Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 86


__ADS_3

Tiga hari semenjak pertemuan Dila dengan Kayla, Dila mendapatkan kabar dari pihak kampus agar datang ke kampus. Dila pun pergi ke kampus dan meminta sang ibu mertua untuk menemani El di sekolah. Tentu saja Fatma menyanggupi dengan senang hati.


Dila yang sudah mengantar El pun kembali menitipkan El pada ibu-ibu wali murid yang lain, sampai sang ibu mertua datang.


" Apa kamu mau ke kampus Dil?", Dila menengok, ternyata Bima yang bertanya padanya.


" Iya, kamu juga dapat panggilan dari kampus?".


Bima mengangguk, " sepertinya pemberitahuan hasil sidang kemarin, sekaligus pengumuman jadwal wisuda. Syukurlah kalau memang seperti itu. Mau barengan?", Dila memang ke sekolahan El mengendarai sepeda motor, karena merasa malas untuk membawa mobil Kayla lagi. Merasa kesal karena dituduh sangat suka memakai barang bekas milik Kayla.


" Dari pada kamu naik motor, panas, nanti baliknya kesini lagi saja".


Dila menggeleng, " aku bawa motor saja, nanti ibu mertuaku yang kesini nungguin El", jawab Dila sambil memakai helm berwarna merah miliknya.


" Aku duluan ya Bim!", seru Dila sambil melambai satu tangannya saat hendak keluar dari parkiran sekolah.


" Gadis yang tidak bisa ditebak apa maunya", batin Bima.


Karena membawa motor, Dila jadi lebih cepat sampai di kampus, Dila bertemu dengan Ninda, teman beda fakultas tapi kemarin KKN bareng di Bekasi dengannya.


" Nin, apa kamu juga di suruh datang ke kampus buat bahas acara wisuda?".


" Kamu juga Dil?, wah senangnya kalau kita wisuda bareng-bareng", Ninda mengajak Dila menuju ruang dekan.


Ninda dan Dila duduk di meja yang berbeda dan berbicara dengan orang yang berbeda pula, ternyata benar, sidang Dila kemarin lulus, dan Dila akan di wisuda bulan depan dengan nilai yang sangat baik, Dila bisa segera di wisuda bulan depan bersama beberapa temannya yang lain.


Dila keluar dari ruangan dengan wajah bahagia dan senyum yang mengembang. Pertama yang dihubungi Dila justru bapak dan ibunya di kampung. Dila berharap Bapak dan ibunya bisa datang ke Jakarta bersama Dita untuk datang saat dirinya diwisuda nanti. Karena bagi Dila, kehadiran kedua orang tuanya saat di wisuda sangatlah penting.


Setelah memastikan ibu dan bapaknya setuju datang ke Jakarta, Dila baru menghubungi Indra dan mengabari jika dirinya akan diwisuda bulan depan.


Indra memberinya selamat dan turut sangat bahagia untuk keberhasilan Dila yang lulus kuliah dengan cepat.

__ADS_1


Saat Dila tengah berjalan menuju ke parkiran, Dila melihat Faris teman Indra yang jadi dosen di kampus itu sedang mengobrol dengan perempuan yang beberapa hari yang lalu membuat emosinya memuncak, siapa lagi kalau bukan Kayla. Ternyata mereka saling kenal juga, tentu saja, Faris kan teman Indra, mereka sekolah bersama, jadi pasti Faris juga kenal Kayla.


Awalnya Dila ingin acuh dan masa bodoh dengan apa yang mereka berdua bicarakan, namun suara mereka tak sengaja terdengar hingga telinga Dila.


Dila bisa mendengar jika mereka menyebut nama Indra dan juga namanya. Dila jadi penasaran dengan apa yang kedua orang itu bicarakan. Tapi sepertinya tidak etis menguping pembicaraan orang lain, Dila merasa dilema...


" Sudah lah Dila, pulang saja, nggak usah perduli dengan kedua orang itu, mau membicarakan apa tentang kamu dan suami kamu, itu hak mereka, yang penting sekarang kamu pulang saja, masih banyak hal lain yang harus kamu urus" batin Dila.


Karena memang jadwal Dila hari ini cukup padat, dari mengontrol beberapa outlet nasi cup ayam suwir, Dila juga berniat pergi ke dokter spesialis kandungan untuk memeriksakan kesehatan dirinya juga rahimnya.


Dila sudah sangat siap untuk punya anak setelah mengetahui dirinya lulus sidang dan sebentar lagi akan wisuda, semua rencana yang di buatnya satu persatu mulai terwujud, dan kini dirinya sudah sangat siap untuk hamil.


" Apa kamu sudah nggak waras?, seandainya Indra tahu kalau kita main gila dibelakangnya sejak dulu pasti Indra sudah mencoret namaku dari daftar temannya, tapi sampai sekarang Indra masih menganggap ku sebagai temannya, buktinya dia menitipkan istri barunya untuk kuliah disini kepadaku, itu berarti selama ini Indra belum tahu tentang hubungan kita dibelakangnya".


Suara Faris kini semakin jelas terdengar karena sejak tadi Dila masih berdiri di pojokan lorong, di belakang pilar besar.


" Akhirnya aku tetap disini juga mendengarkan perdebatan kedua orang itu, apa maksud Pak Faris tadi?, jadi mereka berdua berselingkuh dibelakang Mas Indra, sungguh orang-orang munafik", batin Dila, kini dirinya merasa sangat geram dengan kedua orang itu.


" Apa kamu tidak pernah berpikir, itu anak Indra atau anak kamu?, kita berdua juga sangat sering melakukannya sebelum aku ketahuan hamil, bahkan aku lebih sering melakukannya dengan kamu dari pada dengan Indra yang terus sibuk merintis karirnya".


Kali ini mata Dila membulat mendengar apa yang diucapkan oleh Kayla.


" Tega sekali mereka berdua, jadi El itu anak siapa?", Dila sudah tidak mampu lagi untuk menerima informasi kejutan yang mungkin akan kedua orang itu katakan lagi. Dila memilih berjalan pergi menuju parkiran, tapi lagi-lagi karena langkahnya tergesa, Dila menabrak Bima, kenapa harus selalu Bima yang bertabrakan dengannya?


" Kamu ini kenapa sih Dil, hobi banget nabrakin orang lewat", kali ini justru Dila yang terdorong dan hampir jatuh, hanya saja tangannya langsung ditangkap Bima dan ditarik agar tidak limbung.


" Sori Bim, aku lagi nggak fokus tadi", Dila menarik tangan Bima agar menjauh dari posisi mereka saat ini, khawatir Kayla atau Faris bisa tahu dia berada disana.


" Kenapa kamu tarik-tarik tanganku seperti ini?", Bima merasa aneh dengan sikap Dila. Dila langsung melepas gandengan tangannya.


" Eh iya, sori Bim, aku cuma mau ngajak kamu makan siang bareng saja, buat temen ke kantin, kamu belum makan siang kan Bim?", Dila mencari alasan secara spontan.

__ADS_1


" Selama ini kamu belum pernah traktir aku makan kan?, anggap saja ini makan-makan sebagai perayaan karena sidang kita sukses, dan bulan depan sudah wisuda, kamu nggak keberatan kan traktir aku makan di kantin kampus?".


Meski merasa aneh, tapi Bima menuruti keinginan Dila, mereka berdua berjalan menuju ke kantin bersama.


" Mau makan apa?, jangan yang mahal, aku masih jadi guru magang di sekolahan, gajiku belum banyak", ujar Bima.


" Iya, tenang saja, aku cuma mau pesen siomay sama jus melon, sudah itu saja, nggak sampe 20 ribu Bim".


Bima mengangguk, mereka berdua menunggu pesanan mereka. Setelah pesanan tersaji dimeja, mereka berdua langsung menikmati siomay dengan lahap.


" Jangan lama- lama makannya, tadi aku sudah janjian sama Pak Faris buat ketemuan, takutnya dia nungguin aku kelamaan".


Dila menggelengkan kepalanya, " Nggak lagi nungguin kamu kok Bim, tadi aku lihat Pak Faris lagi ada tamu pribadi, obrolan mereka sepertinya masih lama".


Bima nampak mengernyitkan keningnya, " Kok kamu tahu obrolan mereka sepertinya masih lama, apa kamu tahu apa yang mereka obrolin?".


Dila langsung tersedak siomay yang sedang dikunyahnya, Dila buru-buru minum air putih yang tersedia dimeja untuk menghilangkan rasa pedas yang menjalar di mulutnya, " Nggak juga, cuma nebak, soalnya kayaknya lagi ngomongin sesuatu yang serius, lihat dari ekspresi mereka", jawab Dila beralasan.


Hampir saja Dila keceplosan, bagaimana bisa dia memberi tahu Bima kalau Faris dan Kayla lagi ngobrolin sesuatu yang serius, Dila merasa dirinya sedang sangat tidak fokus.


" Kalau kamu buru-buru mau ketemu sama Pak Faris, ya sudah aku ditinggal juga nggak masalah, toh tinggal.habisin sedikit lagi, makasih ya sudah di traktir", ucap Dila.


Bima pun terpaksa pergi dari kantin kampus, meski masih betah berlama-lama dengan Dila, tapi Bima sudah terlanjur ada janji dengan dosen favoritnya itu, ya... Pak Faris adalah dosen favorit Bima di kampus merah putih.


" Aku duluan ya Dil", Bima pergi meninggalkan Dila.


Dila masih sibuk mengunyah siomaynya, tentu saja sambil terus kepikiran dengan ucapan Faris dan Kayla tadi.


" Seandainya aku cerita sama Mas Indra, apa mungkin Mas Indra percaya, dan pasti itu akan membuat Mas Indra kecewa, meski itu terjadi di masa lalu, tapi sampai sekarang Mas Indra dan Faris masih berteman, jika aku cerita mungkin Mas Indra akan membenci Faris seperti yang di perkirakan Faris tadi".


" Tapi apa iya selama ini Mas Indra sama sekali tidak tahu dengan hubungan gelap istri dan temannya?. Dan yang paling mengejutkan, El itu anak siapa?, semoga saja El adalah anaknya mas Indra, tapi jika El bukan anak Indra, pasti Mas Indra sangat sedih dan shock", batin Dila sambil menyeruput jus melon dari gelasnya hingga tandas.

__ADS_1


" Sebaiknya sekarang aku datang ke dokter spesialis kandungan dulu, bagaimana hasilnya nanti, kalau baik maka aku baik-baik saja, dan aku hanya perlu memeriksakan Mas Indra juga, semoga semuanya baik-baik saja", doa Dila, harap-harap cemas.


__ADS_2