Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 92


__ADS_3

Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Indra memang bisa mengecek kemana saja Dila seharian ini pergi hanya dengan mengecek keberadaan ponselnya. Karena Indra sudah memasang aplikasi yang tidak Dila ketahui di ponselnya, aplikasi untuk mengetahui dimana keberadaan Dila.


Indra bisa tahu jika dari apartemen Lita, Dila pergi ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum ke mall, tapi Indra tidak tahu untuk apa Dila ke rumah sakit?, Indra hanya ingin Dila jujur pada Indra, dan menceritakan semua kegiatannya hari ini.


Saat tadi mengetahui jika Dila menuju ke rumah sakit Indra sempat khawatir, namun saat menanyakan pada Dila, justru Dila menjawab jika dirinya masih di apartemen Lita. Jawaban dan kenyataan yang berbeda, jelas ada sesuatu yang di rahasiakan oleh Dila. Namun apa sebenarnya yang dirahasiakan Dila?, Indra ingin tahu langsung dari mulut Dila.


Dan lagi-lagi saat sampai di rumah dan bertanya secara langsung, Dila tidak mengatakan jika dirinya pergi ke rumah sakit, Dila mengatakan jika dari apartemen Dila pergi ke mall.


" Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dariku?, mungkinkah kamu sudah hamil sebelum kita pergi berbulan madu?, kalau benar iya, itu bagus, kita pasti akan tetap pergi berbulan madu, kemanapun kamu mau pergi, pasti akan aku turuti sayang".


Indra akhirnya membuat perkiraan sendiri mengapa Dila ke rumah sakit, karena Dila tak juga mengatakan apa yang dilakukannya di rumah sakit.


" Bukan karena itu Mas, sebenarnya tadi aku menjenguk salah seorang temanku yang sakit dan di rawat di rumah sakit, jadi aku mampir sebentar ke rumah sakit mengajak El juga", kilah Dila.


" Maafkan aku Mas kalau aku belum bisa bercerita jujur sama kamu, pasti akan aku ceritakan yang sebenarnya jika hasil DNA El dan Mas sudah keluar nanti", batin Dila.


" Teman kamu sakit?, bukan karena kamu merahasiakan sesuatu kan?", ulang Indra memperjelas.


" Iya Mas, tidak ada rahasia diantara kita, aku tadi berpikir kalau bukan hal yang penting memberi tahu Mas kenapa aku ke rumah sakit, toh cuma sebentar, itu pun menjenguk teman". Dila mengulang kalimatnya, agar meyakinkan Indra.


" Aku tadi sempat khawatir kenapa kamu ke rumah sakit, apa kamu atau El sakit?, tapi saat ku kirim pesan jika kamu baik-baik saja aku jadi mengira-ngira sendiri, ngapain kamu ke rumah sakit", ujar Indra.


" Sebenarnya siapa yang memberi tahu mu kalau aku di rumah sakit Mas?", karena penasaran Dila pun menanyakan dari siapa Indra tahu jika dirinya mampir ke rumah sakit.


Indra tak mungkin memberi tahu jika dirinya memasang pelacak di ponsel Dila, pasti Dila akan merasa tidak di percayai jika Dila tahu.


" Sebenarnya ada karyawanku yang melihat kamu dan El di rumah sakit, dia memberi tahuku, karena itu aku jadi tahu kamu di rumah sakit", Indra ikut saja berbohong, mereka berdua sama-sama berbohong kali ini, sepertinya impas, hanya saja di hati Dila maupun Indra, keduanya kini merasa bersalah karena belum bisa jujur pada pasangan sendiri.


Hari berlalu hingga seminggu kemudian Dila mendapatkan pesan dari dokter rumah sakit yang mengurus pengecekan DNA antara El dan Indra. Kebetulan hari itu hari senin, jadi setelah mengantar El ke sekolah, Dila memilih pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA.


Letak rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari sekolahan El membuat Dila sampai di sana hanya 20 menit perjalanan.


" Selamat pagi Dok", sapa Dila.


Dokter pun menjawab sapaan Dila dan menyuruh Dila duduk di kursi yang ada di depannya. " Ini hasil tes dari dua sampel rambut yang anda serahkan beberapa hari yang lalu, saya jamin 90% ke akuratan nya".

__ADS_1


" Tapi sepertinya ibu akan sedikit kecewa dengan hasilnya", imbuh sang dokter.


Dila mengernyitkan keningnya dan membuka amplop yang masih bersegel itu. Hanya demi mengetahui El itu anak kandung Indra atau bukan, Dila harus mengeluarkan cukup banyak uang tabungannya, yang jelas uang dari hasil pribadinya, agar Indra tidak bertanya-tanya, untuk apa Dila mengeluarkan uang untuk tagihan rumah sakit sampai 8 juta rupiah.


Setelah amplop terbuka, Dila pun membuka kertas di dalamnya, dan seolah tenaganya terkuras habis, kesedihan langsung memenuhi pikirannya, bagaimana jika Indra tahu bahwa sebenarnya El bukan darah dagingnya ?. Karena di kertas yang tengah Dila baca, bahwa kedua pemilik rambut itu tidak ada kecocokan DNA sama sekali.


Dila semakin gemetar sambil melipat kembali kertas hasil tes DNA itu kedalam amplopnya dan memasukkan ke dalam tasnya.


" Dok, apa mungkin ada kesalahan saat mengecek dua sample rambut yang saya berikan pada Dokter?".


Ada perasaan yang masih mengganjal di hati Dila, seolah dirinya tidak terima kalau ternyata El bukanlah putra kandung Indra. Indra dan keluarganya lah yang begitu menyayangi El sejak El masih bayi dan di telantarkan oleh ibu kandungnya.


Jadi apa mungkin El itu putra Faris, seperti yang tak sengaja di dengarnya di percakapan Kayla dan Faris saat di kampus beberapa waktu lalu?.


Tak terasa air mata menetes di pipi Dila saat Dila berjalan keluar dari ruangan sang dokter setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih.


Jika dirinya saja yang tidak ada hubungannya dengan semua ini merasakan kesedihan yang amat sangat, bagaimana perasaan Indra, Bu Fatma, dan juga Pak Rizal jika mengetahuinya.


Seolah Kayla sudah membohongi seluruh keluarga itu secara telak. Begitu kejam dan jahat pembalasan yang dilakukan Bu Mira atas rasa sakit hati karena pernikahan Pak Rizal dan Bu Fatma.


Tapi mungkinkah Bu Mira juga tahu tentang El yang bukan anak Indra?, sepertinya tidak ada yang tahu hal itu, kecuali Kayla. Karen bahkan Faris, laki-laki yang berselingkuh dengan Dila saja tidak mengetahui jika El adalah putranya. Miris....


Saat Dila sadar dan membuka matanya di sana ada Bram yang sedang duduk di samping ranjang tempatnya terbaring lemah. Bram menatapnya sejak tadi tanpa mengedipkan matanya.


" Aku sudah mengabari Indra jika kamu ada disini, kalau kamu ada apa-apa itu jangan di pendam sendiri Dil", Bram menunjukkan surat hasil tes DNA El yang ditemukannya di tas Dila.


Bram yang sudah seminggu di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan mobil yang terjadi padanya baru diijinkan untuk pulang oleh dokter, namun saat hendak keluar dari rumah sakit dan sedang berjalan menuju parkiran bersama supir yang menjemputnya. Bram melihat Dila berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah gontai, sempoyongan, dan tatapan mata yang kosong.


Dengan langkah cepat Bram hendak menyapa Dila, namun saat berada di belakang Dila, justru tiba-tiba saja Dila limbung, untung saja Bram berhasil menangkapnya, meski tangan kanannya baru saja sembuh dari luka-luka bekas benturan saat kecelakaan. Namun entah kekuatan dari mana, Bram bisa menggendong Dila sampai IGD.


Awalnya Bram mengira jika mungkin Dila sakit dan baru saja periksa kesehatan, sehingga Bram membuka dan mencari tahu isi tasnya, mungkin ada obat dari dokter yang disimpannya di dalam tas


Namun tak ada sebutir obat pun di tas Dila, justru yang ditemukan Bram adalah amplop dengan logo rumah sakit itu di dalamnya.


Bram membuka amplop itu karena penasaran, Bram kira awalnya mungkin itu hasil cek kesehatan Dila. Namun yang ditemukannya membuatnya sangat tercengang, ternyata itu hasil tes DNA antara El dan Indra. Dan yang lebih mencengangkan lagi karena hasilnya negatif, alias tidak cocok. El bukan anak Indra, sekilas itu membuat Bram sangat geram, entah marah pada siapa, mungkin pada Kayla sepupunya yang sudah berhasil mengacaukan semuanya.

__ADS_1


Sekilas Bram teringat perkataan Dila dulu. Dila pernah mengatakan pada Bram, alasan dirinya menerima Indra, yaitu karena Indra adalah ayahnya El. Dan sekarang.... kenyataannya, El bukanlah putra Indra, sungguh keadaan yang sangat lucu sekaligus mengesalkan bagi Bram.


" Bagaimana bisa kamu buka-buka tas aku Mas!", Dila berusaha duduk dan mengambil kertas hasil tes DNA dari tangan Bram, namun Bram menarik tangannya, membuat Dila yang masih lemah merasa semakin tak berdaya.


" Berikan itu padaku Mas, tidak boleh ada yang tahu isi kertas itu". Dila memohon pada Bram.


Namun baru saja Bram hendak memberikan pada Dila karena merasa kasihan pada Dila yang memohon-mohon. Indra tiba-tiba sudah berada di balik tirai di IGD, mengambil kertas yang sedang diperebutkan oleh Dila dan Bram, yang membuat Indra begitu penasaran, apa isi surat itu.


Indra hanya menggenggam dan menatap ke Bram dan Dila secara bergantian dengan tatapan yang sangat tajam.


" Bagaimana bisa kamu pergi ke rumah sakit ini lagi, dan kamu pingsan di sini?, terus ngapain kamu juga pagi-pagi ada di.rumah sakit yang sama?, dan surat apa ini?", Indra mengangkat surat yang ada di genggaman nya.


Dila merasa sangat ketakutan sekaligus khawatir Indra akan membuka surat itu dan membacanya. Pasti dunianya akan runtuh seketika, saat mengetahui hasil tes DNA itu.


" Itu....", Dila sampai bingung bagaimana harus menjelaskan.


" Aku nggak sengaja lihat Dila jalan di lorong, waktu aku mau keluar dari rumah sakit ini, habis opname aku 10 hari, teman macam apa kamu nggak jengukin teman yang lagi sakit?".


Indra menatap Bram menyelidik, " jadi apa kamu orang yang Dila besuk seminggu yang lalu?", tanya Indra.


Bram nampak bingung dan berfikir, karena Dila tak pernah sekali pun menjenguknya.


" Bukan, Dila juga sama sekali tidak menjengukku?", jawab Bram enteng. " Teman yang lain mungkin?, kalian berdua sama saja, nggak ada yang perduli dan kasihan sama aku. Teman macam apa kalian?".


Bram menarik surat yang sedang digenggam Indra, " Ini hasil cek kesehatan ku tadi, semuanya sudah baik-baik saja, makanya aku diperbolehkan untuk pulang".


" Karena kamu sudah ada di sini, aku balik dulu Ndra, di jaga baik-baik tuh istrinya, biar nggak pingsan di tengah jalan", gumam Bram sambil berdiri dan keluar IGD dengan langkah tertatih". Bram pun menyimpan hasil tes DNA itu di sakunya.


Indra hanya menatap kesal ke arah Bram.


" Benar kemarin kamu ke sini bukan jengukin dia?", tanya Indra penasaran.


" Bukan Mas, aku nggak tahu kalau dia dirawat disini", jawab Dila dengan suara lemah.


" Kamu kenapa pingsan tiba-tiba?, apa kamu tadi pagi nggak sarapan?, kata dokter kamu kenapa?", tanya Indra khawatir.

__ADS_1


" Aku cuma kecapekan Mas ", jawab Dila.


" Biar aku temui dokternya dulu, biar lebih jelas. Kamu istirahat dulu, tunggu disini, Mas ketemu dokter sebentar". Indra keluar dari bilik Dila, dan menemui dokter jaga IGD.


__ADS_2