Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 108


__ADS_3

Semakin hari perut Dila nampak semakin membesar, bahkan tubuhnya juga semakin berisi, tubuh Dila yang dulu padat berisi kini lebih berisi lagi karena semangat makannya yang semakin meningkat. Benar kata sang ibu mertua, Dila kini sehari bisa makan hingga 4 sampai 5 kali sehari, itu belum termasuk ngemil saat menjelang siang dan sore hari.


Bobot tubuh Dila yang awalnya 50 kg kini sudah bertambah 10 kg, menjadi 60 kg. Namun Dila tidak ambil pusing, karena ibu hamil yang sehat memang harus mengalami kenaikan berat badan setiap bulannya.


Kini usia kandungan Dila sudah memasuki 7 bulan, biasanya jika di kampung tempat Dila tinggal akan diadakan prosesi 7 bulanan dengan membuat nasi tumpeng dengan berbagai macam jenis lauk seperti belut, serundeng, sayuran, irisan petai, jengkol, sambel bisa dan berbagai macam umbi-umbian. Itu memang sudah seperti sebuah adat.


Namun di Jakarta tidak ada acara seperti itu, hanya memanjatkan doa untuk keselamatan ibu dan calon bayi diisi dengan pengajian dengan penceramah seorang ustadz.


Karena merasa ada yang kurang, Siti dan Toto yang sengaja datang ke Jakarta untuk mengikuti acara 7 bulanan kehamilan Dila di Jakarta jadi mempunyai ide untuk membawa Dila pulang ke kampungnya, sekedar menjalani ritual 7 bulanan seperti adat yang biasa dilakukan di kampung mereka.


Siti yang meminta ijin pada Indra agar Dila boleh ikut dengan mereka pulang kampung selama beberapa hari. Namun bukan Indra namanya jika tidak mengkhawatirkan Dila. Akhirnya Indra pun ikut pulang kampung bersama dengan El.


Karena itu Indra memilih langsung ikut bersama kedua orangtuanya ke kampung esok harinya, mumpung akhir pekan, dan tidak perlu ijin cuti, baik dirinya, Dila, maupun El.


Setelah mendapat persetujuan Indra, Dila dan El langsung bersiap menata beberapa pakaian ganti, karena baju di kampung pasti sudah tidak muat dipakai oleh Dila, hanya demi menuruti keinginan kedua orang tua Dila mengadakan acara 7 bulanan kehamilan Dila sesuai ritual adat di kampungnya.


Acara pengajian di Jakarta Kamis malam/ malam Jum'at, Jum'at sorenya Dila, Indra dan El ikut pulang ke kampung bersama Toto dan Siti, perjalanan jauh yang cukup melelahkan membuat mereka sampai di kampung kelahiran Dila jam 1 dini hari. Dila langsung merebahkan diri di ranjangnya untuk istirahat.


Tak Dila sangka ternyata kedua orang tuanya sudah melakukan renovasi rumah, mereka tidak pernah memberi tahu soal hal itu. Kamar Dila kini sedikit lebih luas karena nambah sekitar 2 meter luasnya, di dalam kamar Dila kini sudah ada kamar mandi di dalamnya. Jadi tidak perlu mengantri dan menunggu penghuni rumah lain mandi jika ingin ke kamar mandi.


Kamar itu semuanya di cat putih bersih, dengan tirai baru berwarna abu-abu, dan juga sudah dipasang AC di kamar Dila, sungguh kedua orang tua Dila memperhatikan kenyamanan Indra sang menantu.

__ADS_1


" Bapak dan ibu tidak pernah cerita kalau sudah renovasi rumah, padahal hampir setiap hari teleponan dan tanya kabar", gumam Dila sambil merebahkan dirinya di kamar.


Indra pun melakukan hal yang sama, merebahkan dirinya di ranjang Dila. Ranjang yang tidak sebesar ranjang di kamarnya yang di Jakarta, tapi ini lebih besar dari ranjang yang dulu digunakan saat pulang untuk resepsi pernikahan.


El tidur bersama Dita dikamar Dita, sejak mereka sampai El memang sudah tidur di mobil, dan Dita langsung meminta pada Indra untuk menidurkan El di kamarnya. Indra pun tidak bisa menolak karena Dita terus memohon.


" Mungkin mereka mau bikin kejutan buat kamu, makanya nggak cerita-cerita, biar surprise begitu"


" Oh ya.... untuk acara besok biasanya acaranya bagaimana, apa ada yang perlu mas lakukan?", Indra bertanya karena belum pernah melihat seperti apa ritual di kampung Dila.


" Mas lihat saja, besok bakalan rame banget, banyak ibu-ibu dan saudara datang bantuin masak, mirip kaya mau hajatan lagi, cuman nanti yang berdoa anak-anak kecil, habis itu nenek-nenek. Kalau acara yang anak kecil, biasanya mereka duduk melingkar memutari nasi tumpeng yang di gelar di atas daun pisang yang di tata di atas tikar. Mas nggak perlu ngapa-ngapain. Ibu pasti sudah mempersiapkan semuanya. Jadi kita ikuti saja mau ibu bagaimana", ujar Dila.


Benar sekali yang Dila pikirkan, Siti bahkan baru sampai rumah langsung datang ke rumah sebelah mengajaknya pergi ke pasar, dan juga mengabari saudara-saudaranya agar datang esok pagi untuk membantunya masak-masak untuk acara 7 bulanan Dila.


Saudara juga semakin dekat dan mudah untuk dihubungi, memang keadaan seperti itu sudah biasa, mana saudara yang sedang berhasil, pasti akan mudah untuk mengundang saudara lainnya untuk membantu acara mereka.


Apalagi jaman sekarang memang sangat dipermudah oleh alat komunikasi. Hanya perlu mengabari di grup keluarga, pagi-pagi usai subuh, beberapa tetangga dan saudara sudah datang ke rumah Siti.


Siti sudah pergi ke pasar jam 2 dini hari, pasar besar di tempatnya memang buka pukul 1 pagi, dan sudah sangat ramai. Siti berbelanja berbagai macam kebutuhan untuk masak, dari bumbu dapur untuk masak-masak, juga buah-buahan untuk membuat rujak buah.


Siti membagi tugas, saudara laki-laki bertugas ke pasar ikan untuk membeli ikan dan belut guna dimasak. Ada juga yang disuruh untuk memetik kelapa muda untuk dibuat es kelapa muda, untuk dibagikan bersama nasi tumpeng dan rujak buah. Yang ibu-ibu sebagian membuat nasi tumpeng, ada juga yang memasak sayur, dan sebagian membuat rujak buah.

__ADS_1


Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Karena memang banyak sekali yang harus mereka kerjakan. Karena semua masakan serba banyak. Biasanya akan banyak sekali anak-anak kecil yang ikut acara 7 bulanan, karena mereka ingin mendapat nasi tumpeng, rujak dan es kelapa muda. Belum lagi biasanya yang ikut acara akan diberi uang jajan oleh yang sedang hamil.


Dila juga meminta tolong pada Asna untuk menukarkan uang receh 5 ribuan, untuk dibagikan pada anak-anak yang ikut acara nanti.


Jam 10 semua masakan sudah selesai dimasak, Ada mbah-mbah yang terkenal sebagai dukun bayi di kampung Dila, dan juga pak ustadz yang diundang untuk mendoakan ibu hamil dan calon bayinya.


Acara sangat ramai karena lebih dari 50 anak-anak kecil bahkan sampai ibu-ibu mereka juga ikut datang menyaksikan acara 7 bulanan itu, yang biasa di sebut mitoni ( kepungan cah angon).


Untung saja Siti sudah memasak nasi tumpeng sampai 5 kuali, dengan berat masing-masing tumpeng 4 kg, berarti Siti membuat nasi total 20 kg. Jadi pasti cukup untuk dibagi anak sebanyak itu.


Acara dimulai dengan berdoa dipimpin pak ustadz, kemudian anak-anak kecil akan duduk mengitari nasi tumpeng yang sudah di sajikan di atas daun pisang yang digelar di atas tikar. Dengan berbagai macam taburan sayuran, belut, kerupuk, mie goreng, jengkol dan petai, serundeng, ikan kecil, dan berbagai lauk lainnya.


Setelah berdoa anak-anak kecil itu di olesi minyak atau lotion di daun telinga mereka oleh si ibu hamil, dan yang sudah diolesi lotion( di lontengi) akan mendapat uang dari ayah si calon jabang bayi, kemudian mereka berlari ke sungai beramai-ramai, sang dukun bayi akan menyiprati mereka dengan sapu yang dicelupkan ke air , dan dukun bayi akan melempar kendi usai menyiprati anak-anak yang berlarian itu, anak-anak kecil akan mengambil kerikil di sungai dan nyemplung dan membasahi pakaian sampai kepala mereka, dan kembali dengan membawa batu kerikil dan melemparkan ke anyaman bambu (gedeg) yang sudah disiapkan sebagai tempat lemparan kerikil.


" Untuk apa mereka melakukan itu?", tanya Indra yang hanya berdiri melihat anak-anak kecil itu melempari anyaman bambu dengan kerikil.


Sejak tadi memang Indra selalu bertanya, ini untuk apa, dan itu untuk apa, karena semua yang dilakukan anak-anak kecil itu baru pernah seumur-umur Indra menjumpainya.


" Memang seperti itu adat disini, tanya ibu saja aku juga tidak tau apa maksud dari semua itu Mas", jawab Dila yang memang tidak tahu menahu.


El sejak tadi hanya berdiri di samping Dita merekam semua ritual bocah angon yang sedang berlangsung, begitu ramai dan banyak sekali anak kecil baik sepantaran dengannya ada juga yang lebih besar. Semuanya nampak berebut mengambil nasi tumpeng yang sudah dibungkus daun pisang, dan juga rujak beserta es kelapa muda yang dibungkus dengan plastik.

__ADS_1


Semua nampak bahagia, semua nampak bersuka cita, meski Dila tidak paham dengan maksud tujuan semua ritual itu, tapi yang Dila tahu, berbagi pada para tetangga dan saudara, membuat bahagia mereka dengan hal-hal kecil dan menuruti keinginan orang tua, adalah hal baik yang tidak ada salahnya dilakukan, dan semua hal itu membuat Dila jadi merasa bahagia.


Semakin banyak yang mendoakan dirinya dan juga calon buah hati mereka, itu akan semakin baik. Do'a-do'a tulus, dari mulai anak kecil hingga nenek-nenek yang ikut hadir, semua akan menjadi do'a baik yang tertuju pada Dila dan calon bayinya.


__ADS_2