
Dila terbangun dari tidurnya saat jam dinding bermotif Doraemon di kamar El menunjukkan pukul 2 siang, ternyata dirinya sudah tidur selama satu jam lamanya. Dan El masih tidur dengan nyenyak di sampingnya.
" Sudah bangun?".
Suara Bu Fatma membuat Dila langsung merubah posisinya yang sedang tiduran menjadi duduk di tepian kasur.
" Iya, sudah Nyonya, eh maksud saya Bu...".
nyawa Dila belum sepenuhnya kumpul, sehingga salah manggil.
" Cuci mukamu dulu lalu temui saya di depan".
Dila mengangguk.
Bu Fatma keluar dari kamar El menuju ke teras samping rumah. Setelah cuci muka Dila menghampiri Bu Fatma dan berdiri di depannya.
" Duduk saja Dil, duduk di kursi itu".
Dila menurut duduk di kursi rotan yang terhalang meja bundar dengan kursi tempat Bu Fatma duduki.
" Kamu mungkin punya banyak pertanyaan yang ingin di ajukan saat sampai di rumah ini, karena keadaan rumah ini berbeda dari keadaan rumah tangga pada umumnya. Tapi yang perlu kamu lakukan sekarang hanya fokus mengasuh El saja, tidak perlu memikirkan hal lainnya".
" Sebelum bekerja kamu sudah tahu kan kalau gaji mengasuh El itu paling tinggi di banding menjadi tenaga kebersihan atau tukang masak disini, itu karena mengurus El memang lebih melelahkan di banding pekerjaan lainnya. Butuh kesabaran ekstra dan waktu kerjanya 24 jam full".
" Semua pengasuh El sebelum kamu, entah mengapa tidak bisa membuat El nurut dan patuh seperti yang kamu lakukan, padahal saat melihat kamu yang masih muda, awalnya aku ragu jika kamu bisa mengasuhnya. Tapi ternyata mungkin El butuh pengasuh yang bisa dianggapnya seperti teman yang tidak terlalu tua dan sudah ibu-ibu. Karena pengasuh-pengasuh yang sebelumnya itu sudah 30 th keatas, kami anggap orang yang lebih tua yang sudah berpengalaman, tapi ternyata pemikiran kami salah besar".
" Entah kamu betah atau tidak tinggal disini, tapi saya rasa kamu tidak ada pilihan lain, karena usia kamu yang belum bisa bekerja di PT/pabrik seperti teman-teman kamu yang lain, tapi andai kamu tahu gaji di pabrik lebih rendah dari gaji mu sekarang, jadi jika kamu bisa bekerja selama 1 tahun disini dan kamu bisa menabung 80% saja dari gaji kamu, maka setahun itu kamu bisa mengumpulkan sekitar 48 juta".
" Uang itu bisa kamu gunakan modal usaha seperti yang kamu rencanakan selama ini, bahkan saya dengan senang hati akan menambah modal kamu kalau memang masih kurang".
Dila mengangguk mengerti, " terimakasih banyak atas kemurahan hati Bu Fatma, saya sangat betah tinggal disini, seandainya ibu tahu, saat sampai di Bekasi, selama seminggu saya mengontrak disana, tidur hanya beralaskan tikar dan berbantalkan tas saja. Sedangkan saat sampai disini, saya diberi kamar sendiri, sudah ada kasur, bantal, lemari, kamarnya juga bagus, dan yang paling penting semuanya gratis. Saya sudah sangat berterimakasih untuk itu".
" Belum lagi saya di perbolehkan makan disini sebanyak yang saya mau, sedangkan waktu di Bekasi, makan dan minum saya harus beli, sampai uang saku dari orang tua hampir habis, membuat saya nekad mencari pekerjaan apa saja yang penting halal". Dila jadi kembali mengingat masa sulitnya tinggal di Bekasi selama seminggu.
" El juga ternyata tidak sebandel yang saya bayangkan, karena awalnya yang melantarkan saya bekerja disini mengatakan jika El itu anak yang bandel, tapi kenyataannya El itu sangat baik dan penurut, saya jadi sangat menyayanginya seperti adik saya sendiri".
Fatma tersenyum lega, " Seandainya kamu tahu Dil, memang seperti itulah El sebelum diasuh oleh kamu. Dia nakal, suka marah-marah, dan sering kabur-kaburan, juga membentak siapa saja yang tidak disukainya, hanya oleh ayahnya dan olehku saja El mau nurut. Tapi setelah kedatangan mu, sepertinya sikapnya perlahan berubah menjadi lebih penurut".
" Karena itulah saya harap kamu akan betah disini untuk waktu setahun itu".
__ADS_1
Dila mengangguk, " tentu saja Bu Fatma, saya pasti akan sangat betah disini, semua yang tinggal disini orang-orang yang sangat baik".
" Syukurlah kalau begitu menurutmu, hanya saja kadang Indra gampang sekali marah, dia jadi temperamen semenjak di tinggal Kayla. Saya saja setiap berbicara padanya harus hati-hati dan dipikir dulu, jangan sekalipun sampai menyinggung tentang Kayla", ucap Fatma.
" Apa boleh saya tahu kenapa mereka bercerai?", ucap Dila penuh tanya.
" Ceritanya sangat panjang Dil, jika di buat novel mungkin satu buku penuh, semua berawal dari kisah ku di masa lalu yang mempengaruhi hubungan Indra dan Kayla. Seperti sebuah kutukan...".
" Kak Dila.... ".
Dila yang sedang fokus mendengarkan cerita dari Bu Fatma mendadak kaget mendengar suara anak kecil yang memanggil namanya.
" Oh... El sayang sudah bangun, aduh...maaf Kak Dila nggak tahu El sudah bangun". Dila langsung menggendong El agar El tidak marah karena bangun tidur tidak ada yang menjaganya. " Apa El mau pipis?".
El menggeleng sambil menyandarkan kepalanya di pundak Dila. Dila pun menepuk-nepuk punggung El pelan.
Padahal lagi seru-serunya mendengarkan cerita dari Bu Fatma, malah El terbangun, terpaksa sesi bercerita harus dihentikan. Tunggu saat santai di waktu yang lain.
Dila sudah hampir tahu alasan sebenarnya, tapi apa?, 'kutukan?', mengerikan sekali yang dikatakan oleh Bu Fatma. Kisah masa lalu beliau. Orang kaya itu biasanya masalahnya apa?, apa tentang perebutan kekuasaan, atau perebutan lahan, atau rebutan tender, atau apa?. Pikiran Dila hanya bisa menebak-nebak alasannya, karena memang Bu Fatma langsung menghentikan ceritanya saat El tiba-tiba muncul.
" El mau mimi susu ", rengek El manja.
" Maaf ya Bu, ceritanya jadi belum selesai, lain waktu bisa dilanjutkan lagi ceritanya, saya permisi kebelakang dulu, mau buatin El susu".
Setelah minum susu, El mengajak Dila main di kamarnya, main puzzle yang tadi di belikan oleh neneknya.
El memang anak kecil yang cerdas dan mudah paham, bermain puzzle bergambar buah dan hewan-hewan bisa El lakukan hanya dengan butuh sekali saja Dila memberikan contoh.
" Coba dilihat, ini yang warnanya kuning buah apa?",
" Pisang", jawab El cepat.
" Betul sayang, yang suka makan pisang itu hewan apa coba El?".
" Monyet !", seru El.
" Apa El juga suka pisang?".
El mengangguk, " El suka pisang, El suka anggul, El suka kelengkeng, semua buah El suka, kata ayah, makan buah bisa bikin El sehat dan pintal", jawab El panjang lebar.
__ADS_1
Dila terkekeh sendiri karena tiap kali El bicara itu terlihat sangat lucu.
Mereka berdua bermain dikamar hingga jam 4 sore, saat ayahnya El pulang kerja El sedang tertawa lepas saat Dila menyamakan El dengan monyet karena suka makan pisang.
" Wah wah wah... lagi main apa itu?", tanya Indra sambil melonggarkan dasinya.
" Ye.... ayah pulang kelja !", teriak El sambil mendekat ke ayahnya yang duduk di tepian kasur dan memeluk El.
" Katanya El habis jalan-jalan sama nenek ya?", Indra melirik ke Dila yang masih memakai baju pink, baju yang sepertinya pernah Indra lihat, entah dimana.
" Iya ayah, tadi nenek ajak El ke time jon, El naik keleta api sama kak Dila, telus El pukul-pukul tikus, El juga nyanyi disana", El menceritakan apa saja yang dilakukannya hari ini.
" Nenek juga beliin El mainan balu, lihat ayah, Kak Dila yang pilih mainan buat El, bagus kan ayah, ada gambal buah-buahan ada juga gambal hewan. Ini El yang susun loh ayah", El menunjukkan puzzle baru yang dibelikan neneknya.
" Ternyata putra ayah sudah pinter banget, jadi El sudah pengen pergi sekolah?".
El mengangguk cepat.
Ternyata Indra sudah memikirkan jawaban dari pertanyaan Dila pagi tadi, yang meminta ijin padanya untuk mendaftarkan El ke Bimbingan belajar.
" Sebenarnya ayah nggak masalah sih kalau El mau sekolah, yang penting El jadi anak yang baik, nggak boleh nakal sama teman-teman El di sekolah nanti, El juga harus jadi murid yang patuh pada gurunya, El paham apa yang ayah katakan?".
El mengangguk, " El paham Ayah, El mau jadi anak yang baik dan nggak nakal sama teman-teman di tempat sekolah, El janji sama Ayah".
" Bagus.... putra ayah memang selalu bisa dibanggakan. Kalau begitu ayah mandi dulu, besok El bisa pergi bersama Kak Dila melihat-lihat tempat bimbingan belajar yang mau jadi tempat sekolah El", ucap Indra sambil beranjak keluar dari kamar El.
" Apa ayah nggak ikut ke sekolah El?", tanya El, membuat Indra menghentikan langkahnya dan menengok ke arah El.
" Ayah kan harus kerja sayang, bukankah sudah ada kak Dila yang temenin El ke sekolah El besok, jadi Ayah temenin El nya besok-besok kalau ayah nggak sibuk ya". Indra memang sedang banyak pekerjaan di kantornya. Ada pembukaan cabang hotelnya yang baru di kota X, waktunya tinggal sebentar lagi, tapi ada beberapa pengajuan ijin yang belum mendapat ACC dari pihak yang terkait.
Sehingga Indra perlu turun tangan mengurus perijinan yang sedang diajukannya. Untung saja El sudah ada pengasuh, jika belum mungkin Indra akan sangat kewalahan dengan pekerjaan sebagai CEO di perusahaan dan juga sebagai singel parents di rumah.
Mendengar jawaban Indra raut wajah El langsung terlihat kecewa, sebenarnya El berharap bisa mendaftar ke bimbingan belajar bersama dengan ayahnya dan kak Dila juga.
" El sayang... nggak pergi sama ayah, tapi kan besok pergi sama kak Dila, nanti kak Dila ajak jalan-jalan berkeliling sekolahan baru El, di sana biasanya ada banyak mainan, ada ayunan, ada perosotan ada terowongan, El bisa mencoba semua itu disana besok".
Dila memang selalu bisa membujuk El, wajah kecewa El seketika berubah jadi berbinar. Indra lega dengan keahlian Dila yang bisa menghandle El dalam situasi apapun.
" Sekarang El mandi sama kak Dila ya, nanti kita buat busa yang banyak, apa El mau mandi busa?".
__ADS_1
El langsung mengangguk kegirangan. " Ye... El mau mandi busa, bial wangi".
Dila pun menggendong El ke kamar mandi, untuk memandikannya.