Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 36


__ADS_3

" Aduh calon manten wanitanya ini ada tompel segede ini di pipi, mau di samarkan apa gimana ini nyonya?", tanya perias wajah, yang melihat Dila bertompel besar di pipi kirinya.


" Kalau minus mata sih bisa di akalin, nanti biar aku suruh orang buat beli lensa kontak yang sesuai dengan minusnya". Penata rias melepas kacamata Dila.


Fatma dan Siti yang berada di dalam kamar itu tersenyum mendengar ucapan penata rias.


Fatma berdiri dan mendekat ke Dila, kemudian melepas tompel palsu yang menempel di pipi kiri Dila.


" Nggak usah, itu semua nggak diperlukan, ini tinggal dilepas saja sudah beres, itu juga kacamata hias, bukan kacamata minus, jadi kalau mau pake lensa kontak yang biasa saja, jangan yang minus".


Penata rias langsung melongo, " Aduh, mbaknya ini aneh banget, wajah cantik-cantik begini malah di kasih tompel palsu dan kacamata tebal, jadi jelek kan tadi, mending nggak di apa-apain ini sudah cantik".


" Sudah Mba, tinggal dirias saja, nanti kan gantian ngeriasin saya dan besan saya", ujar Fatma.


" Oke oke, siap Nyonya, ini sih sudah dasarnya cantik, dipoles sedikit saja sudah cukup".


Dila yang seumur-umur baru pernah di make up oleh penata rias sungguh terlihat manglingi, wajah culun dengan tompel dan kacamata tebal yang selalu menutupi kecantikannya, saat ini berubah menjadi wajah cantik mempesona, benar-benar berubah 180°.


Apalagi saat Dila dipakaikan sanggul kecil dan kebaya putih dari team wardrobe. Padahal hanya kebaya sewaan, tapi sangat pas di badan Dila, seperti baju milik sendiri dengan designer terkenal yang merancangnya, semuanya pas, dari potongan lengan, lekuk tubuh, sungguh Dila bak putri kerajaan yang sangat cantik.


Bahkan Fatma dan Siti merasa sangat puas dengan penampilan putrinya saat ini.


Fatma dan Siti pun di make up dan diganti kebaya yang sama berwarna abu muda.


Semua sudah siap dan berubah cantik saat jam menunjukkan pukul setengah 8.


Team makeup keluar dari kamar Indra menuju kamar Tamu, dimana Indra berada di sana sudah berpakaian rapi, atasan semi jas warna putih, miliknya sendiri. Begitu juga dengan El yang dikenakan jas warna putih biar warnanya samaan dengan sang ayah.


10 menit memake up Indra, dan semua kini sudah siap untuk acara.


Pakde Didit sudah datang setengah jam yang lalu bersama Bude Tini dan kedua anaknya, Susi dan Tomi. Mereka sengaja diundang oleh Siti untuk menyaksikan pernikahan Dila.


" Mas Didit nanti tolong jadi saksi dari pihak mempelai wanita ya, karena ini acara mendadak saya sendiri kaget dengan keputusan Dila untuk segera menikah, untung rumah Mas nggak terlalu jauh dari Jakarta". ujar Toto.


" Baiklah To, tapi kamu dapat mantu orang kaya raya dan pemilik banyak hotel, itu bagaimana ceritanya?, dari kemarin-kemarin setiap kali aku datang ke kontrakan Dila di Cibitung dia tidak ada, kata tetangga kontrakan nya Dila lagi kerja di pabrik. Terus dimana Dila kenal sama Tuan Indra?. Beliau itu pebisnis muda yang lagi terkenal, saya pernah nganter bos saya meeting dengan beliau. Saya jadi bangga sama Dila, tapi juga sedikit khawatir", ucap Didit


" Khawatir kenapa Mas?, apa Indra bukan laki-laki yang baik?", tanya Toto penasaran.


" Bukan begitu To, waktu saya anter bos saya meeting dengan Tuan Indra, sekertarisnya itu seksi aduhai, dia sepertinya mepet-mepet terus sama bosnya. Dila kudu hati-hati, jangan sampai ada pelakor setelah mereka menikah nanti".


Toto jadi kepikiran dengan ucapan kakak iparnya, semoga saja Indra adalah tipe laki-laki yang setia. Jika memang sekertarisnya itu cantik dan seksi, kenapa tidak sekertaris nya saja yang dijadikan istri oleh Indra, toh mereka jauh lebih dulu saling kenal, dari pada mengenal Dila.


Pak penghulu tiba di rumah Indra, Para tamu yang hanya beberapa orang saja dipersilahkan untuk duduk dan menyaksikan ijab qobul yang hendak dilaksanakan.


El duduk di kursi paling depan bersama kakeknya, agar dekat dengan posisi ayahnya.

__ADS_1


Pak Toto dan Indra kini sudah saling berhadapan hanya terhalang meja akad, pak penghulu di sebelah kanan Toto, sedangkan kedua saksi berada di sebelah kanan dan kiri meja akad.


" Baiklah karena masih banyak yang harus saya nikahkan hari ini, acara akad kita mulai sekarang", pak penghulu memulai acara akad hingga lantunan ijab dan qobul terdengar dan semua berkata " SAH " secara bersamaan.


Dila keluar dari kamar di dampingi ibunya dan Bu Fatma.


Pak penghulu membacakan doa pernikahan dan setelah selesai Indra membacakan sighat taklik dihadapan semua orang.


" Sesudah akad nikah saya Indra Pambudi berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan mempergauli isteri saya bernama Karina Nadila dengan baik, menurut ajaran Islam....".


Mendengar isi sighat taklik Dila merasa gemetar, baginya pernikahan ini hanya main-main belaka, tapi dipikirkan dan hati semua orang yang hadir, pernikahan ini adalah sebuah acara penyatuan yang sakral dan suci. Ada rasa malu pada Yang Maha Kuasa atas pemikiran konyol Dila selama ini.


" Sekarang silahkan pengantin wanita menandatangani surat nikah".


Dila pun menerima pulpen dari pak penghulu dan membubuhkan tanda tangannya, entah mengapa hati Dila jadi terharu dan merasa sedih karena kini dirinya sudah resmi menjadi istri sah Indra.


Dila pun dipersilahkan untuk mencium tangan suaminya. Dan saat saling berhadapan, ekspresi terkejut Indra tak bisa di tutupi ketika melihat wanita di sampingnya.


" Maaf pak penghulu, ini sepertinya ada yang salah", ucap Indra menarik tangannya lagi saat Dila hendak mencium tangannya.


Sejak tadi memang Indra belum melihat wajah Dila barang sebentar saja, karena Indra pikir itu tidak perlu, di make over seperti apa pun, Dila tetap gadis culun yang bertompel. Namun yang ada di hadapannya saat ini bagaikan seorang bidadari yang turun dari khayangan, benar-benar sangat cantik. Indra bahkan mengira wanita disampingnya itu bukan Dila.


" Loh, apanya yang salah ?", Pak penghulu ikutan bingung.


Karena bukan hanya Indra yang kaget, sejak tadi bi Darsih dan bi Ana juga sudah lebih dahulu merasa kaget ketika melihat betapa cantiknya Dila.


" Kamu ini bagaimana sayang..., dia ini Dila, mantu mama, istri sah kamu sekarang, ibunya El", terang Fatma sambil terus menutup mulutnya menahan tawa.


" Benarkah kamu Dila?", tanya Indra masih tak percaya.


Dila hanya mengangguk dan menunduk merasa malu dengan tingkah suaminya, karena saat ini masih ada banyak tamu yang menyaksikan kekonyolannya.


" Sudah benar kan ini istrinya, sekarang cium tangan suami kamu, saya masih harus menghadiri akad lainnya", ucap Pak penghulu.


Indra langsung memberikan tangan kanannya untuk dicium Dila, membuat yang lain tertawa melihat tingkah konyolnya.


Pak penghulu berpamitan terlebih dahulu, sesi foto-foto pun dimulai. El yang paling terlihat bahagia di antara yang lain. Karena Dila sudah sah menjadi ibunya.


Pukul 12 siang keadaan rumah sudah tidak terlalu ramai, karena beberapa tamu sudah pulang. Tinggal keluarga dekat saja yang masih ngobrol-ngobrol.


Toto dan Siti kini sudah berpakaian biasa lagi. Pakde Didit dan keluarga juga masih disana, rencananya Toto dan Siti mau mampir kerumah Didit sebentar, sehingga mereka harus segera pulang. Masih ada Dita dirumah sendirian, yang dititipkan pada tetangga, jadi jika di Jakarta terlalu lama kasihan Dita nya.


Dita hanya bisa menyaksikan pernikahan kakaknya melalui video yang dikirimkan Dila padanya. Dita memang sedih dan kecewa karena tak menghadiri secara langsung, tapi Dita memaklumi keadaan kakaknya yang harus segera menikah.


Usai makan siang bersama, kedua orang tua Dila dan keluarga Pakde Didit berpamitan pada Indra dan keluarga. Dila memeluk ibunya cukup lama, Ari kebagian tugas mengantar kedua orang tua Dila ke kampung, di bagasi mobil, sudah ada banyak oleh-oleh yang dipersiapkan oleh Bu Fatma untuk besannya. Sampai Siti merasa tak enak hati, karena saat datang kemarin, mereka tak membawa apa-apa.

__ADS_1


" Semoga perjalanan lancar ya Mbak, salam buat adiknya Dila. Kalau lagi liburan sekolah, ajak main kesini saja, biar nanti sama Dila dan El di temani ke Dufan atau ragunan", ucap Fatma.


Siti hanya mengangguk sambil tersenyum, " saya ucapkan terimakasih banyak untuk semuanya, saya titip Dila, dia masih sangat muda, masih harus banyak diarahkan", ujar Siti.


Mereka memasuki mobil dan meninggalkan rumah mantunya itu dengan perasaan sedih sekaligus senang. Sedih karena meninggalkan Dila sendiri, dan senang karena keluarga besannya terlihat sangat menyayangi Dila.


Sepeninggal keluarganya, Dila kembali masuk ke dalam rumah, El sudah tidur siang karena kecapekan. Dila pun merebahkan dirinya di samping El, ternyata menikah itu melelahkan juga.


" Sayang, kok kamu malah disini, biar mama yang temenin El bobo siang, kamu istirahat di kamar Indra saja, sepertinya Indra menunggumu", ujar Bu Fatma.


Dila akhirnya pindah ke kamar Indra tanpa protes. Benar saat masuk Indra sudah ada di sana, tengah rebahan di atas kasur yang menjadi bukti pergulatan mereka beberapa waktu lalu.


Dila memilih merebahkan diri di sofa panjang yang ada di kamar Indra.


" Kenapa kamu tiduran disitu?, disini saja masih luas", Indra menepuk bagian kosong disebelahnya. " Nggak usah mikir macem-macem, aku juga capek dan mau tidur", ujar Indra memiringkan badannya membelakangi tempat yang kosong agar Dila mau pindah.


Dila terpaksa pindah, namun terlebih dahulu dia memasang bantal guling di tengah-tengah sebagai pembatas.


Suasana kamar menjadi sepi selama beberapa menit, tak ada percakapan diantara mereka berdua. Namun Indra tak tahan lagi dengan berbagai pertanyaan yang ada dipikirannya sejak tadi. Hingga Indra pun memulai pembicaraan.


" Kenapa selama ini kamu pakai kacamata dan tompel dipipimu?".


Bukannya menjawab, Dila justru membelakangi Indra yang kini tidur menghadapnya.


" Karena Tuan tidak suka pembantu cantik dan masih muda, itu yang aku dengar dari orang yang melantarkan ku kerja disini".


Indra merasa lega karena Dila mau menjawab pertanyaannya, setidaknya Dila tidak se-ketus kemarin-kemarin.


" Kamu kenal Bram dimana Dil?".


" Aku nggak kenal, dan nggak pernah lihat, tetangga kontrakanku yang kenal teman Tuan".


" Bisakah sekarang kamu tidak memanggilku Tuan?, kan aku sudah jadi suami kamu?", Indra mendekatkan wajahnya hingga tercium wangi rambut Dila yang kini tergerai bebas." Dan bisakah kau menghadap ke sini, karena kita sedang mengobrol, kenapa kau terus membelakangi ku?".


" Jadi aku harus panggil apa?, aku nggak mau menghadap kesitu, Tuan sedang menatap ke arahku kan?", ujar Dila.


" Panggil Mas saja".


" Memangnya kenapa kalau aku menatap kamu, bukankah menatap wajah istri itu ibadah?, sebenarnya aku belum hafal wajahmu yang asli".


" Kenapa memangnya?, merasa beruntung karena ternyata aku cantik, jangan mandangku terlalu lama, nanti Mas bisa jatuh cinta", gumam Dila dengan PD nya.


" Kamu ini lucu juga, apa kamu tahu, menolak keinginan suami itu dosa besar", ucap Indra.


Dila diam tak menjawab, dalam otaknya membenarkan ucapan Indra, tapi hati kecilnya masih belum siap bertatapan dalam jarak dekat dengan orang yang sangat dibencinya itu. Dila pun memejamkan mata dan pura-pura tidur.

__ADS_1


__ADS_2