
" Kenapa kamu malah buru-buru turun dari atas, kayak orang ketakutan begitu, apa aku terlihat menakutkan saat di atas tadi?, aku kan cuma tanya, apa kamu merasa kesepian?, kok kamu malah kabur ", Evan langsung ikut turun dan berhasil mengejar Dila hingga di depan kamar mereka. Namun Dila langsung masuk kamar dan menutup pintu kamarnya.
Asri baru saja keluar dari kamar mandi, masih membawa baju kotor dan perlengkapan mandi di tangannya, justru menjawab pertanyaan Evan.
" Dila jelas takut karena kamu tanya sama dia kalimat yang mencurigakan".
" Apa kamu kesepian Dila, kamu mau aku temani malam ini?, kalau kamu mau, dengan senang hati aku mau nemenin kamu", Asri merubah suaranya sehingga terdengar seperti suara laki-laki, seolah-olah memperagakan jika Evan yang sedang bertanya pada Dila.
" Memangnya apa yang salah dengan kalimat itu?".
" Kun, coba kamu jelasin deh sama aku, memang di bagian mana yang salah kalau aku nanya ke Dila apa dia merasa kesepian".
Evan menceritakan kejadian saat di atas gedung pada Kunto.
" Tadi kan pas di atas lagi jemur baju, aku lihat Dila ngelamun, makanya aku tanya apakah dia merasa kesepian, eh malah Dila kabur, langsung turun dan lari kaya orang liat setan".
Evan sengaja mengeraskan suaranya agar Dila juga bisa mendengar meski Dila berada di dalam kamarnya.
Kunto yang lagi duduk di kamarnya sambil bermain game online akhirnya berhenti, mematikan ponselnya dan keluar kamar.
" Nggak ada yang salah sih kalimatnya, tapi mungkin Dila ilfil sama kamu yang sok perhatian", jawab Kunto yang memang tidak tahu menahu alasan Dila kabur.
" Bukan begitu juga kali".
" Alesan Dila kabur itu karena Dila tadi di ceritain sama kakak angkatan aku yang berangkat bareng sama kita kemarin, sebenarnya sih memang bagus ngasih nasehat supaya kita sebagai cewek berhati-hati dan menjaga diri saat hidup di perantauan, apalagi di kota besar yang pergaulannya sudah semakin bebas".
Akhirnya Asri yang menjelaskan tentang keadaan Dila, karena Dila langsung masuk ke kamar begitu turun dari atap gedung tadi. Asri meletakkan baju kotor dan peralatan mandi di kamar, melihat Dila sedang mengetik di ponselnya.
Asri keluar kamar lagi, dan kembali menutup pintu kamarnya, dengan perlahan Asri menceritakan tentang apa yang tadi mereka bahas saat diperjalanan pulang dari LPK.
" Dila masih terlalu polos, dia baru pernah pergi merantau dan hidup di kota besar".
" Sebenarnya sama saja sih dengan aku yang baru pernah tinggal di kota besar, hanya saja tempat tinggal ku dulu sudah agak ke kota-kota an, dibanding desa tempat tinggal Dila yang masih pelosok", ujar Asri.
" Siapa bilang pelosok?", Dila keluar dari kamar mendengar obrolan Asri dengan kedua pemuda yang menjadi tetangga kamarnya.
" Aku nggak kabur, atau takut sama kamu kok Van, cuman tadi tiba-tiba keinget kalau hari ini aku belum kasih kabar ke bapak dan ibu di desa", sangkal Dila, mana mungkin Dila mengaku kalau tadi dirinya merasa takut dengan ucapan Evan, pasti kedepannya akan menimbulkan kecanggungan diantara mereka.
" Apa menurut kalian keperawanan itu menjadi sesuatu yang sangat penting dalam hidup kalian?", setelah mendengar cerita Asri barusan, kali ini Kunto bertanya sambil menatap Dila lekat.
Dila membalas tatapan Kunto dengan menatap balik dengan tatapan yang tak kalah tajam.
" Coba bayangkan, apa rasa cinta kamu masih tetap sama, pada istri kamu yang kamu kira masih gadis, tapi saat malam pertama kalian, kamu mengetahui bahwa dirinya sudah tidak lagi perawan, dan keperawanan nya itu hilang bukan bersama dengan kamu?", bukannya menjawab, Dila justru balik bertanya.
Kunto dan Evan hanya bisa saling menatap dalam diam, merasa bingung harus menjawab apa tentang pertanyaan Dila yang belum pernah terlintas dalam pikiran mereka selama ini.
" Kalau aku sih nggak masalah dengan hal itu", Joko tiba-tiba keluar dari kamar, dan ikut gabung dengan obrolan para tetangga kamarnya.
__ADS_1
Asri yang baru pertama kali melihat Joko langsung menatap pemuda yang berkulit hitam manis itu dengan lekat.
" Menurutku, kalau kita sudah mencintai seseorang itu berarti kita harus menerima pasangan kita secara keseluruhan, bukan hanya kelebihannya saja, tapi semua kekurangannya juga harus kita terima".
" Lagian di jaman modern seperti saat ini, apa iya masih benar-benar ada gadis yang masih perawan?, kita semua tahu sendiri bagaimana pergaulan anak muda saat ini".
" Sebagai supir, aku yang paling sering berkeliling di jalanan, dan mengetahui bagaimana kehidupan di jalanan".
" Kontrakan di daerah sini masih tergolong kontrakan yang aman dibanding dengan kontrakan atau kos-kosan di daerah lain, karena kalau kalian mau tahu dan pengen lihat seperti apa pergaulan diluar sana, kalian pasti akan sangat kaget melihat sepasang pemuda-pemudi yang tinggal satu kontrakan tapi mereka belum menikah, padahal mereka bukan saudara dan bukan keluarga, tapi mereka tinggal dalam satu kontrakan yang sama, dalam kamar yang sama".
Joko menghembuskan nafas panjang, kemudian melanjutkan kalimatnya.
" Bahkan hal itu masih di bilang wajar, karena ada yang lebih parah dari itu, mau tahu apa?"
" Aku sering menjumpai ada karyawan dan karyawati entah itu dari pabrik/ PT yang sama atau pernah juga aku menjumpai pasangan yang menggunakan seragam dari pabrik/ PT yang berbeda sedang melakukan hubungan suami istri, di pinggiran jalan sepi terobosan menuju pabrik".
" Karena jam berangkat dan pulang kerjaku berbeda dari karyawan pabrik pada umumnya, kadang lebih awal, kadang usai semua pulang baru aku pulang, karena itulah aku sering menjumpai hal-hal tabu dan tak senonoh seperti itu".
" Aku tidak sedang mengarang cerita ya, yang aku bicarakan ini real, nyata, dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri".
Cerita Joko membuat Dila bergidik ngeri, jadi ternyata memang benar yang diceritakan Yani tadi, pergaulan di perantauan, apalagi di kota besar sudah sangat parah.
" Maaf, aku masuk dulu, sudah adzan maghrib, aku mau ke mushola", Dila memilih menyudahi percakapan yang membuatnya merinding itu. Sebenarnya Dila juga sangat malu karena harus mendengarkan cerita seperti itu dari mulut laki-laki yang baru dikenalnya.
Dila langsung berjalan dengan cepat keluar kontrakan melewati Asri dan ketiga pemuda tetangga kamarnya yang masih ngobrol di depan kamar mereka.
" Apa kamu juga masih menjaga keperawanan mu seperti Dila, As?", Evan kagum dengan Asri yang tidak malu-malu seperti Dila saat mendengarkan cerita Joko.
Jawaban Asri yang jujur membuat ketiga pemuda yang ngobrol dengannya tertawa geli, karena merasa yang di katakan Asri ada benarnya. Bahkan mereka bertiga juga tidak ada yang tertarik pada Asri sejak pertama kali melihatnya.
Berbeda dengan Dila, gadis yang sebenarnya bentuk badannya juga tidak terlalu seksi, tidak jauh dari bentuk badan Asri, tapi Dila gadis yang cantik dan menarik. Ketiga pemuda itu ingin dekat dengannya, hanya sekedar ingin dekat dan menjadi teman, atau mungkin menginginkan kedekatan yang lebih.
" Sori, aku juga mau ke mushola dulu ya, bentar lagi iqomah, ada yang mau bareng nggak?", Evan mengambil sarung dari dalam kamarnya.
" Aku lagi libur ya, nggak sholat", jawab Asri sambil masuk ke dalam kamar.
" Aku ikut deh, dari pada sholat dikamar sendirian", Kunto sedikit berlari mengejar Evan. Sedangkan Joko sholat di kamar, karena usai maghrib harus langsung berangkat ke pabrik, kembali menjalankan tugas menjadi supir bus antar-jemput karyawan.
Usai sholat maghrib, Evan sengaja duduk-duduk di beranda mushola, sambil menunggu Dila yang biasanya pulang belakang karena memilih rebahan dulu usai sholat.
" Kenapa malah duduk-duduk di situ Van?", Kunto heran karena tidak biasanya Evan begitu.
" Kamu duluan saja Kun, aku mau duduk-duduk di sini sebentar", jawab Evan, tidak mengatakan jika dirinya sedang menunggu Dila keluar.
" Oh, ya sudah aku balik dulu", Kunto berjalan pulang menuju ke kontrakan, dijalan Kunto bertemu Dila yang juga sedang berjalan menuju kontrakan sambil mengobrol dengan seorang nenek tua, dan juga dengan ibu pemilik kontrakan.
Kunto tersenyum melihat Dila yang cepat akrab dengan semua kalangan, bukan cuma anak muda, bahkan dengan orang tua pun Dila nyambung saat ngobrol.
__ADS_1
Sampai di depan kontrakan Dila berjalan sendirian, karena pemilik kontrakan sudah masuk kedalam rumahnya.
" Wah, ternyata kamu cukup akrab juga dengan pemilik kontrakan, jangan bilang kamu lagi deketin ibu pemilik kontrakan, biar bisa dapat diskon khusus", Kunto sengaja menggoda Dila, berusaha mencairkan suasana, karena merasa sikap Dila tadi seperti menghindari yang lain.
" Ngaco kamu, aku lagi buru-buru pulang tadi, karena kebelet, tapi lihat nenek-nenek tadi jalannya pelan dan susah banget kaya nggak seimbang gitu, makanya aku bantu".
" Eh nggak tahunya ibu pemilik kontrakan kenal, katanya nenek-nenek itu bibinya, ya sudah jadi jalan barengan".
" Aku duluan ya, mau ke kamar mandi".
Dila menaruh mukenanya ke kamar dan langsung menuju kamar mandi. Kamarnya kosong, mungkin Asri pergi ke kamar Fitri dan Yani lagi, itu anak hobi banget ngerumpi.
Kunto menunggu Evan sambil duduk-duduk di depan kamarnya, " si Evan lagi ngapain si, duduk-duduk di beranda mushola nggak jelas begitu, apa mungkin ada yang sedang ditunggunya?", gumam Kunto, berbicara sendiri.
Dila sudah selesai buang air kecil, lalu berjalan kembali ke kamar.
" Dil, kamu tahu nggak si Evan lagi deketin cewek mana?, tadi aku ajak balik bareng, tapi dia malah duduk di beranda mushola, terus nyuruh aku balik ke kontrakan duluan, kayaknya Evan lagi PDKT sama cewek deh".
Dila menggelengkan kepalanya, " aku nggak tahu, lagian Evan kan lebih akrab sama kamu, kamu yang sekamar sama dia, harusnya kamu yang tahu siapa cewek yang lagi di deketin sama si Evan".
" Mas Kun, kalau boleh tahu, kamu beli lotion anti nyamuk nya dimana sih?, aku juga pengen beli, biar nggak di gerumuti nyamuk kayak kemarin".
" Kayaknya lotion anti nyamuk yang merek itu cocok deh dipakai sama aku, nggak lengket, nggak panas dan nyamuk nggak lagi mendekat".
" Aku beli di minimarket seberang jalan kok, kamu mau beli sekarang?, sudah malam, di pekarangan kosong kalau malam begini gelap. Belinya besok saja, malam ini pakai lotion punya aku lagi dulu, nggak papa masih banyak ini".
Kunto berdiri dan hendak mengambil lotion miliknya, tapi Dila menolak, merasa tidak enak terus-menerus nebeng.
" Aku mau beli sendiri saja, Mas Kun temenin ke minimarket ya, sekalian aku mau beli makan malam ke warung".
Kunto mengangguk, " bener juga, aku juga belum makan malam, ya sudah aku ambil dompet dulu", Kunto mengambil dompet dan keluar bersama Dila menuju minimarket.
" Teman kamu nggak diajak makan malam sekalian?".
Dila menggeleng, " kan semalam aku sudah bilang, kalau Asri nggak pernah makan malam".
" Owh, pantes...", ucap Kunto sambil menyalakan lampu di ponselnya untuk menerangi jalan yang mulai gelap, karena mereka sudah sampai di pekarangan kosong.
" Pantes apa?", tanya Dila penasaran.
" Pantes tubuhnya rata, kayak triplek, soalnya kurang gizi", ucap Kunto sambil terkekeh.
" Aw.... sakit Dil, jadi ngilu nih ", Kunto menjerit, karena Dila mencubit lengannya.
" Makanya jangan menertawakan fisik seseorang, nggak sopan tahu!", ucap Dila ketus.
" Iya-iya, tadi cuma becanda, lagian nggak ada anaknya di sini, jadi nggak ada yang sakit hati kan, cuma becanda Dil, kamu serius banget sih".
__ADS_1
Kunto menggenggam tangan Dila, membuat Dila kaget, " kenapa?, kamu lagi nggak fokus, kita sudah mau nyeberang jalan, jadi aku pegangin biar kamu nggak ketabrak".
Ternyata mereka sudah sampai di jalan raya, dan kendaraan sedang ramai-ramainya. Kunto hendak menyeberang jalan, sehingga menggenggam lengan Dila, Dila hampir saja salah sangka.