Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 132


__ADS_3

Dila sebenarnya ingin bertanya pada Indra perihal yang dibahas dengan bapaknya tadi. Entah mengapa rasa penasaran Dila saat ini jadi berlebihan tiap kali mendengar sesuatu yang masih tabu/ tidak jelas.


Indra sepertinya menangkap siratan ekspresi wajah penasaran di wajah istrinya itu, karena itulah Indra menanyai Dila.


" Apa ada yang mau kamu tanyakan sayang?. Mas lihat sejak tadi kamu seperti ingin bertanya, tapi nggak jadi, kayak mau menyampaikan sesuatu, tapi batal. Apa kamu sakit?", tanya Indra sambil menempelkan telapak tangannya di kening Dila, memang agak hangat, tapi bukan karena Dila sakit ataupun pusing, itu sisa dari memangku Arsy sambil berjemur tadi.


Dila pun mulai berpikir, pertanyaan apa yang bisa membuat Indra menceritakan kepadanya tentang percakapan dirinya, Nino dan Dita semalam, tanpa harus menyebut nama Nino di pertanyaan itu. Seolah-olah Dila tidak tahu menahu tentang obrolan mereka semalam.


Dan akhirnya Dila menemukan pertanyaan yang tepat, yang bisa memancing percakapan sampai ke tujuan Dila.


" Aku nggak papa kok Mas, hanya sedikit penasaran saja, kenapa semalam Dita tidak bisa tidur nyenyak, kata El tadi pagi, Dita semalam nggak bisa tidur, apa mungkin dia sedang banyak pikiran, atau Dita sedang ada masalah. Aku sebagai kakaknya merasa sangat khawatir, soalnya tidak biasanya Dita seperti itu".


" Sejak kecil, Dita itu sangat mudah tidur dimana pun tempat, kadang sedang ikut bermain dengan ku, misal sedang duduk-duduk di teras tetangga, dia bisa tidur di teras rumah tetangga sampai benar-benar pulas".


" Dulu jaman masih kecil suka manjat pohon, Dita juga pernah tidur di dahan pohon mangga yang cukup tinggi, sampai semua orang khawatir Dita bisa jatuh ke bawah karena tidur di atas pohon".


" Kalau semalam Dita nggak bisa tidur, itu pasti karena ada sesuatu yang membuat pikirannya tidak tenang, dulu aku pernah menjumpai Dita semalaman begadang, itu karena esok harinya dia ada ulangan matematika, dan Dita masih belum paham dengan salah satu rumus pembagian pecahan. Sampai aku harus mengajarinya malam-malam hingga Dita paham".


" Menurut Mas, apa aku tanyakan langsung sama Dita saat dia pulang dari jalan-jalan nanti?, soalnya aku selalu penasaran kalau belum tahu alasan yang sebenarnya. Atau apa mungkin Mas tahu apa alasan Dita jadi bersikap seperti itu, karena aku dengar semalam kalian berdua bersama di gazebo taman belakang".


Dila mulai menangkap ekspresi Indra yang seolah ingin bercerita, tapi seperti masih belum yakin sehingga tidak jadi. Dan lucunya justru Indra berdiri dan mengatakan jika dirinya ingin ke kamar mandi terlebih dahulu, karena sejak pagi belum nongkrong di WC.


Saat Indra masuk ke kamar mandi, Dila hanya bisa menggelengkan kepalanya, Dila yakin suaminya itu ingin menceritakan tentang obrolan semalam, namun Indra terlalu banyak pertimbangan, sehingga membuatnya tetap bungkam, tapi justru hal itu membuatnya terlihat menjadi lucu, tidak seperti Indra yang biasanya, percaya diri dan tegas.


Dila memeriksa ponselnya, melihat status di WhatsApp dan FB, biasanya Dita rajin sekali neng upload foto dirinya tiap kali sedang bertamasya atau jalan-jalan, namun kali ini zonk, tidak ada satupun foto yang Dita upload di statusnya. Benar-benar tidak seperti biasanya.


" Kalau misal semalam Nino mengatakan dia masih menyukaiku, tentu sikap Indra tidak akan setenang saat ini, karena pasti Indra was-was dengan perasaan Nino yang masih tetap sama seperti dulu. Tapi saat ini Indra sangat tenang, justru sekarang Dita lah yang nampak khawatir, sebenarnya apa yang diobrolkan mereka bertiga semalam?", batin Dila sambil merebahkan tubuhnya di samping si kecil Arsy.

__ADS_1


" Dil, Arsy tidur?, belum mandi ya?", tiba-tiba Bu Fatma masuk, namun hanya sendirian.


" Iya Bu, tadi habis berjemur aku kasih ASI, malah jadi tidur, makanya belum dimandiin. Ibu sudah selesai bikin daftar buat acara aqiqah Arsy?", tanya Dila sambil kembali duduk di ranjang, karena sang ibu mertua duduk di tepian ranjang sambil menyerahkan kertas penuh tulisan nama.


" Ini daftar yang ibu buat, siapa saja yang akan kita kirim kiriman aqiqah coba kamu periksa lagi, siapa tahu ada yang terlewat, dan sekalian, kamu catat di nomor selanjutnya nama-nama rekan sesama pengajar di sekolah Mulia yang akan dikirimi berkat aqiqah", ujar Fatma. Dila pun langsung menuliskan semua nama guru pengajar, staf, tenaga kebersihan, dan juga kepala sekolah di sekolah Mulia.


Lima menit kemudian, bersamaan dengan saat Indra keluar dari kamar mandi.


" Ini Bu, sudah saya tuliskan semuanya, baik yang sesama pengajar, sampai bagian lain seperti staf dan kebersihan", terang Dila.


Fatma mengangguk paham.


" Bikin catatan apa itu Bu?", tanya Indra yang kini mengambil kertas yang tergeletak di atas kasur itu dengan tangan kanannya.


" Itu buat yang akan kita kirim berkat aqiqah nya Arsy, oh iya Ndra, nanti kamu pergi sebentar sama ibu ya, ketemu sama teman ibu yang pemilik rumah aqiqah. Biar kita deal-dealan buat acara aqiqah Arsy lusa, sekalian ibu mau kasih DP", ujar Fatma.


" Iya Bu, nanti Indra antar, nggak papa kan sayang, kalau Mas keluar dulu nemenin ibu?, kamu dirumah kan masih ada bapak dan ibu, ada bi Ana dan bi Darsih juga", Indra sengaja meminta ijin pada Dila terlebih dahulu.


Dila terpaksa mengangguk, tidak ada alasan yang bisa menahan Indra tetap di rumah kali ini, sayang sekali padahal tinggal sedikit lagi, Indra pasti akan mengatakan apa yang mereka obrolkan semalam. Namun sepertinya kali ini Indra berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menghindari pertanyaan Dila.


Tak lama kemudian, Indra pun pergi bersama ibunya, tinggallah Dila bersama si kecil Arsy di kamarnya. Siti masuk ke kamar saat mengetahui Dila hanya seorang diri bersama Arsy.


" Apa mau di mandikan sekarang Arsy nya?", Siti melihat Arsy yang mulai bergerak-gerak karena terbangun dari tidurnya. Sudah cukup lama Arsy tidur pagi ini, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Arsy sudah tidur sejak dua jam yang lalu. Dan selama Arsy tidur, justru Dila hanya menscrol layar ponselnya membaca status dari teman-teman nya, siapa tahu ada yang memberi petunjuk. Sayangnya hasilnya nihil.


" Eh, nanti sebentar lagi Bu, ini baru bangun, biar agak laman dikit kasihan kalau tiba-tiba mandi, nanti kaget", jawab Dila, padahal Dila masih menggeser- geser layar ponselnya.


" Kamu ini kenapa toh Dil?, sudah punya anak malah jadi malas-malasan begitu?, yang dilihatin HP terus, kaya bukan kamu saja", protes Siti yang melihat sikap Dila cukup aneh. " Kalau kamu mau mainan HP terus ya nanti anakmu bisa kesiangan mandinya".

__ADS_1


Siti menggendong Arsy dan mengajaknya mendekat ke jendela, agar terkena udara sejuk dari luar, meski kamar Dila memang sudah sejuk karena AC, tapi Siti masih menggendong Arsy mendekati jendela.


" Maaf Bu, tapi memang pas ibu masuk, Arsy nya baru bangun. Sini biar Dila mandiin Arsy, tadi nanggung Bu lagi lihat status temen", ujar Dila mencari alasan.


" Jaman sekarang makanya banyak anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, meski tiap hari mereka bersama-sama. Tapi bapak ibunya sibuk dengan terus menatap ponsel terus menerus seharian", sindir Siti.


" Ibu ini lagi kenapa sih?, kan Dila sudah kasih tahu kalau tadi Arsy baru saja bangun, sini biar Dila mandikan sekarang", ujar Dila sambil meminta Arsy dari gendongan sang nenek. Namun Siti tetap menggendong Arsy, dan tak menyerahkan Arsy pada Dila.


" Kamu siapkan saja pakaian ganti dan keperluan Arsy lainnya, biar ibu yang mandikan cucu ibu, mumpung ibu masih disini", ucap Siti sambil membawa Arsy ke kamar mandi.


Dila pun menuruti perintah dari ibunya, dia menyiapkan keperluan Arsy dan juga baju gantinya.


" Ibu sebenarnya lagi kenapa sih?, Dila lihat tadi pagi ibu masih baik-baik saja, kenapa suasana hati ibu sekarang berubah jadi buruk seperti ini ?", tanya Dila pelan saat sang ibu selesai memandikan putri kecilnya.


Siti nampak berpikir, ekspresi wajah ibu nya hampir sama dengan ekspresi Indra tadi pagi saat dirinya menanyakan tentang Dita.


" Ibu sedang ada banyak pikiran, sepertinya rencana awal ibu untuk tinggal disini menemani kamu beberapa bulan sampai Arsy bisa tengkurap, tidak jadi Dil. Maafkan ibu ya, karena nggak bisa terus berada di samping kamu", ucap Siti.


" Nggak papa bu, sejak awal kan Dila sudah nggak setuju dengan rencana ibu itu. Karena bapak dan Dita akan balik ke kampung, dan mereka berdua lebih membutuhkan ibu dibanding aku. Disini masih ada ibu mertuaku, ada bi Ana dan bi Darsih juga yang bisa bantuin urus Arsy ", ujar Dila mencoba membuat sang ibu tidak terlalu merasa bersalah jika kembali ke kampung secepatnya.


Bukan Dila tidak mau dibantu ibunya mengurus Arsy, tapi Dila merasa tidak enak pada bapak dan Dita, jika ibunya tetap tinggal di Jakarta membantunya mengurus Arsy, sedangkan masih ada yang lain yang bisa membantunya tanpa harus mengorbankan hal lain.


" Benar sekali, Bapak dan adikmu saat ini lebih membutuhkan ibu dibanding kamu yang sudah dikelilingi oleh banyak orang yang perhatian sama kamu".


Gumaman Siti membuat Dila mengernyitkan keningnya, " Apa maksud ucapan ibu ?, kenapa Dita dan bapak saat ini jadi lebih membutuhkan ibu ketimbang Dila yang baru melahirkan?", akhirnya rasa penasaran pun kembali merasuki Dila.


" Huh.... hidup itu kadang aneh, dan lucu Dil, ada-ada saja yang membuat kita jadi harus lebih hati-hati dengan sikap dan tingkah laku yang kita lakukan".

__ADS_1


Lagi-lagi Dila dibuat bingung dengan kata-kata ibunya.


__ADS_2