
" Silahkan duduk..., kenapa kalian berdua terus berdiri?".
Dila menyuruh kedua lelaki jangkung itu untuk duduk di kursi masing-masing. Sayangnya entah apa yang kedua pria itu pikirkan hingga ucapan Dila mungkin tidak sampai di telinga mereka.
Malam itu suasana di toko memang cukup ramai, malam minggu banyak yang sengaja jalan-jalan ke luar dan makan di luar juga. Karena itulah toko Dila lumayan ramai.
Dila tahu disana bukan tempat yang tepat untuk dijadikan tempat ngobrol, selain rame, di sana juga tempatnya sangat terbuka. Dila khawatir ada ucapan yang cukup pribadi yang nantinya akan mereka bahas.
" Kalian tidak mau duduk juga?, jadi apa kalian berdua mau ngobrol sambil berdiri, atau mau ngobrol di tempat lain?", tanya Dila kali ini lebih mendekat ke arah Indra dan Bram. Namun keduanya tetap diam.
" Ya sudah kalau itu mau kalian, sekarang kita ngobrol di tempat lain", ujar Dila sambil menarik tangan Indra, dan Bram pun mengikuti mereka keluar dari toko Dila.
Beruntung saat mereka keluar, bertemu dengan Lita yang sengaja datang karena pesan yang dikirim oleh Dila sebelumnya.
Lita nampak bete, wajahnya saat ini terlihat sangat kesal. Dila tahu menyeret Lita kedalam masalahnya bukan hal yang dibenarkan, tapi Lita lah yang dikenal Bram, dialah yang memperkenalkan Bram padanya, jadi Lita harus ikut menjelaskan jika nanti diperlukan.
" Kita ke mana?", tanya Indra karena dirinya yang duduk di bangku kemudi.
" Jalan lurus dulu, nanti aku tunjukkan arahnya Mas", jawab Dila.
Mobil pun melaju ke area alun-alun, nampak sepanjang perjalanan sangat ramai. Dila menuntun Indra untuk belok kanan, belok kiri, atau jalan terus, hingga mereka sampai disebuah tempat yang nampak nyaman untuk mengobrol, sebuah kafe yang di desain khusus membuat kafe itu terkesan sangat nyaman untuk mengobrol.
Ada band lokal yang memainkan permainan musik akustik di depan kursi pengunjung, menambah suasana yang nyaman untuk para tamu.
" Kamu ngapain ngajak mereka kesini, disini juga rame Dil, kalau mereka berdua adu jotos, dan merusak barang-barang di dalam kafe, wah bisa habis banyak buat ganti rugi", bisik Lita saat mereka berempat masuk ke dalam kafe.
" Justru itu Lit, kalau ada orang lain kan mereka berdua pikir-pikir lagi kalau mau adu jotos, malu dong dengan reputasi mereka berdua seorang pebisnis muda yang sukses", terang Dila yang juga sambil berbisik.
Awalnya Dila berencana mengajak mereka ke tempat sepi yang tidak ramai pengunjung seperti ke candi atau perbukitan terdekat, namun dipikir-pikir lagi, Dila takut justru di tempat sepi mereka berdua akan berkelahi dan akan ada korban. Karena itulah Dila memilih pergi ke kafe.
Dila memesan dua kopi luwak dan dua es cappucino, dan beberapa cemilan. Dila sengaja memilih tempat duduk paling ujung yang tidak terlalu ramai.
" Sekarang siapa yang mau bicara dulu?", ucap Dila saat mereka berempat sudah duduk di bangku kafe. Dila berdampingan dengan Indra, dan di depannya Lita berdampingan dengan Bram.
" Jadi nggak ada yang mau ngomong duluan, berarti aku yang mau ngomong", lanjut Dila karena tidak ada juga yang bersuara.
" Mas Bram kenalkan ini Mas Indra, dia suami ku, Mas Indra ini Mas Bram dia partner bisnis ku, jadi kalian bisa saling berjabat tangan sekarang", Dila menarik tangan Indra untuk mengulur, namun Indra kembali menarik tangannya.
" Kamu apa-apaan sih Dil?, sebelum aku mengenal kamu, aku sudah lebih dulu mengenalnya", ucap Indra ketus.
" Tapi dia merahasiakan keberadaan kamu disini, padahal dia tahu persis kalau selama ini aku terus mencari kamu", sambung Indra kesal.
" Aku tahu Mas, tapi sejak tadi kalian berdua hanya saling menatap tanpa ada yang ngomong, aku kira kalian sedang amnesia sementara", ucap Dila , berusaha mencairkan suasana.
" Jadi ada perlu apa mas Bram datang ke Jogja, jauh loh dari Jakarta ke Jogja, nggak mungkin cuma iseng-iseng main kan?. Aku nggak nyalahin Mas Bram yang tidak memberi tahukan keberadaan ku disini pada Mas Indra, karena dari awal akulah yang salah sudah pergi dari Jakarta tanpa pamit", ucap Dila menengahi.
__ADS_1
" Aku juga tidak pernah mengatakan pada siapapun tentang statusku yang sudah menikah, termasuk pada Lita, bukan maksudku sengaja merahasiakan statusku yang sebenarnya, karena saat pergi aku meminta pada Mas Indra untuk menceraikan aku, saat itu aku merasa tidak pantas menjadi istrinya, karena awalnya aku hanyalah pengasuh putranya".
" Namun ternyata Mas Indra tidak pernah menceraikan aku, meski aku sudah pergi dari rumahnya selama 2 tahun lamanya, aku masih menjadi istri sah nya mas Indra sampai saat ini".
" Jadi jika disalahkan disini, akulah yang mempunyai kesalahan terbesar, bukan Lita, bukan Mas Bram, ataupun Mas Indra, aku benar-benar minta maaf pada kalian semua", ucap Dila dengan sungguh-sungguh.
Bram mengangguk, " benar kata Dila, sebenarnya aku tidak tahu kalian berdua sudah menikah, saat aku melihat foto Dila di ruang kerja Indra waktu itu, Indra hanya mengatakan bahwa Dila dulu adalah pengasuh El, Indra tidak mengatakan kamu itu istrinya".
" Aku hanya berpikir, kenapa Dila sampai kabur dari Jakarta dan melanjutkan hidup di Jogja, pasti ada masalah yang terjadi, meski Dila tidak pernah cerita, aku kira ada alasan besar kenapa Dila tidak memberi tahuku, kenapa Dila merahasiakan keberadaan nya disini, aku tidak mau ikut campur masalah pribadinya, aku juga tidak mau menanyakan sesuatu yang tidak ingin Dila ceritakan", terang Bram, mengatakan yang sebenarnya.
" Aku hanya berpikir, mungkin Dila sudah berusaha bertahan menjadi pengasuh El, karena aku dengar dia tinggal di Jakarta hampir setahun, cukup lama dibanding dengan pengasuh El yang lain, yang hanya bertahan paling lama satu bulan", Bram mengatakan apa yang di dengarnya.
Indra melihat kesungguhan dari ucapan Bram barusan.
" Oke, sekarang aku nggak mempermasalahkan jika kamu nggak kasih tahu aku tentang keberadaan Dila di Jogja, karena aku sudah berhasil menemukannya sendiri. Tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu mengajaknya bekerjasama?, bukan kamu banget mengajak kerjasama bisnis kecil semacam nasi cup milik Dila", ujar Indra.
Bram mengangguk, " Benar kecurigaan kamu terhadapku sangat tepat, aku tertarik pada Dila sejak awal melihat dia saat aku menjadi pembicara di seminar kampusnya, Dila itu tipe aku banget....".
Indra langsung menarik kerah baju Bram sebelum Bram menyelesaikan kalimatnya.
" Awas saja kalau kamu berani mendekati istriku, meski kita rekan bisnis, aku bisa saja menghancurkan kamu", ucap Indra dengan geram.
Bram hanya cengengesan, sambil melepas cengkeraman tangan Indra di kerah bajunya.
" Santai bro.... dulu aku tidak tahu Dila sudah menikah, karena itu aku mendekatinya. Dila itu tipe idealku banget, jadi kalau kamu tidak ingin Dila berpaling dan jadi milikku, kamu harus menjaganya dengan baik, jangan biarkan dia pergi dari rumah. Gadis seperti Dila itu akan mudah menarik perhatian laki-laki di manapun dia berada, aku yakin bukan cuma aku saja laki-laki yang tertarik pada Dila, masih ada banyak yang lainnya ", gumam Bram.
Lita yang sejak tadi memilih diam dan begitu tegang dengan situasi di hadapannya kini bisa bernafas lega, kedua laki-laki dihadapannya adalah laki-laki sukses di bidangnya masing-masing, dan mereka sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan dengan kepala dingin hal-hal pribadi, meski entah apa yang ada di dalam hati mereka sebenarnya.
" Asal kamu tahu, Dila sudah tidak gadis lagi, jadi kata-kata kamu tadi kurang tepat, 'perempuan seperti Dila', bukan 'gadis seperti Dila', ingat itu", terang Indra dengan bangganya, seolah peraih jackpot.
Ucapan Indra membuat Bram kembali merasa sangat kesal. Begitu juga dengan Lita yang merasa malu, karena dia masih terlalu polos untuk obrolan dewasa seperti itu.
Dila langsung mencubit lengan Indra, karena Indra bicara terlalu terbuka tentang urusan pribadi mereka berdua.
" Hal seperti itu tidak perlu dibahas di sini, Lita itu masih sangat polos, kamu ini membuat aku malu Mas", bisik Dila.
" Maaf-maaf aku tadi hanya berusaha meluruskan satu kata yang salah di kalimat kamu, tidak bermaksud mengumbar kisah percintaan kami di tempat ramai seperti ini", lagi-lagi Indra membuat Bram begitu geram.
Selama ini Bram sudah susah payah mendekati Dila, sudah berusaha membagi waktu agar bisa datang ke Jogja sesering mungkin. Tapi hasilnya zonk, Dila tak bisa diraihnya. Karena sudah lebih dulu menjadi milik Indra.
" Malam ini biar aku yang traktir kopinya, anggap saja ucapan terimakasih karena pertemuan kamu dengan Dila juga membuat aku bisa menemukan Dila disini, silahkan pesan makanan yang lain, nanti aku bayar semuanya", ucap Indra sengaja berlebihan.
" Oh ya, terimakasih banyak kalau begitu, aku juga ingin mempersembahkan sebuah lagu spesial untuk kalian, karena kita berdua biasa bersenang-senang dan bernyanyi bersama di tempat karaoke, kamu pasti paham kalau suaraku tidak kalah merdu dari vokalis band ternama", ujar Bram sambil berdiri dan maju menuju depan, berbisik pada pengiring lagu untuk mengiringinya bernyanyi.
Lita sudah khawatir jika sepupunya itu akan membuat ulah, entah lagu apa yang akan dinyanyikan oleh Bram, tapi Lita berharap itu tidak akan menyinggung perasaan Indra maupun Dila.
__ADS_1
" Sebuah lagu untuk wanita cantik di ujung sana, semoga bisa memahami tiap lirik yang ku persembahkan untuk mu"
🎶Ada satu nama suatu masa dulu
Pernah bawa dan beri bahagia
Hingga saat ini
Masih ku abadikan di dalam hatiku
Dengan satu rasa dalam satu cinta
Sewaktu kita bersama dulu
Hanya kita yang tahu
Dalam mana telah cinta
Kita memutik
Walau akhir ini seakan terpisah
Oleh masa dan suasana tak dipinta
Namun percayalah tidak sedikit pun
Kasihku kepadamu surut dan berubah
Pasti suatu masa kan bersama lagi
Engkau dan aku pasti jua nikmati
Cinta yang istimewa
Walau ku tak pasti bilakah masanya
Kau dan aku akan bertemu
Untuk kita kembalikan keindahan dulu🎶
Lagu yang dipopulerkan oleh grup musik asal Malaysia, berjudul satu nama tetap di hati itu dibawakan oleh Bram dengan penuh penghayatan. Seolah mewakili isi hatinya yang sebenarnya belum bisa melupakan Dila begitu saja, meski keadaan kini telah berubah.
Tepuk tangan dan sorak dari beberapa pengunjung kafe membuat suasana kafe malam itu menjadi rame, bahkan ada beberapa dari mereka ikut bernyanyi bersama, mungkin mereka yang sedang dalam situasi dan suasana hati yang sama dengan Bram. Suara Bram memang tidak diragukan lagi, dulunya saat SMA Bram juga seorang vokalis band di SMA nya. Tidak dipungkiri dia mempunyai banyak penggemar dan banyak pacar semenjak masih ABG.
" Keren juga suara Mas Bram, aku baru pernah denger dia nyanyi, apa Mas Indra juga bisa nyanyi sebuah lagu buat Dila?", tanya Lita sengaja menyinggungnya.
__ADS_1
Indra hanya menggeleng, dari dulu tiap di tempat karaoke bersama rekan bisnis yang lain, Indra tidak pernah ikut bernyanyi atau menyumbang lagu. Bahkan tidak banyak lagu yang Indra hafal. Indra kebalikan dari Bram, terlalu dingin dan jarang tampil di panggung hiburan.