Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 104


__ADS_3

Dila masih menangis di atas ranjang IGD, ternyata yang ditakutkan olehnya benar-benar terjadi, darah Indra dan El berbeda, harapan semoga darah Kayla sama pun ternyata berbeda dari darah El, itu mengapa Dila merasa sangat takut, Dila takut akan nasib El bagaimana kedepannya.


Mungkinkah Kayla yang sombong itu menghubungi ayah kandung El dan memintanya untuk mendonorkan darah, atau justru Kayla akan tetap acuh dan tidak perduli pada putranya seperti di masa lalu.


" Dok ijinkan saya menemani putra saya Dok, dia masih sangat kecil untuk merasakan rasa sakit separah itu, saya mohon Dok..", Dila masih terus mengiba dan memohon pada dokter jaga di IGD.


" Bu, kalau ibu terus seperti ini, justru akan berbahaya juga untuk ibu sendiri, karena panik dan stres, kondisi ibu jadi sangat lemah, kalau ibu mengkhawatirkan putra ibu, setidaknya ibu juga mengkhawatirkan janin yang sekarang berada di perut ibu".


Deg.....


" Janin ?", Dila mengulang kalimat sang dokter karena takut dirinya salah dengar.


" Benar 'janin', ibu tengah mengandung dalam perut ibu, dan usia janin dalam perut ibu masih sangat muda, baru 5 minggu, saya harap ibu tenang dan tetap istirahat agar keadaan ibu dan juga janin dalam perut ibu baik-baik saja".


Entah apa yang sedang Yang Maha Kuasa rencanakan untuknya, di satu sisi Dila ingin sekali menemani El, disisi lain Dila juga harus menjaga kesehatan nya sendiri. Ternyata dirinya hamil, dan sudah 5 minggu usia janinnya. Antara sedih, takut, bahagia, terharu, semuanya bercampur menjadi satu, membuat Dila sendiri bingung harus bersikap bagaimana.


Satu sisi anak pertamanya sedang dalam keadaan kritis, namun disisi lain, Yang Maha Kuasa memberinya seorang anak lagi dalam perutnya, dan itu adalah real.... benar-benar darah dagingnya, yang selama ini di impi-impikan nya.


" Apa dokter yakin istri saya sedang hamil?".


Dila begitu kaget ketika tiba-tiba Indra menyingkap tirai yang menutupi ranjang tempatnya terbaring, dan ada dokter Andrew berdiri di sampingnya.


" Apa Tuan suami Bu Dila?".


Indra langsung mengangguk cepat masih terus menatap penuh harap pada sang dokter.


" Benar sekali, kami sudah mengeceknya, ada janin di rahim Bu Dila, dan itu masih sangat kecil, karena itulah saat melihat kecelakaan putra pertamanya Bu Dila langsung pingsan, itu karena emosi ibu hamil itu sangat tidak stabil, mudah sekali berubah-ubah. Karena Bu Dila panik dan ketakutan melihat putranya terluka, dia sendiri akhirnya ikut pingsan seperti tadi".


" Karena itulah, saya harap mulai saat ini Bu Dila lebih berhati-hati lagi, jangan terlalu capek dan terlalu banyak pikiran".


Indra mengangguk paham. " Apa istri saya bisa saya pindah ke ruang rawat agar dia lebih merasa tenang, di IGD sewaktu-waktu bisa ada pasien lain tiba-tiba datang, saya ingin istri saya merasa tenang Dok", ujar Indra.


Apalagi ada Kayla dan Lita yang juga menunggui El di IGD, rasanya Indra ingin segera pergi dari sana agar tidak terus merasa emosi saat melihat wajah mantan istrinya itu.

__ADS_1


" Saya cek dulu apa ada kamar yang kosong", ujar sang dokter.


" Beri kamar yang terbaik Dok, untuk istri saya", imbuh Indra.


Dokter jaga di IGD justru menatap Andrew rekan sesama dokter yang bekerja disana, Andrew mengangguk, sambil memberi kode, agar dokter itu menuruti saja apa kata Indra.


Saat itu juga Dila dipindah ke ruang rawat terbaik, agar Dila merasa nyaman dan tenang. Indra masih berdiri di samping ranjang Dila sambil menatap Dila lekat.


" Maafkan aku Mas, aku ceroboh dan membuat El terluka", sejak tadi Dila memang masih tetap diam tak berani bicara semenjak mengetahui kedatangan Indra. Dila bingung harus mengatakan apa, belum lagi Indra terlihat sangat marah saat baru sampai di bilik nya tadi, pasti Indra sudah mengetahui jika El sebenarnya bukanlah putranya.


Indra hanya mengangguk sambil mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping ranjang Dila. Namun kini ekspresinya sudah tidak se marah tadi, Indra sudah lebih tenang dan lunak, karena dirinya dikabari jika El sudah mendapatkan pendonor yang sangat cocok dengan tipe darahnya. Itu berarti sepertinya ayah kandung El sudah ada di IGD.


Indra sengaja tetap berada di kamar Dila sejak tadi dan membiarkan ayah kandung El mendonorkan darahnya. Indra sendiri belum bertemu dengan laki-laki biadab yang berani tidur dengan istrinya yang sekarang sudah menjadi mantan.


Untung saja sudah menjadi mantan, jika masih berstatus istri, pasti kemarahan Indra akan semakin membabi buta.


Entah berapa banyak keburukan yang melekat pada mantan istrinya itu, seolah semua tindakan kejahatan sudah dilakukan olehnya, dari kebohongan kecil hingga kebohongan yang sangat fatal.


Indra sempat sangat syok tadi saat mengetahui jika El bukanlah putra kandungnya. Selama ini Indra begitu menyayangi El melebihi apapun, bahkan menganggap El sebagai satu-satunya harapan yang membuat Indra terus bangkit dan berjuang untuk melanjutkan hidup.


Tapi sekarang Indra sudah sangat menyayangi El seperti putranya sendiri, mungkinkah Indra akan mengembalikan El pada keluarga aslinya?, jika pun Indra mampu melakukan itu, bisakah Dila, dan juga kedua orangtuanya mengijinkan El dikembalikan pada keluarganya?. Indra tahu betapa istri dan kedua orangtuanya sangat menyayangi El, yang sejak dulu mereka anggap sebagai putra Indra.


Saat Indra masih menatap Dila dengan lekat, Fatma masuk dan menghampiri mereka berdua ke dalam kamar rawat.


Fatma sudah mengetahui semua kebenaran nya tadi saat dia mencari El di IGD, Fatma tidak menemukan Indra maupun Dila, karena itu Fatma bertanya pada dokter di IGD, bagaimana bisa mereka berdua tidak menemani El saat El dalam keadaan terluka dan kritis.


Justru yang menunggui El adalah mantan menantunya, juga keluarganya ada di sana, hingga Andrew mengajak Fatma bicara di lorong rumah sakit, dan menceritakan secara ringkas tentang yang terjadi. Fatma sangat syok, amat sangat syok saat mendengar cerita dari Andrew, namun Andrew langsung mencoba menenangkan.


Rasa sayang Fatma pada El yang dianggap cucunya sudah melebihi rasa sayang Fatma pada Indra ataupun Indri anaknya sendiri. Namun kenyataan membuat hatinya sangat sakit. Mantan menantunya yang sangat dibenci kini membuat makin bertambah rasa benci dalam hatinya berkali lipat.


" Wanita ****** !", geram Fatma.


Namun Fatma bisa menurunkan emosinya saat Andrew bercerita jika Dila pingsan saat melihat El kecelakaan, dan kabar baiknya saat ini Dila tengah mengandung dan butuh banyak istirahat, karena itulah Indra harus menjaga Dila di kamarnya, karena El sudah banyak yang menjaga, Andrew meminta pada Fatma untuk tidak menunjukkan amarahnya di depan Dila yang masih terbaring lemah.

__ADS_1


Meski saat kecelakaan Dila lah yang sedang bersama El, namun ada hikmah dari kecelakaan yang terjadi. Hikmah menjadi terungkapnya kebenaran jika El bukanlah darah daging Indra. Setiap kejadian tentu akan ada hikmahnya.


" Sayang bagaimana keadaanmu?", Fatma langsung mengusap rambut Dila yang saat ini sudah sangat berantakan.


" Dila baik Bu, ibu dengar kabar ini dari siapa?", tanya Dila dengan suara lirih.


" Ari yang tadi menelepon ibu, sesaat setelah mengantar Indra kesini", Fatma nampak bingung mau bicara apa, begitu juga dengan Dila dan Indra, situasinya membuat mereka merasa canggung.


" Apa ibu dari IGD?, bagaimana keadaan El?, maafkan kecerobohan Dila", ucap Dila masih menunduk.


" Tidak sayang, semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, jika tidak ada kejadian hari ini, mungkin sampai kapanpun kita semua tidak akan mengetahui kebenarannya".


" Ibu tidak sepenuhnya menyalahkan kamu, ibu dengar dari dokter, kalau kamu sedang mengandung cucu ibu?, tolong dijaga hati-hati, jangan terlalu banyak pikiran dan kecapekan, ibu akan kembali ke IGD dan menemani El, kamu tetap istirahat saja disini dengan tenang".


" Kamu juga tetap disini saja Ndra, temani Dila, dia butuh kamu disampingnya".


Fatma memang tidak mau Indra kembali ke IGD dan menemani El disana, ada Kayla dan keluarganya, belum lagi laki-laki yang sudah main gila dengan mantan istrinya dulu sedang mendonorkan darahnya untuk El, bisa jadi Indra akan marah-marah dan membabi buta menghajar ayah kandung El yang sebenarnya.


Pasti keadaan justru akan sangat kacau dan mengerikan.


Indra hanya mengangguk tanpa berkata-kata, semenjak tadi Indra sibuk dengan pikirannya sendiri, entah apa yang akan dilakukan oleh nya kedepannya. Indra kalut.


Fatma keluar dari kamar Dila dirawat, dan kembali menuju IGD dimana El masih menerima transfusi darah disana. Fatma akan berusaha menahan emosinya yang sebenarnya sedang meledak-ledak pada Kayla.


Tok... tok...tok....


" Permisi, makan siang untuk pasien".


Terdengar suara ketukan pintu dari perawat yang mengantar makan siang Dila. Kemudian perawat itu membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Meletakkan makan siang Dila di meja, laku kembali keluar dan menutup pintu kamar Dila.


" Mau makan dulu?", tanya Indra. Dila mengangguk, dirinya memang belum makan siang, tapi bukan karena dirinya merasa lapar, karena Dila tidak merasa lapar sama sekali semenjak tadi, hanya saja Dila bingung mau melakukan apa. Indra terus diam saat dirinya bicara, dan minta maaf.


Berdua di dalam kamar tanpa aktifitas apapun, akhirnya Dila memutuskan untuk makan saja. Dila memang harus banyak makan, sekarang Dila tahu ada janin di perutnya, dan dia harus menjaganya dengan hati-hati. Karena Allah sudah mempercayakan seorang anak di rahimnya, Dila sudah mengharapkan hal ini cukup lama, dan Dila harus merawatnya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


" Mas suapi ya, waktu Mas dirawat kan kamu yang suapi Mas, jadi sekarang gantian kamu yang Mas suapi".


Dila mengangguk nurut, saat ini Indra sudah berhasil mengontrol emosinya, dan sudah mau berbicara pada Dila, itu sudah lebih dari cukup.


__ADS_2