Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 141


__ADS_3

Hari Kamis, di kediaman keluarga Toto sudah mulai mengadakan berbagai rentetan ritual yang biasa dilakukan di desa tiap kali hendak menikahkan putra putrinya.


Dari acara doa bersama sebelum pasang tenda, dan acara hajatan selama tiga hari tiga malam.


Tamu di rumah Toto hajatan kali ini lebih banyak dari pada saat pesta pernikahan Dila dulu, karena hampir seluruh warga desa datang bertamu dan kondangan. Bagaimana tidak... Toto akan menjadi mertua dari kepala desa mereka, tentu saja semua orang dengar dan tahu kabar itu langsung bergegas untuk kondangan.


Belum lagi teman-teman sekolah Dita yang datang dengan rasa penasaran sekaligus tidak percaya, Dita menikah di usianya yang masih sangat muda. Baru sebulan lebih mereka sah lulus dari SMA, tapi Dita sudah akan menikah.


Yang lebih membuat teman-teman Dita terkejut, karena semua tahu, Dita tidak berpacaran saat masih sekolah, tapi sekalinya lulus dan menjalin hubungan, justru Dita langsung menikah. No pacar-pacaran


" Kamu serius Dit mau nikah?, pacaran saja belum pernah kok bisa sih langsung nikah begitu?", Sasa, teman sebangku Dita saat SMA yang paling merasa kaget.


" Ya iyalah mau nikah, liat tuh udah ada tenda biru, dihiasi janur kuning, kayak di lagunya Desi Ratnasari kan?, kamu pikir itu tenda di depan sama janur kuning mau ngapain?, khitan bapaknya Dita?", Azhar teman Dita sekaligus ketua kelasnya dulu saat kelas 3, justru mewakili Dita menjawab pertanyaan Sasa barusan.


Yang lain terkekeh mendengar gurauan Azhar yang selalu kocak. Bagaimana bisa mau mengkhitankan bapaknya Dita, bisa habis kalau di khitan lagi, bisa-bisa ibunya Dita yang kebingungan.


" Dita mah nggak perlu pacaran Sa, pacaran itu cuma buang waktu, tenaga dan pikiran, apalagi kalau cowok kaya aku, pacaran itu juga buang duit, harus modalin nonton, modalin makan, belum kalau ceweknya minta belanja, atau jalan-jalan ke tempat wisata, butuh ngerogoh saku dalam-dalam. Setelah berbagai modal yang terbuang, belum tentu itu cewek jadi istri kita, kan rugi bandar", imbuh Azhar .


" Hu....dasar, itu sih kamunya yang pelit, cowok memang harus modal tahu!", protes Sasa.


Dita hanya terkekeh melihat teman-teman SMA nya yang masih tetap rame dimana pun mereka berada.


" Aku dengar suami kamu kepala desa disini ya?, kamu nggak kaya di novel-novel atau sinetron itu yang dijodohkan dengan laki-laki tua karena untuk menebus hutang orang tua kamu kan Dit?".


Pertanyaan konyol dari Azhar membuat teman yang lain langsung menyorakinya secara bersamaan. " Huuuuu....!!!".

__ADS_1


" Kamu pikir ini sinetron Har!, keluarga Dita tuh bukan keluarga nggak punya yang tukang utang, kebanyakan nonton sinetron nih cowok, makanya jadi suka nggak beres otaknya!", protes yang lain.


Dita tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, " Nggak salah kok yang kamu bilang Har, calon suami aku memang bujang tua, jarak usia kami itu 10 tahun, usianya sama Mbak Dila saja tua Mas Nino, tapi kalau sudah sama-sama suka mau gimana lagi?. Lagian Mas Nino orang yang sangat baik, sabar, dan juga sopan, susah tahu nyari cowok seperti itu jaman sekarang, kalau sudah Nemu yang kaya gitu ya sudah nikah saja", ucap Dita memuji calon suaminya.


Teman-teman Dita langsung berbisik satu sama lain, entah apa yang mereka bisikkan.


" Kenapa?, ada yang salah dari ucapan ku?", tanya Dita penasaran, karena sejak tadi teman-temannya terus berbisik.


" Nggak ada, kita cuma lagi bangga saja teman sekelas kita baru lulus sudah mau jadi ibu kades muda, jadi penasaran kenapa itu kades muda naksir sama kamu, padahal kan kamu nggak punya kelebihan apa-apa, aku dengar kades muda itu mantan kakak kamu ya Dit?. Jangan-jangan dia suka sama kamu, karena belum bisa move on dari kakak kamu, kan wajah kamu sama kakak kamu mirip", ujar Mia, teman sekelas Dita juga di SMA.


Ucapan Mia yang dari jaman masih SMA biasa nylekit, kali ini sudah lulus pun masih tetap nylekit, sejak tadi diam adalah hal terbaik untuk Mia, tapi sekalinya ngomong, Mia memang tipe teman yang bicaranya kadang bikin sakit hati yang lain.


Dita sampai bingung mau menanggapi apa ucapan Mia barusan. Untung tiba-tiba Dila keluar dari dalam rumah dan menyuruh Dita untuk mengajak teman-temannya makan siang.


" Dit, teman-teman kamu ajak makan dulu, itu hidangan sudah siap di meja paresmanan. Mumpung sudah jam makan siang, kan jadi pas kalau makan tepat waktu".


Teman-teman Dita sempat menatap Dila saat Dila keluar tadi.


" Memang lebih cantik dan lebih berisi kakaknya, wajar saja kalau dulu calon suami Dita berpacaran dengan Mbak Dila, tapi Dita... dia kan kurus dan lebih hitam dari kakaknya, apa yang membuat kades muda itu begitu ngebet ingin menikahi Dit, sangat mencurigakan", batin Mia.


Kebanyakan teman Dita setuju kalau Dita dan kakaknya memang mirip, tapi masih tetap banyak kelebihannya di Dila, baik dari fisik ataupun kecerdasan.


Namun Dita juga tidak jelek-jelek amat, mungkin karena Dita belum melakukan perawatan rutin seperti Dila yang tiap beberapa bulan sekali diajak sang ibu mertua ke salon kecantikan untuk melakukan perawatan bersama.


Dari kemarin-kemarin Dita tidak berpikir ke arah sana, jika dipikir-pikir ada benarnya juga ucapan Mia, Dita tidak punya kelebihan apa-apa, tidak seperti kakaknya yang serba bisa. Kelebihan Dita hanya satu, menjadi adik Dila dan mirip dengannya. Meski karakternya sangat berbeda, tapi Dita selalu mencontoh segala sesuatunya dari Dila, bisa dibilang Dila menjadi kiblat bagi Dita untuk melakukan apa-apa.

__ADS_1


" Teman-teman kita makan dulu yuk, hidangan sudah siap di depan", ajak Dita pada teman-temannya yang hadir, sesuai instruksi dari Dila tadi .


Azhar pun langsung berdiri, dan mengajak yang lain untuk makan, karena dia juga merasa tidak enak dengan suasana canggung dan tegang yang tiba-tiba terjadi di ruang tamu karena ucapan Mia.


Semua keluar dari ruang tamu rumah Dita dan menuju meja paresmanan yang ada di teras rumah. Toto dan Siti yang kehadiran banyak tamu memang terus di tenda biru yang ada di depan rumah menghormati tamu yang datang.


Sedangkan Dila tetap di rumah mengontrol semua kekurangan baik di dapur, maupun di depan. Dila tinggal menyuruh saudara dan tetangga yang membantu jika ada yang kurang. Karena Dila sendiri harus mengurus dua anaknya.


Tadi sebenarnya Dila hendak keluar dan menyapa teman-teman Dita, namun saat hendak keluar, ternyata adiknya sedang terpojok karena ucapan salah satu temannya yang lumayan nylekit.


Ibarat Dila ingin menyelamatkan Dita dan teman-temannya dari kecanggungan yang sedang terjadi.


Seandainya saja Dila tidak datang, mungkin saat ini suasana yang harusnya penuh bahagia dan suka cita, berubah menjadi canggung hanya karena ucapan salah seorang teman.


Setelah mengambil nasi dan lauk dari meja paresmanan teman-teman Dita kembali duduk di ruang tamu dan menyantap hidangan di rumah Dita itu dengan lahap.


Dila kembali keluar dan bergabung di ruang tamu bersama teman-teman Dita saat mereka sudah selesai makan. Dila menggendong Arsy dan El yang langsung minta di pangku oleh Dita.


" Ayo silahkan dicicipi suguhan yang ada, tadi saya lihat makan nasinya pada sedikit-sedikit banget, apa anak-anak muda jaman sekarang semuanya mengikuti diet ketat?", Dila sengaja keluar dan mengajak teman-teman Dita untuk kembali ngobrol santai.


" Mba Dila, katanya nikah sama pengusaha kaya dari Jakarta ya?, kenalin sama kita-kita dong Mba, yang mana suaminya, siapa tahu ada lowongan kerja di perusahaan suami mba Dila, soalnya aku nggak lanjutin kuliah, biayanya mahal, orang tuaku tidak mampu membiayai aku", tanya Sasa yang memang tidak melanjutkan kuliah seperti yang lain.


" Suami ku belum sampai, baru berangkat nanti malam dari Jakarta, kemarin sempat pulang ke sini, tapi berangkat lagi karena banyak pekerjaan yang harus di urus. Besok kamu kesini lagi saja Sa... pas resepsi pernikahan Dita, biar bisa mba kenalin sama Mas Indra, siapa tahu ada lowongan kerja buat anakm lulusan SMA", ujar Dila.


Pasti banyak lowongan di hotel-hotel milik Indra yang tersebar di beberapa kota. Dan Dila juga merasa kasihan jika ada anak lulus sekolah dan tidak lanjut kuliah, namun ingin bekerja untuk meningkatkan derajat keluarga, sama seperti dirinya dahulu. Seperti melihat dirinya sendiri waktu masih remaja.

__ADS_1


" Oke Mba Dila, tentu saja Sasa akan hadir, meski tanpa mba Dila minta, Sasa sudah berniat mau menemani Dita di hari pernikahannya", ujar Sasa yang sudah menjadi teman rasa saudara bagi Dita.


__ADS_2