Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 94


__ADS_3

Sore itu gladi resik terakhir karena esok harinya adalah hari H wisuda kampus merah putih ke LXV / 65, semua calon peserta wisuda sudah mengikuti pelatihan sejak beberapa hari yang lalu, dan gladi resik terakhir sudah seperti wisuda sungguhan, hanya saja belum menggunakan baju kebesaran dan juga toga.


Dila dan yang lain pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul 4 sore, rasa lelah dan bahagia bercampur menjadi satu, lelah mengikuti latihan wisuda, dan bahagia karena penantian, perjuangan, dan kerja keras para mahasiswa itu sudah mencapai titik akhir. Dimana mereka sudah berhasil lulus, dengan berbeda-beda hasil tentunya.


Ada sebagian dari mereka yang sudah mulai magang kerja padahal belum di wisuda, tapi ada juga yang masih mencari-cari pekerjaan. Di Jakarta memang ada jutaan lapangan pekerjaan, namun tak ayal ada juga yang masih bingung mencari pekerjaan, mungkin mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang mereka, atau mungkin ada yang kesulitan karena ternyata banyak pesaing.


Bagi Dila pribadi, kini tidak bingung- bingung mencari pekerjaan, karena selama dirinya kuliah di Jogja dulu, Dila sudah merintis usahanya dari bawah, menjadi pengusaha wanita muda sekaligus mahasiswa memang bukan hal mudah, namun dapat dilihat sekarang hasilnya. Saat teman-teman seumurannya masih bingung mencari pekerjaan, Dila justru bisa membuka lapangan pekerjaan untuk yang lain. Hanya tinggal mengecek dan memeriksa kinerja para bawahannya.


Belum lagi dirinya yang sudah menjadi istri seorang Indra Pambudi, seorang pengusaha sukses di bidang perhotelan, yang hotelnya sudah berdiri di beberapa kota besar di Indonesia. Jika dicek di rekening Dila sekarang, mungkin nominalnya sudah mencapai belasan digit. Selain dari pemasukan sendiri, juga uang bulanan yang di transfer ke rekeningnya sebagai istri seorang pebisnis muda.


Hanya saja Dila yang sudah terbiasa bergaya hidup biasa-biasa saja dan pernah merasakan betapa sulitnya mencari penghasilan, membentuk dirinya menjadi pribadi yang sederhana dan tidak suka foya-foya.


Hidup bukan sekedar untuk menunjukkan seberapa kaya dirimu karena keberhasilanmu, tapi bagi Dila, hidup harus dinikmati, menikmati hidup tidak hanya dengan berbelanja dan menghambur-hamburkan uang saja, berkumpul bersama keluarga, membahagiakan orang sekitar dan hidup dalam kedamaian adalah tujuan hidupnya selama ini.


Itu mengapa Dila membuat keputusan sepihak untuk tetap menjaga rahasia tentang siapa El sebenarnya. Toh kedua orang tuanya tidak akan mungkin menuntut Indra dan merebut El darinya, karena kedua orang tua kandung El tidak ada yang mengharapkan kehadiran El. Akan lebih bagus semuanya tetap berjalan seperti sebelumnya. Agar kasih sayang dari keluarga Indra untuk El tidak berkurang meski hanya secuil.


Dila sampai di rumah disambut senyum hangat dari semua anggota keluarganya. Ada kedua orang tuanya, Dita, kedua mertua dan juga anak dan suaminya yang sedang menunggunya di ruang tengah. Mereka bersantai sambil menikmati teh hangat dan kacang mete yang sengaja di bawa Siti untuk oleh-oleh besannya kemarin.


Sungguh pemandangan langka yang membuat Dila begitu terharu, sekaligus merasa sangat bersyukur karena semua yang diharapkan menjadi sebuah kenyataan. Meski sebelum sampai di titik ini Dila harus menjalaninya dengan penuh perjuangan dan air mata. Hidup memang harus seperti itu, kadang ada saat kita dibawah, dan akan tiba saat kita berada di atas.


" Bu Dila...!", suara El membuyarkan lamunan Dila. Seperti biasa El langsung menghambur dan memeluk ibu sambungnya itu.


Dengan suara lantang dan semakin jelas menceritakan semua yang sudah dilakukannya hari ini. Pergi bersama dengan nenek Fatma, Tante Dita dan juga kedua orang tua Dila.


El sudah tepat berada di rumah ini, yang penuh dengan orang-orang yang menyayanginya. Jadi akan salah jika pada akhirnya semua harus mengetahui jika El bukan siapa-siapa di keluarga ini.

__ADS_1


Keesokan harinya Dila bangun lebih awal, kebaya berwarna salem untuk dirinya, Dita, ibunya dan Bu Fatma sudah di siapkan sejak kemarin. Bu Fatma awalnya mengajak Dila untuk ber makeup ke salon, tapi karena bagi Dila itu sangat tidak efisien waktu. Dila memilih untuk menyewa seorang tukang makeup untuk datang kerumah usai subuh untuk merias semua wanita yang akan datang di acara wisudanya nanti.


Team laki-laki ada Ayah Rizal, Pak Toto, Indra dan juga El sudah siap lebih awal, karena mereka hanya menggunakan jas seperti biasanya, tidak ribet seperti team wanita.


Jam 7 pagi keluarga Dila sudah sampai di gedung pertemuan tempat akan diadakannya acara wisuda, mereka kebagian kursi di bagian tengah agak kebelakang, sedangkan Dila duduk di depan panggung bersama peserta wisudawan yang lain.


Betapa bangga Toto dan Siti saat putrinya dipanggil sebagai wisudawati dengan hasil cumlaude. Perjuangan yang dilakukan Dila selama ini sudah membuahkan hasil sampai dititik ini. Siapa lah Toto dan Siti yang hanya seorang petani biasa, bisa menyekolahkan anaknya sampai SMA saja sudah melalui perjuangan dan proses yang sangat berat, karena ibaratnya hasil dari sawah yang tak seberapa itu untuk makan sehari-hari saja hanya cukup, tapi dengan kerja keras dan kegigihan semuanya, membawa Dila menjadi perempuan muda yang sukses.


Beberapa buket bunga dan juga hampers cantik diterima Dila. Ada dari Lita, dari teman-teman Dila, dari perkumpulan ibu-ibu wali murid temannya El, juga dari Bram.


Ya... Bram sebagai teman sekaligus partner bisnis mengirimkan hampers besar dan cantik. Beberapa Dila pegang saat berfoto, tak lupa juga Dila mengirim pesan, dan mengucapkan terimakasih kepada semua pengirim.


Usai acara di gedung pertemuan, dilanjut sesi foto-foto. Dila sengaja mengabadikan banyak foto hari itu, karena bagi Dila hari itu sangat bersejarah bagi nya. Foto dengan keluarga kecilnya, El dan Indra. Kemudian foto dengan keluarga besar dan keluarga inti dari kampungnya.


Toto tersenyum bangga menatap hasil cetakan foto keluarga kecilnya, dan hendak membawa pulang ke kampung dan memanjangkannya di tembok ruang tamu. Berkat Dila, kini ekonomi keluarga nya sudah sangat makmur. Apalagi setelah mendapat sawah dan ladang dari menantunya... Indra, Toto bisa membeli motor untuk dirinya sendiri, juga untuk Dita pulang pergi ke sekolah.


Esok harinya, setelah acara wisuda Dila dilaksanakan, Toto dan keluarga ijin pamit untuk kembali ke kampung halaman. Karena sudah hampir seminggu mereka berada di Jakarta.


Rumah memang dititipkan pada adiknya, tapi jika terlalu lama juga tetap merasa tidak enak.


" Nak Indra dan semuanya, mohon maaf kalau selama kami berada di rumah ini banyak merepotkan semua orang. Kami pamit pulang, karena Dita juga sudah cukup lama ijin tidak berangkat sekolah, khawatir ketinggalan pelajaran kalau kelamaan bolos", ujar Toto seraya bercanda.


" Kami senang dengan kehadiran bapak dan keluarga semua, rumah jadi terasa semakin hangat dan ramai. Apalagi El sangat menyukai Dita, kalau nanti liburan sekolah bisa main kesini lagi, biar El tambah seneng karena ada teman di rumah", ucap Indra sambil menatap ke arah El yang sedang bercengkrama bersama Dila dan Dita.


Toto tersenyum, keluarga Indra memang sangat menghormati keluarga Toto meski mereka berada di strata yang berbeda. Karena itulah Toto merasa tenang meninggalkan Dila jauh di Jakarta. Karena semua keluarga Indra adalah orang-orang yang baik.

__ADS_1


Rumah Indra kembali sepi seperti sedia kala, besok rencana keberangkatan Dila dan Indra ke Lombok. Sesuai dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. El akan tinggal di rumah nenek Fatma untuk beberapa hari kedepan.


El yang sudah semakin besar juga sudah tahu apa tujuan kedua orangtuanya pergi tanpa dirinya. Semua demi terwujudnya keinginan bersama, yaitu membuat adik bayi lucu seperti yang El harapkan.


Malam hari Dila sudah mengemas beberapa baju miliknya dan juga milik Indra yang harus dibawa.


" Nggak usah bawa baju banyak-banyak sayang..., kalau kurang kita bisa beli disana, jadi nggak terlalu berat barang bawaannya", ujar Indra seraya menggapai tangan Dila yang masih melipat baju dan memasukkannya ke dalam koper.


" Baiklah, kalau begitu, Mas ijin ke kantornya sampai berapa hari?", tanya Dila.


" Terserah Mas mau berapa hari juga, kan Mas bosnya, jadi nggak ada yang berani komplain berapa hari Mas mau cuti, hehehehe", Indra terkekeh sendiri melihat Dila yang manyun sambil berbisik, " Gayanya, Mas bos....".


Esoknya saat hendak check in di bandara Dila tak sengaja bertemu dengan Intan yang juga hendak melakukan penerbangan kembali ke Kalimantan.


Kali ini Dila bisa bertemu dengan suami Intan juga, benar kata Bu Titin, suami Intan sudah dewasa, mungkin usianya hampir 50 tahunan, tapi masih terlihat segar dan bugar, mungkin karena berasal dari keluarga kaya, yang gaya hidupnya penuh dengan perawatan.


" Sungguh kebetulan bertemu dengan kakak disini, ini suami saya, ayah dari El... anak yang dulu saya asuh. Kalau bukan karena Kak Intan yang menyalurkan saya ke Jakarta, mungkin kami tidak akan bertemu dan berjodoh", gumam Dila seraya tersenyum kikuk.


Intan dan Indra saling berjabat tangan. " Ini suami saya, Mas Seno, tapi sayang sekali ya, kita hanya bisa ngobrol sebentar. Kalau ada kesempatan lain mungkin kita bisa melanjutkan obrolan yang singkat ini", ujar Intan.


" Semoga promil nya sukses juga ya seperti kami, kalau sudah jadi jangan lupa kabar-kabar", ujar Intan sambil memeluk Dila melakukan salam perpisahan.


Sedangkan Indra dan Seno sejak tadi sudah saling mengobrol urusan pekerjaan, mungkin karena keduanya sama-sama pembisnis sehingga mereka langsung nyambung saat mengobrol.


" Wah malah suami-suami kita keasyikan ngobrol, dilanjut kapan-kapan lagi Mas, pesawat kita sudah mau berangkat", ujar Intan sambil menggandeng tangan Seno.

__ADS_1


Seno mengangguk dan terpaksa memotong obrolan bersama Indra, setelah Intan dan Seno pergi, Dila dan Indra masuk ke lounge bandara terlebih dahulu karena penerbangan mereka masih beberapa menit lagi.


__ADS_2