
Sampai di rumah Dila langsung membawa El ke kamarnya, awalnya Indra hendak mengambil El dari gendong Dila saat turun dari mobil, tapi Dila menolak menyerahkan El, dan membawa sendiri El masuk sampai di kamarnya.
Terlihat banyak barang belanjaan perlengkapan sekolah yang tadi di beli di mall berada di kamar El. Masih berantakan dan belum diletakkan di tempatnya masing-masing.
Dila ingin membereskan semua barang-barang itu setelah merebahkan tubuh El di kasur, tapi Indra melarang.
" Kamu ikut istirahat saja, pasti kamu juga capek setelah seharian menemani El bermain-main, biarkan nanti bi Ana saja yang bereskan itu semua".
Indra pun memanggil Bi Ana dan menyuruhnya menata semua barang belanjaan El tadi. Indra keluar dari kamar El dan menuju kamarnya saat bi Ana masuk.
" Biar saya bantu bi Ana, biar cepet selesai", Dila ingin istirahat, tapi tidak bisa, karena merasa tidak enak kalau ada orang lain sedang bekerja dan dirinya tidur.
" Makasih ya Dil, sebenarnya kamu tidur saja juga nggak papa, kamu pasti sudah capek banget seharian ngikutin den El", ucap bi Ana sambil meletakkan barang-barang pada tempatnya.
" Nggak papa bi, cuma sebentar ini, nggak bisa tidur kalau berantakan begini", Dila terus membantu hingga semua barang tertata dengan rapi pada tempatnya.
" Sudah selesai sekarang kamu bisa tidur, aku keluar dulu ya", Bi Ana keluar kamar dan menutup pintu kamar El.
Saat Dila baru merebahkan diri di samping El, ponselnya berdering.
" Halo assalamualaikum Mas Kun, ada apa kok nelepon tiba-tiba?", Dila mengangkat telepon dari Kunto yang ternyata sudah sejak tadi melakukan panggilan tapi Dila tidak tahu karena Hp di silent.
" Aku sudah di Pulo gadung, ini lagi naik angkot menuju perumahan tempat kamu bekerja, sebentar lagi sampai, apa kamu bisa temui aku di luar sebentar? ".
Dila mengernyitkan keningnya, " ngapain Mas Kun kesini, aduh jauh-jauh dari Cibitung, kalau nggak ditemui kasihan juga", batin Dila. Dila menatap El yang masih tidur degan pulas. " Mungkin ditemui sebentar tidak ada salahnya". pikir Dila.
" Ya bisa Mas, Mas tunggu di minimarket yang ada di seberang jalan, nanti aku kesitu", telepon terputus.
Dila langsung mencari Indra, dilihatnya Indra sedang menelepon seseorang di ruang tengah.
" Permisi Tuan".
Indra menengok, dan menjauhkan ponselnya, " Kok kamu nggak ikut tidur sama El?".
" Anu Tuan, saya... mau ijin... pergi ke minimarket... sebentar", ucap Dila dengan terbata-bata.
Indra yang sedang menerima telepon penting pun langsung mengiyakan, " Ya pergi saja".
Dila pun langsung keluar rumah sambil membawa ponsel dan dompetnya. Berjalan cepat, bahkan sedikit berlari saat membaca pesan dari Kunto bahwa dia sudah sampai di minimarket.
Dari jauh Dila bisa melihat Kunto duduk di kursi yang ada di depan minimarket dengan dua buah es krim di tangannya dan beberapa snacks yang diletakkan di meja bundar kecil yang ada payung besarnya.
__ADS_1
Dila buru-buru melangkah menghampiri Kunto. Tak lupa Dila melepas dulu tompel dan kacamata nya ,dan diletakkan di meja.
" Hai Mas Kun...apa kabar?", Dila langsung duduk di kursi yang ada di sebelah kursi yang diduduki Kunto.
Kunto memberikan satu es krim contong yang ada di tangannya pada Dila.
" Makasih Mas", Dila menerima es krim itu dan langsung membuka kemasannya dan memakannya, Kunto memang selalu seperti itu, sangat baik, dan selalu membuat Dila merasa diperhatikan. " Ada perlu apa sampai jauh-jauh datang kesini?", tanya Dila sambil menikmati es krim coklat di tangannya.
" Apa kamu betah kerja disini?, sudah seminggu sejak kamu pergi, rasanya di kontrakan kaya ada yang hilang".
" Aku betah kerja di sini Mas Kun, karena disini tidur dan makan gratis, gaji ku bisa utuh selama sebulan, paling cuma buat beli keperluan pribadi saja, tak seberapa. Dan yang paling membuat betah, ternyata El itu anak yang penurut dan sangat menggemaskan Mas".
Kunto tersenyum tipis mendengar ucapan Dila. Tiba-tiba Kunto menggenggam tangan kiri Dila yang menyandar dimeja bundar. " Kayaknya aku bakalan kangen banget sama kamu kedepannya".
Dila hendak menarik tangannya tapi genggaman Kunto lebih kuat dari tenaga Dila yang berusaha melepaskan diri.
" Dengarkan aku baik-baik Dil. Sebenarnya aku ke Bekasi dan bekerja itu untuk membantu Sarah melanjutkan kuliah, tapi sekarang Sarah sudah menikah dan aku tidak mungkin lagi membantunya, sudah ada suaminya yang bertanggung jawab untuk itu. Karena itu aku akan kembali ke Pemalang, orang tuaku menyuruhku pulang dan meneruskan usaha mereka, dulu bapak dan ibuku tidak merestui hubungan kami karena Sarah itu dekat dengan banyak laki-laki, tapi aku bersikukuh tetap pada pendirian ku yang ingin membantunya".
" Sekarang aku sudah tidak punya alasan untuk tidak pulang, orang tuaku juga ingin aku melanjutkan kuliah. Jadi mungkin ini pertemuan kita yang terakhir". Kunto nampak sedih setelah selesai mengucapkan apa yang ingin disampaikan pada Dila.
" Jangan sedih begitu Mas Kun, kita kan masih bisa teleponan, bisa Videocall, sekarang jaman sudah canggih", ujar Dila menenangkan.
Ucapan Kunto membuatnya bingung harus menjawab apa, Dila sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.
Ada Nino di kampung yang sudah mengatakan akan serius dengannya, sekarang perasaan Kunto membuat Dila jadi semakin bingung. Karena Dila juga merasa nyaman saat bersama Kunto. Apa rasa nyaman saat bersama itu bisa di artikan jatuh cinta?.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Indra, mengatakan jika El bangun dan mencari dirinya.
Dila pun berdiri dari duduknya, " ini anak asuh aku sudah bangun, dia nyariin aku, aku harus segera kembali ke rumah mas Kun".
Kunto ikut berdiri masih menggenggam tangan Dila dengan erat.
" Ijinkan aku memeluk kamu untuk yang terakhir Dil, aku ingin membuat kenangan pertemuan terakhir yang indah bersama kamu. Mungkin iya aku mencintaimu, dan jika Tuhan menghendaki, aku pasti akan datang meminang mu sebelum laki-laki lain meminang mu kelak".
" Mas Kun....", Dila tak bisa lagi berkata-kata, Kunto menarik tubuh Dila lebih dekat dan memeluknya dengan sangat erat. Kunto mengecup kening Dila dengan air mata yang mengalir di pipinya.
" Jangan sering kelayapan, dan membuat lebih banyak laki-laki jadi mencintai kamu ya Dil, biar aku tidak semakin banyak saingan".
" Aku akan pulang ke kampung dan menjadi orang sukses agar layak menjadi pasangan kamu kelak. Tolong jaga hati kamu Dil".
Kunto kembali merengkuh tubuh Dila kedalam pelukannya.
__ADS_1
" Kak Dila....!", teriakan seorang anak kecil membuat Dila menengok ke asal suara, dan melepaskan pelukan Kunto.
" El...!", Dila langsung melepaskan pelukannya dan mengambil kacamata serta tompel yang tadi diletakkan di meja bundar.
El datang bersama Indra naik motor matic yang baru pernah Dila lihat. Indra memarkir motor di depan minimarket sambil menatap Dila dengan tatapan yang sangat tajam.
El turun dari motor dan mendorong tubuh Kunto untuk menjauh, " Awas...!".
El pun langsung memeluk Dila,
" Kakak itu siapa?, kok peluk-peluk Kak Dila, El nggak suka Kakak itu".
Ternyata El cemburu dengan Kunto karena tadi melihat Kunto memeluk Dila.
" Dia teman kakak, lagi pamitan mau pulang kampung, tadi itu pelukan perpisahan sayang...".
Kunto mengambil jajan yang ada di meja dan memberikan pada El. " Ini buat Adik El yang ganteng, Kak Kunto titip kak Dila ya El, tolong El terus bersikap seperti tadi, kalau perlu El marahi dan hajar saja kalau ada kakak cowok lain yang peluk-peluk Kak Dila".
El jadi bingung dengan sikap Kunto yang justru tidak marah meski sudah El dorong menjauh dari Dila.
" Kakak pergi dulu ya El, jangan lupa pesan kakak tadi, jangan biarkan ada cowok yang deketin kak Dila, oke?", Kunto mengajak tos pada El, tapi El malah berkacak pinggang dan membuang muka.
" Makasih mas Kun buat semuanya, hati-hati dijalan ya, kalau sudah sampai Pemalang jangan lupa kasih kabar", ucap Dila sambil melambaikan tangannya karena Kunto pergi dan sudah masuk ke angkot yang lewat.
Sepeninggal Kunto, Indra langsung mengajak El dan Dila pulang ke rumah, berboncengan motor matic sejuta umat. Indra membawa motor dengan sedikit ngebut karena jalan di komplek perumahan sepi, terpaksa Dila berpegangan pada besi belakang jok agar tidak jatuh.
" El masuk kedalam dulu, ayah mau bicara sama Kak Dila sebentar".
El menurut masuk kedalam rumah sambil membawa jajan pemberian Kunto, sedangkan Indra masih di teras bersama Dila.
" Apa tadi itu pacar kamu?, saya kan sudah pernah bilang apa saja syarat jadi pengasuhnya El, apa kamu lupa?, salah satunya dilarang pacaran!".
Dila tahu Indra akan memarahinya sesampainya di rumah, jadi Dila sudah menyiapkan diri untuk menerima Omelan dan teriakan Indra.
Setelah Indra ngomel dan ceramah panjang lebar, baru Dila berani bersuara.
" Maaf Tuan, dia itu bukan pacar saya, dia tetangga kontrakan saat di Bekasi, dan lagi pamitan mau pulang kampung", terang Dila.
" Tetangga kok pake peluk-pelukan segala, apalagi kalau pacaran, sampai sejauh apa kontak fisik yang kamu lakukan !", Indra meninggalkan Dila dan masuk kedalam rumah masih dengan emosi.
" Anda salah sangka Tuan Indra, saya bukan perempuan seperti yang anda pikirkan", seru Dila, tapi pasti Indra tidak mendengarnya.
__ADS_1