Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 57


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari bandara sampai ke kantor Indra terus tersenyum sumringah, bahkan hampir semua pekerjaan yang menumpuk sejak kemarin bisa diselesaikan dengan cepat.


Indra begitu bersemangat bekerja, dan menantikan akhir pekan dimana dirinya akan bertemu lagi dengan Dila di Jogja.


Dila sudah sembuh dari traumanya, pencarian sekaligus penantiannya selama 2 tahun ini ternyata tidak sia-sia, Dila sembuh dari trauma akibat kesalahannya di masa lalu. Indra semakin bersemangat untuk mengajak El dan ibunya bertemu dengan Dila.


Sejak kepergian Dila, dan kepulangan sang ibu dari Malaysia dua tahun lalu, Indra terus saja di salahkan oleh sang ibu. Padahal Indra lah yang putranya, namun sang ibu justru membela Dila, dan akan menghukum Indra jika sampai tidak menemukan Dila.


Fatma mengatakan akan melakukan hal yang sama jika melihat Rizal suaminya, tidur di hotel sambil bertelanjang dengan perempuan lain.


Sebagai sesama perempuan Fatma bisa maklumi kenapa Dila sampai minggat, bahkan sampai meminta untuk bercerai, apalagi selama ini Fatma tahu, jika Tania itu memang selalu berusaha menghancurkan rumah tangga putranya, baik yang pernikahan pertama, maupun yang kedua. Tetap sama, karena Tania menginginkan Indra menjadi suaminya.


Saat mengetahui isi surat Dila untuk Indra, Fatma langsung tidak setuju jika Indra menceraikan Dila, karena Fatma sudah sangat menyayangi Dila seperti putrinya sendiri.


Padahal Indra juga sama sekali tidak berniat untuk menceraikan Dila, Indra benar-benar sudah jatuh cinta pada Dila yang kasih sayangnya sudah seperti ibu kandung El. Meski Dila hanya ibu sambung.


Hari demi hari terasa berjalan sangat lambat, setiap hari Indra selesai bekerja lebih awal, tapi hari seolah tak kunjung berganti, hingga kesabaran Indra hampir habis.


Akhirnya Jum'at jam 2 siang, Indra memutuskan untuk pulang kerumah, menjemput El dan ibunya dan langsung meminta Ari mengantarkannya ke bandara.


El begitu bersorak kegirangan saat mengetahui jika dirinya hendak bertemu dengan Bu Dila.


Pukul setengah empat, Indra bersama ibu dan putranya sudah sampai di bandara Adisucipto. Indra mengabari Dila jika El dan ibunya ikut bersamanya.


Namun Dila mengabari jika dirinya masih ada kuliah selama satu jam, sehingga Indra memilih mengajak El dan ibunya ke penginapan yang berada dekat dari ruko Dila.


" Kenapa ke penginapan Ndra?, nggak ke hotel saja?", tanya Fatma.


" Bu, kita cari tempat yang terdekat dengan ruko yang ditempati Dila, biar pas Dila pulang dari kampus, kita hanya perlu jalan kaki ke sana", ujar Indra yang berfikir agar lebih efisien waktu dan tenaga.


" Oh...begitu, benar juga sih, kalau begitu di sebelah mana ruko tempat Dila tinggal?, kenapa kita tidak menginap di rukonya Dila saja?, tapi pasti nggak diperbolehkan sama Dila, dia masih sangat marah sama kamu", ucap Fatma bermonolog.


" Nggak begitu Bu, Dila sudah maafin aku, tapi di rukonya hanya ada satu kamar saja, jadi kita nggak bisa nginep disana semua", terang Indra.


Fatma jadi mengernyitkan keningnya, " kok kamu bisa tahu, kalau ruko yang ditempati Dila cuma ada satu kamar?".


" Jangan bilang kamu sudah pernah bertemu dengan Dila sebelum ini?, kenapa kamu nggak ngajak ibu sih Ndra?, ibu kan juga kangen sama Dila".

__ADS_1


Indra hanya bisa menghembuskan nafas panjang, " Aku kan harus minta maaf dan menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya dulu sama Dila Bu...., kalau kita semua langsung kesini dan Dila nggak mau ketemu sama kita, kan kasihan El nya, kemarin saja aku kayak tom and jeri, main kejar-kejaran sama Dila, pas Dila lihat wajah aku, dia langsung lari menghindar".


Fatma nampak berpikir, benar juga yang dikatakan putranya itu, mungkin jika Dila tiba-tiba melihat mereka semua di tempat persembunyiannya selama ini, Dila akan kabur lagi. Untung putranya berpikir cepat, setelah menjelaskan dan minta maaf, setidaknya kedatangan mereka di Jogja akan diterima Dila dengan tangan terbuka.


Fatma menatap cucunya yang tengah tidur di kamar penginapan yang sudah mereka sewa. Meski tidak seluas kamarnya sendiri, tapi kamar yang disewa tidak sempit-sempit amat, sudah lengkap fasilitasnya, ada kamar mandi, televisi, AC dan juga dapur kecil di dalamnya. Seperti sebuah apartemen kecil.


" Cuma ada satu tempat tidur, apa kamu sewa dua kamar?", tanya Fatma.


Indra mengangguk, " kamarku ada disebelah, tapi aku harap malam ini diperbolehkan Dila tidur di rukonya", jawab Indra asal bicara, membuat Fatma menepuk bahunya.


" Sabar nak... kamu bicara pelan-pelan, dia masih istrimu, pasti Dila bisa berbagi tempat tidur denganmu".


Indra tersenyum mendengar ucapan ibunya tadi, karena ibunya belum tahu kalau dirinya sudah berhasil menjebol gawang pertahanan Dila yang selama ini begitu sulit untuk ditaklukkan.


~ Aku sudah selesai kuliahnya Mas, kalian nyewa kamar dipenginapan mana?, biar aku mampir ke tempat penginapan kalian, aku sudah kangen banget sama El~


Setelah membaca pesan dari Dila, justru Indra langsung menelepon Dila. Ya.... Indra berhasil mendapat nomer Dila saat Dila sedang sibuk pagi itu, Indra sengaja meminta nomer Dila pada karyawan Dila yang bekerja di toko.


Saat sampai di Jakarta Indra langsung mengabari Dila jika dirinya sudah sampai, bahkan saat itu Dila kaget, karena ada nomor baru mengirim pesan dengan panggilan 'sayang', dan ternyata itu adalah nomor Indra, suaminya.


Indra memberi tahu nama penginapan dan nomer kamarnya pada Dila. Hanya lima menit setelah telepon di tutup, Dila sudah sampai di penginapan itu.


Fatma yang membukakan pintu kamar langsung memeluk Dila didepan pintu. Sampai Dila sedikit terdorong kebelakang karena pelukan ibu mertuanya yang mengagetkan.


Setelah beberapa menit, baru Fatma melepas pelukannya.


" Sayang... bagaimana kabar kamu?, ibu kangeeeen banget sama kamu, maafin ibu yang nggak bisa bantu kamu saat kamu bersedih karena tingkah putra ibu", air mata Fatma langsung menetes tanpa aba-aba, begitu juga dengan Dila yang juga merindukan ibu mertua rasa ibu kandung itu.


Dila pun tak kuasa menahan air mata, antara senang dan juga sedih, senang karena bisa bertemu dengan ibu mertuanya, sedih karena ternyata sikap kekanakan nya dulu yang memilih minggat membuat orang-orang yang tulus menyayanginya jadi bersedih.


" Maafin Dila Bu, maaf karena nggak bisa menepati janji Dila pada ibu untuk menjaga El dengan baik, ucap Dila.


Kedua perempuan itu seperti seorang ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu, dan saat ini bertemu kembali dan saling meluapkan kerinduan nya.


" Bu Dila...!", tangis kedua perempuan itu ternyata membangunkan El yang sedang tidur siang.


Dila langsung menatap El yang masih mengucek matanya, El sudah semakin besar dan tinggi, El terlihat semakin tampan dan semakin mirip dengan ayahnya.

__ADS_1


" El sayang", Dila merentangkan tangannya saat El berlari dan mereka pun berpelukan.


El menangis layaknya anak kecil yang bahagia karena bertemu dengan ibunya lagi, setelah dua tahun lamanya tidak bertemu.


" Ibu Dila kemana saja si, El cari-cari ibu kemana-mana, tapi nggak ketemu-ketemu, El kangen sama ibu, El sudah jadi anak baik dan nurut, El juga sudah belajar dengan rajin, sekarang El sudah bisa baca dan berhitung, semua El lakukan biar ibu Dila nggak pergi-pergi lagi", ucap El dengan polosnya.


Dila merasa sangat terharu dengan ucapan El,


" wah...ternyata putra ibu sudah besar, nggak cadel lagi, sudah bisa ngomong 'R' dengan jelas, ibu jadi makin sayang sama El", Dila memeluk El dengan eratnya.


Indra begitu bahagia hingga terharu, melihat keluarga kecilnya bisa berkumpul lagi, Indra berharap tidak akan ada lagi yang memisahkan mereka.


Padahal perpisahan kemarin mutlak karena kesalahannya, Dila hanya korban, dan selalu menjadi korban, tapi Indra juga tidak mau disalahkan mentah-mentah karena dia sendiri tidak sadar dan tidak tahu menahu tentang kejadian di hotel bersama Tania.


El yang sudah menyimpan cerita begitu banyak langsung bercerita panjang lebar kepada Dila, hingga adzan maghrib Dila terus mendengarkan El yang terus bercerita tentang kisahnya.


" Sayang, Bu Dila harus pulang ke tokonya, disana ada dua orang yang bekerja, kalau El belum selesai bercerita El bisa lanjutkan besok lagi", Indra akhirnya memotong cerita El yang tiada habisnya.


" Bu Dila punya toko?, Bu Dila jualan apa?, El mau ikut bantu Bi Dila jualan yah...", rengek El meminta ikut ke toko Dila.


Indra memberi kode meminta persetujuan Dila, Dila pun mengangguk dan mereka berempat berjalan dari penginapan menuju ruko Dila.


" Jadi Dila jualan disini?, waaah ramai juga ternyata", ujar Fatma.


" Ayo masuk, biar Bu Dila buatkan yang spesial buat El", Dila meminta pada Indra untuk mengajak ibu dan El duduk di bangku yang kosong. " Saya siapin sebentar ya".


Indra duduk di samping El dan ibunya,


" Sebenarnya Dila sudah buka cabang di beberapa kota besar Bu, Dila bekerja sama dengan Bram", ucap Indra.


" Iya, ibu sudah tahu, kan ibu yang kasih lihat sama kamu foto Dila lagi jabat tangan sama Bram di halaman berita online. Tapi yang ibu heran, kenapa Bram nggak ngasih tahu kamu, kalau dia ketemu istri kamu disini, jangan bilang kalau saudaranya mantan istrimu itu suka sama istri kedua mu. Dia kan bujang tua, sudah 30 tahun lebih tapi belum nikah-nikah, hobi jajan di mana-mana, makanya ibu nggak suka kamu bergaul sama dia", ucap Fatma dengan nada ketus.


" Bu..., jangan menilai orang dari luarnya saja, Bram loh Bu... yang dulu melantarkan Dila menjadi baby sitter El pas di Jakarta".


Justru perkataan Indra barusan membuat begitu banyak pertanyaan muncul di kepala Fatma.


" Benarkah Bram yang melantarkan Dila dulu?, jadi apa mereka sudah lebih dulu saling mengenal, bahkan sebelum Dila menjadi pengasuh El?, lalu sedekat apa hubungan Dila dan Bram sebenarnya?", semua pertanyaan itu langsung muncul di pikiran Fatma, namun tidak Fatma ucapkan, karena berusaha menjaga hati Dila.

__ADS_1


__ADS_2