Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 140


__ADS_3

Sebenarnya Toto agak khawatir karena Dita masih sangat muda, sedangkan sang besan sudah terang-terangan mengatakan ingin segera punya cucu. Bisa-bisa hanya diberi waktu beberapa hari saja usai lamaran.


Dan kekhawatiran Toto pun benar-benar menjadi nyata, saat melanjutkan sesi ramah tamah, ayah Nino langsung menanyakan tentang tanggal pernikahan.


" Maaf Pak Toto, sebenarnya putra saya ini sudah sangat siap untuk menikah, dan bagaimana kalau di pertemuan malam ini, mumpung keluarga besar sedang berkumpul, kita bahas langsung masalah tanggal pernikahan untuk putra putri kita?".


Toto yang sedang menyeruput teh manis pun langsung tersedak.


" Kenapa selalu seperti ini, dulu Dila, waktu dilamar juga sama, langsung diajak menikah, dan sekarang Dita juga mengalami hal yang sama. Apa sebegitu ngebet para calon mantuku untuk menikah secepatnya?, padahal dulu waktu aku melamar Siti, aku harus menunggu setahun baru bisa menikahinya. Anak-anak jaman sekarang memang sangat tidak sabaran" , batin Toto.


Toto jadi bingung sendiri mau menjawab apa, padahal jawabannya sebagai kepala rumah tangga sedang ditunggu-tunggu oleh yang lain.


" Maaf sebelumnya....menyangkut hal itu saya menyerahkan semua keputusan pada Dita putri saya, karena yang akan menjalani kehidupan baru setelah pernikahan adalah dia, jadi siap atau belumnya yang tahu yang akan menjalani", ucap Toto, saking bingungnya mau menjawab apa.


Kali ini gantian Dita yang bingung, soalnya dia sendiri tidak menyangka di hari dia di lamar akan langsung diajak menikah, biasanya yang sudah-sudah seperti tetangga-tetangga mereka pada umumnya akan menunggu setahun atau dua tahun antara lamaran hingga hari pernikahan. Tapi kali ini berbeda, ternyata semuanya serba cepat.


Dita kini celingukan merasa bingung dan butuh waktu untuk berpikir.


" Bukankah biasanya kalau setelah lamaran itu harus menunggu dulu beberapa tahun lagi, begitu?", Dita akhirnya menunjukkan kebingungannya di depan semua orang.


Semua tamu undangan pun tertawa mendengar pertanyaan absurd dari Dita. Karena biasanya kalau orang lain menunggu setahun atau dua tahun karena harus menyiapkan biaya pernikahan. Sedangkan Nino sudah mempunyai banyak tabungan dan juga berpenghasilan, jadi biaya pernikahan tidak menjadi masalah baginya.


" Kalau sudah sama-sama siap menikah lahir dan batin, melaksanakan pernikahan lebih cepat akan lebih baik, jadi tidak menimbulkan fitnah dan juga zina", ujar salah seorang tamu dari perangkat desa.


" Apalagi Pak Nino sebagai Kades desa ini, sangat di nantikan oleh semua warga kapan menikah dan mencari ibu kadesnya", gumam orang yang sama.


Dila justru menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Boleh saya bicara dulu sama Mas Nino?, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan".


" Tanyakan saja disini, biar semua ikut dengar", seloroh salah satu perangkat desa yang lain.


Namun Nino memberi kode agar semuanya diam, dan Nino berpindah tempat duduk menuju samping Dita.


Dita sudah mulai merasa tidak nyaman dengan keadaannya saat ini.


" Saya baru daftar kuliah karena saya baru lulus SMA sebulan yang lalu, apa saya akan tetap di ijinkan untuk kuliah nantinya, meski misal... kita menikah besok?".


Kali ini semua mata tertuju pada Dita dan Nino yang duduk bersebelahan.


" Tentu saja tidak apa kamu tetap kuliah, banyak juga anak kuliah yang sudah menikah, yang penting setelah menikah nanti, kamu bisa tahu peran kamu sebagai istri ku, sekaligus sebagai ibu kades", jawab Nino singkat.


Dita sebelumnya memang belum memikirkan sampai kesana, jika membayangkan menikah, melayani suami, berangkat ngampus, berangkat kerja, rasanya pasti badan bisa remuk jika melakukan aktifitas sebanyak itu setiap hari.


Namun untuk menolak juga tidak mungkin, semua orang sudah berkumpul di rumah ini, dan tentu akan sangat mengecewakan jika tiba-tiba Dita tidak menyetujui permintaan mereka untuk menikah secepatnya. " Apa keputusanku menyuruh Mas Nino melamar ku terlalu buru-buru, aku tidak menyangka semuanya malah jadi seperti ini?", batin Dita.


Dita hanya mengangguk, meski dalam hatinya masih merasa bimbang.


" Setelah kami berdua berdiskusi, saya menyerahkan keputusan tentang tanggal pernikahan kepada para orang tua, insyaallah saya siap mau dinikahi kapan saja".


Ucapan Dita membuat semua orang yang sejak tadi terus berbisik-bisik khawatir jika Dita sampai berubah pikiran, menjadi merasa lega.


Orang tua Nino awalnya sudah khawatir jika Dita tidak mau dinikahi secepatnya, karena selain dia masih sangat muda, Dita juga pasti akan membayangkan rasa lelah menjadi seorang istri kepala desa. Belum lagi dengan pekerjaan baru dan juga kuliahnya.


Acara lamaran pun langsung dilanjut dengan acara penentuan tanggal pernikahan, karena Dita sudah menyetujui dan memasrahkan tanggal kepada para orang tua. Toto berasal dari Jawa, dan keluarga Nino juga sama, maka mereka menghitung secara hitungan Jawa, kedua hari lahir dan weton antara Dita dan Nino dengan rumus yang aneh dan membingungkan.

__ADS_1


Hingga ketemulah hari pernikahan yang baik adalah hari Minggu pon, yang bertepatan dengan tanggal 15, artinya seminggu lagi.


" Jadi bagaimana apa keluarga Pak Toto siap untuk mengadakan pesta pernikahan minggu depan?, kami sebagai pihak laki-laki akan menyiapkan semua kebutuhan untuk calon besan jika tidak keberatan".


Toto menggeleng, " Tidak bisa seperti itu, kami siap untuk mengadakan pesta pernikahan anak kami kapan saja, yang penting Dita benar-benar sudah siap, dan karena keluarga kita sudah saling mengenal cukup lama, dan rumah nak Nino dan rumah saya juga dekat, saya harap kalau ada yang perlu didiskusikan bisa kita bicarakan secara langsung".


Semua mengangguk setuju dan rombongan dari keluarga Nino pun pamit setelah menentukan tanggal pernikahan Nino dan Dita yang akan diselenggarakan pekan depan.


Setelah semua tamu kembali, suasana rumah menjadi kembali sunyi, malam sudah sangat larut dan anak-anaknya Dila sudah tidur dengan nyenyak.


" Menurut kamu terkesan semuanya terburu-buru apa nggak sih Dil?, Mas merasa kok Nino seperti nggak sabaran, sikapnya tidak mencerminkan orang yang sabar seperti yang kamu dan Dita ceritakan sama Mas", ucap Indra sambil memeluk Dila yang tidur disebelahnya.


" Entahlah Mas, di acara ini Dila nggak mau banyak kasih komentar, takut ada yang salah sangka, Dila nggak ngomong apa-apa saja tadi sempat disindir waktu sesi lamaran, Mas dengar sendiri kan apa yang diucapkan ayahnya Nino?".


Indra mengangguk, memang benar kata istrinya, mungkin lebih baik sekarang mereka ikut mengalir saja seperti air dengan keputusan yang dibuat oleh Dita dan kedua orang tuanya.


Ikut komentar takut dikira tidak ikhlas, meski yang sebenarnya Dila benar-benar sudah tidak ada perasaan apa-apa pada Nino. Apalagi saat ini, dimana Nino sudah bisa move on darinya, dan sudah mempunyai calon istri, meski calon istri nya itu adalah adik kandung Dila sendiri.


" Jadi apa kita akan tinggal di kampung selama seminggu Dil?, pekerjaan Mas di Jakarta masih sangat banyak, gimana kalau kamu Mas tinggal disini dulu, Mas balik ke Jakarta urus kerjaan, sehari sebelum Dita menikah Mas akan kembali ke sini, gimana?", Indra membuat jadwal dadakan, karena semua acara juga terlalu mendadak. Bisa kacau jadwal Indra yang sudah disusun eh sang sekertaris jika dirinya seminggu berada di desa .


Dila nampak berfikir, namun kemudian mengangguk. " Ya sudah kalau begitu, El tetap disini sama aku, kan dia lagi libur 2 minggu, libur kenaikan kelas, jadi nggak masalah kami disini selama seminggu lebih", ujar Dila.


Indra mengangguk setuju, dan besok pagi Indra akan langsung balik ke Jakarta bersama Ari, meninggalkan Dila, El, dan Arsy di kampung bersama keluarga Dila.


_


_

__ADS_1


Selama seminggu di kampung Dila tidak bisa banyak membantu persiapan pernikahan Dita, karena meski Dila berada di rumah yang sama, namun Dila sibuk mengurus kedua anaknya.


Untungnya baik Arsy maupun El semuanya anteng tinggal di kampung, jadi Dila betah tinggal lama tanpa Indra di sisinya.


__ADS_2