
Setelah liburan kenaikan kelas yang justru penuh dengan kegiatan yang melelahkan, dari seminggu di kampung dan tiga hari di Malaysia, akhirnya aktifitas kembali ke rutinitas semula.
Dila sudah mulai berangkat mengajar ke sekolahan, begitu juga dengan El yang kini mulai berangkat sekolah, bahkan Indra sudah jauh hari langsung berangkat ke kantor karena sepulang dari Malaysia Indra hanya istirahat sehari dirumah.
" Hari ini El berangkat bersama ayah ya ke sekolahnya, ibu mungkin berangkat agak siangan ke sekolahan karena hari ini kelas ibu ada pelajaran olah raga terlebih dahulu dua jam pelajaran".
El mengangguk setuju, semakin tumbuh menjadi besar El memang semakin mandiri. Menyadari jika ibunya mempunyai kesibukan lain yang harus dilakukan. Selain mengajar dan mengurus Arsy, ibunya juga harus mengurus bisnis kuliner yang makin lama makin maju.
Tapi setiap hari Bu Dila juga selalu menyempatkan membuatkan El bekal untuk dibawa ke sekolah, juga selalu menemaninya belajar tiap malam, terutama jika ada PR yang El masih kesulitan mengerjakannya, membuat El merasa Dila masih tetap memperhatikannya.
Tak ada yang berubah dari sikap El pada Dila, begitu juga sebaliknya, meski kini El sudah tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Tapi El anak yang cerdas, dia berpura-pura tidak tahu menahu tentang jati dirinya yang di sembunyikan. Jika memang seperti itu yang di inginkan keluarganya, maka seperti itu pula yang El tunjukkan.
" Kalau begitu El berangkat dulu ya Bu", pamit El sambil mencium punggung tangan Dila, karena Indra sudah selesai sarapan dan mengajaknya untuk berangkat. Mas Ari sudah menunggu di depan dengan mobil yang sudah siap untuk berangkat.
Rutinitas berjalan dengan lancar, hingga tiba hari perayaan ulang tahun Arsy yang pertama, Dila sengaja membuat pesta kecil-kecilan, hanya mengumpulkan semua anggota keluarga saja.
Ada Kakek Rizal, Nenek Fatma, dan juga para ART di rumah yang menghadiri acara ulangtahun Arsy, memang hanya acara doa bersama saja, karena Arsy belum terlalu mengerti tentang perayaan ulang tahun. Meski Arsy sangat bahagia karena malam ini semua keluarga berkumpul dan banyak balon berwarna-warni di ruang tengah. Apalagi saat semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan tiup lilinnya. Arsy yang baru satu tahun itu ikut bertepuk tangan dan tertawa bahagia bersama yang lain.
Dila menyerahkan Arsy pada Bu Fatma yang duduk di sampingnya karena Dila hendak membantu Bi Darsih dan bi Ana mengeluarkan nasi kuning dan piring dari dapur.
Namun kejadian mengejutkan terjadi saat Dila sedang berjalan dari dapur membantu mengambilkan sendok dan garpu, tiba-tiba Dila pingsan dan tak sadarkan diri, untung saja saat Dila hendak pingsan dia berjongkok terlebih dahulu, karena tiba-tiba merasa sangat pusing dan semuanya menjadi gelap gulita.
Semua yang melihat kejadian itu langsung berteriak, terutama Indra dan El yang langsung berlari ke arah Dila. Indra langsung mengangkat tubuh Dila ke atas sofa yang ada di ruang tengah.
" Sayang... kamu kenapa sayang...?", Indra terus berusaha membangunkan Dila.
Bi Darsih dan bi Ana mengambil minyak kayu putih dan juga air untuk Dila, semua panik karena sejak tadi Dila dalam keadaan baik-baik saja. Namun tiba-tiba dirinya pingsan dan tak sadarkan diri.
" Bu....bangun Bu...., ibu dengar El bicara, ibu bangun...!", El yang dulu pernah melihat Dila pingsan seperti saat ini, teringat masa dirinya tertabrak mobil di depan sekolah. Membuatnya merasa takut, ibunya kenapa-kenapa.
__ADS_1
" Apa sebaiknya langsung kita bawa rumah sakit saja Ndra, Dila wajahnya semakin pucat", ujar sang ayah yang masih bisa berpikir jernih diantara yang lain.
Indra langsung mengangkat Dila dan berteriak pada Ari untuk menyiapkan mobil secepatnya. Ari berlari menuju garasi mobil dan mengeluarkan mobil dari garasi.
" Bu, tolong titip Arsy dan El dulu, aku bawa Dila ke rumah sakit", ujar Indra sambil berjalan cepat menggendong Dila keluar menuju mobil.
" Nek... El mau ikut ke rumah sakit, ibu kenapa nek?", tangis El pun pecah karena rasa takutnya, meski sudah berusaha menjadi dewasa, anak-anak tetaplah anak-anak yang jika merasa takut akan tetap menangis.
" El di rumah saja sama nenek dan adik Arsy, mungkin ibu kecapekan, sehingga ibu pingsan seperti tadi, semoga saja setelah di rumah sakit ibu segera di tangani dokter dan segera siuman", Fatma berusaha menenangkan El yang menangis, meski dirinya sendiri sekarang dalam keadaan yang sangat khawatir memikirkan Dila.
Arsy ikut menangis karena melihat sang kakak menangis.
" El bisa lebih tenang kan sayang?, ibu pasti baik-baik saja, kalau El nangis begitu, adik Arsy jadi ikut nangis karena takut. Sekarang lebih baik El ke kamar, dan tidur, jangan lupa doakan ibu Dila semoga segera siuman".
El mengangguk dan mengusap air matanya.
" Bi Ana tolong antar El ke kamarnya, saya mau nenangin Arsy terlebih dahulu biar nggak nangis terus", pinta Fatma.
Di lain tempat...
Indra sudah sampai di rumah sakit, Dila langsung masuk ke IGD dan mendapatkan perawatan medis, dokter jaga langsung mengecek keadaan Dila dan memasang selang infus dan juga selang oksigen padanya.
" Sebenarnya istri saya kenapa dok?", tanya Indra begitu khawatir.
" Tidak papa pak, istri anda hanya kecapekan dan kurang istirahat, mungkin kegiatannya terlalu padat, sedangkan asupan makanannya kurang, padahal beliau seharusnya makan banyak, karena janin dalam perutnya sedang dalam masa perkembangan ".
Indra mendengarkan penjelasan dokter itu dengan seksama. " Maksud dokter, istri saya sedang hamil Dok?", tanya Indra memperjelas.
" Loh... jadi bapak belum tahu?, saya kira sudah tahu, usia janin di rahim istri bapak sudah 8 minggu. Apa istri bapak belum memberi tahu pada bapak tentang kehamilannya?, atau bahkan istri bapak juga belum tahu jika dirinya hamil?. Wah kalau begitu pesan saya, mulai sekarang jangan biarkan istri bapak kecapekan, untung saja tadi cuma pingsan dan tidak ada pendarahan, jadi semuanya baik-baik saja".
__ADS_1
Antara sedih dan juga bahagia kini perasaan Indra jadi tak menentu. Dia yang sedang sangat khawatir karena Dila yang tiba-tiba pingsan. Kini dikejutkan dengan berita membahagiakan jika ternyata Dila sedang kembali mengandung anaknya.
" Anda nggak lagi bercanda kan Dok?, beneran istri saya sedang hamil?", Indra masih merasa tidak percaya.
" Saya yakin istri bapak sedang hamil, tapi untuk lebih jelasnya, nanti kita lakukan USG, sekarang biarkan istri anda istirahat, sekalian menunggu istri anda siuman".
Indra mengangguk mengerti. " Terimakasih banyak Dok", ucap Indra sambil duduk di samping ranjang Dila dan menggenggam tangan istrinya yang masih memejamkan matanya itu.
Berkali-kali Indra menciumi Dila, sampai Dila terbangun dan siuman dari pingsannya.
" Mas...", Dila mengernyitkan keningnya karena sejak tadi Indra terus menciumi punggung tangannya.
" Kamu sudah siuman sayang, apa yang kamu rasakan sekarang?, apa pusing?, atau mual?, atau mungkin pengen sesuatu?".
Dila hanya menjawab dengan menggeleng lemah. Bagi Dila sikap Indra sangat aneh, dirinya baru siuman dari pingsan tapi langsung diberi pertanyaan begitu banyak.
" Arsy dan El di rumah sama siapa?", tanya Dila dengan suara lemah. Namun sifat keibuannya tidak bisa hilang begitu saja meski dirinya dalam keadaan lemah tak berdaya, tetap yang di tanyakan adalah anak-anaknya.
" Ada ibu, bi Darsih dan bi Ana juga, kamu tidak perlu khawatir sayang. Sekarang kamu harus banyak istirahat ya, dan jangan terlalu banyak pikiran, kata dokter ada adiknya Arsy dalam perutmu, selamat ya sayang", ucap Indra dengan mata berkaca-kaca saking bahagianya.
" Apa Mas?, kamu nggak lagi bercanda kan?, aku hamil?", Dila nampak berfikir kapan terakhir dirinya datang bulan, dan ternyata sudah dua bulan dirinya tidak datang bulan, tapi Dila baru tahu jika dirinya hamil. Karena sebelumnya Dila tidak merasakan apa-apa seperti tanda-tanda kehamilan sebelumnya.
" Jadi Dila hamil lagi?, wah...saya harus segera kabari orang rumah biar mereka tidak khawatir", Ari yang baru masuk ke dalam IGD, dan baru mendengar berita bahagia ini langsung menelepon ke rumah, untuk memberi tahu orang rumah tentang kabar kehamilan Dila.
" Oh iya... aku sampai lupa tidak mengabari rumah tentang berita bahagia ini, soalnya sejak tadi Dila masih pingsan, dan ini baru siuman", ujar Indra.
" Tunggu Mas Ari, jangan kabari rumah dulu, karena menurutku berita ini belum pasti, tunggu hasil USG saja, biar semuanya lebih jelas dan akurat", ujar Dila melarang Ari memberi tahu kehamilannya pada orang rumah.
" Bilang saja aku sudah siuman, jika ditanya alasan aku tiba-tiba pingsan, jawab saja karena aku kecapekan, kita beritahu tentang kehamilan jika sudah benar-benar fix hasil tesnya aku hamil", ucap Dila.
__ADS_1
Ari mengangguk setuju, karena memang benar, belum ada bukti konkrit jika Dila sedang mengandung.