
Dila terbangun karena merasa ada seseorang yang berjalan ke arahnya.
" Jadi El tadi sudah makan siang, lalu sekarang dia mau tidur siang?".
" Benar Pak, sejak pagi Den El terus marah dan nangis minta cari ibunya, tapi pas Dila sampai den El mau dibujuk pulang, bahkan makan siangnya habis, dan langsung tidur saat dibacakan buku dongeng sama Dila", terang Ana.
Dila membuka matanya, ada sosok pria berpenampilan rapi, memakai pakaian kerja kantoran, yang kemudian melepaskan jasnya dan menyampirkan di gantungan baju yang terdapat di kamar El.
Dengan cepat Dila merubah posisinya yang sedang tiduran menjadi duduk di samping El.
Pria itu menatap wajah El dengan perasaan sedih dan penuh kasih sayang.
" Maaf jadi ganggu tidur kamu".
" Ssstttt...", Dila menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Perlahan Dila turun dari tempat tidur El dan memberi kode pada lelaki itu untuk keluar dari kamar El.
" Apa Tuan ayahnya El?", tanya Dila dengan suara lirih saat berada di depan pintu kamar El.
Pria itu mengangguk, " saya Indra, ayahnya El".
" El tidur belum lama Tuan, saya mau makan siang dulu, belum makan, jadi tolong jangan di ganggu, takut bangun, kasihan baru tidur sebentar".
" Jadi kamu belum makan siang?, ayo kita makan siang bersama, banyak yang ingin saya bicarakan juga dengan kamu", Indra berjalan menuju wastafel yang ada di ruang makan, setelah menggulung lengan kemejanya, Indra pun mencuci tangannya sampai bersih, dan setelah mencuci tangannya, Indra menuju meja makan besar dengan berbagai menu masakan sudah tersaji di meja.
Indra memang selalu menyempatkan pulang kerumah tiap istirahat, karena harus memastikan putra semata wayangnya itu mau makan siang. Biasanya El tidak mau makan jika bukan ayah atau neneknya yang menyuapi.
" Silahkan duduk", Indra menyuruh Dila duduk di kursi yang ada di depannya.
Dila yang sejak tadi masih berdiri, menurut untuk duduk dan diam tak berkata-kata.
" Ayo makan dulu, katanya kamu belum makan", Indra menyuruh Dila makan bersamanya, Dila ragu untuk makan semeja dengan majikannya. " Apa mau saya ambilkan?".
Dila menggeleng, " saya bisa ambil sendiri Tuan", jawab Dila cepat sambil mengambil sedikit nasi, rica-rica ayam, cak kangkung, dan udang goreng.
" Jadi apa kamu sudah tahu peraturan menjadi baby sitter El apa saja?", tanya Indra di sela makannya.
Dila menggeleng karena saat ini mulutnya penuh dengan makanan.
" Jadi belum dikasih tau ya, kamu dengarkan saya baik-baik. Peraturan yang pertama, kamu harus tinggal disini, kamar kamu yang di samping kamar El tadi, jadi jika El menangis atau manggil kamu, kamu bisa cepat-cepat menuju kamarnya".
Dila mengangguk mengerti, sebenarnya Dila agak merasa kurang nyaman, karena kamar pembantu lainnya ada di belakang, dekat dengan dapur dan tempat cuci baju. Tapi memang sudah semestinya kamar baby sitter itu dekat dengan momongannya.
" Selain tinggal disini, kamu juga diperbolehkan makan disini, seperti sekarang".
__ADS_1
" Yang kedua, kamu akan di gaji 5 juta per bulan, memang cukup besar dibanding gaji pekerja yang lain, tapi kamu tahu kan konsekuensi jadi baby sitter El itu apa?, kamu harus merawat El selama 24 jam, jadi sewaktu-waktu El butuh kamu entah itu tengah malam, kamu harus selalu ada disampingnya, tugas kamu hanya merawat El saja, pekerjaan lain sudah ada orang lain yang handle".
Dila mengangguk mengerti.
" Kamu lebih suka terima uang cash seperti yang lain, atau mau gaji kamu lewat ATM?".
Dila terlihat berpikir, " Lewat ATM saja Tuan, kalau saya diperbolehkan makan disini, berarti gaji itu bisa saya tabung".
" Apa kamu sudah punya rekening?".
Dila menggelengkan kepalanya." Umur saya baru 17 tahun kemarin, KTP saja belum saya punya".
Indra terlihat mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Dila.
" Kamu baru 17 tahun?, jadi kamu belum menikah?, kalau begitu sementara gaji kamu saya beri cash saja, kebanyakan baby sitter El yang sebelumnya mundur dalam waktu kurang dari sebulan, saya akan kirim gaji kamu lewat ATM kalau kamu sudah bikin KTP dan bikin ATM, itupun kalau kamu bertahan disini lebih dari 3 bulan".
Dila mengangguk setuju.
" Peraturan yang ke 3, kamu dilarang berpacaran, saya tidak tahu kalau kamu ternyata masih muda. Saya mau kamu hanya fokus mengurus El".
Sebenarnya Dila tahu apa alasan sebenarnya bos-nya melarangnya berpacaran, karena trauma masa lalu pembantunya hamil diluar nikah, tapi Dila pura-pura belum tahu dan setuju saja dengan peraturan itu.
" Sudah, sementara itu dulu, karena peraturan yang lain bisa di bicarakan sambil berjalan nantinya. Sudah siang dan saya harus kembali ke kantor". Indra sudah selesai makan, dan beranjak dari kursi makan, menuju kamar El untuk mengambil jas nya. Indra mengecup kening El dengan hati-hati, takut El tiba-tiba merasa terganggu dan terbangun dari tidurnya.
" Titip El, jaga dia baik-baik".
" Baik Tuan".
Indra keluar dari kamar El, namun saat sampai di ruang tamu, Dila berlari menghentikannya.
" Maaf Tuan, ada yang mau saya bicarakan penting", ucap Dila sambil terengah-engah.
" Ada apa, bicara dengan cepat, saya hampir terlambat".
Dila merogoh sakunya dan menyerahkan ponsel miliknya yang layarnya retak parah.
" Ini Tuan, tadi El yang jatuhkan ponsel saya, lalu di injak juga, sampai seperti ini, padahal ini ponsel yang saya beli sendiri dengan menabung selama dua tahun, malah rusak, bagaimana saya bisa menelepon orang tua saya di kampung?", Dila berkata dengan wajah menahan tangis.
" Ya sudah nanti saya belikan yang baru", ujar Indra sambil berlalu.
" Tidak usah Tuan, ini layarnya saja yang diperbaiki, soalnya banyak foto bersama teman-teman saya di dalamnya".
Indra menghembuskan nafasnya panjang, lalu mengambil ponsel Dila dan memasukkan kedalam saku jasnya." Nanti saya perbaiki".
__ADS_1
" Ponsel sudah ketinggalan jaman saja mau ditangisi", batin Indra sambil keluar menuju mobilnya.
" Ar, nanti kamu mampir ke mall belikan ponsel baru yang agak bagusan dikit, terus pindah data dari ponsel rusak ini ke ponsel yang baru", Ari membukakan pintu mobil untuk majikannya dan menerima ponsel rusak itu dari bosnya.
" Siap Bos, kalau boleh tahu, apa ini ponsel Dila yang jatuh tadi Bos?".
" Kamu tahu kejadiannya?", tanya Indra.
" Tentu saja Bos, kan tadi pas saya baru sampai sehabis jemput Dila ke Cibitung, El lari keluar dan menabrak Dila, sampai HP Dila jatuh, tadi saya juga bisa lihat Dila sampai mau nangis pas tahu layar HP nya retak parah".
Indra hanya mendengarkan cerita Ari tanpa berkomentar.
" Gadis kampung, HP murahan saja di tangisi", gumam Ari sambil terkekeh.
_
_
Sesuai perintah bosnya, setelah mengantarkan sang bos ke kantor, Ari langsung menuju mall terdekat dan membeli HP baru yang lebih mahal dan lebih besar RAM nya. Tidak lupa Ari meminta pegawai konter untuk memindahkan semua data yang ada di ponsel Dila ke HP yang baru.
Hanya dalam waktu 15 menit semuanya sudah beres. Ari sengaja mengecek HP baru dan membuka buka aplikasi di dalamnya.
" Seperti apa wajah Dila yang asli ya?, oh iya coba lihat di profil WhatsApp nya", tapi yang Ari temukan hanya gambar sawah dengan tanaman padi yang masih hijau membentang luas, mungkin itu foto sawah di kampung Dila.
Ari pun membuka galeri dan melihat-lihat foto di dalamnya.
" Dila yang mana ya?, kebanyakan foto beramai-ramai, nggak ada foto yang lagi sendirian, coba bayangkan kalau Dila nggak bertompel dan membuka kacamatanya".
Ting.....
Ada kiriman video masuk di WhatsApp Dila, dari kontak yang bernama Asri.
Ari penasaran dan membukanya. Ternyata video surprise ulang tahun seseorang.
~ Dil, sorry baru bisa kirim video ultah kamu kemarin, aku baru selesai kerja, dan sekarang lagi dijalan menuju pulang ke kontrakan, kamu pasti sudah sampai di Jakarta ya sekarang?, padahal aku pengen cerita banyaaaak banget sama kamu, pengalaman di hari pertama kerja di pabrik hari ini, nanti deh, kalau sudah sampai dirumah aku telepon kamu ya, kabari aku kalau kamu sudah lagi ngga sibuk, peluk kangen 🤗~
Ari buru-buru membuka Video yang baru saja masuk di WhatsApp Dila.
Dan betapa terkejutnya Ari saat melihat ternyata Dila itu sangat cantik, lebih cantik dari Fifi si pembantu centil yang dulu bunting tanpa suami.
Apalagi saat melihat Dila tertawa bahagia bersama teman-temannya saat bermain-main dengan whipped krim dari cake ultah Dila, Ari benar-benar terpesona melihat kecantikan Dila yang alami.
" Pantas saja kamu pakai tompel dan kacamata tebal, seandainya saja tuan bos nggak ilfil dengan gadis cantik, pasti tiap hari bisa lihat wajah cantikmu Dil...", gumam Ari sambil berjalan menuju parkiran mall.
__ADS_1