
" Kalian itu ngetawain apa sih?, nggak lucu tahu candaan kalian, ada anak kecil nih... Kalau makannya udahan, kita balik sekarang yuk..., sudah jam setengah 3, sebentar lagi Mas Indra pulang", ujar Dila seraya memanggil pelayan dan menyerahkan kartu debit miliknya untuk melakukan pembayaran.
" Widih... istri sultan, bayarnya pakai kartu item kayak begitu, kalau kita mah apa atuh, punyanya ATM yang kalau habis gajian langsung dikuras habis isinya", ujar Bima saat melihat Dila menyerahkan kartu berwarna hitam pada pelayan restoran.
" Itu kartu milikku sendiri, penghasilan dari usaha ayam suwir ku, cuma isi berapa juta saja, yang dari suami ini, jarang aku pakai, lagian paling cuma habis berapa buat makan kita berlima, nggak usah pakai uang suami, beda itu dipakainya", ujar Dila sambil menunjuk kartu lain dari dompetnya.
" Serius Dil, jarang kamu pakai?, sayang banget, kalau aku jadi kamu, pasti sudah aku habiskan isinya tiap bulan, apa kamu nggak pernah belanja kayak cewek-cewek kebanyakan?", tanya Bima penasaran.
Dila mengangguk, " Belanja buat apa?, kebutuhan rumah sudah di urus sama ART, makan tinggal makan, kalau belanja barang-barang branded kadang paling bareng sama ibu mertua, dan itu selalu beliau yang maksa buat bayarin. Karena itulah kartu dari Mas Indra jarang aku pakai, lebih sering jadi penunggu dompet", terang Dila.
" Mungkin karena tahu dan pernah merasakan bagaimana hidup susah, aku jadi nggak bisa boros sama yang namanya uang. Gunakan untuk kebutuhan, boleh jajan secukupnya, dan jika ada lebih tinggal di tabung", ujar Dila.
Evan sangat paham dengan karakter Dila, dulu mereka saling kenal saat Dila tengah susah-susah nya, bahkan tidur hanya di atas tikar, karena itulah Evan tahu bagaimana Dila menghargai uang.
" Iya, Bu Dila rajin nabung, sama seperti El, tiap hari setengah dari uang saku El pasti El tabung ke Buguru, nanti kalau sudah banyak, akan El belikan baju dan mainan buat adik bayi kalau nanti sudah keluar", ucapan polos El membuat yang lain semakin takjub dengan Dila.
Yang menjadi suaminya sangatlah beruntung, mendapatkan istri yang cantik, tidak boros alias irit, rajin nabung, berpenghasilan sendiri, sayang anak, dan pandai mendidik anak. Paket lengkap pastinya.
" Sudah kan makannya?, kok malah pada bengong, sekarang kita balik ya, makin sore nih, bentar lagi Mas Indra pulang".
Peristiwa tidak mengenakan yang tadi baru saja terjadi akibat kehadiran Tania yang tiba-tiba, tidak mereka pikirkan. Orang seperti Tania itu memang tidak pantas untuk dipikirkan, anggap saja angin lalu.
Evan dan Bima manggut-manggut bersamaan. Mereka berlima masuk ke dalam mobil yang sama, dan kembali menuju sekolahan terlebih dahulu, karena motor Bima dan Evan masih berada di sekolah.
Awalnya Dila menawarkan untuk mengantarkan mereka sampai ke rumah, tapi keduanya menolak, katanya takut merepotkan, dan malah akan membuat Dila kelamaan di jalan. Khawatir suaminya pulang lebih dulu sebelum Dila sampai rumah.
__ADS_1
" Makasih banyak ya Dil buat traktirannya, akhirnya jadi juga kamu traktir kita. Jangan lupa tanya sama suami kamu, minta ijin boleh apa nggak ikut daftar CPNS, mumpung lagi ada banyak lowongan", ujar Bima, sambil melambaikan tangan dan merangkul Evan memasuki gerbang sekolah. Dila hanya mengangguk sambil tersenyum.
Dila menatap El sudah tidur di bangkunya, mungkin El sudah kenyang dan AC di mobil membuatnya merasa ngantuk disaat cuaca diluar sangat panas .
" Lagi ada lowongan CPNS ya Dil?".
Dila mengangguk, " iya, waktunya itu nggak tepat banget, aku lagi hamil besar seperti ini, khawatir sama Mas Indra tidak di ijinkan", gumam Dila.
" Kamu coba saja ngomong pelan-pelan, siapa tahu Pak Indra nggak mempermasalahkan dan setuju kamu mengikuti tes CPNS. Dan siapa tahu rejekinya si jabang bayi dalam perut kamu".
Ucapan Ari ada benarnya juga, toh pasti cuma seperti tes biasa, nggak ada salahnya coba ijin dulu ke Indra, sukur-sukur di ijinkan.
" Kamu nggak ikut daftar Ar?, kemarin aku lihat ada lowongan buat lulusan SMA dan SMK, jadi kebersihan, yang sapu-sapu jalanan. Siapa tahu nasib kamu jadi pegawai negeri, meski cuma tukang sapu, tapi kan lumayan dapat banyak jaminan", ujar Dila.
Ari menggeleng, " aku sudah terlalu nyaman bekerja jadi supir pribadinya Pak Indra, nggak pernah ada masalah, gajinya besar, dan Pak Indra itu sangat baik sama aku, nggak enak kalau mau keluar. Lagian aku nggak pengin jadi tukang sapu jalanan, meski tergolong pegawai negeri, tapi pekerjaannya panas, nggak kaya aku yang hari-hari di dalam mobil ber AC, adem", ujar Ari sambil cengengesan.
Dila tersenyum mendengar ucapan Ari, " Jadi sudah ada calon istri ya... selamat ya Ar. Jangan lupa kasih kabar kalau mau nikahan, biar aku sama Mas Indra bisa bantu-bantu sedikit", ujar Dila.
Tak terasa mobil sampai di depan rumah, Dila langsung masuk menuju kamarnya, membersihkan diri dan menunggu sang suami untuk pulang. El di bopong oleh Ari dan di rebahkan di kamar El.
Dila tak perlu menunggu lama, karena baru lima menit duduk di sofa, Indra sudah pulang, langsung masuk ke rumah dan mencium kening Dila saat baru sampai. Dila melayani sang suami, memberikan segelas air putih untuk minum, menyimpan kan tas dan juga membantu melepaskan dasinya.
" Capek Mas?" tanya Dila sambil menerima gelas putih bekas wadah air yang sudah diminum Indra hingga tandas.
" Nggak kok, hari ini semuanya berjalan lancar, semua meeting dengan klien, juga dengan manager, berjalan lancar, jadi capeknya ilang karena semua baik-baik saja".
__ADS_1
" Bagaimana Dede bayi seharian ini, apa merepotkan ibu Dila?", tanya Indra seraya mengelus perut Dila dengan lembut, membuat bayi dalam perut Dila bergerak merespon.
" Lihatlah dede sedang menjawab pertanyaan ayahnya, dia bergerak-gerak karena di elus sama ayahnya. Mas mau makan dulu apa mandi?", tanya Dila.
" Mas mandi saja dulu, rasanya lengket banget ini kulit seharian penuh keringat. Makan malam nanti saja kalau habis maghrib, tadi aku sudah makan sama klien".
Dila mengangguk, dan membiarkan Indra masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin nanti saja menyampaikan apa tujuan Dila. Nunggu Indra santai, jadi ngomongin nya nggak terkesan tergesa-gesa.
Dan usai makan malam habis maghrib, Dila justru ke kamar El untuk mengajari El beberapa PR El yang El belum bisa. Dila baru selesai setelah jam menunjukkan setengah 8 malam karena El selalu ingin tahu tiap kali ada pelajaran yang belum El pahami.
Dila mundur dari kamar El dan sholat isa terlebih dahulu, baru dirinya mendekat ke Indra yang sedang duduk diruang tengah. Sepertinya Indra sudah benar-benar sedang santai karena suaminya itu tengah menonton acara sepak bola di televisi.
" Mas, aku mau ngomong serius", ujar Dila sambil duduk di samping Indra.
Indra menggeser duduknya jadi menghadap ke Dila. " Tanya apa?".
" Lagi ada lowongan CPNS besar-besaran, apa boleh aku ikut daftar?", tanya Dila langsung pada intinya. Dila tidak mau berbasa-basi terlebih dahulu, karena Dila sudah sangat paham dengan karakter Indra yang lebih suka diajak berdiskusi langsung pada intinya.
" Kandungan kamu gimana?, bukankah akan capek jika ikut seleksi seperti itu?, Mas pernah dengar harus ikut ujian beberapa kali", ujar Indra.
" Iya memang benar, tapi kan aku daftar masih di wilayah Jakarta, jadi nantinya jika lolos dan jadi PNS pasti di tempatkannya tetap di Jakarta. Aku sehat kok Mas, aku boleh ikut ya?", ujar Dila masih membunuh Indra agar mengijinkan.
" Mas nggak ngelarang kamu, tapi satu pinta Mas, jangan kecapekan dan istirahat yang cukup, Mas nggak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa ", ujar Indra.
Sebenarnya Indra ingin melarang, dan punya hak juga untuk melarang Dila, selama ini Indra selalu menafkahinya lebih dari cukup, bahkan oleh Dila jarang digunakan yang darinya. Tapi Indra tahu betul bagaimana Dila, dia tidak suka jika keinginannya di abaikan atau dilarang. Dila tipe pekerja keras dan bertanggung jawab. Karena itulah Indra yakin, jika Dila diberi ijin, maka istrinya akan sangat menjaga calon anak mereka kedepannya.
__ADS_1
" Iya Mas, tentu saja aku akan sangat berhati-hati, tida akan kecapekan dan akan menjaga anak kita sepenuh jiwa raga", ujar Dila, nampak senyum sumringah menghiasi wajahnya karena keinginannya mendapatkan ijin.