
Setelah acara akad dan resepsi pernikahan Dita dan Nino usai, besoknya Dila dan Indra langsung pamitan untuk kembali ke Jakarta. Jam 10 pagi mereka sudah mengemas semua barang bawaan mereka ke dalam mobil karena Ari sudah sampai di kampung sejak semalam.
Sudah seminggu Dila tinggal di rumah orang tuanya, dan Indra tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama, meski itu hanya sebuah alasan, karena sebenarnya membiarkan Dila dan mantan pacarnya tinggal serumah adalah hal yang paling mengkhawatirkan.
Indra sampai saat ini masih belum yakin jika Nino benar-benar melupakan Dila dan mencintai Dita. Kadang Indra masih berburuk sangka pada Nino, karena sebagai sesama laki-laki, tatapan mata Nino pada Dila masih sangat dalam.
Di hari pertama mereka tinggal bersama, saat pagi hari mereka harus sarapan bersama dalam satu meja, Indra bisa melihat jika Nino sesekali mencuri pandang, dan menatap Dila yang duduk di seberang meja, tatapan yang masih sama dengan tatapan dulu saat dia naik ke atas pelaminan saat pesta pernikahan nya di kampung.
" Maaf ya Bu, Pak, kami nggak bisa lebih lama lagi disini, saya masih harus ngurus banyak pekerjaan, dan Dila juga libur di sekolah tinggal satu minggu, kami belum sempat mengajak El liburan ke tempat wisata, kasihan kalau liburan lama tapi nggak diajak tamasya".
Indra berpamitan dengan kedua mertuanya saat hendak memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Kemudian beralih menatap Dita dan Nino yang juga mengantar kepergian mereka sampai di teras.
" Ini hadiah untuk kalian berdua, maaf karena cuma bisa kasih ini, kalau mau request hadiah yang lain, bisa ngomong sama ibu negara, biar nanti kita carikan", ujar Indra sambil memberikan amplop putih kepada Dita, dan melirik ke arah Dila yang tadi disebutnya sebagai ibu negara.
" Boleh dibuka sekarang Mas?", tanya Dita yang penasaran.
Indra mengangguk, dan Dita langsung membuka amplop putih itu, ternyata isinya adalah dua buah tiket berbulan madu selama seminggu di Bali, sebenarnya itu salah satu dari jasa perjalanan yang dikelola Indra, dan Indra memberikan paket bulan madu terbaik untuk adik iparnya.
" Makasih banyak mas, aku bahkan belum pernah pergi ke Bali, pasti akan sangat menyenangkan berbulan madu disana, seperti Mas Indra dan Mbak Dila dulu saat program hamil". Dita tersenyum sumringah mendapatkan hadiah paket bulan madu yang harganya pastinya sangat mahal, karena semua akomodasi sudah ditanggung oleh pengelola. Mulai dari biaya perjalanan, biaya menginap di hotel selama seminggu, biaya makan, dan biaya lainnya selama berbulan madu di Bali sudah di tanggung semua.
Namun bagi Indra itu adalah hadiah pernikahan yang sangat murah dan mudah, awalnya Indra hendak memberikan mobil untuk hadiah pernikahan, tapi Dila merasa tidak perlu, Nino sudah punya mobil, pastinya sebagai suami istri mereka akan kemana-mana bersama dengan mobil itu.
Dila yang mengajukan usul memberikan paket bulan madu pada adiknya, karena Dila yakin Dita dan Nino belum memikirkan kearah sana, padahal bagi Dila, bulan madu itu cukup penting bagi pasangan yang baru saja menikah. Suasana di rumah orang tuanya yang sempit , tentu membuat Nino dan Dita tidak bisa leluasa untuk berekspresi saat malam pertama mereka nantinya.
Karena itulah Dila mengusulkan hadiah untuk adiknya adalah paket bulan madu ke Bali, karena Dila tahu, Dita belum pernah pergi ke Bali selama ini.
__ADS_1
" Itu bisa berangkat kapan saja terserah kalian, karena masa berlaku tiket itu sampai 6 bulan kedepan", terang Indra.
Dita mengangguk paham, dan menatap Nino sambil tersenyum lebar saking bahagianya.
" Kalau Tante Dita pergi ke Bali sama suaminya, nanti bisa kayak Bu Dila dan ayah... yang pulang dari sana bisa langsung dapat adik bayi di perutnya. Nanti El bisa dapat adik bayi yang lucu lagi", ucap El dengan polosnya.
Semua langsung tertawa mendengar ucapan El barusan.
Bagaimana bisa anak sekecil itu malah mengatakan hal yang membuat orang dewasa menjadi malu.
" El masuk mobil sini, duduk di depan sama Mas Ari, biar Mas Ari ada teman ngobrol di jalan", ajak Ari pada El untuk memasuki mobil. Karena semua merasa canggung setelah ucapan polos yang keluar dari mulut El barusan.
El menurut duduk di bangku depan samping kemudi, Ari memakaikan seat belt di tubuh El. Sekarang El memang sangat hobi mengobrol. Dan seringnya Ari mengajak El mengobrol membahas film kartun yang sama-sama mereka sukai, kartun ninja yang berasal dari Jepang.
" Mbak pamit dulu ya Dit, sekarang kamu sudah jadi istrinya Nino, jadi kamu harus jadi istri yang berbakti, meski kamu masih muda, tapi mba yakin kamu sudah siap untuk berumah tangga, semoga kalian berdua sakinah mawadah warahmah", Dila menggendong Arsy sambil berpelukan dengan Dita dan juga ibunya.
" Titip Dita ya No..., kamu yang lebih dewasa, jadi kalau Dita masih manja, dan belum tahu apa yang harusnya dia lakukan sebagai seorang istri, kamu ajari dia pelan-pelan, dan terus sabar, karena menikah itu adalah ibadah, ibadah paling lama".
Dila hanya menyalami Nino sebentar, kemudian pindah sungkem pada bapaknya. " Sekarang Dita sudah jadi istri orang, jadi bapak tidak boleh lagi mengatur kehidupan pribadi Dita, biarkan mereka untuk belajar berumah tangga, menjalani peran baru mereka masing-masing ".
Toto mengangguk paham.
" Kami berangkat dulu, sampai jumpa lagi", ujar Dila sambil masuk kedalam mobil.
Mobil Indra melaju meninggalkan kediaman Toto.
__ADS_1
" Kenapa Mas buru-buru sekali sih ngajak balik ke Jakarta, kita kan masih punya waktu seminggu liburannya, iya kan El?", tanya Dila saat mobil sudah melaju di jalan raya.
" Iya Yah.... kan kita masih capek sisa acara kemarin, mana semalam bobonya cuma sebentar, gara-gara dede Arsy rewel semaleman", protes El, karena semalam memang mereka semua kurang tidur.
Suasana di rumah memang masih ramai dengan para tetangga yang begadang semalaman, dan Arsy nampak kurang nyaman karena suara dari sound sistem yang memutar musik dangdut semalaman, membuat Arsy rewel dan semua kena imbasnya tidak bisa tidur.
" Sudah jangan banyak protes, sekarang El tidur saja kalau memang mengantuk, ayah kan minta balik cepet supaya kita semua bisa istirahat dengan tenang, di rumah kita kan sepi, nyaman, damai. Kalau masih dikampung, mungkin sampai seminggu kedepan suasana rumah masih terus ramai dengan tamu, kita nggak bakalan bisa istirahat dengan nyaman", kilah Indra mencari pembenaran.
" Iya juga sih, ada benarnya yang diucapkan sama Ayah, kalau El ngantuk El tidur saja sekarang, kan perjalanan masih lama, nanti kita mampir di restoran atau kafe kalau sudah waktunya Dzuhur dan makan siang".
El mengangguk saat sang ibu yang bicara. Dan tak butuh waktu lama, El sudah memejamkan matanya dan tidur dengan pulas.
Baru jam setengah sebelas dan Ari terus melajukan mobilnya membelah jalanan yang ramai tapi lancar. Mungkin ramai karena sedang akhir pekan dan liburan sekolah, jadi banyak orang tua yang menyempatkan waktu mengajak putra putrinya jalan-jalan, entah bertamasya atau sekedar makan diluar.
" Pembangunan hotel di kota sebelah sudah sampai mana Mas?, baru di mulai, apa sudah hampir selesai?", tanya Dila memecah kesunyian di dalam mobil.
" Sudah setengah jalan, Hotelnya cuma berlantai 6, pembangunan masih berlanjut, gedung sudah berdiri, tapi masih banyak pekerjaan lain yang harus dikerjakan, seperti memasang instalasi listrik dan air, mengecat, memasang pintu dan jendela, belum lagi mengisi dengan perabotannya. Mungkin masih butuh satu atau dua bulan lagi sampai semuanya benar-benar selesai.
Dila mengangguk mengerti, Dila memang tidak tahu dengan urusan pertukangan, tapi penjelasan Indra bisa Dila pahami.
Diam-diam Dila menghitung sudah ada 9 hotel milik Indra yang tersebar di berbagai kota besar, seperti Bandung, Surabaya, Jogja, Bali dan beberapa di Jakarta, berarti ini adalah hotel ke sepuluh yang di bangun Indra.
Sebanyak apa harta suaminya jika dihitung dalam rupiah?, Dila bahkan tidak berani membayangkannya. Dila justru menjadi takut jika dia tahu seberapa kayanya sang suami.
Karena dari dulu sampai sekarang bahkan transferan uang belanja dari Indra di ATM miliknya sudah sangat banyak, bukan ratusan juta lagi, tapi sudah miliaran.
__ADS_1
Dila bukannya tidak mau memakai uang itu, tapi Dila bingung mau menggunakan uang itu untuk beli apa, Dila jarang belanja, jarang berpesta dan tidak ikut-ikutan grup sosialita seperti teman-teman kuliahnya. Karena menurut Dila waktu liburnya lebih baik digunakan dan dihabiskan bersama anak dan suaminya. Dari pada digunakan untuk menghadiri arisan atau jalan-jalan dan shopping bersama teman-teman sosialita yang lain.