Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 53


__ADS_3

Seperti biasa tiap pagi Dila harus bangun jam 3 karena penjual ayam potong langganannya pasti akan mengantar ayam di jam-jam itu. Dila langsung membuat bumbu dan meng-ungkep ayam terlebih dahulu, meski Dila sudah punya 4 karyawan tapi untuk mengolah ayam suwir yang menjadi inti dari cita rasa nasi cup buatannya, Dila memang rahasianya pada bumbu dari ayam suwir itu sendiri, karena pada dasarnya rasa nasi dari beras berbeda memiliki cita rasa yang mirip. Yang membedakan adalah bumbu ayam suwir nya.


Jaman sekarang peralatan masak sudah canggih, jadi semuanya menggunakan mesin, dari menghaluskan bumbu dengan mesin penghalus bumbu, memasak nasi juga tinggal colok dan pencet tombol tinggal tunggu matang, jadi semua pekerjaan bisa dilakukan dalam satu waktu.


Sebelum pegawainya datang biasanya Dila sudah menyelesaikan semuanya. Para pegawai tinggal menata tempat, jaga kios dan mengantar pesanan jika ada yang memilih pesan antar. Dan yang jaga outlet di depan kampus hanya perlu memindahkan barang-barang ke outlet masing-masing.


Pagi ini Bram sengaja mampir ke ruko tempat tinggal Dila. Hendak menyapa sekaligus mengucapkan salam perpisahan karena Bram hendak kembali ke Jakarta.


" Tunggu Mas, ini dibawa, buat oleh-oleh ke Jakarta, atau bisa juga dimakan dijalan, tenang saja nasi cup ayam suwir buatanku tahan sampai besok. Anggap saja ucapan terimakasih karena semalam sudah dikirim beras dan minyak banyak banget", ucap Dila sambil memberikan satu kardus berisi 12 cup nasi ayam suwir buatannya.


Bram tersenyum lebar, " Oke makasih banget nih Dil, kamu jadi repot-repot nyiapin oleh-oleh segala".


" Tapi teman-teman aku pasti bakalan suka, karena ayam suwir buatan kamu sangat enak", puji Bram.


" Aku jalan dulu ya Dil, do'akan aku selamat di jalan, aku berharap semoga bisa secepatnya ke Jogja lagi, biar ketemu sama kamu".


Bram memasukkan kardus nasi cup kedalam bagasi, baru kemudian dia melajukan mobilnya membelah jalan yang cukup ramai kendaraan karena jam berangkat kerja dan sekolah.


Dila pun berangkat ke kampus, kuliah dan menjalani kesibukannya sehari-hari seperti biasanya.


Bram lebih dulu mampir di kos-kosan Lita untuk berpamitan.


" Lit, sepertinya Mas bener-bener suka sama Dila, kamu bantu mas buat deketin Dila dong please..., dan... thanks banget ya kemarin sudah mau kasih nomer Dila ke Mas", ujar Bram.


Lita menatap Bram sambil mesam mesem.


" Santai Mas, kan cuma Mas satu-satunya keluarga yang perhatian sama aku. Makasih juga buat semua belanjaan kemarin. Tapi untuk soal deketin Dila, aku nggak bisa janji, soalnya Dila seperti nggak pernah tertarik untuk menjalin hubungan. Dia setia banget sama cowoknya di kampung".


" Eh.... tapi ada satu hal sih yang bikin aku merasa aneh, mungkin ini kecurigaan aku saja, Dila sebenarnya nggak punya cowok di kampung. Aku kan Deket banget sama dia, bahkan PIN membuka ponselnya juga aku tahu, tapi aku nggak pernah nemuin chat atau riwayat telepon dia sama cowoknya di kampung, yang ada chat atau telepon sama keluarganya doang", ujar Lita seperti seorang detektif.


" Jadi aku pikir Dila memang sebenarnya belum tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, bukan karena dia nggak normal ya Mas...., tapi lebih karena dia seorang pekerja keras yang ingin mewujudkan cita-cita nya terlebih dahulu. Dan untuk masalah asmara, Dila menomor sekiankan", ucap Lita yakin.


Bram mengangguk paham.


" Aku akan datang lagi kesini Lit, biar bisa ketemu Dila lagi. Tapi aku sendiri belum benar-benar yakin dengan perasaanku, aku mau meyakinkan diri dulu, beneran Dila adalah tujuan terakhirku setelah penjelajahan ku selama ini, atau aku hanya penasaran karena dia beda dari gadis-gadis lain yang mengejar-ngejar aku", Bram nampak berpikir memang Dila cantik, seksi sesuai kriteria cewek idamannya, dan ditambah berbagai kelebihan lain yang membuat Dila semakin menarik.


" Aku hampir gila semalaman nggak bisa tidur, wajah Dila terus terbayang, coba setelah aku ke Jakarta dan bertemu dengan gadis-gadis cantik dan seksi, masih terus kepikiran Dila atau sembuh dengan sendirinya. Aku harap aku bisa kembali menjadi seorang Bram penakluk wanita yang tidak jatuh cinta pada seorang gadis muda".


Lita hanya terkekeh mendengar perkataan Bram.


Perjalanan selama 8 jam di mobilnya, kini Bram sampai di Jakarta, baru jam 4 sore di Jakarta, tapi Bram sudah langsung masuk kantor dan mengikuti meeting yang tertunda.


Usai bekerja di kantor dan pulang jam 7 malam, Bram yang sudah menjadwal ulang untuk bertemu dan hang out dengan rekan-rekan bisnisnya ke tempat karaoke langganan mereka pun hanya mengganti pakaiannya saja dan langsung cabut ke tempat karaoke.

__ADS_1


Di tempat karaoke Bram punya kenalan pemandu lagu, seorang wanita cantik yang jadi langganan dia menemani malam panjangnya, dialah Intan, bekas tetangga kamar Dila saat di Cibitung.


Di pertemuan para pebisnis itu juga hadir Indra, salah satu rekan pebisnis bidang perhotelan yang tahun kemarin mendapat penghargaan sebagai pebisnis muda paling berpengaruh.


Mereka menghabiskan malam itu dengan minum-minum dan membahas bisnis tentunya. Bram membawa nasi suwir buatan Dila dan meletakkan di meja ruang karaoke. Ternyata para orang-orang kaya itu menyukai nasi cup ayam suwir buatan Dila. Bram merasa senang karena teman-temannya menunjukkan kepuasan setelah menghabiskan nasi cup mereka. Bahkan Indra memuji ayam suwir yang rasanya berbeda dari yang pernah dimakannya.


Saat jam 9 malam, Indra ijin ke toilet, namun ponselnya di letakkan di meja ruang karaoke. Ada telepon masuk di ponselnya, dengan nama kontak tertulis My Sunshine.


Di layar ponselnya tertera foto anak kecil dan dibelakangnya ada Indra dan seorang perempuan muda yang cantik. Bram penasaran dan mencoba mendekat dan melihat foto di layar ponsel Indra.


" Kenapa?".


Suara Indra membuat Bram menjauhkan lagi posisinya dari ponsel Indra.


" Ada telepon, sepertinya dari anak kamu", jawab Bram beralasan sambil menunjuk ponsel Indra yang tadi berbunyi.


Indra langsung mengambil ponselnya dan menghubungi El balik.


" Sori ya, aku harus balik dulu, biasa si kecil belum bisa tidur kalau aku belum balik", Indra pamit pada rekan-rekan yang lain.


Teman-teman yang lain sudah paham betul dengan kebiasaan Indra itu.


Setelah Indra keluar, Bram memanggil Intan untuk mendekat. " Apa pengasuh yang kamu rekomendasikan ke Indra nggak bertahan juga?", Bram bertanya pada Intan yang kini sedang menggelayut manja di lengannya.


Bram ingat bagaimana dua tahun yang lalu menceritakan tentang Indra pada Intan, karena Intan yang penasaran kenapa Indra selalu pulang lebih dulu.


Jika dihitung sejak saat itu berarti usia anak Indra sekarang sudah sekitar 5 tahun. Yah... Indra dulu menikah dengan Kayla, sepupunya sendiri, Kayla adalah kakak kandung Lita.


Entah kenapa mereka berdua bercerai, yang Bram tahu, Kayla tidak pernah pulang ke Indonesia sejak bercerai dari Indra. Bahkan Bram sekarang jarang dengar kabar tentang Kayla.


_


_


Beberapa hari setelah pertemuan di tempat karaoke, Bram ada meeting dengan salah satu klien penting, yang tempatnya tidak jauh dari kantor Indra. Bram sengaja mampir ke kantor Indra hanya sekedar untuk menyapa.


Bagaimana pun mereka pernah menjadi keluarga meski tak lama. Sebenarnya Bram juga tidak tahu alasan perceraian Indra dengan Kayla, tapi mau bertanya pun Indra tak enak hati.


Bram lebih dulu menghubungi Indra secara pribadi meminta untuk bertemu, tapi karena Indra masih banyak pekerjaan, Indra meminta Bram untuk datang ke kantornya.


Bram langsung dipersilahkan untuk menuju ruangan Indra di lantai 20 oleh resepsionis. Dan Bram pun naik ke atas. Lift terbuka dan nampak seorang sekertaris Indra yang menyapa dengan sopan.


" Selamat siang tuan, silahkan langsung masuk kedalam saja, tuan Indra ada di dalam", ucap sang sekertaris. Bram memang sudah lama tidak main ke kantor Indra, bahkan baru tahu jika sekarang Indra sudah ganti sekertaris. Dan Bram mengganti sekertaris nya yang sangat seksi itu dengan seorang laki-laki, hal itu menimbulkan pertanyaan besar di pikiran Bram.

__ADS_1


" Hai Bram, sori banget ya... nggak bisa nemuin kamu di luar, nanti ada meeting lagi jam 1. Duduk...duduk...".


Indra mempersilahkan Bram duduk, saat ini Bram sedang menatap foto besar yang sengaja dipajang Indra di depan meja kerjanya.


Bram merasa perempuan yang di foto itu sangat mirip dengan Dila sahabatnya Lita, tapi kenapa Dila nampak begitu akrab dengan El, putranya Indra?.


" Oh...iya nggak papa, santai bro, kan aku juga sudah deket daerah sini".


" Ngomong-ngomong kalau boleh tahu, siapa gadis muda yang ada di foto itu?, aku baru pernah lihat, maklum sudah sangat lama baru mampir kantor kamu lagi", tanya Bram beralasan.


" Oh... gadis itu namanya Dila, dia dulu sempat mengasuh El, cukup lama, paling lama diantara pengasuh El yang lain..."


Tok...tok...tok...


" Maaf Tuan, ada Nyonya Fatma datang, saya suruh tunggu di ruang tunggu atau dipersilahkan masuk?", tanya sang sekertaris.


Indra terpaksa menghentikan ceritanya karena


sekertarisnya mengetuk pintu ruangannya, mengatakan bahwa Ibunya datang.


" Suruh tunggu sebentar, bilang aku sedang ada tamu, sama buatkan kopi untukku dan tamuku", ucap Indra.


" Sori nih Bram, aku temuin ibuku sebentar apa nggak papa nih?, kamu tunggu disini dulu sebentar?".


Bram mengangguk setuju, saat Indra keluar dari ruang kerjanya. Bram sengaja memfoto gambar foto di dalam pigura besar yang ada di ruang Indra, dan membandingkan dengan foto Dila yang diambilnya di kafe secara diam-diam beberapa hari yang lalu.


Wajah dan nama yang sama, jadi Dila adalah gadis yang dulu jadi tetangga Intan, tapi Dila memang sedikit tertutup tentang masalah pribadi, tidak mudah menceritakan kehidupannya pada orang lain, itu yang dikatakan oleh Lita sepupunya.


Sekertaris Indra menyajikan dua cangkir kopi dan beberapa cookies di meja. " Silahkan di nikmati kopinya Tuan".


Bram hanya mengangguk, tak lama kemudian Indra kembali masuk ke ruangannya. " Aduh, maaf banget nih Bram, jadi buat kamu nunggu begini, ibuku sekarang jadi sering datang ke kantor karena kalau pulang nganter anakku habis dari TK mampir kesini.


" Anak kamu sekarang diasuh sama ibu kamu?", tanya Bram penasaran.


" Iya, habisnya El nggak mau aku nyari pengasuh lagi, dia maunya sama Dila, berulang kali nyuruh aku nyari Dila, tapi kemana?, Dila pergi tanpa pamitan pada kami semua, tiba-tiba saja pergi dan menghilang, dia nggak pulang ke kampungnya", ujar Indra dengan wajah sedih.


" Oh iya, gimana perkembangan bisnis kamu?, kemarin katanya mau kerja sama dengan seorang mahasiswi dari Jogja yang memproduksi nasi cup yang kamu bawa kemarin itu?, sepertinya bakal sukses kalau kamu kerjasama dengannya", ucap Indra mengalihkan topik pembicaraan.


Bram hanya mengangguk, " Aku belum ke Jogja lagi, belum dapat persetujuan dari mahasiswi itu juga, sepertinya dia gadis yang susah diajak kerja sama", jawab Bram.


" Loh tumben... biasanya kamu yang dikejar-kejar para gadis, kenapa sekarang sepertinya berbeda?", Indra yang mengenal Bram cukup lama tahu ekspresi Bram berubah sendu saat membicarakan tentang mahasiswi itu.


" Entahlah, dia memang berbeda dari gadis manapun, dan sepertinya kisah hidupnya juga penuh lika liku, gadis itu menyimpan begitu banyak rahasia", ujar Bram.

__ADS_1


__ADS_2