
Indra nampak sangat lelah setelah bekerja seharian. Saat sampai di parkiran Ari langsung membukakan pintu mobil untuknya.
Setelah mereka berdua masuk, Ari langsung tancap gas menuju ke rumah.
" Apa ponselnya sudah kamu berikan sama Dila?".
" Sudah bos, Dila sangat berterimakasih pada bos".
Indra hanya mengangguk tanpa berkomentar lagi.
" Menurut pengamatan saya tadi, sepertinya baby sitter El kali ini bakalan bertahan lama. Saya lihat El menyukai Dila. Pekerja lain di rumah juga menyukainya, termasuk saya bos, hehehe...", Ari mengemudi sambil cengengesan.
" Bagus lah kalau semuanya menyukai gadis kampung itu, aku sudah hampir putus asa mencari pengasuh El. Padahal yang rekomendasikan Dila itu salah satu partner bisnisku yang seorang playboy, kamu masih ingat kan dengan Bram?, yang waktu itu bawa dua cewek sekaligus pulang dari tempat karaoke. Entah dimana Bram menemukan gadis kampung yang masih lugu seperti Dila. Untung wajahnya jelek, kalau Dila cantik, aku yakin pasti Bram sudah mengajaknya ke hotel atau vila nya".
Bram adalah kenalan Intan yang melantarkan Dila menjadi pengasuh El. Setahu Indra, Dila mengenal Bram, padahal bertemu sekali saja tidak pernah. Dila tidak tahu sama sekali tentang Bram yang dijuluki si playboy.
" Bos belum tahu saja seperti apa wajah Dila yang sesungguhnya, dia itu cantik banget bos, cantik alami, dan aku juga langsung terpesona hanya melihat fotonya saja", ucap Ari dalam hati.
Mobil sampai di rumah, suasana rumah yang biasanya gaduh setiap kali Indra sampai, kini terasa sepi.
El yang biasanya menjadi penyebab kerusuhan dan kegaduhan ternyata sedang coret-coret mewarnai gambar di kamarnya.
" Selamat malam sayang", Indra masuk ke kamar El dan melepas jasnya.
" Ayah...!", El langsung menghambur dan meluk ayahnya, tidak lupa mencium pipi kanan, kiri dan juga bibir ayahnya.
" Putra ayah rajin sekali, malam-malam masih belajar mewarnai", Indra mengecup kening El penuh kasih sayang.
" Apa El sudah makan malam?, kita makan bareng yuk", ajak Indra pada putranya.
" No ayah, El sudah makan pake sup ayam, Kak Dila yang temani El makan sambil celita kisah ayam hutan sama El".
" Wah, benarkah?, kalau begitu El lanjutkan mewarnai gambarnya. Ayah mandi dulu, biar ayah bau wangi kayak El nih", Indra mencium leher dan perut El yang masih khas bau minyak telon, membuat El tertawa kegelian.
Indra keluar dari kamar El dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian santai. Hanya butuh waktu 15 menit melakukan hal itu, namun tiba-tiba ada telepon masuk dari Tania, yang mengingatkan jika besok ada meeting pagi, dan meminta Indra untuk tidak terlambat karena besok akan membahas pembukaan cabang hotel di kota X.
Karena membahas pekerjaan, Indra sampai tak sadar jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Biasanya tiap jam 8 malam Indra akan membacakan buku cerita agar El tidur, tapi sekarang sudah melewati jam biasanya. Karena itu setelah selesai bertelepon, Indra langsung bergegas kembali ke kamar El untuk melakukan rutinitasnya.
Namun saat Indra sampai di depan kamar El, Indra bisa melihat dari pintu kamar El yang terbuka, El sedang tiduran di kasurnya sambil mendengarkan Dila membacakan cerita dari buku dongeng Kancil yang cerdik.
📖 ... kancil mengundang semua penghuni hutan ke sebuah pesta jamuan besar yang sengaja di buatnya. Di tengah-tengah acara pesta itu, tiba-tiba datanglah seekor ular piton yang marah karena hanya dia penghuni hutan yang tidak diundang
ular piton : Kancil, beraninya kau tidak mengundangku di pesta besar seperti ini, karena kau membuatku marah, maka aku akan melilit tubuhmu dan menelanmu bulat-bulat.
Kancil memang hewan kecil, tapi dia tidak pernah takut dengan ancaman ular piton.
__ADS_1
kancil : Hai ular piton yang cerdas, apa kau tidak malu berbicara seperti itu di hadapan tamu-tamu undangan ku?, ular piton yang besar hendak menelan kancil yang kecil ini, bukankah itu akan merendahkan harga dirimu di mata mereka semua.
Jika ingin merasa bangga, maka kau harus melilit hewan yang lebih besar dariku, dan menelannya bulat-bulat.
Penghuni hutan yang lain setuju dengan ucapan kancil. Ular piton terlihat berpikir dan kembali bertanya pada kancil.
ular piton : siapa hewan terbesar di hutan ini?
Gajah maju dan mengangkat belalainya....📖
Dila melirik ke arah El yang sudah memejamkan mata dan bernafas dengan teratur, itu menandakan bahwa El sudah tidur dengan nyenyak. Sudah jam 9 malam, dan El sudah tidur sebelum Dila selesai membacakan ceritanya.
Akhirnya Dila bisa terbebas dari anak asuhnya itu. Dirapikannya selimut yang menutupi El, Dila mematikan lampu kamar, dan menyalakan lampu tidur. Dila keluar dari kamar dengan perlahan, agar tidak menimbulkan bunyi.
Dila terkejut ketika mendapati majikannya sedang berdiri di depan kamar El.
" El sudah tidur Tuan, saya mau ke belakang, permisi". Dila berjalan dengan cepat menuju dapur. Ternyata sejak tadi Dila sudah merasa kelaparan karena belum sempat makan malam, dan tadi siang makan hanya sedikit.
Bi Darsih yang tahu jika Dila belum makan malam membantu Dila mengambil gelas dan air putih saat Dila tengah mengambil nasi dan lauk.
Dila langsung makan dengan lahap karena takut El terbangun atau mengigau, dan Dila tidak mendengar karena dapur cukup jauh dari kamar El.
" Jadi kamu baru makan Dil?, santai saja makannya. El biasanya kalau baru tidur itu anteng, nggak tiba-tiba terbangun atau mengigau".
Ternyata Indra mengikuti Dila ke dapur.
" Apa Tuan juga mau makan malam?", bi Darsih tahu Indra belum makan malam di rumah.
" Tidak bi, saya tidak lapar, buatkan saja saya secangkir kopi seperti biasa, bawa ke ruang kerja saya". Indra keluar dari dapur dan naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya.
Dila sudah selesai makan malam langsung mencuci piring yang dipakainya dan hendak kembali ke kamar untuk menelepon Asri, siapa tahu Asri belum tidur karena tadi siang Asri mengatakan ingin bercerita banyak pada Dila melalui pesan singkatnya.
Namun saat Dila hendak ke kamar, bi Darsih menghentikan langkahnya, meminta tolong pada Dila untuk mengantarkan kopi ke ruang kerja Indra karena Bi Darsih kebelet nongkrong di WC.
" Maaf ya Dil, ini kopi sudah dibikin, tapi malah perut mendadak mules, ruang kerja pak Indra itu yang dari tangga ke kiri, pintu nomer 2".
Dila seharian ini memang belum sempat naik ke lantai dua karena saat baru sampai langsung dibuat sibuk mengasuh El. Karena itu Dila baru tahu ruangan-ruangan di lantai satu saja saat bermain kejar-kejaran dengan El tadi siang.
" Iya, nggak papa bi Darsih, cuma antar kopi ini". Dila membawa nampan berisi secangkir kopi menaiki tangga.
" Ke kiri, pintu nomer dua, yang ini", Dila mengetuk pintu.
Tok...tok...tok....
" Masuk saja Bi !".
__ADS_1
Dila langsung masuk ke ruang kerja Indra. Ruang kerja yang cukup luas dimana ada satu set meja kerja di dalamnya, dengan banyak dokumen di meja. Indra nampak sibuk membaca dokumen di balik meja kerjanya. Ada satu set sofa dan rak buku setinggi dua meter berisi banyak buku tebal-tebal. Di sisi lain ada lukisan besar bergambar pemandangan pantai, membuat suasana ruang kerja menjadi lebih sejuk dan asri.
" Terimakasih Bi", ucap Indra tanpa menatap ke arah Dila, masih fokus dengan dokumen yang sedang dibacanya.
Dila meletakkan kopi itu di meja di depan sofa, membuat Indra sejenak mengalihkan pandangan ke arah Dila.
" Bukan di sana, tapi letakkan di meja ini", ucap Indra menunjuk meja kerjanya.
" Oh iya, maaf Tuan, di situ banyak sekali berkas-berkas, saya khawatir kopinya tiba-tiba tumpah mengenai dokumen yang ada di meja", jawab Dila.
" Kenapa kamu yang antar kopinya?, kan saya sudah bilang di rumah ini pekerjaan kamu cukup fokus pada El saja, bi Darsih kemana?".
Dila meletakkan kopi di meja kerja Indra dengan hati-hati, karena tangannya serasa gemetar saat di tegur oleh majikannya.
" Maaf Tuan, bi Darsih tadi ada panggilan alam, darurat, jadi minta tolong pada saya untuk mengantar kopinya, kalau begitu saya permisi Tuan".
Dila bergegas keluar dari ruang kerja dan menutup pintunya, takut membuat kesalahan lagi. Sampai di bawah terlihat bi Darsih keluar dari kamar mandi.
" Aduh leganya, makasih ya Dil, maaf jadi ngrepotin kamu, sekarang kamu tidur saja gih, sudah malam".
Dila mengangguk dan langsung menuju kamarnya. Sampai dikamar Dila langsung mengecek ponselnya, sudah ada banyak panggilan masuk, ada dari orangtuanya di kampung, dari Asri, Evan, Kunto dan juga Nino. Dila memang sengaja meletakkan HP nya di kamar karena takut mengganggu fokusnya merawat El jika membawa HP saat bekerja.
Dila menutup pintu kamar, merebahkan diri di kasur empuk yang sudah seminggu ini tak dirasakannya, seandainya masih tinggal di kontrakan bersama Asri pasti malam ini Dila masih harus tidur beralaskan tikar saja. Sepintas terbersit rasa syukur mendapat pekerjaan sekaligus tempat tinggal yang nyaman dan juga gratis.
Dila mulai mengetik pesan pada semua yang tadi berusaha menghubunginya, pertama pada orangtuanya, Dila meminta maaf karena tidak bisa bebas menerima panggilan telepon saat sedang bekerja. Tak lupa Dila memberi tahu keadaannya sehat dan baik-baik saja, agar kedua orang tuanya merasa tenang di kampung.
Kedua Dila hendak mengetik pesan untuk Asri, tapi tiba-tiba ada panggilan masuk dari Asri. Dila pun buru-buru mengangkatnya.
Seperti dugaan Dila sebelumnya, setelah saling menanyakan kabar, Asri langsung bercerita panjang lebar mengenai pengalaman masuk kerja di hari pertama. Dila menjadi pendengar setia semua cerita Asri. Sampai terdengar suara sapaan Kunto dan juga Evan yang akhirnya ikut ngobrol melalui ponsel Asri yang di loud speaker.
Saking asyiknya bercerita, mereka berempat terus mengobrol hingga ber jam-jam lamanya. Hingga suara ketukan pintu kamar Dila menghentikan obrolan mereka.
Dila membuka pintu dan terlihat Indra berdiri di depan pintu kamarnya.
" Sudah jam 12 malam, jangan terus bertelepon, kamu juga harus tidur dan istirahat agar besok bisa merawat El dengan benar. Jangan suka begadang, jaga kesehatan kamu!".
Dila langsung mengangguk dan kembali masuk ke kamar, mengakhiri obrolannya dengan ketiga temannya.
Pagi harinya El bangun pukul 5 pagi, Dila langsung pergi ke dapur dan membuat susu untuk El, karena El merengek minta susu. Di dapur bi Darsih sudah sibuk tengah mencuci sayuran dan daging untuk dimasak.
Menatap ke luar juga nampak bi Ana sedang mondar-mandir mengepel teras samping. Ternyata semua yang bekerja di rumah ini adalah orang-orang yang sangat rajin. Mereka bangun pagi dan mulai bekerja saat beberapa gelintir orang masih bermalas-malasan untuk bangun.
Dila langsung membawa susu ke kamar El. El sudah tidak sabar meminum susunya. Usai El menghabiskan segelas susu. Dila langsung mengajak El ke kamar mandi agar El tidak pipis di celana. El yang malas akhirnya di gendong oleh Dila ke kamar mandi.
" El sudah besar jadi nggak boleh ngompol di kasur, kasihan bi Ana yang harus membersihkan bekas ompol El. Bi Ana itu sudah punya kerjaan yang banyaaaak banget, jadi El harus bantu meringankan pekerjaan bi Ana, nanti El dapat pahala, dan El disayang sama Allah".
__ADS_1
El lagi-lagi mendengarkan penjelasan Dila dengan seksama.
Dila jadi berfikir sebenarnya El anak yang baik dan mudah diatur, hanya saja mungkin harus secara halus, karena El tipe anak yang butuh penjelasan dengan apa yang dilakukan.