Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 135


__ADS_3

Esok harinya Dita, dan kedua orang tuanya di ajak Bu Fatma untuk mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung.


Namun Toto memilih tetap tinggal di rumah, karena menurutnya urusan oleh-oleh adalah urusan perempuan. Toto memilih menemani Dila dan Arsy di rumah, karena hari ini Indra sudah mulai berangkat kerja.


Memang perusahaan milik sendiri, tapi terlalu lama tidak ke kantor juga membuat laporan yang harus dicek semakin menumpuk.


" Memangnya nggak papa bapak di rumah saja, selama disini bapak kan belum pernah pergi kemana-mana?", tanya Dila saat Toto menolak ikut pergi bersama yang lain.


" Bapak sengaja tidak ikut, ada yang mau bapak bicarakan sama kamu Dil", ucapan Toto membuat Dila penasaran. Mungkinkah bapaknya sudah tahu jika yang menyukai Dita adalah Nino?.


Dan setelah yang lain pergi, Dila mengajak sang ayah mengobrol di ruang tengah setelah Dila berhasil menidurkan Arsy.


" Bapak mau ngobrol apa?". Dila duduk di samping bapaknya, sudah sangat lama Dila tidak ngobrol berdua saja dengan bapaknya, kapan terakhirnya, mungkin saat Dila dulu masih sekolah.


" Ini tentang Dita, apa kamu sudah dengar dari suamimu?".


Dila mengangguk.


" Menurut kamu apa Nino benar-benar menyukainya?, sebenarnya waktu kamu pulang kampung untuk mengikuti acara tujuh bulanan kamu, bapak pernah menjumpai mereka berdua berboncengan motor. Apa kamu ingat waktu hari minggu Dita dan El lari pagi sampai ke pasar badog?, ternyata mereka bertemu disana, dan Dita pulang diantar oleh Nino".


" Saat itu bapak pikir Nino sengaja datang kerumah agar bisa melihatmu, tapi sepertinya dugaan bapak salah, mungkin hari itu Nino sebenarnya sedang melakukan pendekatan dengan Dita".


" Karena masa lalu kalian berdua yang sempat berhubungan dekat, membuat pikiran bapak terus tertuju pada masa lalu itu".


" Hari itu bapak marah besar pada Dita karena dia tidak berpikir panjang membawa Nino pulang ke rumah, disaat kamu sedang mudik. Bapak sangat khawatir akan ada lagi hati-hati yang tersakiti jika kalian sampai bertemu". Ternyata ke khawatiran bapak itu sudah berlebihan".


" Jujur bapak memang menyukai Nino, dari jaman kamu berpacaran dengannya, bapak sudah sangat cocok kamu berpacaran dengannya, dia pemuda yang sopan dan pekerja keras. Sangat di sayangkan karena ternyata kalian berdua tidak berjodoh".


" Sampai saat ini, jujur bapak masih terus merasa bersalah karena dia tidak menjadi suami kamu. Nino selalu setia menunggumu di desa, sambil terus berjuang mencapai cita-citanya. Tapi justru kamu pulang dengan menyelenggarakan pesta pernikahan. Bukan hanya Nino yang sakit hati, tapi banyak orang yang ikut merasakan sakit hati atas peristiwa itu".

__ADS_1


" Bapak mengatakan hal itu bukan berarti bapak lebih menyukai Nino ketimbang Indra, karena sekarang bapak tahu kenapa kamu mau menikah dengan Indra. Indra tidak kalah baik dari Nino, bahkan dia pria yang sangat baik. Hanya saja disayangkan Indra berasal dari kota besar yang letaknya jauh sekali dari kampung kita. Membuat bapak tidak bisa setiap hari berkunjung ke rumah kamu".


" Butuh waktu seharian berkendara untuk bisa sampai dari rumah bapak ke rumahmu ini. Hanya itu saja yang bapak sayangkan".


" Dan saat Indra mengatakan jika Nino sekarang justru menyukai adikmu, bapak merasa seperti bisa menebus kesalahan bapak di masa lalu yang tak bisa menjaga kamu untuknya. Rasa tak enak dan rasa malu bapak pada keluarganya mungkin bisa diobati dengan merestui Dita untuk bersama dengan Nino. Menurut kamu bagaimana Dil?".


Dila mendengarkan ucapan bapaknya dengan seksama, Dila baru tahu ternyata bapaknya sampai segitunya menyalahkan dirinya sendiri karena pernikahan antara dirinya dan Nino yang tidak terealisasi.


Selama ini Dila pikir hanya dirinya saja yang dihantui rasa bersalah, tapi ternyata sang bapak merasakan hal yang sama juga.


" Pak... Dila pikir bapak tidak perlu menyampaikan hal yang bapak sampaikan pada Dila tadi kepada orang lain selain Dila, termasuk pada Dita atau Nino. Jangan membuat kesan seolah Dita adalah ganti rugi yang bapak berikan pada Nino".


" Kalau memang Nino sungguh-sungguh menyukai Dita, dan mau menunggunya hingga Dita lulus sekolah, itu akan lebih baik. Dila juga tidak keberatan untuk itu".


" Yang penting bapak tetap jaga Dita, sampai dia lulus, sepertinya Dita juga mengagumi Nino, berawal dari rasa kagum itu, mungkin lama-lama Dita akan mencintai Nino juga".


Memang benar yang dikatakan Dila, kalau sampai terulang, kasihan Nino yang harus kecewa untuk ke dua kalinya.


***


Malam harinya Dita dan kedua orang tuanya kembali ke kampung dengan membawa banyak oleh-oleh yang sudah dibeli siang tadi.


Indra menyuruh Ari untuk mengantarkan keluarga istrinya pulang sampai di rumah. Ari pun menuruti keinginan bos nya dengan senang hati.


Acara aqiqah Arsy dilaksanakan saat hari ke 7 Arsy dilahirkan. Tiga ekor kambing di sembelih untuk dimasak dan dibagikan, tapi tentu saja bukan di rumah Indra, melainkan di jasa katering aqiqah yang sudah dipercaya oleh Bu Fatma.


Masa cuti Dila selama 3 bulan terasa sangat cepat. Di saat Dila tengah cuti habis melahirkan, berita baik tentang dirinya yang diangkat menjadi PNS diterimanya melalui pesan email. Semua keberkahan seperti diperolehnya setelah melahirkan si kecil Arsy.


Bukan hanya dirinya saja yang lolos seleksi, Bima dan Evan juga beruntung karena mereka berdua juga lolos. Itu berarti ada kemungkinan mereka bertiga akan berpisah, mengikuti peraturan pemerintah yang akan menempatkan mereka disekolah mana akan mengajar.

__ADS_1


Evan akan di tempatkan di daerah Pemalang, karena memang itulah yang Evan harapkan, kembali ke kampung halamannya, dan tinggal dekat bersama kedua orang tuanya. Sudah terlalu lama Evan merantau di kota besar, sudah cukup waktu untuk berjuang di perantauan. Tinggal memetik hasil dengan kembali ke kampung halaman, dengan gelar baru, yakni pegawai negeri sipil.


Berbeda dengan Bima yang ditempatkan di SD negeri 45 yang berada cukup jauh dari tempat tinggalnya. Bima harus berangkat lebih pagi dari jadwal biasanya.


Dila yang paling beruntung, karena Dila ditempatkan di SD negeri yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sang suami. Memang bukan SD favorit seperti tempatnya mengajar dulu. Sekolah yang akan ditempatinya untuk mengajar berada di perkampungan padat penduduk di sebelah komplek perumahan elit tempat tinggalnya. Sehingga Dila bisa dengan cepat sampai dirumah jika pulang sekolah.


El tetap sekolah di SD Mutia, karena sekarang El sudah bisa mandiri di sekolah. Berangkat bersama ayahnya dan Ari, dan pulang menunggu jemputan dari Ari. Sekarang Ari yang sedikit lebih sibuk dengan pekerjaan tambahan menjemput El jika siang.


Tiap pagi hari saat Dila harus mengajar, si kecil Arsy akan dititipkan pada bi Ana dan bi Darsih jika sang nenek tidak datang kerumah. Namun lebih seringnya Arsy bersama nenek Fatma. Karena hampir tiap pagi Fatma datang ke rumah untuk membantu mengurus Arsy.


Mereka sangat mampu untuk membayar pengasuh / baby sitter, hanya saja Dila tidak ingin anaknya di urus dan dekat dengan orang lain. Dila ingin putri kecilnya di rawat oleh keluarga saja dengan saling bekerja sama.


Setiap hari Dila lebih memilih mengendarai motor matiknya untuk pulang pergi dari rumah ke sekolah baru tempatnya mengajar, karena sekolah baru berada di dalam pemukiman padat penduduk yang aksesnya lebih mudah dijangkau menggunakan kendaraan roda dua dari pada dengan mobil.


Dengan di tempatkan di SD negeri Dila jadi semakin banyak menambah teman. Ada beberapa kakak angkatannya saat kuliah yang juga mengajar di SD itu, meski awalnya tidak saling kenal, tapi Dila yang luwes memang gampang akrab dengan siapa saja dengan cepat.


Kebanyakan kakak angkatan memuji-muji ketampanan dan kebaikan Faris sang dosen favorit mahasiswa, namun Dila tak pernah ikut menanggapi, karena Dila sudah terlanjur ilfil dengan laki-laki itu.


Beberapa bulan kemudian, tepatnya saat Arsy sudah bisa duduk sendiri, Dila mendapat berita mengejutkan datang dari Lita yang mengirimkan undangan pernikahan padanya.


Lita memang sempat datang membawa hadiah untuk kelahiran Arsy dulu, tepatnya saat Arsy baru berusia satu bulan. Lita datang seorang diri dengan membawa hadiah besar berisi baju-baju bayi yang cantik dan lucu.


Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan jika Lita menikah di usianya yang sudah 28 tahun, yang membuat mengejutkan karena calon suami Lita adalah Mas Kunto. Pria yang dulu menjadi tetangga kontrakan Dila saat Dila memulai hidup baru di perantauan, Pria baik yang sangat mencintai Dila, dan sempat adu jotos dengan Indra di taman.


Ternyata hubungan antara Mas Kunto dan Lita yang berawal dari tetangga apartemen berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Dila bersyukur karena orang-orang baik yang Dila kenal menemukan jodohnya masing-masing. Dila berharap semua akan merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakannya saat ini.


Seminggu lagi, Dila pasti datang di pesta pernikahan sang sahabat saat dirinya kuliah di Jogja. Sahabat yang sangat baik dan mendapatkan jodoh orang yang baik juga.


Meski Dila tahu datang ke pernikahan Lita sama dengan mendatangi pesta keluarga mantan istri suaminya. Tapi Dila tidak mau ambil pusing, Indra mau ikut atau tidak, Dila harus tetap datang ke pernikahan Lita untuk mengucapkan selamat pada sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2