
Hingga tengah malam Indra baru selesai mengecek semua pekerjaannya. Hari ini cukup melelahkan baginya, masalah pekerjaan yang belum beres, ditambah lagi masalah yang terjadi di rumah.
Dari El yang ngambek karena dirinya tidak bisa menemani mendaftar ke bimbingan belajar besok, hingga pengasuh anaknya yang pergi seenaknya sendiri tanpa pamit.
Indra keluar dari ruang kerjanya sambil memijit-mijit keningnya, rasanya sangat lelah dan mengantuk.
" Pak Indra, maaf kalau bibi ganggu, bibi cuma mau bicara sebentar", Bi Darsih ternyata duduk di lantai, di samping pintu ruang kerja Indra sejak tadi. Entah berapa lama wanita tua itu menunggu majikannya hingga keluar ruangan.
" Ngapain bibi duduk di situ?, kenapa tidak mengetuk pintu saja sejak tadi?, ini kan sudah sangat malam".
Bi Darsih berdiri dan menunduk begitu dalam, tak berani menatap wajah majikannya.
" Sebenarnya tadi itu salah saya, tadi sore saat Dila sudah berhasil membuat den El tidur, Dila mencari Bapak, mau berpamitan sama Bapak, karena mau ke minimarket. Tapi saya melarangnya karena takut ganggu Bapak yang sedang bekerja".
" Dila sudah pamitan dan menitipkan El pada saya dan Ana. Jadi saat tadi Bapak memarahinya dengan alasan dia pergi tanpa pamit, itu tidak benar, semua salah saya Pak. Tolong jangan pecat Dila, dia gadis yang sangat baik. Baru kali ini saya melihat El begitu nurut dan patuh pada pengasuhnya".
" Meski masih muda, tapi menurut saya, Bapak tidak bisa menemukan pengasuh sebaik Dila. Saya mohon maaf karena tadi tidak menyampaikan pesan Dila yang pamit ke minimarket".
Indra menghembuskan nafas panjang.
" Ya sudah, yang penting sekarang El sudah baik-baik saja, Bibi istirahat saja, sudah larut malam".
Bi Darsih mengangguk dan pamit untuk istirahat.
Indra pun menuruni tangga dan melihat lampu kamar El yang masih menyala terang. Indra akhirnya membelokkan langkah kakinya yang semula hendak ke kamarnya sendiri, berubah menuju kamar El.
Perlahan Indra membuka pintu kamar El, dilihatnya El tidur dengan memeluk Dila yang juga sudah terlelap di sampingnya. Indra mendekat dan menyentuh kening El. Ternyata panasnya sudah reda.
Indra jadi teringat bagaimana sigapnya Dila tadi, saat tahu El rewel dan panas. Memang tidak salah jika semua yang tinggal di rumah ini menyukai Dila. Tapi entah mengapa Indra belum bisa benar-benar menyukai Dila menjadi pengasuh El, mungkin karena bagi Indra, semua perempuan muda itu sama saja, egois dan semaunya sendiri.
Setelah mengetahui El sudah baikan, Indra pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun saat hendak keluar, Indra melihat ada kantong plastik besar bertuliskan nama minimarket, Indra pun tertarik dengan barang belanjaan Dila yang tadi dibelinya. Perlahan Indra mengecek apa saja kebutuhan pribadi Dila yang mendesak dan harus segera dibelinya sampai keluar malam-malam.
Shampo, sabun muka, pasta gigi, deodorant, dan pembalut. Indra begitu kaget sampai melempar kantong belanjaan itu kembali ke lantai. Ada sedikit rasa menyesal karena semalam sudah memarahi Dila dengan cukup keras. Tapi bukan berarti dirinya sudah menerima dan menyukai Dila seperti penghuni rumah yang lain.
_
_
Pagi pun tiba, Dila awalnya membatalkan rencana untuk mendaftarkan El ke Bimbingan belajar hari ini, karena semalam El demam. Namun ternyata El merengek dan terus kekeh ingin pergi ke tempat bimbingan belajar. Akhirnya Dila meminta ijin terlebih dahulu pada Indra.
" Kamu tahu sendiri kan kalau El sudah menginginkan sesuatu itu ya harus. Ya kamu antarkan saja seperti keinginannya, tapi jangan biarkan El beraktifitas yang melelahkan, karena dia baru saja sembuh".
" Dan untuk yang semalam, maaf...", ucap Indra sambil berlalu untuk berangkat ke kantor.
Dila sedikit bingung maksud Indra itu maaf untuk apa, tapi ya sudahlah, toh Dila tidak merasa Indra berbuat salah meski semalam memarahinya, karena Dila menyadari Indra bersikap begitu karena memang Dila yang salah.
__ADS_1
" Anu Tuan...!".
Indra berhenti saat Dila berteriak memanggilnya, "apa lagi?".
" Kalau mau daftar Bimba harus bawa KK dan akte kelahiran, disimpan dimana ya?", tanya Dila gugup, karena Indra menatapnya tajam.
" Ambil di ruang kerjaku, stopmap berwarna biru di rak sebelah kanan, paling bawah di meja kerjaku".
Karena sudah mendapatkan ijin majikannya, Dila pun mengajak El untuk mandi dan sarapan, Dila memakaikan kemeja abu-abu dan bawahan celana chino hitam, El benar-benar terlihat tampan dengan setelan itu.
Tak lupa Dila masuk ke ruang kerja mengambil kartu keluarga dan akta kelahiran El. Tidak sulit menemukan dokumen itu di meja kerja majikannya. Dila pun langsung keluar dari ruang kerja majikannya setelah mengambil berkas-berkas yang diperlukan.
" Kita sudah siap sayang, ayo kita ke tempat bimbingan belajar El, mau naik ojek online atau taksi sayang?". Dila berjalan keluar sambil menggandeng tangan El yang sejak tadi menunggu Dila sambil duduk tenang di ruang tengah.
Saat Dila keluar dari pintu utama, terlihat Ari duduk diteras rumah sambil memainkan ponselnya.
" Sudah siap ya?, ayo silahkan masuk den El, mas Ari akan mengantarkan den El kemanapun den El mau". Ari menuju mobil dan membukakan pintu belakang mobil untuk El. Dila nampak mengernyitkan keningnya.
" Kok mas Ari sudah dirumah sih?, apa habis nganter Tuan Indra langsung pulang ya?", tanya Dila, karena Dila tahu Indra baru berangkat sekitar satu jam yang lalu.
" Hari ini aku disuruh si Bos buat anterin kalian, si bos bawa mobil sendiri ke kantornya. Di garasi juga masih ada satu mobil lagi, itu mobil yang merah punya Bu Kayla dulu, hadiah ulang tahun Bu Kayla pas masih pengantin baru, jarang banget dipakai".
Dila manggut-manggut, karena baru tahu, bos nya sekaya itu, mobil saja lebih dari 1, maklum Dila tidak pernah pergi ke garasi. Jadi tidak tahu ada kendaraan apa saja di sana.
" Ya sudah sekarang ayo kita let's go?", Dila masuk ke mobil setelah El lebih dulu masuk. Ari pun mengantarkan mereka berdua hingga di depan bangunan dengan cat warna-warni, khas sekali dengan bangunan untuk tempat belajar anak-anak.
Dila turun dari mobil sambil menggandeng tangan El memasuki pelataran luas dengan berbagai tanaman hias yang indah dan terawat. Ada seorang wanita berjilbab menghampiri Dila dan menyapanya.
" Assalamualaikum ibu... selamat pagi, apa ada yang bisa kami bantu?".
Dila menatap wanita itu dengan senyuman ramah. " Wa'alaikum salam, pagi juga ibu, saya mau ikut mendaftar untuk anak asuh saya, namanya El, usianya 3 tahun 6 bulan", jawab Dila langsung pada tujuannya.
" Oh, apakah anak ganteng ini yang namanya El?, halo El perkenalkan saya Bu Nina", El menyalami Bu Nina dan mencium tangannya. " Ternyata El sudah pinter ya, mari Bu... masuk kedalam dulu untuk melanjutkan obrolan".
Dila menggandeng tangan El mengikuti langkah Bu Nina memasuki sebuah ruangan. Sedangkan Ari memilih tetap di mobil menunggu Dila mengurus pendaftaran untuk El.
" Silahkan duduk ibu, ini ada formulir yang harus diisi jika mau mengikuti bimbingan belajar disini, sebenarnya hanya mengisi biodata lengkap calon anak didik, silahkan di isi semua kolom jawaban".
Dila tahu pasti hal ini akan terjadi jika mendaftar apapun, mengisi biodata, untung Dila sudah membawa akta kelahiran El, jadi Dila bisa mengisi semua kolom jawaban di formulir itu dengan benar.
" Ini Bu Nina, apa ada rincian biaya yang harus dibayarkan?", tanya Dila sambil menyerahkan formulir pendaftaran yang sudah diisi tadi.
" Tentu saja ada rincian biayanya Ibu Kayla", Bu Nina mengambil brosur rincian biaya yang harus dibayar.
Ternyata Bu Nina mengira jika Dila adalah Kayla, hanya dengan membaca isi formulir biodata El yang disitu tertulis nama ibu kandung ' Kayla Stevani'.
__ADS_1
" Saya bukan Kayla Bu... nama saya Dila, saya pengasuhnya El, Kayla itu bukan nama saya".
" Oh, maaf ya Bu Dila, saya kira ibu itu ibu kandungnya El", Bu Nina nampak salah tingkah.
Setelah mengobrol cukup lama untuk memilih paket belajar yang diikuti El, El dan Dila dipersilahkan untuk berkeliling melihat-lihat keadaan Bimba.
Seperti ucapan Dila kemarin, ada banyak mainan di taman bermain, El langsung kegirangan melihat banyak mainan didepannya.
" El belum boleh bermain disana, kan El baru sembuh, dan ayah bisa marah sama kak Dila kalau El sakit lagi".
El nampak kecewa, namun menuruti Dila, karena tidak mau Dila kena marah lagi.
Hanya berkeliling sebentar, kemudian Dila berpamitan pada Bu Nina.
" Mulai kegiatan belajar mengajar nya Senin depan ya Bu, boleh memakai pakaian bebas dulu, yang penting sopan dan rapi, seperti El saat ini sudah cukup".
" Seragam akan diberikan nanti seminggu setelah mulai pembelajaran, karena menjahitnya juga menyesuaikan postur anak yang meski seumuran tapi berbeda-beda ukurannya".
Dila paham dan mengerti dengan yang diucapkan Bu Nina, karena saat di TPQ, Dila juga mengajar jilid 1 yang anak-anaknya masih usia Paud/ TK, tapi postur tubuh mereka berbeda-beda. Ada yang gendut dan besar, ada juga yang kurus dan kecil, karena itulah Dila paham dengan yang Bu Nina ucapkan.
" Kalau begitu kami pamit Bu Nina". Dila kembali masuk ke mobil bersama El.
Hari terus berganti hingga minggu pun datang. Hari ini Dila hendak mengajak El pergi membeli peralatan sekolah di toko perlengkapan sekolah. Tidak lupa Dila meminta ijin terlebih dahulu pada Indra.
" Karena Ari sedang libur hari ini, dan saya juga libur di kantor, maka kalian akan ku antar", ucap Indra pada Dila yang baru saja meminta ijin padanya.
El tertawa kegirangan karena akan pergi bersama ayahnya, sedangkan Dila hanya mengangguk setuju, ada rasa senang melihat El kegirangan, tapi dalam hati kecilnya justru Dila was-was karena baru pertama kalinya mau pergi bersama majikannya itu.
Mobil melaju menuju mall yang sama dengan saat kemarin Dila pergi bersama Bu Fatma. Indra menggandeng tangan El berjalan mencari outlet yang berjualan perlengkapan sekolah.
" Ayah ayah..., El mau ke time jon lagi kaya kemalin, El mau naik keleta api lagi, dan El mau nyanyi lagi". El merengek minta naik ke lantai 3.
" Iya iya, nanti ke time zone, sekarang kita cari perlengkapan buat El sekolah dulu, setelah itu baru El boleh main-main ke time zone".
Jawaban Indra membuat El semakin kegirangan. Dila hanya mengikuti ayah dan anak itu kemanapun mereka pergi.
Perlengkapan sekolah sudah dibayar, ada Tas sekolah, kaos kaki, sepatu, buku tulis, buku gambar, peralatan menulis dan juga peralatan menggambar. Belanjaan mereka cukup banyak, dan Dila sudah lebih dulu khawatir akan keberatan membawa itu semua.
" Mbak, tolong barang-barang ini semua diantar ke alamat ini, bisa kan?", ucap Indra.
" Tentu saja bisa Pak, kami akan langsung mengantar ke alamat tersebut. Terimakasih sudah berbelanja di toko kami".
Senyuman lebar langsung terpancar di wajah Dila yang tadi sudah khawatir akan membawa begitu banyak barang belanjaan.
" Ternyata pemikiran Tuan Indra sangat cerdas, pantas saja dia sukses, sayang ditinggal minggat sama istrinya", gumam Dila dalam hati, mana berani Dila mengatakan itu terang-terangan, bisa langsung disemprot oleh majikannya.
__ADS_1
" Sekarang kita ke lantai 3, El boleh main sepuasnya hari ini", ucap Indra sambil menggandeng tangan El memasuki lift. Dila terus mengekor di belakang mereka berdua.