
Selama 2 hari Indra di rawat di rumah sakit. Senin siang Indra sudah bisa pulang, karena keadaannya sudah sehat dan sembuh. Hari ini bahkan El ijin tidak berangkat sekolah karena minta ikut menjemput ayahnya ke rumah sakit.
Sudah dua hari El tinggal bersama neneknya, karena di rumah tidak ada ayah maupun Ibunya.
Karena itu saat hendak menjemput Indra, Dila membiarkan El untuk ikut, padahal pengumuman hasil seleksi pendaftaran guru di sekolah yang Dila kemarin ikuti akan keluar hari ini, beruntung hasil di umumkan siang hari, pun melalui email masing-masing, sehingga tidak mengharuskan para pendaftar untuk datang ke sekolahan lagi.
Saat Dila sampai dirumah dan mengantar Indra untuk rebahan di kamar, El juga ikut naik ke atas ranjang. Sengaja memijat-mijat kaki ayahnya.
" Anak pinter, dari kemarin El ngapain saja di rumah nenek dan kakek?, apa El suka tinggal sama nenek dan kakek?, maaf ya kalau El harus tinggal di sana beberapa hari, kemarin ibu lagi jagain ayah di rumah sakit", ucap Indra sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
" El nginep di rumah nenek lagi suka kok Yah... soalnya kemarin di rumah nenek ada arisan, jadi nenek membuat banyak makanan untuk tamu. El bantu nenek bikin kue dan juga minuman", ungkap El.
" Waaah.... pinter dong putra ayah, El nggak bosen dirumah nenek terus?", tanya Indra.
El menggeleng, " Kata nenek, ayah sakit dan muntah-muntah, ayah dirawat di rumah sakit dan Bu Dila harus merawat ayah. Jadi El bermain-main dengan kakek dan nenek kemarin temen nenek juga ada yang bawa cucunya waktu arisan, jadi El ada teman main".
Indra mengangguk paham, benar saja sorenya Indra dapat kiriman makanan banyak sekali, ternyata di rumah ibunya habis arisan. Pantas ibu kemarin tidak datang ke rumah sakit, ternyata sibuk sendiri di rumahnya. Indra mengira ibunya kewalahan mengurus El sehingga tidak bisa menjenguk ke rumah sakit.
Tapi sekarang El sudah jadi anak penurut, dan sangat mandiri. Siapa saja akan sangat mudah merawatnya.
" El keluar sama ibu yuk... biarkan ayah istirahat dulu. Hari ini El tidak berangkat sekolah, jadi El belajar sama ibu dirumah, biar nggak ketinggalan pelajaran", ajak Dila, agar El tidak terus mengajak ayahnya mengobrol. Indra masih butuh banyak istirahat.
Saat Dila tengah mengajari El untuk mengerjakan salah satu tugas di buku paket. Dila mendapat pesan singkat dari Bima.
~ Sudah dicek belum hasil interview kemarin?, ke terima nggak Dil?~
Dila memang sempat lupa, dan saat diingatkan Bima, Dila baru teringat dan langsung mengecek emailnya.
Benar sudah ada beberapa email masuk, dan Dila membuka yang paling atas, email dari sekolahan yang menyatakan jika Dila diterima untuk menjadi pengajar di kelas 5, SD Mulia.
" Alhamdulillah, akhirnya cita-cita aku menjadi seorang guru sungguhan terwujud juga", Dila mendekatkan ponselnya dan meletakkan di dadanya seraya bersyukur.
__ADS_1
" Kenapa Bu?", El yang sedang mengerjakan soal jadi berhenti karena melihat Dila tiba-tiba memeluk ponselnya.
" Nggak papa sayang, ibu lagi bahagia saja", jawab Dila singkat. " El kerjakan sampai selesai dulu, kalau ada yang El bingung nanti tanyakan sama ibu. Ibu mau bicara sama ayah dulu sekarang. Nggak papa ya?".
El mengangguk setuju.
Dila langsung masuk kamar dan menemui Indra yang sedang duduk sambil membaca beberapa laporan masuk hari ini. Ya.... Indra tetap bekerja meski sedang cuti sakit. Begitulah Indra, sudah merasa mendingan langsung saja waktunya digunakan untuk bekerja di manapun berada. Karena sekarang memang laporannya juga serba online dan canggih, di samping laporan tertulis yang biasa menumpuk di meja kerjanya.
" Mas, aku mau ngomong ada waktu?". Dila masuk dan duduk di tepian ranjang, miring menghadap Indra.
Indra pun menghentikan aktifitas membaca laporan nya. " Mau ngomong apa?, kok sepertinya serius banget?".
Dila mengangguk. " Sebenarnya beberapa waktu lalu aku mendaftar jadi tenaga pengajar di sekolah El. Waktu itu tidak sengaja aku baca pengumuman dibutuhkan guru SD kelas 5 dan juga guru olahraga. Terus aku daftar deh... yang daftar juga banyak. Makanya aku nggak cerita sama Mas, takutnya nggak keterima, soalnya banyak banget saingannya".
" Tapi tadi aku dapat email dari SD Mulia, kalau aku diterima jadi pengajar disana. Makanya sekarang aku mau kasih tahu Mas, mulai besok setelah ngantar El di TK, aku langsung ke SD sebelahnya dan ngajar anak kelas 5. Nggak papa kan?, Mas nggak keberatan kan?".
Dila menatap ekspresi Indra yang tidak bisa dibaca.
" Nggak capek kok Mas, siang jam 2 aku pasti sudah di rumah, karena kelas 5 itu kegiatan belajar mengajarnya sampai jam 1 siang. Aku tetep bisa istirahat dan tidur siang sama El", ujar Dila.
Indra mengangguk, " Ya sudah yang penting kamu jangan sampai kecapekan, Mas tahu jadi guru itu cita-cita kamu, karena itu Mas nggak mempermasalahkan, yang penting kamu nggak kecapekan".
Dila mengangguk mengerti, meski Indra tidak terlihat benar-benar bahagia atas pencapaian Dila. Karena Indra tahu, gaji guru dengan uang bulanan yang diberikan pada Dila jauh lebih besar uang bulanan yang Indra berikan. Itu saja Dila selalu menyimpannya dan belum pernah dipakai untuk memenuhi kebutuhan, karena tiap kali Dila mengirim uang ke kampung selalu memakai uang hasil dari nasi cup ayam suwir nya.
Indra paham benar, Dila bekerja bukan karena kekurangan pemasukan, tapi lebih ke mengejar cita-cita yang sudah di inginkan sejak kecil.
" Bu... El ada yang bingung nomer 4", suara El membuat perhatian Dila berpindah ke El.
" Oh iya, ibu keluar sekarang".
" Makasih banyak ya Mas, sudah support keinginan aku", ucap Dila sambil keluar dari kamar, dan kembali menemani El belajar siang itu.
__ADS_1
Esok paginya setelah mengantar El ke kelasnya, Dila langsung menuju ruang guru yang terletak di samping ruang tamu dan ruang kepala sekolah.
" Selamat ya Dil, aku sih sudah menduga kamu bakal keterima, lulusan cumlaude, dengan segudang prestasi dan penghargaan". Dila langsung disambut oleh Bima saat hendak masuk ke ruang kepala sekolah di hari pertama dia bekerja.
" Makasih, aku masuk ke dalam dulu ya", gumam Dila sambil menunjuk ruang kepala sekolah.
Bima mengangguk sambil mengacungkan jempolnya pertanda setuju, " Aku juga mau ke kelas, good luck ya Dil !". bisik Bima.
Dila masuk ke dalam ruangan kepala sekolah, di dalam ruangan sudah ada seorang lagi guru baru yang akan menjadi guru olahraga. Dari postur tubuhnya Dila merasa tidak asing dengan guru olahraga baru itu.
Dan saat Dila masuk ke dalam menyapa pak kepala sekolah Dila dibuat kaget, ternyata yang menjadi guru olahraga baru adalah Evan.
" Apa Evan juga kuliah lagi seperti dirinya, kuliah sambil kerja?", itu pertanyaan pertama yang terlintas di pikiran Dila.
" Pagi Bu Dila dan Pak Evan. Terimakasih sudah ikut serta mendaftar menjadi pengajar di sekolah kami. Lulusan terbaik seperti Ibu dan Bapak ini membuat kami sangat bangga dengan kualitas pengajar di SD Mulia".
" Apalagi semua jawaban dari wawancara yang kemarin kami lakukan, itu sungguh mewakili jawaban dari diri saya sendiri. Seolah jalan pikiran kita itu searah. Saya harap kedepannya kita semua saling bekerja sama memajukan dan mencerdaskan anak-anak didik kita".
Setelah perkenalan sebentar, Dila dan Evan di antar ke ruang guru untuk perkenalan awal, dan ditunjukkan dimana meja mereka.
Sudah ada beberapa guru kelas yang masuk kelas untuk sesi perwalian, jadi Dila memperkenalkan diri pada guru-guru yang masih ada di kantor saja.
Begitu juga dengan Evan, dia memperkenalkan diri secara singkat. Dan setelah sesi perkenalan singkat, baik Dila maupun Evan langsung menuju tempat masing-masing. Dila ke ruang kelas 5, dan Evan langsung menuju ke lapangan. Karen kebetulan kelas 4 ada mata pelajaran olahraga di jam pertama.
Saat keluar dari ruang guru, Evan mensejajari langkah Dila. " Senang bisa bertemu denganmu lagi. Semoga saja kita bisa menjaga hubungan baik seperti dahulu saat kita masih bertetangga di Cibitung".
Dila tersenyum, " Selamat atas di terimanya kamu jadi guru disini, ternyata masa depan seseorang tidak pernah ada yang tahu kemana arahnya. Dan kebetulan sekali ternyata kita bisa menjadi pengajar di sekolah yang sama. Mohon kerjasamanya Pak Evan", ujar Dila sambil mengangguk dan belok masuk kedalam kelasnya, karena ternyata sudah sampai di depan ruang kelas 5.
" Kenapa dunia ini sangat sempit, selalu saja bertemu dan bertemu lagi dengan teman masa lalu, semoga semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja", harap Dila dalam hatinya.
" Selamat pagi anak-anak...!", Dila mulai membuka kegiatan belajar mengajar hari itu dengan perkenalan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
" Pagi Bu Guru..uuu...!", jawab para murid serempak.