama banget kan nggak nyalon bareng, kamu pasti butuh memanjakan tubuh setelah beberapa hari sibuk dengan acara resepsi di kampung".
Dila menatap Indra, dan Indra memberi isyarat dengan mengangguk, " Baiklah Bu, Dila siap-siap dulu, sekalian mau nganter Mas Indra dulu ke depan".
Indra memang sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, dan sudah menjadi kebiasaan baru Dila mengantar Indra sampai mobil yang membawanya pergi.
" Sekarang kamu siap-siap, El biar ibu yang bantu untuk bersiap".
Dila mengangguk setuju, dan langsung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya.
__ADS_1