
Sepanjang perjalanan pulang dari Central market Bu Fatma tak mengatakan sepatah katapun, begitu juga dengan Dila yang takut sampai salah ngomong. Sedangkan El dan Indri jelas terlihat sama-sama bingung dan tengah menebak-nebak dalam hati mereka.
" Ibu mau ikut pulang ke Jakarta apa masih mau tinggal beberapa hari lagi disini?", tanya Dila memecah kesunyian. Dirinya duduk di samping El di bangku belakang, sedangkan Bu Fatma dan Indri di depan karena Indri membawa mobil sendiri.
" Ibu juga mau balik ke Jakarta hari ini, bareng sama kalian, karena seharusnya ayah cuma berencana liburan seminggu disini. Tapi karena tahu kamu dan El akan kesini, ayah jadi menambah tiga hari liburannya. Pekerjaan di kantornya pasti sudah menumpuk, kalian berdua yang digadang-gadang untuk melanjutkan pekerjaan ayah, justru kalian sibuk dengan pekerjaan masing-masing".
" Mungkin sebenarnya ayah sudah sangat ingin beristirahat, namun ayah juga tidak bisa lepas tangan dan membiarkan perusahaan berjalan tanpa kendalinya. Bagaimanapun ayah sudah membangun bisnis itu dari nol, karena itu ayah tidak ingin perusahaannya jatuh ke tangan orang lain, begitu juga dengan ibu, ibu ingin anak ibu yang melanjutkan usaha ayah".
Fatma menatap lurus kedepan sambil mengatakan isi hatinya.
" Bu, kan ada El, kalau mas Indra nggak bisa nerusin pekerjaan ayah, mungkin kelak El lah yang akan menjadi penerus ayah. Toh sama saja, El juga darah daging mas Indra juga".
Fatma tidak menanggapi ucapan Indri, karena El bukanlah darah daging Indra, El adalah anak orang lain yang tidak bertanggung jawab.
Mereka sampai di rumah, dan saat turun Dila langsung berlari karena mendengar suara Arsy yang sedang menangis. Dila langsung mencuci tangan dan muka karena habis bepergian, seperti itulah kebiasaan Dila jika pulang dari bepergian langsung membersihkannya diri, agar Arsy nyaman dan tidak tertular virus atau bakteri yang dibawa Dila dari luar.
" Aduh... putri ibu sayang.... maaf ibu perginya kelamaan ya?, pasti sudah pengen mimi ASI y?, ayo sekarang kita ke kamar dan Mimi ASI", Ujar Dila sambil mengambil Arsy dari gendongan Indra, dan membawanya ke kamar untuk di beri ASI.
" Indra mengikuti Dila masuk kedalam kamar, dan melihat El yang masuk ke rumah sambil membawa banyak barang belanjaan.
" Maaf Mas, aku nggak tahu kalau bakal lama begini belanja oleh-oleh nya", Dila begitu merasa bersalah karena putrinya terus menangis sejak tadi.
Dila langsung memberi Asi untuk Arsy di dalam kamar. Dan Arsy langsung terdiam dari tangisnya.
" Tadi sebenarnya sudah mau mas telepon, eh malah sudah sampai duluan, kebetulan. Mas keluar dulu, mau lihat El beli apa saja".
Dila mengangguk, " El belanja lumayan banyak, mungkin turunan dari orang tua kandungnya yang suka belanja, entah ibunya atau ayah kandungnya", batin Dila, sambil menatap Indra yang keluar dari kamar.
__ADS_1
Semenjak di mobil tadi Dila terus kepikiran tentang ucapan Bram di depan Central market tadi, menurut Dila emang benar yang dikatakan Bram, sebaiknya El tahu yang sebenarnya, namun sebagai ibu sambung, Dila sama sekali tidak berhak memberi tahu kebenaran tentang El. Ebih berhak Indra atau Bu Fatma yang sudah mengurus El sejak kecil.
Namun dipikir-pikir lagi, bagaimana sikap El nantinya jika mengetahui yang sebenarnya, pasti dia sedih, kecewa, mungkin juga sikapnya akan sedikit berubah kepada semua orang karena mengetahui dirinya bukanlah bagian dari keluarga ini.
Dila jelas dilema. Apalagi Indra tidak pernah lagi membahas masalah itu, bahkan dulu Indra tidak mau menemui ayah kandung El, sampai saat ini Indra masih tetap belum tahu siapa ayah El, semua demi perasaan sayangnya terhadap El.
Indra sangat takut akan jadi membenci El, jika sampai mengetahui siapa ayah kandung El yang sebenarnya.
Dila selesai memberi Asi untuk Arsy sampai Arsy tertidur, mungkin sejak tadi Arsy belum tidur sehingga saat diberi ASI Arsy langsung tidur dengan pulas. Dila keluar dan bergabung dengan yang lain setelah meletakkan Arsy di kasur.
" Mau berangkat jam berapa ke bandaranya Mas?", tanya Dila sambil duduk di samping Indra yang sedang melihat-lihat barang belanjaan El.
" Jam 2 kita ke bandara, masih ada waktu tiga jam lagi disini, buat packing ini barang-barang belanjaan El banyak banget", gumam Indra.
" Iya ayah... kan teman El banyak, jadi El belinya banyak buat dibagi sama teman-teman pas berangkat sekolah nanti", ucap El mencoba menjelaskan, jika barang-barang itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dibagi pada teman-temannya.
" Bagus, anak ayah suka berbagi, tapi kalau ayah boleh beri saran, berbagi itu lebih pas lagi kepada mereka yang lebih membutuhkan. Bukannya ayah tidak suka dengan yang El lakukan sekarang, hanya saja setahu ayah, teman sekelas El itu anak-anak dari keluarga mampu, jadi hal seperti ini sudah biasa mereka dapatkan".
Indra mencoba menjelaskan kepada El secara pelan-pelan. El mendengarkan dengan seksama, meski dirinya tidak terlalu paham dengan penjelasan ayahnya.
" Jadi apa El salah?", tanya El.
Indra menggeleng, " El tidak salah, hanya kurang pas saja, boleh kok ngasih oleh-oleh buat teman-teman El, sekali-kali", ujar Indra.
" Sekarang El bantu ibu buat packing semua barang ini kedalam koper. Sekalian sama semua baju ganti yang kita bawa kesini. Coba muat atau enggak, kalau nggak muat nanti bisa dititipkan ke koper nenek", Dila mengajak El ke kamar dan membawa barang belanjaannya untuk di packing ke dalam koper.
Memang El menghabiskan cukup banyak uang untuk beli oleh-oleh tadi, tapi Dila tidak mempermasalahkannya, karena uang El sendiri yang El pergunakan untuk berbelanja.
__ADS_1
Sejak masuk SD, El memang diberi jatah uang saku sebulan 500.000, Indra membebaskan El untuk berlatih mengatur sendiri pengeluaran nya selama sebulan, dan ternyata El termasuk jarang jajan makanan di luar sekolah, karena El suka dibawakan bekal oleh Dila. El justru sering menabung dari lebihan uang jajannya, namun sekalinya di ajak belanja, El langsung mempergunakan uang tabungannya itu tanpa sungkan.
" Bu, kenapa ibu tidak melarang El untuk belanja saat di Central market tadi?, kalau ibu menghentikan El kan ayah jadi nggak perlu menceramahi El begitu".
Dila menatap El dengan lekat.
" Apa sekarang El sedang menyalahkan ibu yang tidak melarang El untuk belanja tadi?", tanya Dila dengan nada pelan.
" Tidak Bu, bukan itu maksud El. Hanya saja El jadi merasa sudah melakukan tindakan yang salah setelah mendengar ucapan ayah tadi", ucap El lemas, sambil memasukkan barang belanjaannya ke dalam koper.
" Maafin ibu sayang, ibu juga nggak tahu ayah akan berkomentar seperti tadi, buat pembelajaran kita berdua ya sayang...", ucap Dila pelan.
" Ini barang-barang El nggak bisa masuk semuanya ke dalam koper Bu, gimana dong?", tanya El lagi.
" Coba tanya nenek kopernya masih ada sisa ruang apa enggak?, biar bisa dititipkan di koper nenek", ujar Dila memberi solusi.
El mengangguk dan menemui sang nenek yang sejak pulang langsung mengurung diri dikamar.
" Nenek kenapa?, capek ya habis belanja, jadi langsung istirahat?", tanya El yang masuk ke kamar Fatma setelah terlebih dahulu mengetuk pintu kamarnya.
Fatma bangun dan mengangguk, " Nenek capek, maklum sudah tua, jadi nggak sekuat dulu tenaganya", jawab Fatma berbohong, sebenarnya Fatma sedang kepikiran pertemuannya dengan Bram tadi, suaminya belum mengetahui tentang El yang sebenarnya, jika mengingat hal itu, Fatma jadi kembali merasa khawatir.
" El mau apa kesini?", tanya Fatma sambil duduk menghadap posisi El berada.
El juga duduk di tepian ranjang, di samping Fatma, " Apa koper nenek masih ada ruang kosong?, barang-barang El tidak muat di masukkan ke dalam koper El, bolehkah El ikut menitipkan di koper nenek?", tanya El tanpa basa-basi.
" Masih luas, nenek kan nggak bawa baju banyak kesini, sudah ada baju yang nenek tinggal disini dulu waktu Tante Indri lahiran, bawa sini saja barang-barang El, nanti nenek bantu packing", ucap Fatma.
__ADS_1
El langsung mengangguk sambil tersenyum sumringah. Dan kembali ke kamarnya untuk mengambil barang-barang yang belum masuk koper.
El dan Fatma saling bekerja sama mempacking barang-barang El ke dalam koper Fatma, sejak tadi entah kemana sang kakek, Fatma saja belum bertemu sejak pulang dari belanja oleh-oleh.