
" Siapa anak kecil tampan dengan jas putih di depan Dila itu?, mungkinkah dia kerabat pengantin pria?, wajahnya benar-benar mirip dengan sang pengantin pria".
" Wah jadi Dila lebih memilih duda beranak satu ketimbang Nino sang kades baru yang masih perjaka, jangan bilang Dila silau dengan harta, tapi Nino kan juga sudah jadi kades, penghasilannya cukup besar, coba sekaya apa duda beranak satu itu sampai Dila memilihnya?".
" Jangan-jangan Dila menyesal tak memilih Nino yang sekarang sudah menjadi kades, salah siapa terburu-buru menikah dengan duda kaya".
Bisikan bisikan dari para tetangga yang datang ke resepsi pernikahan Dila sungguh tidak ada satupun yang terdengar enak di telinga.
Bahkan saat Nino sang kades hadir bersama para perangkat desa lain untuk memberi selamat pada Dila dan keluarganya, bunyi bisikan para tetangga semakin rame terdengar.
Bukannya Dila tidak tahu itu semua, hanya saja Dila mencoba bersikap biasa dan tetap memasang wajah bahagia karena takut Indra akan tersinggung jika dirinya berwajah muram.
" Jadi inikah Pak Nino, kades baru di desa ini?, saya ucapkan terimakasih banyak karena sudah memberi ijin menyelenggarakan acara di lapangan desa ini", Indra mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
Semua hadirin langsung menatap sedikit was-was ada yang menebak Nino akan menerima uluran tangannya karena Nino orang yang baik hati. Ada juga yang berspekulasi jika Nino akan mengacuhkan uluran tangan Indra karena mereka adalah rival.
Ternyata Nino menerima uluran tangan Indra.
Tentu saja uluran tangan Indra akan diterima, karena Nino memberi contoh yang baik sebagai kades baru pada semua warganya, Nino harus bisa menahan amarahnya saat datang ke resepsi pernikahan Dila, gadis yang sudah menolak lamarannya.
Nino paham betul dari tatapan mata Dila, ada sesuatu yang Dila simpan dan berusaha Dila tutupi rapat-rapat. Nino menyukai, mengenal, dan memperhatikan Dila bukan hanya dalam hitungan bulan, tapi bertahun tahun lamanya.
" Selamat untuk pernikahan kamu ya Dil, kamu terlihat semakin cantik dengan kebaya dan make up itu, semoga pilihan kamu membawa kebahagiaan dalam kehidupanmu selanjutnya". Nino mengulurkan tangan pada Dila, kali ini para tamu kembali memperhatikan panggung resepsi dengan hati was-was.
Dila menerima uluran tangan Nino sekaligus mengucapkan permohonan maafnya di depan Indra sang suami. Mumpung ada kesempatan bertemu dengan Nino, setelah resepsi itu, mungkin akan terlihat aneh dan janggal jika Dila menemui Nino dan baru mengucapkan maaf padanya.
" No, maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanat dari kamu dengan baik, aku sudah berusaha, tapi Yang Maha Kuasa lebih berhak mengatur dan menentukan jodoh setiap umatnya, aku berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dariku". Ada setetes bulir air mata yang lolos dengan lancangnya.
Membuat Nino juga tidak bisa menahan kesedihan yang sejak tadi sudah berusaha di tahannya. Nino hanya bisa mengangguk- angguk tanpa bersuara, mungkin jika Nino kembali bicara dan membuka mulutnya, tangisnya akan meledak saat itu juga.
__ADS_1
Memang Nino lah yang Dila pikir akan menjadi suaminya, menjadi imam dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Karena Nino lah pria pertama yang terang-terangan dengan serius mengajukan lamaran pada Dila.
Dila dulu juga merasa nyaman setiap kali bersama-sama dengan Nino, hanya saja Tuhan berkehendak lain, tidak ada yang tahu siapa jodoh yang ditakdirkan untuk kita. Dan tidak ada yang bisa menentang apa yang sudah dituliskan Yang Maha Kuasa untuk kita.
Yang menghadiri acara resepsi pernikahan seketika riuh, Dila dengan cepat menarik tangannya, melepas genggaman tangan Nino yang masih menempel di tangannya.
Indra kini paham, Nino lah laki-laki dari kampung yang pernah Dila sebutkan sebagai alasan Dila menolak saat Indra mengajak Dila menikah dulu. Mau bagaimana lagi, mungkin memang awalnya Nino lah yang dipilih Dila, dan pada kenyataannya Indra lah sang pemenang hati Dila.
Dalam hati Indra tak ada sedikitpun kekhawatiran jika Dila akan mendua, Indra tahu Dila gadis yang setia, hanya saja Dila sedang berusaha berdamai dengan hatinya sendiri, kesalahan dirinya yang membuat Dila harus lepas dari seseorang yang sudah dengan setia menunggunya selama ini. Indra mengerti hal itu.
Apalagi rencana Indra yang akan memboyong Dila ke Jakarta usai resepsi hari ini, karena memang Dila mempunyai begitu banyak kesibukan di Jakarta, baik urusan pekerjaan maupun urusan kuliahnya. Jadi masa lalu tetap akan menjadi masa lalu, tidak akan merusak kehidupan di masa depan.
" Bu Dila... apakah ibu sedih menikah dengan ayah?", El yang berdiri di samping Dila sejak tadi sempat melihat air mata meluncur dari mata Dila, El pun langsung bertanya karena penasaran.
Dila menggeleng, suara El membuat suasana yang awalnya haru menjadi kembali normal.
Nino sudah turun dari panggung resepsi, tinggal jajaran perangkat desa lainnya yang tengah menyalami Dila dan memberikan selamat untuk pernikahan mereka.
" Maafkan aku Mas", bisik Dila lirih sengaja mendekat ke Indra.
Indra mengangguk mengerti, " Tidak apa, semua memang berawal dari kesalahanku, sepertinya aku juga harus bicara empat mata dan meminta maaf pada pak kades yang tampan itu karena sudah merebut calon istrinya", Indra sengaja menggoda Dila agar Dila tidak terus berwajah muram.
" Kamu ini apa-apaan sih Mas, tadi aku hanya merasa bersalah saja saat melihat wajah Nino, dia pasti sangat sakit hati dan sedih, seharusnya dia tidak usah datang kesini, mungkin itu akan lebih baik", gumam Dila.
" Justru jika dia nggak datang, orang lain akan berbicara lebih buruk kedepannya, aku akui mantan kamu itu sangat gentle dan bijaksana", Indra memuji Nino, yang dibalas bibir manyun Dila.
Setelah bersalaman dengan para perangkat desa, acara dilanjut dengan foto bersama, dimulai dari foto-foto dengan keluarga, kerabat dan juga teman-teman.
Asri dan Joko juga sempat berfoto dengan Dila terlebih dahulu sebelum dirinya pamit pulang karena harus bergantian pergi ke kampung halaman orang tua Joko untuk perkenalan lebih dekat.
__ADS_1
" Pada mau ikutan foto nggak?", Asna sengaja bertanya dengan para mantan pengurus karang taruna yang dulu berjuang bersama-sama dengan Dila. Ternyata mereka semua hadir di acara resepsi pernikahan Dila, Dila tidak menyadari hal itu karena mereka duduk cukup jauh dari panggung resepsi.
Fajar langsung berdiri, " tentu saja mau, ayo kita berfoto satu kepengurusan karang taruna angkatan tahun kita, nanti aku mau nyetak buat kenang-kenangan sebagai bukti kalau dulu aku juga dekat dengan pak kades, dengan Bu guru, Pak ustadz dan dengan orang-orang yang sekarang sudah sukses seperti Dila".
Asna mengajak Wowo yang sejak tadi duduk di sampingnya untuk ikut berfoto bersama Dila, masa kejayaan karang taruna di desa itu memang terjadi saat kepengurusan mereka. Tidak seperti karang taruna sekarang yang anak-anak mudanya kurang kreatif dan kurang bergerak aktif.
" Mas Indra, boleh kan pinjam istrinya sebentar buat foto sama kita-kita?", tanya Fajar yang sok akrab, padahal cuma sekedar tahu nama dari suami Dila saja.
Indra mengangguk, " Oh iya, silahkan-silahkan, bagaimana pun kalian pasti punya begitu banyak kenangan berjuang bersama-sama dengan Dila di masa lalu, kalian teman-teman Dila yang membantu Dila menjadi seperti sekarang".
Dila menatap Indra merasa tak enak, tapi Indra menghadapi dengan santai dan slow, Indra sengaja turun dari panggung resepsi dan mengobrol dengan Ari dan ayahnya di bawah. Teman-teman Dila langsung naik keatas panggung dan berfoto bersama-sama, termasuk Nino yang ditarik oleh Fajar, yang lain sangat paham dan tahu jika Nino juga ingin berfoto dengan Dila, hanya saja dirinya malu dan jaim sebagai seorang kades.
Nino sengaja berdiri di samping Dila, semua tersenyum bahagia dengan berbagai gaya bersama dengan Dila di atas panggung resepsi.
" Mas fotografer, yang foto kita lagi bareng-bareng tadi tolong dicetak sebanyak 12 lembar ya, biar kita semua nyimpen satu-satu buat kenang-kenangan", pinta Fajar yang turun dari panggung resepsi sambil menghampiri sang fotografer pernikahan Dila itu.
" Oke bos, siap, bisa di atur", jawab sang fotografer sambil mengacungkan jempolnya.
Semua teman-teman Dila sekalian mengucapkan selamat dan berpamitan pulang, kecuali Asna tentunya yang masih membantu sampai acara selesai.
" Sejak kapan menjalin hubungan dengan Wowo?", Dila sengaja bertanya karena tadi melihat Asna yang menggandeng tangan Wowo saat foto bersama di panggung resepsi.
Asna nampak mengingat-ingat, " mungkin sejak Wowo ditolak saat melamar kamu sama Paman Toto, dia sedih dan aku yang menjadi pelipur lara nya", jawab Asna santai, karena Asna sudah tahu jika Wowo menyukai Dila sejak dulu, Asna tidak masalah dengan hal itu, toh setelah resepsi Dila akan kembali tinggal di Jakarta, tidak akan menjadi masalah jika dirinya menggantikan posisi Dila di hati Wowo, pria yang diam-diam disukainya sejak dulu.
" Kabari aku kalau kalian akan menikah, sukur-sukur aku bisa mudik, kalau enggak berarti amplop sumbangan ku yang akan sampai", canda Dila yang kini di suruh sang fotografer untuk berganti pakaian dengan busana pengantin yang selanjutnya.
Indra membantu Dila mengganti pakaiannya saat di kamar, karena dari wardrobe kesusahan membuka kancing baju kebaya Dila yang begitu banyak.
" Mas dan Mbaknya sudah nggak malu-malu ya biasanya para pengantin baru itu masih malu-malu didepan team wardrobe dan makeup", ujar penata busana yang melihat Indra melepas kancing baju Dila tanpa malu-malu.
__ADS_1
" Malu buat apa Mba, kan sudah sah jadi suami istri", jawab Indra santai, dalam hatinya berkata, " kita itu pengantin lama, bukan pengantin baru, jadi sudah nggak butuh acara malu-malu segala".