
Dila dan Indra sampai di penginapan, Bu Fatma sedang bersantai sambil minum teh manis hangat yang disediakan oleh pemilik penginapan. Sedangkan El sedang menonton film kartun kesukaannya. Akhir pekan memang banyak sekali saluran televisi yang menayangkan film kartun dan acara anak-anak kecil.
" Selamat pagi El sayang, selamat pagi ibu", sapa Dila yang masuk sambil membawa kotak makan, untuk sarapan mereka.
" Pagi Bu Dila...!", seru El langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Dila, memeluk Dila dengan sangat erat.
" Aduh kenceng banget meluknya, El kangen banget sama Bu Dila ya?, baru semalam nggak bersama", goda Indra.
" El kangen sama Bu Dila, semalam El cari Bu Dila, tapi kata nenek... Bu Dila dan ayah lagi sibuk banyak pekerjaan, dan nggak boleh diganggu, jadi El bobo lagi", ujar El begitu polos.
Indra tersenyum sendiri, " sibuk bikin adik buat kamu sayangku", batin Indra.
" Ibu juga kangen banget sama El, tapi memang ada banyak pekerjaan yang harus ibu selesaikan, sekarang pekerjaan ibu sudah selesai, jadi kita sarapan bersama, habis itu kita akan jalan-jalan", ucap Dila.
El menatap Dila seperti tidak bersemangat, " kalau jalan-jalan seperti semalam, El mending di rumah saja, ngikutin nenek belanja itu capek, El nggak mau", gumam El manyun.
Fatma langsung terkekeh, " maafin nenek sayang..., semalam nenek khilaf, nggak lagi-lagi deh kaya semalam", janji Fatma pada cucunya.
" Memangnya, mau jalan-jalan kemana Dil?, apa sudah ada rencana mau pergi ke mana?", tanya Fatma.
Dila mengangguk, " Makanya kita sarapan dulu, nanti mas Indra mau pinjam mobil, ke rentalan, habis itu kita berangkat".
" Apa El tahu, kita mau pergi kemana?, kita akan ke kebun binatang sayang, El mau ikut apa nggak", tanya Dila.
" Zoo?, El mau ikut jalan-jalan ke kebun binatangnya, El mau lihat gajah, jerapah dan singa, El mau lihat semuanya", ucap El kegirangan.
Dila sudah menduga El akan sangat senang jika tahu diajak ke kebun binatang.
Indra pun mengelus kepala Dila, dia memang paling tahu yang El suka, dan pilihannya adalah apa yang El mau.
Di kebun binatang selama seharian dari pagi hingga sore Dila dan Indra menghabiskan waktu bersama El dan juga ibunya, dengan menaiki kereta, mereka berkeliling kebun binatang yang cukup luas itu.
Dan saat mereka hendak pulang ke penginapan, El minta membeli burung yang dijual di depan kebun binatang.
" Apa El suka burung?, kalau pelihara burung harus kasih makan dan kasih minum, harus di rawat dengan baik, nggak boleh cuma dibeli, habis itu dibiarkan saja, karena burung itu adalah makhluk hidup yang bernyawa", Dila memang selalu menjadi ibu yang bijak untuk El. Itu mengapa Fatma sangat menyukai Dila, dan menentang keras perceraian yang Dila pinta di suratnya dulu.
" Jadi burung itu makan seperti El?, terus burung itu makan nasi juga?, apa burung minum susu juga biar sehat seperti El?", El seperti seorang wartawan surat kabar yang mengajukan begitu banyak pertanyaan.
Dila sampai bingung harus jawab apa, karena dirinya selama ini tidak tahu menahu urusan perburungan. " Coba El tanya sama ayah, ayah kan cowok, mungkin ayah tahu soal burung", Dila melempar pertanyaan pada Indra.
Indra yang selama ini juga tidak pernah punya hewan peliharaan apapun sama saja bingung.
" Kalian ini berdua sama saja, nggak usah bingung, tinggal tanya sama penjualnya", ujar Fatma.
" Mas, ini burung dikasih makannya apa?, situ jualan burung, jual pakannya juga kan?", tanya Fatma pada penjual burung.
__ADS_1
" Tentu saja Nyonya, disini dijual pakannya juga. Semisal sudah habis, pakan burung seperti ini biasanya juga dijual di toko pakan burung dan ternak", jawab penjual burung.
" Ya sudah Mas, cucu saya mau beli", ujar Fatma. " El mau yang mana sayang?, yang warna warni itu, atau yang ini yang suaranya merdu?".
El nampak bingung saat ditanya mau yang mana, tapi tak lama kemudian El memilih burung dengan warna yang cerah.
" Yang itu saja nek, warnanya biru, El suka", akhirnya El menentukan pilihannya.
" Oke yang itu sepasang Mas, burung jantan dan betina, biar nggak kesepian dikandang terpisah dan hidup sendiri-sendiri".
Ucapan Fatma justru membuat penjual burung tersenyum sendiri.
" Nyonya ini pembeli yang sangat pengertian, memikirkan burung ini akan kesepian atau tidak, burung ini namanya Lovebird Nyonya, memang biasanya dijual berpasangan, betul kata nyonya biar nggak kesepian", ucap penjual burung sambil terkekeh.
" Ya iyalah Mas, burung kan juga makhluk hidup, lucu juga namanya Lovebird, berarti burung cinta", jawab Fatma sambil terkekeh.
Padahal jawaban Fatma sedikit menyinggung perasaan Dila, selama ini dia dan Indra tinggal sendiri-sendiri, berarti Indra kesepian selama 2 tahun ini. Secara tidak langsung Fatma menyindir Dila dan Indra, entah itu disengaja atau justru dia tidak sadar ucapannya menyinggung hati Dila.
" El rawat burungnya dengan baik ya, biar nanti burungnya tumbuh sehat, menghasilkan telur dan burungnya bisa jadi banyak", lagi-lagi ucapan Fatma hanya membuat Dila dan Indra saling menatap tanpa bicara.
" Oke, sekarang kita pulang, karena sudah seharian jalan-jalan, dan sekarang sudah sore, jadi kita pulang ke rumah", ucap Indra .
" Aku ke situ sebentar Mas", ucap Dila menunjuk toko oleh-oleh, tadi dirinya sudah berjanji akan pulang dengan membawa oleh-oleh.
Hari sudah senja, El terlihat sangat bahagia menghabiskan seharian ini bersama nenek, ayah dan ibunya berkeliling kebun binatang.
" Gimana kalau kita mampir beli makan dulu, biar pas sampai penginapan nggak perlu cari makanan lagi buat makan malam ?", tanya Dila.
" Ibu setuju, El mau makan apa ?" tanya Fatma pada El. El menyerahkan menu makan malamnya pada sang ibu.
" Mampir di depan sana Mas, ada gudeg Jogja yang enak, El pasti akan suka", Dila membuat keputusan, " Biar Dila saja yang turun buat pesan makanan, El sepertinya sudah capek banget, kalian di mobil saja", ujar Dila.
Fatma mengangguk menjaga El tetap di dalam mobil, sedangkan Indra ikut masuk ke rumah makan yang bernuansa klasik itu. Dila langsung memesan 6 besek gudeg Jogja komplit.
" Eh mba Dila, sudah lama banget nggak main kesini, saya kira sudah lupa jalan kesini", canda salah satu pelayan di rumah makan itu.
" Masih ingat dong mba, cuma kadang nitip temen kalau ada yang mau beli kesini, maklum banyak tugas yang harus diselesaikan", ujar Dila menjelaskan.
" Ini kok tumben pesennya banyak, jam segini?", tanya pelayan rumah makan sambil menyerahkan besek pada Dila.
Dila menerima besek itu, namun Indra yang mengeluarkan dompet dan membayar semua makanannya, si pelayan rumah makan terus menatap Indra terpesona.
" Iya, keluarga lagi datang ke sini, jadi pesannya banyak mba, ya sudah saya permisi dulu, makasih banyak mba". Dila keluar diikuti Indra yang kemudian mengambil besek dari tangan Dila dan membawakannya.
" Siapa cowok keren itu, sepertinya saudara Dila, wah dia tampan banget, besok-besok minta Dila kenalin ah... kalau benar dia saudaranya".
__ADS_1
Indra sempat mendengar bisik-bisik pelayan rumah makan yang genit itu.
" Kenapa Mas?, pasti seneng ya langsung dapat fans di Jogja?, mereka memang begitu sedikit genit sama pembeli cowok, makanya tadi aku nyuruh Mas tetap di mobil, biar aku saja yang beli, eh... Mas malah ikutan masuk kedalam", gerutu Dila.
" Maaf mas nggak tahu, jangan sewot begitu, masa cuma begitu saja cemburu", goda Indra.
" Ye... siapa yang cemburu, sudah resiko punya suami keren dan tampan".
Indra terkekeh mendengar ucapan Dila.
Mereka kembali menaiki mobil dan menuju penginapan, El langsung masuk kamar mandi dan mandi air hangat, ternyata sekarang El sudah bisa mandi dan memakai baju sendiri. Dila sangat senang dengan perkembangan kemampuan El untuk mandiri.
" Kita makan malam dulu bersama sebentar lagi adzan maghrib", ujar Indra.
Merekapun makan malam gudeg Jogja komplit dengan ayam dan juga telor. El juga nampak sangat menikmati makan malamnya. Usai makan El langsung menuju kandang burung dan memberi makan dan minum pada burung-burung nya.
Dila tersenyum lega, karena El ingat untuk memberikan hewan peliharaannya tanpa di ingatkan terlebih dahulu.
Namun mungkin karena kelelahan, usai maghrib El langsung tidur dengan pulas.
" Anak ayah memang paling pengertian, jam segini sudah tidur, aku sama Dila ke ruko dulu ya Bu", pamit Indra pada ibunya.
Fatma mengangguk, " Berusahalah untuk memberikan cucu lagi buat ibu, sepertinya El juga membutuhkan teman main di rumah", ujar Fatma sambil menggenggam tangan Dila.
Dila hanya tersenyum sambil menunduk karena malu.
" Tenang saja Bu, sedang kami usahakan, ibu berdoa saja yang terbaik".
Indra dan Dila kembali ke ruko sambil membawa oleh-oleh untuk kedua karyawannya. Sebelum sampai ruko, Hana sudah mengejar Dila saat melihat Dila berjalan masih agak jauh menuju ruko.
Hana langsung berbisik di telinga Dila.
" Dil, ada Tuan Bram di toko, aku sudah bilang kamu lagi ada acara keluarga, tapi dia kekeh nungguin kamu sejak sore tadi", Hana terlihat khawatir, karena Hana tahu Bram menyukai Dila, dan dalam tahap pendekatan, sedangkan saat ini Dila sedang bersama suaminya.
" Nggak papa Mba, Mas Indra juga kenal kok sama Mas Bram", ujar Dila lirih.
" Ada masalah apa?", tanya Indra penasaran.
" Nggak papa Mas, ayo kita masuk saja, sudah ada tamu jauh yang lagi nungguin kita", jawab Dila singkat.
Indra pun berjalan dibelakang Dila dan Hana saat masuk ke toko, nampak Bram sedang duduk seorang diri di tempat duduk paling ujung belakang.
Bram langsung berdiri dengan tatapan yang tak bisa diartikan saat melihat kedatangan Dila bersama-sama dengan Indra.
Kedua pria itu saling berhadapan tanpa ada yang bersuara, saling menatap dingin satu sama lain.
__ADS_1