
" Lagi ada acara apa ini kok peluk-peluk segala?, jadi pengen gabung, biar bisa peluk kedua wanita yang cantik ini", Indra memeluk Dila dan ibunya bersamaan.
" Loh, Mas... sudah pulang toh, mau mandi atau makan dulu?", Dila mencium tangan Indra setelah Indra sungkem pada ibunya.
" Nanti saja makannya, Mas masih kenyang tadi makan siang di kantor".
" Kalian habis nyalon kok malah pada duduk-duduk di sini nggak jalan-jalan sekalian biar luar dalam jadi fresh semua", Indra ikut duduk di gazebo.
" Tadi memang sudah rencana mau jalan-jalan, tapi El minta beli pizza yang gede banget, sampai kita bertiga kekenyangan ngabisin pizza itu bareng-bareng".
" Kamu mandi dulu sana, biar nggak bau asem, pulang kerja langsung ikut nimbrung kesini". Fatma mendorong Indra untuk masuk ke dalam rumah dan mandi.
Malam harinya usai makan malam bersama, Dila menerima panggilan video dari Dita, Dila dan Dita ngobrol tentang pemberian Indra pada sang bapak. Dila memang belum tahu apa yang diberikan Indra di dalam amplop putih itu, karena Dila hanya melihat amplopnya saja, tanpa mengetahui isinya.
" Bapak dan ibu juga mau ngobrol sama mas Indra Mba", ujar Dita.
Dila menyerahkan ponselnya pada Indra, Indra sengaja mengobrol dengan bahasa santai, karena sejak awal bapak dan ibu mertuanya terus mengucapkan terima kasih.
Indra sengaja membawa ponsel Dila ke dalam kamar, karena Dila sedang menemani El belajar di ruang tengah.
" Sebenarnya itu tidak seberapa, karena saya sudah membawa putri bapak dan ibu untuk menjadi pendamping hidup saya selamanya. Justru saya merasa itu masih sangat sedikit dibanding apa yang sudah saya ambil dari bapak dan ibu".
Ucapan Indra memang ada benarnya, dia sudah membawa putri pertama Toto dan Siti bersamanya, dan entah berapa tahun sekali mereka bisa kembali berjumpa. Beda jika Dila menikah dengan Nino yang notabenenya adalah kades dimana mereka tinggal. Dila akan menjadi ibu kades muda, yang setiap saat bisa mengunjungi bapak dan ibunya karena tinggal satu desa.
" Itu tidak benar nak Indra, karena jodoh itu tidak ada yang tahu, akan dekat atau jauh, semua itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa".
Obrolan mereka berakhir setelah hampir satu jam mereka bertatap muka melalui ponsel. Waktu yang cukup lama untuk membahas banyak topik.
Dila sudah selesai membantu El belajar, dan membacakan dongeng untuk El, sekarang El sudah tidur, sehingga Dila kembali ke kamarnya.
__ADS_1
" Kok Mas nggak bilang-bilang dulu sama aku kalau mau ngasih sawah dan lahan dekat rumah bapak di kampung, sama bapak?", Dila melihat Indra meletakkan ponselnya di atas nakas, karena sudah selesai mengobrol.
" Bukan nggak mau ngomong, tapi nanti kamu pasti akan menolak kalau aku bilang duluan. Kamu kan selalu menolak pemberianku".
Dila meringis, " nggak juga, buktinya aku mau nerima ini, ini, itu, itu dan masih banyak lagi", Dila menunjuk baju dan jam tangan yang sedang dikenakannya, kemudian menunjuk tas dan juga dompet yang tergeletak di atas meja. Semuanya pemberian Indra.
" Itu kan sudah jadi tanggung jawabku, kamu istriku, wajar aku ngasih itu semua". Indra merengkuh Dila yang duduk di tepian ranjang dan mengecup keningnya.
" Sekarang aku hanya berharap satu hal, bisa segera punya anak dari kamu, mau perempuan atau laki-laki, itu tidak masalah, aku suka semuanya, kalau perempuan pasti secantik kamu, dan kalau laki-laki bisa setampan El", ucap Indra.
" Bukankah El sangat mirip dengan kamu Mas... jadi kalau laki-laki bisa setampan kamu dong?", Dila sengaja mencibirkan bibirnya membuat Indra terkekeh.
" Maafkan aku Mas, aku sudah melakukan KB suntik tanpa sepengetahuan kamu, aku janji suntik yang kemarin yang terakhir, karena aku juga sudah siap untuk memiliki anak bersama kamu Mas", batin Dila.
" Apa sekarang kita akan usaha untuk membuat adiknya El?", Indra sudah mulai menelusupkan tangannya ke dalam baju tidur Dila. Dila menerima dengan pasrah dan menurut saja apanyang diinginkan oleh sang suami. Dan malam itu keduanya kembali bersatu dalam kehangatan malam yang indah.
***
Pagi ini Dila bangun pagi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Rasa grogi dan khawatir jelas dirasakan oleh Dila, padahal Indra sudah berusaha untuk membuatnya lebih rileks dengan mengatakan hal-hal lucu atau menceritakan cerita humor receh yang pernah didengar dari teman-temannya.
Namun sepanjang perjalanan Dila sudah terlalu nervous, dan sulit untuk tersenyum. Sehingga cerita humor yang Indra berikan saat di mobil semuanya hanya lewat di telinga saja.
Ya.... hari ini Indra sengaja mengantar Dila ke kampus untuk melakukan sidang skripsi akhirnya, Indra sengaja ijin pada sekertarisnya untuk menggeser jadwal pagi, karena Indra rencana akan masuk kantor siang setelah Dila selesai sidang skripsi.
Cukup lama Dila berada di dalam ruangan sidang, beruntung Dila menjadi peserta pertama yang masuk sehingga tidak perlu menunggu dan antri di luar, yang bisa membuatnya semakin nervous.
Jam 11 siang Dila keluar dari ruang sidang dengan wajah lega. Dari ekspresi Dila, sepertinya semua berjalan lancar.
" Gimana sayang, apa lancar?", Indra langsung menyambut Dila saat Dila keluar dari ruangan.
__ADS_1
Dila tersenyum lebar, " Alhamdulillah Mas, lancar. Awalnya aku grogi banget pas mau masuk, tapi waktu masuk ke dalam semua rasa grogi hilang saat membaca pesan dari Dita, ibu dan bapak sedang mendoakan aku dari sana. Seketika jadi bersemangat saat mengingat bapak dan ibu di kampung, mereka berdua yang sudah begitu banyak berkorban dan berjuang untukku, aku jadi termotivasi untuk bisa dan kembali bersemangat".
Indra merangkul Dila dan berjalan menuju mobilnya di parkiran. " Ini baru Dila yang Mas kenal, sejak pagi kamu berubah, terlalu spaneng dan serius, tahu kalau yang bisa bikin kamu semangat dan percaya diri itu adalah bapak dan ibu, pasti sudah Mas telepon mereka tadi pagi".
Dila hanya meringis sambil masuk ke mobil Indra.
" Jadi habis ini mau kemana?, ikut Mas ke kantor, atau Mas antar pulang?".
Dila nampak berfikir. " Kita ke kantor Mas saja, El hari ini diantar sama neneknya. Mending ikut Mas ke kantor, tapi nanti aku keluar sebentar ya, mau ketemuan sama Lita di kafe deket kantor Mas", ujar Dila.
" Sudah janjian?", tanya Indra.
Dila menggeleng, " baru janjian mau ketemu, tempatnya belum ditentukan, katanya terserah aku, ya sudah di kafe deket kantor Mas saja, Lita kan setuju saja mau dimana".
Dan setelah setengah jam perjalanan, disinilah Dila dan Lita sekarang, kafe yang berada persis di seberang kantor Indra.
Dila sudah memesan makanan dan minuman untuk Lita sembari menunggunya tadi, sekalian pesan makan siang untuk dimakan Indra di kantor. Indra harus langsung ke kantor karena ada meeting jam 1 siang.
" Nggak lama kan nunggunya?", Lita baru saja sampai dan menepuk bahu Dila yang sudah duduk sejak tadi di kursi.
" Lumayan, tapi nggak papa sih, kan cukup jauh dari kantor ayah kamu, wajar kalau perjalanan kamu cukup lama. Emang nggak papa nih kamu keluar kantor pas jam kerja begini?", tanya Dila merasa tidak enak.
" Santai girls... itu kantor milik papi, mana ada yang berani marahin aku, pengen di pecat apa yang berani marahin anak bos?, lagian sudah kesepakatan aku sama papi, aku mau kerja di kantornya tapi nggak mau terikat kaya karyawan lainnya. Atau aku kerja di perusahaan lain sesuai dengan keahlianku, lagian papi lucu kuliahnya di bidang apa..., tapi dapat posisi kerjanya di bagian keuangan, pusing pala berbi tiap hari, butuh refreshing". cerocos Lita panjang lebar.
" Sekarang duduk..duduk... ngomongnya sambil duduk dong, jangan berdiri terus, kamu kayak lagi marahin aku tau nggak Lita ?, pasti yang sejak tadi ngeliatin ke arah kita mengira aku sudah merebut pacar kamu, atau aku selingkuhan pacar kamu, karena datang-datang kamu langsung nyerocos keras sambil berdiri", Dila menarik Lita untuk duduk disampingnya karena sejak tadi terus berdiri.
" Oh iya sori sori Dil, terus ngomong-ngomong, apa ini makanan sama minuman kamu pesen buat aku?, kebetulan aku lagi haus banget nih", Lita langsung meminum jus stroberi hingga habis setengah gelas.
" Iya itu buat kamu", jawab Dila singkat dan mengambil kentang goreng yang ada dimeja. " Kamu makan dulu saja Lit, nanti di lanjut ngobrol kalau sudah kenyang", ujar Dila.
__ADS_1
Lita pun menikmati makanan yang sudah dipesankan oleh Dila tanpa bersuara dan berisik seperti tadi.
" Lita... Dila.... kalian kok bisa ada disini... sengaja ketemuan?", Lita dan Dila menengok ke asal suara, ternyata Bram selesai meeting dan sengaja mampir ke kafe itu bersama teman-teman meetingnya.