
" Lama banget sih bukain pintunya, jangan bilang kamu lagi ngumpetin cowok kamu di apartemen, nanti aku bilangin mami sama papi baru tahu rasa kamu, disuruh pulang dan tinggal di rumah!, nggak boleh tinggal di apartemen lagi".
Ternyata tamu yang datang adalah Kayla, ibu kandungnya El. Kayla langsung nyelonong masuk begitu saja ke dalam apartemen Lita, karena curiga pada adiknya yang menyembunyikan laki-laki di dalam apartemen.
Namun saat berada di dalam Kayla begitu terkejut, bukan laki-laki dewasa yang ada di atas kasur Lita, melainkan anak kecil tampan yang sedang menatap layar televisi dengan serius. Kayla juga melihat ada Dila, istri baru mantan suaminya yang beberapa waktu lalu di temui nya.
" Kalau itu Dila istri baru Indra, apa anak itu adalah El, putraku?, jadi putraku sering main ke rumah Lita, tantenya?", Kayla terus menatap kamar dan ruang tamu secara bergantian.
" Kak Kay... kenalin ini temen aku namanya Dila, dia dulu tinggal di samping kosan aku waktu kuliah di Jogja, dan itu.... putranya", sambung Lita berusaha untuk bicara dengan hati-hati.
Kayla mengernyitkan keningnya, " Putranya?, dia adalah putraku, apa kamu tidak tahu kalau teman kamu ini istri barunya Indra?, mantan suamiku?".
Lita yang memang awalnya sengaja ingin berpura-pura tidak tahu karena mengira Kayla belum tahu siapa Dila, ternyata salah strategi, nyatanya Kayla sudah tahu siapa Dila dan mengenal El. " Tapi siapa yang memberi tahu kak Kayla kalau Dila istri barunya mas Indra, apa Mas Bram?, kapan Kak Kayla ketemu sama Mas Bram?", begitu banyak pertanyaan yang muncul di otak Lita.
" Jadi Kak Kayla sudah tahu tentang Dila, sejak kapan?, siapa yang ngasih tahu?. Ya syukur deh kalau kak Kayla sudah kenal Dila, aku jadi nggak perlu jelasin siapa El sama Kakak".
" Ngapain kakak kesini?, biasanya juga weekend, jam segini belum bangun, semalaman pasti hangout di klub kan?", tebak Lita. Memang begitulah kebiasaan Kayla sejak dulu, suka pergi ke klub tiap malam, hanya setelah menikah dengan Indra baru kebiasaannya berubah, namun sayangnya kebiasaan itu kembali setelah dirinya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, dengan alasan yang dibuat-buat, menurut Lita.
Apalagi saat dirinya kemudian tinggal di Jerman selama beberapa tahun, mungkin hampir tiap malam Kayla pergi ke klub atau diskotik yang di negara asing itu bertebaran.
" Aku kesini mau ngajak kamu ke rumah sakit, kata Tante Lusi si Bram lagi dirawat, kemarin kecelakaan di deket kantor nya. Nggak tahu tuh anak lagi kenapa, sikapnya sudah berubah banget sekarang, kesambet jin dimana mungkin".
" Aku mau pergi kesana sendirian, tapi kata mami kalian berdua cukup akrab sekarang, ada temen kamu yang disukai si Bram?, anak mana?, katanya temen kuliah di Jogja?, hebat tuh cewek, seorang playboy seperti Bram bisa dibuat takluk dan menghentikan kebiasaannya gonta ganti pasangan".
Dila mendengarkan ucapan Kayla, namun tidak berniat untuk berkomentar sedikitpun, meski dia sadar dirinya lah yang sedang menjadi bahan pembicaraan kedua wanita kakak beradik itu.
" Kakak belum dikasih tahu Tante Lusi atau Mami, siapa nama cewek yang bikin Mas Bram jatuh cinta?", pancing Lita, sengaja bertanya dulu, jangan-jangan Kak Kayla sudah tahu juga jika namanya Dila.
" Nggak tahu, belum sempet nanya, lagian urusan aku tuh banyak, nggak suka ikut campur urusan orang lain, ya meski Bram itu masih sepupu, tapi dia kan sudah dewasa, tentu dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, nggak perlu bantuan kita kan?", ujar Kayla.
" Ngapain istri Indra disini pagi-pagi banget?, apa kamu yang nyuruh dia kesini karena kepingin ketemu sama keponakan kamu yang tampan itu?, aku kira kamu sudah lost kontak dengan keluarga Indra, ternyata masih berhubungan juga".
Lita hanya menggelengkan kepalanya, " Keponakan aku yang tampan itu kan putra kakak, memang kakak nggak merindukan El apa?, sudah bertahun-tahun kakak nggak lihat El, bukankah dia tumbuh jadi anak yang sangat tampan?".
Kayla mengangguk, " Dia memang sangat tampan seperti ayahnya, namun sayang ayahnya tidak berani mengakui keberadaannya. Lebih baik dia terus bersama dengan Indra yang bersedia mengurus dan menyayanginya dengan tulus", batin Kayla.
__ADS_1
" Kenapa malah bengong kak?, kalau kalian sudah saling kenal kok nggak saling sapa?".
Kini Lita bertanya pada Kayla dan juga Dila yang duduk dalam ruangan yang sama, namun mereka berdua hanya saling menatap tanpa berbicara satu sama lain.
Lagian mau membicarakan apa, hanya saling kenal dan Dila lebih suka diam, karena kalimat yang keluar dari mulut Kayla kemarin semuanya hanya sindiran pedas untuk Dila, bagaimana bukan sindiran pedas, Kayla menyebut Dila suka memakai bekasnya, belum lagi menyebut Dila kampungan, dan membandingkan kesibukannya merawat El dengan pekerjaannya yang menghasilkan uang banyak. Dila sangat tidak suka dengan hal itu.
" Aku pamit saja dulu ya Lit, kamu mau pergi sama kakak kamu ke rumah sakit kan buat nengokin Mas Bram, lagian tujuanku datang kemari sudah tercapai, makasih ya buat sarannya".
Dila menghampiri El dan mengajaknya untuk pulang ke rumah, El begitu menurut dan mengikuti langkah Dila.
" Salim sama Tante Lita dulu sayang".
El langsung menyodorkan tangannya kepada Lita dan mencium punggung tangan Lita. Lita begitu gemas dan mengecup pipi dan kenging El.
" Sama satunya lagi juga Salim sayang", ujar Dila, sengaja tidak menggunakan sebutan apa-apa, karena tidak berniat memberi tahu El siapa Kayla itu, Kayla saja sejak tadi berada di apartemen yang sama, tidak ada inisiatif memperkenalkan dirinya pada El.
Bahkan tidak mendekati El sama sekali, apa sebegitu bencinya Kayla pada El?, sedangkan El adalah darah dagingnya sendiri, bahkan masih diragukan jika El adalah putra Indra.
Dila jadi semakin berniat untuk membawa El ke rumah sakit. Semalam Dila sudah berhasil menyimpan rambut Indra, dan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk melakukan pengecekan DNA El dan Indra.
Mumpung Indra tahunya jika dirinya sedang di rumah Lita, dan Dila bisa pergi kerumah sakit langsung setelah keluar dari apartemen Lita.
" Seandainya saja kamu tahu siapa wanita yang kamu salami tadi El.... dialah yang membuat kamu dulu harus mencari keberadaan nya, setiap hari pergi dari rumah dan membuat semua pengasuh mu harus menyerah, dan resign".
" Wanita yang sudah melahirkan kamu dan mengandung mu dalam rahimnya selama 9 bulan, namun dia juga yang pergi meninggalkan kamu tanpa kabar".
Dila berjalan keluar melihat pemandangan yang seharusnya sangat mengharukan, pertemuan antara anak kecil dan ibu kandungnya yang sudah berpisah selama 5 tahun.
Entah terbuat dari apa hati Kayla, sehingga tidak tersentuh untuk memeluk putra kandungnya sendiri. Padahal sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.
" Aku balik dulu ya Lit, assalamualaikum", ujar Dila sambil keluar dan menutup pintu apartemen Lita.
" Kakak ini apa-apaan sih?, El itu kan putra kakak, bisa-bisanya ada seorang ibu seperti Kakak, nggak tersentuh sama sekali hatinya melihat putra sendiri. Apa hati kakak terbuat dari batu!".
Suara Lita sayup-sayup terdengar di telinga Dila yang masih berada dekat di depan apartemen Lita. Jujur Dila juga merasa aneh dengan sikap Kayla, karena hewan saja yang tidak mempunyai pikiran akan tetap menyayangi dan merawat anaknya. Tapi Kayla.. , dia manusia yang harusnya punya hati dan pikiran, namun sikapnya lebih rendah dari pada hewan, karena sudah menelantarkan anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
" Ibu, kita mau kemana?, apa langsung pulang ke rumah?", El membuyarkan lamunan Dila.
" Nggak sayang, kita mampir ke rumah sakit sebentar, ibu mau ketemu dokter sebentar", jawab Dila.
" Apa Bu Dila sakit?".
Dila menggeleng, " cuma ada perlu sebentar sama pak dokter. Habis dari rumah sakit kita mampir jalan-jalan di mall depan rumah sakit, apa El setuju?".
El langsung mengangguk setuju dengan rencana Dila.
Sampai di rumah sakit Dila langsung menyerahkan sampel rambut milik Indra dan juga El kepada pak dokter setelah mereka lebih dulu mengobrol cukup lama.
Untuk mempermudah proses, Dila memang mengaku sebagai ibu kandungnya El, dan penasaran siapa ayah El yang sebenarnya, benar suaminya atau bukan.
Dokter memaklumi keadaan Dila, memang jaman sekarang kadang seorang wanita tidak berhubungan dengan satu laki-laki saja, dokter yang masih muda itu memaklumi jika pasti banyak laki-laki yang menyukai Dila, postur Dila yang padat berisi, ditambah wajah Dila yang cantik, tentu saja sekali pergi ke klub malam bisa berujung di kamar hotel dengan laki-laki lain.
" Tolong segera hubungi saya jika hasilnya sudah keluar". Dila berpamitan dan keluar dari ruangan dokter itu, El yang sejak tadi dititipkan pada seorang suster di rumah sakit itu sedang diajak bermain-main di taman.
" Terimakasih banyak sus, sudah menjaga putra saya".
" Sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya Bu", jawab sang suster.
Dila menuntun El menuju tempat parkir dan melajukan motornya menyeberang jalan dan masuk parkiran mall di depan rumah sakit itu.
" Sekarang kita makan siang dulu saja ya sayang... sudah siang, pasti El lapar kan?, El mau makan apa?", Dila membebaskan El untuk memilih menu makan siang mereka hari ini.
El mengajak Dila ke outlet ayam goreng kremes yang tak jauh dari tempat mereka sekarang berdiri, setelah memesan dua paket ayam goreng, burger, lemon tea, dan juga milkshake untuk El, Dila memilih tempat duduk yang nyaman. El begitu kegirangan saat mendapat hadiah sebuah mainan salah satu karakter superhero dari pramusaji.
" Makan dulu sayang, baru nanti mainan itu, ibu mau cuci tangan, ayo El ikut ibu buat cuci tangan".
El menurut, meletakkan mainan itu di meja, dan mengikuti perintah Dila untuk cuci tangan.
" Ternyata benar Dila, cuma berdua saja sama putra mu?", sapa seorang perempuan yang familier dengan wajahnya.
" Bu Titin?, kebetulan sekali ketemu disini Bu, sudah sangat lama tidak ketemu sama ibu, lagi jalan-jalan di sini?".
__ADS_1
Titin mengangguk, " ini diajak sama anakku, mumpung lagi pulang ke rumah".
Dila menatap perempuan cantik di sebelah Bu Titin. " Kak Intan...!".