Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 70


__ADS_3

Dila kini disibukkan dengan pembuatan skripsi, masih sesekali mengikuti kelas jika ada pertemuan kelas yang biasanya di informasikan di grup.


Sepertinya rencana pulang kampung akan mundur lagi sampai lebaran, nggak mungkin Dila meninggalkan skripsi yang sedang di buatnya.


Bahkan waktu satu bulan saat Ramadhan Dila terus disibukkan dengan penyusunan skripsinya, sehabis saur Dila sudah berada didepan laptop, siang sampai sore Dila juga masih sibuk di depan laptop, hanya saat menjelang buka puasa Dila tidak menatap laptopnya, karena saat itu adalah family time, waktu buka dan tarawih bersama keluarga.


Lebaran kurang seminggu Dila menyerahkan skripsinya, tinggal menunggu jadwal sidang.


Dan puasa kali ini El mulai belajar untuk ikut makan saur, dan berpuasa hingga siang hari, setiap hari selalu ada peningkatan, hingga Dila merasa sangat bersyukur karena di usia El yang baru 5 tahun dia bisa berpuasa penuh selama sehari di minggu terakhir menjelang lebaran.


Lebaran +2 hari Dila bersama keluarga dari Jakarta, ada Indra, El, Pak Rizal, Bu Fatma dan Ari yang menjadi supir mereka pergi ke kampung tempat kelahiran Dila.


Rencana resepsi pernikahan Dila sudah di bahas beberapa hari sebelum lebaran, semua persiapan dilakukan oleh WO(wedding organizer) yang sudah di pilih Fatma.


Saat Dila sampai di kampung begitu ramai tetangga yang membicarakannya. Pergi merantau selama 4 tahun lebih tidak pernah pulang ke rumah setiap kali lebaran, dan baru pulang lebaran tahun ini dan membawa suami beserta keluarganya.


Lebih ramai lagi karena kedua orang tua Dila menolak lamaran dari banyak laki-laki di desa itu, termasuk dari orang nomer satu di desa itu. Pak kades baru yang masih muda.


Pesta diadakan di lapangan desa yang berada tidak jauh dari rumah Toto, karena halaman rumah Toto yang tidak terlalu luas sehingga WO meminta ijin pada kepala desa untuk mendirikan tenda pernikahan di lapangan desa. Tentu saja dengan biaya sewa yang cukup tinggi.


Sang kepala desa muda yang awalnya mempersulit ijin mendirikan tenda disana, alasannya karena bisa membuat lapangan rusak dan penuh sampah, namun alasan sebenarnya bukanlah karena hal itu, karena kepala Desa yang baru menjabat selama 3 bulan itu adalah salah satu teman dekat Dila di masa remaja.


Nino, sarjana muda yang mencalonkan diri sebagai calon Kepala Desa, dan berhasil mengalahkan 3 kandidat lainnya. Nino yang sudah pernah berjanji akan melamar Dila saat dirinya sudah sukses memang datang ke rumah Toto/ayah Dila dua bulan yang lalu. Persis sebulan setelah pengangkatannya menjadi kades baru.


Janjinya pada Dila dulu saat di Curug memang dipegang teguh oleh Nino. Nino sangat menyukai Dila, dia begitu konsisten kuliah dan berusaha menjadi orang sukses serta dihormati seperti janjinya pada Dila dulu.


Betapa terkejutnya Nino saat mengetahui dari kedua orang tua Dila jika ternyata Dila sudah menikah di Jakarta dan hendak mengadakan resepsi pernikahannya usai lebaran. Nino merasa Dila sudah mengingkari janjinya.

__ADS_1


Nino yang selama ini tidak bisa menghubungi Dila karena nomer Dila yang tidak bisa dihubungi masih berpikir positif jika dirinya adalah kandidat terkuat sebagai calon suami Dila nantinya. Nino tahu sebelum dirinya melamar, sudah ada beberapa laki-laki lain yang melamar Dila terlebih dahulu, namun semuanya di tolak, saat itu Nino berpikir Pak Toto dan Bu Siti menolak yang lain karena mengharapkan dirinyalah yang melamar Dila.


Namun kepercayaan dirinya seketika runtuh saat dirinya datang untuk melamar kepada kedua orang tua Dila, ternyata tanpa sepengetahuannya Dila sudah menikah di Jakarta, tanpa ada tetangga yang tahu, karena resepsi pernikahannya baru akan diadakan usai lebaran.


Sakit hati, kecewa, sedih, dan juga malu, semua bercampur menjadi satu saat Toto dan Siti menolak lamarannya, tidak pernah Nino bayangkan dirinya yang sudah menjadi seorang kades akan di tolak oleh orang tua gadis yang disukainya, gadis dari keluarga biasa saja, yang menggantungkan hidup dari hasil bertani dengan lahan tak seberapa. Sungguh miris...


Namun mau bagaimana lagi, nyatanya Dila sudah sah menjadi milik laki-laki lain, entah laki-laki baik dan seberuntung apa yang berhasil membuat Dila menjadi miliknya.


Banyak yang berfikir mungkin Dila menerima laki-laki itu karena berasal dari keluarga kaya raya, ada juga yang berspekulasi jika Dila menerima laki-laki itu karena kebaikan hatinya. Semua hanya mengira-ngira karena sudah terlalu banyak lamaran dari laki-laki baik, tampan, dan berpendidikan yang telah ditolak oleh Toto dan Siti.


Dila yang sedang menjadi bahan perbincangan hangat di desa sampai di rumahnya sehari sebelum acara resepsi diselenggarakan.


Sebelumnya sudah dibahas jika kedua orang tua Indra akan tinggal di rumah Asna, sepupu Dila, karena rumah Dila yang kecil dan hanya ada tiga kamar, bahkan satu kamar baru di bangun untuk Dila dan Indra, karena sebelumnya Dila tidur bersama Dita adiknya.


Awalnya Fatma hendak menginap di hotel, namun di desa kecil seperti kampung Dila tidak ada hotel atau penginapan. Terpaksa Fatma setuju untuk menumpang dirumah saudara besannya.


Resepsi akan diadakan esok hari di tenda yang berdiri di lapangan desa. Hari ini Dila pulang ke rumah dan teman-teman lamanya langsung mendatangi rumahnya karena ingin bertemu Dila yang sudah menghilang tanpa kabar selama 4 tahun.


Dila yang memang punya begitu banyak teman sampai bingung harus menjawab pertanyaan yang mana dulu.


Ada yang menanyakan kabar Dila, ada juga yang menanyakan dimana Dila bekerja selama ini, ada yang bertanya bagaimana bisa Dila hilang kontak dengan semua orang, ada juga yang menanyakan mengapa Dila kembali setelah 4 tahun menghilang di perantauan.


Namun semua teman-teman Dila langsung terdiam saat Indra keluar dari kamar Dila, semua menatap Indra yang menggunakan celana jeans hitam dan kaos berkerah warna navy, semua nampak terpukau dengan kharisma dan ketampanan Indra.


Tidak ada yang mengira usia Indra yang jauh di atas Dila, karena wajah Indra yang nampak awet muda dan gaya berpenampilan Indra yang keren, membuat teman-teman Dila memaklumi kenapa Dila mau diperistri oleh Indra, dan menolak lamaran Nino yang sudah berjuang dan setia menunggunya selama bertahun-tahun.


Seketika semua melupakan pertanyaan yang mereka ajukan pada Dila.

__ADS_1


" Kenalkan ini suamiku namanya Mas Indra", Dila memperkenalkan Indra pada teman-temannya.


" Sebenarnya selama ini aku pengen pulang kampung, hanya saja aku harus kerja dan juga kuliah dalam satu waktu, sehingga membuatku begitu sibuk, sampai tidak bisa pulang kampung", akhirnya Dila memilih jawaban yang paling masuk akal diantara jawaban yang lain.


" Iya kita juga sudah denger dari bi Siti dan paman Toto kalau kamu kuliah di sana, apa kuliahmu sudah selesai, kamu memang gadis yang nekad dan penuh ambisi", ujar Asna. Asna adalah sepupu sekaligus sahabat Dila yang paling dekat dengan Dila. D


Asna juga satu-satunya teman yang tahu kabar tentang Dila dari Dita.


" Tinggal nunggu jadwal sidang skripsi, jadi sudah hampir selesai", jawab Dila singkat.


Siapa yang menyangka seorang Karina Nadila anak dari petani biasa, tinggal di perantauan, kuliah sambil kerja dan hampir selesai kuliahnya, berjuang dan bekerja keras membiayai kuliah sendiri di kota besar. Andai ada yang tahu bagaimana perjuangan dan kerja keras Dila selama ini.


Tamu masih saja berdatangan hingga malam tiba, para tamu bahkan semakin banyak yang datang, karena ini acara pernikahan pertama di keluarga Dila, Dila sebagai anak sulung dan adiknya Dita yang baru SMA kelas 1, mungkin masih lama untuk mengadakan acara pernikahan lagi nantinya.


Apalagi Toto dan Siti adalah orang asli kelahiran desa itu sehingga hampir seluruh warga desa mengenal mereka.


Pakde Didit beserta keluarga juga sengaja datang dan sampai di desa malam hari, mereka menginap di rumah saudara yang lain. Karena rumah di desa itu rata-rata hanya memiliki 3 kamar saja, sedangkan rumah Dila dan Asna sudah terisi penuh.


Acara resepsi pernikahan sengaja diadakan pagi hari, Asri juga datang ke acara resepsi setelah kemarin Dila mengabarinya. Tentu saja datang dengan Joko, sang calon suami, tapi tidak dengan Evan dan Mas Kun yang tidak tahu menahu tentang resepsi pernikahan Dila. Asri hanya mengajak Joko saja ke acara resepsi pernikahan Dila.


Dila terlihat begitu cantik menggunakan kebaya pengantin, begitu juga dengan Indra yang terlihat begitu tampan.


Selama ini Dila tidak menyangka jika jodoh yang ditetapkan Tuhan untuknya adalah Indra, sang majikan yang dingin dan pendiam, selama hidupnya Dila baru berani memulai kisah cintanya setelah dirinya lulus sekolah. Semua karena peraturan ketat dari sang bapak agar Dila tidak berpacaran saat masih sekolah.


Tepat saat dirinya mulai merantau ke kota besar. Kisah cinta di perantauannya pun di mulai, perjalanan panjang yang membawa Dila diujung pencariannya selama ini, dari Cibitung Bekasi ke Jakarta, dari Jakarta ke Jogja, dan kembali lagi ke Jakarta.


Kisah Dila yang penuh drama, lika-liku kehidupan, juga penuh perjuangan. Tak ada yang Dila sesali dengan melabuhkan pelayaran hidupnya pada Indra, meski banyak laki-laki lain yang menyukainya dan ada yang lebih baik dari Indra, namun Dila sudah menetapkan hatinya pada Indra, sosok laki-laki dewasa yang memiliki putra bernama El, yang menjadi jalan dirinya datang ke Jakarta dan memulai kisah baru di sana.

__ADS_1


Semua nampak terkesima dengan pasangan pengantin yang sangat cantik dan sangat tampan yang berdiri di depan panggung dengan dekorasi pengantin yang sangat indah, bagaikan taman bunga.


Dan dibuat lebih terkejut lagi saat El datang menggunakan tuksedo putih dan berdiri di depan Dila dan Indra, semuanya baru tahu jika Dila ternyata lebih memilih seorang duda beranak satu, ketimbang sang kepala desa tampan yang masih muda dan perjaka.


__ADS_2