Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 143


__ADS_3

Dan tibalah hari yang di tunggu-tunggu oleh semua orang, terutama keluarga Nino dan Dita, hari dimana Nino akan mengucapkan ijab qobul di depan penghulu.


Tamu undangan yang datang sudah sangat banyak. Awalnya rencana ijab qobul dilakukan di kediaman Toto, namun karena tamu yang hadir melebihi perkiraan, saking antusiasnya warga desa ingin melihat sang kepala desa mengucapkan ijab qobul pernikahan, akhirnya acara ijab qobul dilaksanakan di masjid desa yang tempatnya lebih luas dari tenda depan rumah Toto.


Begitu banyaknya yang ingin menyaksikan Nino mengucapkan janji suci pernikahan, hingga para tetangga yang dari semalam belum sempat tidur harus bekerja ekstra untuk membungkus snack lebih banyak dari rencana awal.


Pagi-pagi sekali Nino dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah Dita untuk di rias wajah.


Semua perempuan dari keluarga besar Nino dan keluarga besar Dita di rias dengan baju kebaya berwarna biru muda, mengikuti warna baju sang pengantin yang akan di pakai nanti saat resepsi pernikahan.


Jika untuk ijab qobul Dita dan Nino memakai pakaian serba putih, agar lebih terlihat sakral dan suci.


Pernikahan orang nomer satu di desa itu menjadi trending topik pembicaraan semua warga. Ada yang pro dan juga kontra dengan pernikahan antara Nino dan Dita, itu sudah biasa terjadi di desa. Karena tidak semua orang suka pada mereka.


Apalagi bagi orang-orang yang dulu menjadi saingan Nino di Pilkades, mereka membuat berbagai macam isu yang kurang sedap di dengar.


Ada yang mengatakan Nino buru-buru menikahi Dita yang masih sangat muda dan baru lulus SMA sebulan yang lalu, karena Dita sudah hamil terlebih dahulu. Apalagi baru seminggu mereka mengadakan acara lamaran, tapi langsung dinikahkan, membuat orang yang tidak terlalu suka pada Nino percaya begitu saja gosip murahan itu.


Terdengar lagi rumor lain, bagi yang sirik dan tidak suka terhadap keluarga Toto karena justru putri merekalah yang dipilih kembali menjadi pendamping hidup Nino, ada yang mengatakan jika Dita dipaksa sang ayah menggantikan posisi kakaknya menjadi istri Nino, yang otomatis menjadi seorang ibu kades karena keserakahan Toto yang tidak mau kehilangan calon mantu seorang kades.


Dan masih banyak rumor tak mengenakan lainnya yang sampai di telinga Toto dan keluarga.


" Masa bodoh dengan semua gosip murahan itu, toh tidak ada satupun gosip yang benar. Kita semua baik-baik saja, Dita tidak hamil, karena dia justru sedang datang bulan, dan saya tidak pernah memaksa Dita untuk menikah dengan Nino, karena mereka berdua menikah berlandaskan rasa suka sama suka. Apa kata mereka?, aku serakah?, hanya karena mendapatkan mantu seorang kades membuat mereka tega mengatakan aku serakah".


Toto merasa geram sebenarnya saat ada salah satu tetangga yang menyampaikan apa yang mereka dengar dari pembicaraan di luar sana.


" Inilah yang aku khawatirkan sejak dulu Mas Toto, punya mantu seorang pejabat desa memang selalu jadi bahan pembicaraan warga. Kadang ada benarnya juga si Dila menikah dengan Indra, yang kerjanya jadi pengusaha, tidak jadi bahan pembicaraan orang-orang. Hanya disayangkan Indra orang jauh. Jadi semuanya tetap ada baik dan buruknya", ucap tetangga yang sedang mengobrol dengan Toto di perjalanan menuju masjid.


Pak penghulu sudah datang lebih awal dari jadwal yang di tentukan, karena ternyata sang penghulu adalah kawan lama Nino, sehingga penghulu datang bersama anak dan istrinya sekalian kondangan dan memberi ucapan selamat pada Nino.


" Dulu waktu kuliah kamu sering banget bahas tentang Dila sama aku, eh malah sekarang yang jadi istri kamu adiknya. Jodoh memang nggak ada yang tahu bagaimana jalannya".

__ADS_1


" Terus sekarang Dila nya dimana bro?, dia pasti akan datang kan di pernikahan adiknya?", sang penghulu yang bernama Imam masih asyik mengobrol dengan Nino di beranda masjid, menunggu semuanya kumpul, dan waktu pernikahan tiba.


" Pasti datang sama suami dan anak-anaknya, tuh mereka lagi jalan kesini, masih tetap terlihat paling bening dan bersinar diantara yang lain kan?, itu yang pakai kebaya biru muda yang jalan di samping cowok gendong bayi cewek pakai baju biru muda juga ". Nino menunjukkan posisi Dila yang sedang berjalan bersama El dan Indra yang menggendong Arsy menuju Masjid.


" Gila... tambah bening dari foto yang kamu tunjukkan dulu, jelas banget terlihat bahagia dia nikah sama duda kaya, pasti rajin perawatan itu Dila, makin lama makin cantik, nggak kelihatan sudah punya anak", ucap Imam yang langsung menghentikan ucapannya ketika mendapat lirikan tajam dari sang istri yang duduk di sampingnya.


" Kita masuk sekarang bro... sudah datang itu keluarga calon mempelai wanita, biar cepet selesai acaranya. Jadi bisa ngobrol-ngobrol santai nanti malam".


Nino mengajak Imam masuk ke dalam masjid. Di dalam masjid semua orang menempatkan diri di tempat nya masing-masing, karena ijab qobul akan segera dilaksanakan.


Dita duduk di samping Nino yang berhadapan dengan Pak Toto, dan ada imam di samping pak Toto memberi tahu apa yang harus diucapkan nanti.


Acara berjalan dengan lancar, hingga semua yang hadir mengucapkan 'sah' secara bersamaan, pertanda acara ijab qobul sudah selesai.


Tamu dan semua yang hadir dipersilahkan untuk ke rumah Toto bagi yang ingin melanjutkan ke acara resepsi pernikahan, karena acara selanjutnya adalah foto-foto dengan keluarga dan pemberian ucapan selamat.


Ada sebagian tamu yang memilih menuju meja paresmanan untuk makan terlebih dahulu, ada juga yang memilih memberi selamat terlebih dahulu baru makan.


" Pak penghulu mengenalku?", batin Dila masih bingung.


" Saya Imam, dulu teman kuliah Nino, beda fakultas. Dan perkenalkan ini istri dan anak saya ", Imam memperkenalkan keluarga kecilnya pada Dila.


Dila mengangguk paham, karena ternyata sang penghulu adalah teman dekat Nino.


" Ini suami dan anak-anak saya", Dila juga memperkenalkan keluarga kecilnya.


Indra tersenyum ramah pada Imam dan istrinya. Kedua keluarga kecil itu hanya sebentar mengobrol karena imam harus datang ke tempat lain untuk menikahkan pasangan lain lagi.


" Maaf kami pamit dulu, semoga lain kali bisa bertemu dan saling menyapa lagi", ucap Imam berpamitan.


Dila sendiri merasa bingung karena Imam bersikap seolah mereka saling mengenal dan lumayan akrab. Padahal Dila baru kali ini bertemu Imam.

__ADS_1


Setelah Imam dan keluarganya pergi, Sasa yang sejak pagi datang dan menemani Dita sengaja mendekati Dila dan Indra yang kini berada di ruang tengah.


" Hai mba Dila", sapa Sasa.


Dila langsung tersenyum melihat Sasa yang hari ini juga terlihat cantik dengan dandanan sederhana.


" Mas...ini Sasa teman Dita yang tadi pagi aku sempat ceritakan sama Mas".


Indra mengangguk sambil menatap Sasa dari atas ke bawah.


" Gimana menurut mas?, apa dia bisa bekerja di salah satu hotel milik Mas?, dia baru saja lulus dan belum berpengalaman, tapi Sasa gadis yang cerdas, dia akan cepat bisa dan cepat beradaptasi di semua tempat".


" Ajukan saja lamaran kerja ke hotel MDX yang di kota sebelah, di sana saya sedang bangun hotel baru, butuh banyak sekali tenaga kerja. Nanti biar saya bilang anak buah saya untuk meloloskan kamu di bagian resepsionis".


Indra memang sudah mempertimbangkan setelah melihat Sasa yang postur tubuhnya lumayan good looking dan masih muda, mungkin posisi yang tepat baginya adalah di bagian resepsionis.


Karena jika di tempatkan di kebersihan atau loundry pasti kasihan, pekerjaannya sangat melelahkan.


" Terimakasih banyak Mas Indra, makasih banyak Mba Dila, kepercayaan dari kalian pasti tidak akan aku sia-siakan, aku akan bekerja keras dan jadi karyawan yang baik", janji Sasa saking bahagianya.


Sasa kembali ke depan dan bergabung bersama teman-temannya yang lain.


" Jadi Mas lagi bangun hotel di kota sebelah?, di mana posisinya?, wah jadi bisa tidur di hotel Mas kalau kelak ada acara apa-apa di sini, sekalian ajak ayah dan ibu juga", ujar Dila.


Indra mengangguk, " Dekat rumah sakit daerah, persis di depannya".


Memang seperti itulah rencana Indra membangun hotel, agar tidak perlu lagi tinggal di rumah mertuanya.


Usai menikah, tentunya Nino akan tinggal di rumah ini bersama Dita dan mertuanya. Jika pun tidak, pasti mereka akan menginap disini jika ada acara-acara penting. Indra berpikir cepat dan mengantisipasi agar Dila tidak perlu tinggal serumah dengan adik iparnya yang notabenenya adalah mantan pacarnya.


Berpikir cerdas dan cepat memang sudah jadi kebiasaan Indra. Hotel di kota sebelah hanya butuh waktu 15 menit berkendara mobil, dari rumah sang mertua.

__ADS_1


Apalagi prospek membangun hotel dekat rumah sakit dan pusat perbelanjaan menjadikan hotel yang sedang dibangun Indra menjadi hotel yang berada di lokasi yang strategis. Pasti akan sangat bagus prospek kedepannya.


__ADS_2