
Dila mengajak El keluar rumah dan kejar-kejaran di taman samping, sebenarnya tujuannya agar El berolahraga pagi sambil menghirup udara pagi yang masih segar.
Bi Ana yang sedang menjemur pakaian di tempat jemuran ikut tersenyum melihat interaksi El bersama Dila. "Sepagi ini mereka berdua sudah bercanda di taman", gumam bi Ana.
Dila melakukan gerakan stretching, dan dengan menggemaskan El mengikuti semua gerakan yang Dila lakukan.
" Tangannya taruh di pinggang laku bungkukan badan dua kali hitungan, setelah itu tengadahkan menatap langit dua kali hitungan juga, seperti ini El". Dila memberi contoh El untuk melakukan pemanasan. El mengikutinya sambil tertawa-tawa merasa senang.
Pagi ini Indra bangun tidur dengan perasaan senang, karena merasa tidurnya sangat pulas karena tidak ada drama bangun malam karena rengekan El minta susu. Jam menunjukkan pukul 6 pagi, tapi gelak tawa El sudah terdengar dari taman samping rumah.
Indra pun penasaran, kemudian membuka tirai jendelanya, dan melihat El yang sedang tertawa lepas mengikuti gerakan-gerakan Dila yang sedang mengajari El senam pagi. Indra juga bisa melihat senyuman bi Ana yang sedang menjemur pakaian sambil melihat kelucuan El dan Dila.
" Sepertinya benar kata Ari, El menyukai Dila, begitu juga pekerja yang lain, syukur kalau seperti itu, aku pun sudah lama tidak bisa tidur nyenyak seperti malam ini". Indra keluar dari kamar dan menghampiri El ke taman.
" Ayah, lihatlah, Kak Dila ajalin El stleching, ayah ikut yuk", El mengajak ayahnya untuk mengikuti gerakan Dila, namun justru membuat Dila merasa tidak nyaman dan menjadi malu. Indra menyadari hal itu, akhirnya Indra mengajak El untuk masuk ke rumah dan menyudahi stretching hari ini.
Saat berjalan memasuki rumah, Dila teringat rencananya untuk meminta ijin mendaftarkan El ke Bimbingan belajar, Dila pun mengatakannya pada Indra.
" Maaf Tuan, sepertinya usia El sudah bisa mendaftar ke Bimba, apa boleh El di daftarkan?, biar El latihan bersosialisasi dengan orang lain, El bisa belajar sambil bermain, juga mengenal teman-teman seusianya", ujar Dila sambil menatap Indra dengan tatapan memohon.
" Apa El nya mau sekolah?", tanya Indra yang juga membalas tatapan Dila dengan tajam.
" El mau sekolah ayah, El mau punya teman-teman yang banyak, El juga mau belajal menyanyi, menali, dan mewalnai".
Justru El yang menjawab pertanyaan ayahnya.
Indra jadi bingung harus menjawab apa.
" Nanti ayah pikir-pikir dulu sayang, sudah siang jadi ayah harus mandi dan berangkat ke kantor, apa El mau mandi sama ayah?". Indra memang belum bisa membuat keputusan secara mendadak, jadi dia sengaja mengalihkan pembicaraan dengan mengajak El mandi bersamanya. Tentu saja El langsung mengangguk kegirangan.
" Ye...El mandi sama Ayah..!".
Indra membawa El ke kamarnya untuk mandi bersama.
Dila menggunakan kesempatan itu untuk membersihkan diri, mandi dan berganti pakaian, tentu saja Dila mandi dengan tergesa-gesa, takut El sudah selesai mandi saat dirinya masih mandi.
Usai mandi Dila langsung ke kamar El untuk mempersiapkan pakaian ganti untuk El. Tak lama kemudian terdengar langkah El yang berlarian menuju kamarnya hanya menggunakan bathrobe kecil berwarna putih yang terlihat lucu dipakai El.
__ADS_1
" Kak Dila El sudah mandi dengan ayah".
Dila merentangkan tangannya untuk memeluk El. " Coba kak Dila cium, apa iya El sudah mandi dan bau wangi". Dila menciumi leher El membuat El tertawa kegelian.
" Wah... ternyata El beneran sudah mandi, sekarang tinggal ganti baju, El pagi ini pakai baju yang gambar apa yaaa?, ini dia....ternyata gambar sapi". Dila menunjukkan gambar sapi yang ada di baju El.
" Sapi makan lumput, bial cepet besal. El juga mau makan bial cepet besal sepelti sapi", ucap El sambil cekikikan.
" Jadi El mau sarapan, oke, ayo kita ke dapur, kita lihat bi Darsih masak apa buat sarapan El".
Dila menuntun El menuju ke dapur.
" Wah... den El sudah ganteng saja pagi-pagi begini, mau ngapain ke sini?, nanti kotor main di dapur" bi Darsih sedang mencuci peralatan masak yang sudah selesai digunakan.
" El bilang mau sarapan, apa sarapan buat El sudah siap Bi Darsih?", tanya Dila.
" Sudah siap Dil, bibi taruh di meja makan, biasanya El disuapi ayahnya", jawab bi Darsih.
Dila pun mengajak El ke ruang makan, ternyata Indra sudah duduk di meja makan, tapi belum memulai sarapannya, terlihat masih sibuk dengan gawainya.
" Hari ini ayah ada meeting pagi di kantor, jadi El makannya sama Kak Dila ya", Indra pamitan pada El karena harus segera berangkat.
Saat berjalan keluar, Indra melihat ibunya yang baru sampai.
" Sudah mau berangkat sepagi ini?, terus sekarang El sama siapa?", tanya Bu Fatma pada putra sulungnya.
" El sama Dila Bu, pengasuhnya yang baru, maaf Indra lupa nggak ngabarin Ibu, Dila mulai bekerja kemarin, karena ibu tidak pulang-pulang dari rumah putri kesayangan ibu di Malaysia. Indra berangkat dulu Bu, ada meeting pagi di kantor", Indra memeluk dan mencium tangan ibunya buru-buru, dan langsung masuk mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Ari.
Fatma pun langsung masuk ke dalam menuju ruang makan, dilihatnya El sedang makan dengan lahapnya disuapi oleh pengasuhnya yang terlihat masih muda, dan berpenampilan culun.
" Assalamualaikum... selamat pagi cucu nenek yang ganteng...., lagi sarapan pakai apa itu?, kok nenek nggak diajak sarapan sih?".
Dila menengok menatap kedatangan ibu-ibu paruh baya yang masih terlihat cantik, dialah Bu Fatma neneknya El.
" ikum salam... Nenek mau salapan juga?, sini duduk sama El". El turun dari kursinya dan menarik tangan Fatma untuk duduk di sampingnya.
Dila mengangguk sambil tersenyum menyapa ibu dari majikannya itu. " Selamat pagi Nyonya", sapa Dila.
__ADS_1
Fatma memperhatikan Dila dari ujung rambut hingga ujung kaki. " Jadi kamu pengasuh El yang baru?, siapa yang memberi tahu mu kami sedang membutuhkan pengasuh?". Fatma berbicara dengan tenang dan penuh kharisma. Persis seperti ibu-ibu istri pejabat yang sedang berpidato di depan umum. Tapi pertanyaan pertama Fatma seolah sedang menginterogasi Dila, membuat Dila sedikit gugup.
" Tetangga kontrakan saya Nyonya yang memberi tahu saya, panjang kalau di ceritakan. Apa nyonya mau saya ambilkan piring untuk sarapan?". Dila berusaha berbicara setenang mungkin menghadapi nyonya besar.
Fatma menggeleng, " saya sudah sarapan di rumah tadi. Kamu saja yang sarapan, biar El saya yang suapi".
" Oh biar saya saja Nyonya, ini memang tugas saya, kalau saya bisa sarapan nanti setelah El selesai sarapan". Dila tidak mau ditegur lagi oleh Indra, jadi berusaha jangan sampai ada sedikitpun kesalahan.
Fatma menatap Dila lagi, "apa itu tanda lahir kamu sejak kecil?", tatapan Fatma tertuju pada tompel Dila.
Dila terpaksa berbohong dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun tiba-tiba Fatma melepas kacamata Dila dan menarik tompel di pipi kiri Dila.
Dila semakin ketakutan, karena ternyata nyonya besar lebih jeli dibanding putranya.
" Maaf Nyonya, saya hanya menuruti saran teman saya untuk memasangnya, teman yang melantarkan saya bekerja disini berpesan agar saya memakai ini dan kacamata ini, semua ini pemberiannya", jawab Dila jujur.
" Ternyata dia sangat cantik, meski tanpa makeup ataupun riasan, siapa sebenarnya gadis ini?", batin Fatma penasaran.
" Jadi seperti ini wajahmu yang sebenarnya?, apa Indra tahu?".
Dila menggeleng. " Pak Indra tidak tahu, bukan niat saya untuk membohonginya, karena saya memakai ini juga agar saya diterima bekerja disini. Saya butuh pekerjaan ini Nyonya".
Terpaksa akhirnya Dila bercerita tentang perjalanan hidupnya sejak merantau ke Bekasi hingga sampai di Jakarta. Fatma mengerti jika Dila terpaksa merubah tampilan nya agar Indra menerimanya bekerja disini.
" Jadi dia gadis kampung yang merasa bingung karena kurangnya informasi dari lembaga penyalur kerja, sudah terlanjur datang ke kota. Dan tidak mau pulang kampung karena malu sudah berpamitan pada para tetangga. Nekad juga gadis ini", ucap Fatma dalam hati.
" Sebenarnya kamu gadis yang baik, juga sangat cantik", Fatma mengelus wajah Dila dengan tangannya. " Saat melihat kamu, saya jadi teringat dengan putri saya yang sekarang tinggal di Malaysia, dulu suami saya juga menyuruhnya memakai kacamata tebal dan selalu menguncir rambut menjadi dua seperti kamu sekarang, suami saya juga meminta putri saya untuk hidup sederhana, agar dia menemukan seorang pasangan yang benar-benar tulus mencintai nya, bukan karena memandang fisik atau kekayaan".
" Karena itulah saya curiga saat melihat penampilan mu, jangan-jangan kamu melakukan trik yang sama seperti anakku untuk mengelabuhi orang-orang di sekitarmu, dan ternyata dugaan ku benar".
Dila menunduk merasa bersalah, " Saya butuh pekerjaan ini selama setahun kedepan, saya mohon pada Nyonya untuk tidak menceritakan hal ini kepada Tuan Indra, saya janji akan mengasuh El dengan sepenuh hati". Dila memohon pada Fatma untuk merahasiakan identitasnya.
" Saya melihat El sangat menyukai kamu, baiklah.... saya tidak akan mengatakannya pada Indra, tapi kamu harus betul-betul mengasuh El dengan baik" pinta Fatma.
" Tentu saja Nyonya, saya juga sangat menyayangi El". Dila bisa bernafas lega, karena Bu Fatma mau diajak kerjasama.
__ADS_1