Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 87


__ADS_3

Dila sengaja datang ke klinik tempat praktek dokter kandungan, disana Dila menyampaikan tentang keinginannya untuk bisa segera hamil. Dila juga mengatakan jika dirinya belum haid sejak bulan lalu, tapi belum melakukan pengecekan apapun, dan Dila merasa tubuhnya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda kehamilan seperti yang sering didengarnya dari beberapa kenalan yang pernah hamil seperti mual, pusing atau lemas.


Dokter spesialis kandungan yang sudah terkenal sangat handal itu hanya tersenyum mendengar ucapan Dila.


" Sudah banyak sekali pasangan pengantin baru yang datang dan konsultasi ke sini, mereka kebanyakan datang berdua dengan suaminya, kenapa mba Dila datang kesini sendiri?, apa suaminya sibuk bekerja?".


Dila meringis sambil mengangguk, " suami saya memang masih bekerja, sebenarnya ada satu hal yang ingin saya beri tahu, dan ini adalah rahasia, suami saya tidak mengetahui kalau sebelum ini saya mengikuti KB suntik, karena waktu itu jujur saya belum siap untuk hamil dan memiliki anak".


" Saya sudah berhenti melakukan suntik terakhir sebelum bulan puasa, saat bulan puasa saya haid seperti biasa, dan itu haid terakhir saya Dok, itu mengapa saya belum mengajak suami saya, saya khawatir suami saya akan marah kalau tahu saya pernah KB sebelumnya".


Dokter itu mengangguk paham, " jadi anda diam-diam melakukan KB tanpa sepengetahuan suami Anda, wah sebaiknya sekarang kita langsung melakukan pemeriksaan, apa kondisi rahim anda sehat dan baik-baik saja atau jadi kering karena pengaruh hormon KB suntik. Karena sebenar bagi wanita yang belum pernah hamil, sangat di larang melakukan KB suntik, karena bisa berpengaruh terhadap kesuburan rahim anda", terang Bu dokter.


" Silahkan merebahkan diri di tempat pemeriksaan, yang rileks saja mba Dila, nanti kita lihat dan periksa semua organ tubuh terutama organ reproduksi anda".


Dokter wanita yang usianya sekitar 40 tahunan itu memeriksa Dila, secara keseluruhan, Dila mengikuti semua perintah dan instruksi dari dokter wanita itu.


" Syukur alhamdulilah semuanya baik-baik saja, mba Dila sehat, begitu juga dengan rahim anda, semuanya sehat. Tapi memang belum ada janin di dalam rahim mba Dila, mungkin bulan kemarin tidak datang bulan karena pengaruh hormon setelah menghentikan KB suntik, biasanya seperti itu".


" Saya sarankan mba Dila lebih banyak makan buah dan sayur, daging dan makanan bergizi lainnya, jangan terlalu sering makan makanan cepat saji dan perbanyak minum air putih".


" Kalau bisa suaminya juga harus ikut ke sini, karena kehamilan seseorang itu tergantung dari kedua belah pihak, antara suami dan istri, jadi kesehatan suami mba Dila juga harus di cek, itu saran saya", sambung Bu dokter.

__ADS_1


Dila mengangguk mengerti dan meminta pamit sekaligus berterimakasih kepada Bu dokter, tak lupa membayar administrasi terlebih dahulu, baru Dila kembali pulang menuju rumah.


Jika memang dirinya sehat, tapi belum ada tanda-tanda kehamilan, berarti Dila harus mengajak Indra untuk cek kesehatan juga. Jika Indra juga sehat, berarti hanya tinggal bersabar dan berusaha. Toh berarti baru dua bulan ini Dila benar-benar berusaha.


Dila pulang ke rumah dengan membawa hasil cek kesehatan di tangannya. Fatma yang sedang bermain-main dengan El menanyakan kertas apa yang dibawanya. Dila pun menunjukkan kertas laporan kesehatannya.


" Jadi kamu habis periksa ke dokter spesialis kandungan?, seharusnya kamu ajak ibu biar ada yang menemani", gumam Fatma.


" Nggak papa Bu, kan ibu harus menjaga El, kalau ibu nemenin Dila periksa kesehatan El nanti sama siapa?, yang penting hasilnya sudah keluar, Dila sehat dan rahim Dila juga baik-baik saja, tinggal berusaha dan berdoa semoga keinginan El untuk segera punya adik akan segera terkabul".


Dila sebenarnya ingin sekali memberi tahu ibu mertuanya dengan apa yang didengarnya di kampus tadi, tapi Dila khawatir kalau sampai beliau shock dan bisa jadi akan melakukan tes DNA, benar El putra Indra, atau bukan.


El masih terlalu kecil untuk menerima masalah seberat ini, dia tidak salah apa-apa, dan dia hanyalah korban.


" Iya sayang... ibu Dila dari tempat dokter, tapi ibu Dila nggak sakit, cuma pengen periksa sudah ada adik bayi apa belum di perut ibu Dila, tapi maaf, ternyata belum ada adik bayinya di dalam perut, sepertinya Bu Dila dan El kurang bersungguh-sungguh memintanya, makanya belum dikasih adik bayi sama Allah".


Raut wajah El nampak kecewa mendengar kalimat Dila, namun El seketika kembali ceria saat Fatma mendekati El dan memberi tahu El, jika El akan segera punya Adik bayi, kalau El meminta pada Allah secara sungguh- sungguh.


" Kalau begitu El akan lebih sering berdoa dan meminta sama Allah biar cepet dikasih adik bayi".


El yang sedang bermain pergi ke kamarnya, berwudhu dan berdoa sebisanya.

__ADS_1


Dila sampai menahan tawa karena belum terlalu banyak doa dan suratan pendek yang El hafal, sehingga saat Dila mendengarkan doa yang El baca, ada doa makan, doa habis makan, doa mau tidur dan juga bangun tidur. El memang masih sangat lugu, segala doa dibaca olehnya, dan yang paling menyentuh hati, doa yang di ucapkan di bagian akhir.


" Ya Allah, El mau punya adik bayi yang lucu seperti adiknya Rayna, tolong kasih adik bayi di perut Bu Dila, El akan sabar menunggu sampai perut Bu Dila menjadi besar dan mengeluarkan adik bayi yang lucu, semoga Kau mendengarkan doaku ya Allah, aamiin".


Dila dan Fatma yang diam-diam memperhatikan El dari pintu kamar El yang terbuka begitu tersentuh dengan doa tulus yang El panjatkan.


Fatma masuk ke dalam kamar dan memeluk El dengan erat saking gemesnya punya cucu sepintar El


" Nenek, El sudah berdoa dengan sungguh-sungguh supaya di dengar sama Allah, nanti tinggal nenek dan Bu Dila juga harus berdoa dengan sungguh-sungguh seperti El, nanti El juga mau bilang sama Ayah supaya Ayah juga ikut berdoa, sama bi Darsih dan bi Ana juga".


Fatma mengangguk sambil tersenyum dan meneteskan air matanya yang polos begitu saja saking terharunya dengan sikap El.


Dila menunjukkan hasil cek kesehatan nya kepada Indra pada malam harinya, Dila juga menyampaikan pesan dari dokter kandungan jika Indra juga harus melakukan pemeriksaan.


Selang dua hari setelah pemeriksaan Dila, Indra bersama Dila pergi ke dokter spesialis kandungan yang sama, Indra pun mengikuti pemeriksaan, dan hasilnya sangat mengejutkan, ternyata dari hasil pemeriksaan, ****** Indra termasuk ****** yang kurang subur, faktor penyebabnya bermacam-macam, bisa jadi karena Indra terlalu capek bekerja, bisa juga disebabkan karena perokok, atau karena kurang istirahat, sehingga membuat ****** kurang bagus.


" Kalau memang ingin segera mempunyai momongan, sebaiknya Pak Indra melakukan istirahat yang cukup, bisa liburan selama beberapa hari, mungkin terlalu sibuk bekerja, dan terlalu banyak begadang membuat kualitas ****** Pak Indra kurang bagus, kalau seperti itu terus tentu akan lama mengalami pembuahan".


" Saran saya sebaiknya Bu Dila dan Pak Indra untuk berlibur atau melakukan bulan madu lagi, meski bukan pengantin baru, tapi masih tetap ada keinginan untuk berbulan madu kan?, mumpung usia Bu Dila masih dalam usia subur, kalau laki-laki si sampai kakek-kakek juga bisa punya anak, karena tidak mengalami monopose seperti perempuan".


" Satu lagi, kalau bisa lakukan hubungan badan di pagi hari, karena di pagi hari kualitas ****** sedang bagus", terang Bu Dokter.

__ADS_1


Indra dan Dila keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan dengan wajah tak se ceria saat masuk. Bukan khawatir tidak bisa punya anak, karena Indra hanya butuh istirahat, tapi yang masih mengganjal di pikiran Dila, jika dulu Kayla hamil saat Indra sedang sibuk-sibuknya merintis usahanya, pasti Indra juga akan sangat lelah, dan mungkin sama dengan saat ini yang mana kualitas spermanya tidak bagus.


Jadi El itu anak siapa?.


__ADS_2