Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 84


__ADS_3

Esok harinya El kembali berangkat ke sekolah karena sudah sehat kembali, awalnya Indra mengajak El dan Dila untuk berangkat bersama, namun karena terlalu pagi jika berangkat bersama Indra, Dila memilih mengantar El sendiri.


Karena El baru sembuh, Dila yang biasanya mengantar El dengan motor agar terhindar dari macet, hari ini Dila lebih memilih membawa mobil sendiri, agar El tidak angin-anginan.


Sampai di sekolah, teman-teman El langsung menghampirinya dan menyapa El, menanyakan keadaannya karena kemarin ijin tidak masuk.


Meski masih kecil-kecil, tapi jiwa kepedulian teman-teman El patut diacungi jempol, mereka saling perduli dan perhatian satu sama lain.


Karena bel sudah berbunyi, El dan yang lain masuk ke dalam kelas.


Dila menunggu El di depan sekolah bersama ibu-ibu yang lain yang menunggu anak mereka juga.


Saat El sudah masuk ke kelas bersama guru dan teman sekelasnya, Dila mengobrol dengan wali murid yang lain, sebenarnya Dila lebih banyak mendengarkan karena yang ibu-ibu itu bicarakan adalah cerita sinetron yang belum pernah Dila lihat, namun saat sedang asyik membahas salah satu cerita sinetron yang sedang trending topik, ada seorang perempuan datang dan menghampiri Dila.


" Dengan Bu Dila?", sapa wanita berkacamata hitam itu pada Dila.


Dila yang sedang mendengarkan ibu-ibu lain yang sedang asyik ngobrol menengok ke wanita yang menyapanya, begitu juga dengan ibu-ibu lain yang menghentikan obrolannya dan menatap wanita itu dengan seksama.


Wanita dengan rambut panjang di gerai, badan langsing seperti model, kulit kuning langsat, tingginya seimbang dengan tinggi Dila, yang membuat mencolok adalah barang-barang branded yang melekat di tubuhnya, dari mulai pakaian, jam tangan, sepatu, tas dan juga kacamata hitam yang di kenakannya semuanya adalah barang-barang mahal.


" Iya saya Dila, maaf anda siapa?". Dila berdiri karena wanita itu masih saja berdiri.


" Kenalkan saya Kayla, ibu kandungnya El", ucap wanita itu sambil membuka kacamata hitamnya dan disimpan di dalam tasnya.


Dila menatap wanita itu dengan seksama, " benarkah dia Kayla ibu kandungnya El?, jika benar, kenapa tidak mirip dengan Lita adik kandungnya?, juga tidak mirip dengan Bu Mira, karena Lita sangat mirip dengan Bu Mira, mungkinkah Kayla mirip ayahnya?", batin Dila masih menatap wajah Kayla dengan seksama.


" Bisa kita bicara hanya berdua saja?, kita bisa pergi ke tempat lain yang lebih privasi, El baru masuk kelas kan, masih lama pulangnya?".


Dila menatap keadaan sekitar, " Maaf ibu-ibu saya titip El sebentar apa bisa?", Dila sebenarnya tidak tega meninggalkan El sendiri karena dia baru saja sehat, khawatir El mencarinya sedangkan dia tidak ada di sekolahan.

__ADS_1


Ibu-ibu yang duduk kini menatap ke Kayla dengan tatapan sinis, semua yang ada di sana memang sudah tahu kisah Kayla yang pergi dari rumah dan tak pernah kembali, bahkan tidak sekalipun menanyakan kabar El. Tentu saja mereka mendengar kisah itu dari Bu Fatma, saat Bu Fatma menggantikan Dila menunggu El di sekolahan.


" Iya pergi saja Dil, nanti kalau El nyari kamu, kita kabari kamu secepatnya", jawab salah satu dari wali murid yang sedang berada disana.


Dila mengangguk dan berterimakasih sambil mengambil tasnya dan mengikuti langkah Kayla yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan tempat itu, sepertinya Kayla terlihat risih dengan tatapan sinis ibu-ibu wali murid yang lain.


Kayla menunggu di depan mobilnya. " Jadi mau naik mobil baruku, atau mobil lamaku?", Kayla menunjuk mobil hitam yang dibawanya juga menunjuk mobil merah yang dibawa Dila untuk mengantar El tadi


" Sepertinya kamu suka banget dengan segala sesuatu yang sudah pernah aku pakai, hobi kok pakai barang bekas, tapi tenang saja semua yang sudah pernah aku pakai dan aku tinggalkan itu sudah ku anggap aku buang, dan nggak ada dalam kamus kehidupanku untuk memungut kembali sesuatu yang sudah aku buang".


Kayla bertanya dengan sedikit menyindir, memang Dila membawa mobil merah milik Kayla untuk mengantarkan El hari ini. Ada rasa menyesal dihati Dila karena telah memakai mobil itu hari ini, seharusnya Dila bawa motor saja seperti biasanya, tapi El baru sembuh dari sakitnya, Dila tidak mau El kena angin kencang jika membawa motor, alhasil Dila membawa mobil merah milik Kayla, dan sekarang si empunya sengaja menyindirnya secara telak.


" Terserah mba saja mau pakai yang mana, baik yang ini ataupun yang itu semuanya adalah milik mba Kayla", jawab Dila dengan hati yang dongkol.


" Fine... pakai mobil baru aku saja, yang lebih besar, tentunya lebih mahal dan lebih nyaman, tapi nggak usah panggil aku 'mba' juga, aku bukan berasal dari kampung, jadi panggil nama saja".


Kayla dan Dila masuk kedalam mobil hitam yang dibawa Kayla, pergi tak jauh dari sekolah El menuju kafe ujung jalan yang terlihat sepi karena baru saja buka.


" Mau ngobrol apa?, aku tidak bisa pergi terlalu lama meninggalkan El, dia baru saja sembuh dari sakitnya, takut tiba-tiba El mencariku".


Dila sengaja membuka percaya terlebih dahulu karena justru Kayla sibuk dengan gadget nya. Dila juga sebenarnya ingin tahu bagaimana reaksi Kayla mendengar El baru saja sembuh dari sakitnya.


Namun bukannya terlihat khawatir dan menanyakan kabar putra kandungnya, Kayla justru menatap Dila dengan jengah sambil memasukkan gadget nya ke dalam tas.


" Aku juga nggak punya banyak waktu, bahkan urusanku lebih penting dan yang jelas lebih menghasilkan dari pada kesibukan nggak penting yang kamu katakan barusan".


Dila langsung mengernyitkan keningnya, " kesibukan nggak penting?, tunggu... jadi maksud Kayla mengurus anaknya sendiri adalah hal yang tidak penting, bagaimana ada seorang ibu kandung yang menilai mana yang lebih penting, antara mengurus anak dan mengurus pekerjaan, dengan membandingkan nilai rupiah yang dihasilkan".


Keterlaluan....!

__ADS_1


" Sebenarnya aku cuma mau melihat sehebat apa istri baru Indra, kamu cantik sih, aku akui itu, apalagi kamu lebih muda dariku, pasti masih seger dan juga bisa diajak bercinta dengan berbagai macam gaya, kelihatan sih dari postur tubuh kamu yang padat berisi".


" Hufth.......".


Dila sengaja menarik nafas dan membuangnya perlahan agar emosinya tidak terpancing mendengar kalimat Kayla yang tidak enak di dengar.


" Tapi sepertinya kamu berasal dari dunia yang berbeda dengan kami?, aku dengar kabar, kamu datang dari kampung?, semoga sifat ke kampungan kamu itu tidak menular ke Indra dan El".


" Aku khawatir karena bergaul denganmu setiap hari, Indra dan El akan ikut-ikutan jadi kampungan".


Dila sudah tidak bisa memaklumi ucapan Kayla, karena semakin lama ucapannya semakin keterlaluan.


" Maaf mbak Kayla yang terhormat, kalau anda benar-benar khawatir, seharusnya anda tidak pergi meninggalkan suami dan putra anda begitu saja tanpa adanya kabar". Dila sengaja kembali memanggil Kayla dengan sebutan mbak.


" Kalau anda ingin bertemu dengan saya dan mengolok-olok saya, silahkan, saya memang berasal dari kampung, tapi bukan berarti saya berasal dari dunia yang berbeda, karena anda dan saya masih sama-sama tinggal di bumi yang sama, saya bukan alien ataupun siluman dan semacamnya".


" Saya rasa anda yang justru jadi kampungan karena tidak tahu cara berbahasa dengan baik dengan lawan bicara anda, mungkin hidup di luar negeri terlalu lama membuat Anda melupakan tata krama dan sopan santun yang masih dipakai di Indonesia".


" Maaf sebentar lagi jam istirahat El, jadi saya harus segera kembali ke sekolah El, saya memang bukan ibu kandung El, tapi saya tidak pernah sekalipun membandingkan kesibukan mengurus El dengan sesuatu yang menurut anda lebih penting, yaitu kesibukan mengurus urusan duniawi yang ujung-ujungnya adalah membahas materi dan uang. Permisi !".


Dila langsung keluar dari kafe itu, padahal pramusaji baru keluar menyajikan minuman pesanan mereka.


" Dasar wanita kampung, diajak ngobrol malah pergi begitu saja, apa hebatnya menjadi seorang ibu tiri, lihat saja aku pasti membuat kamu menyesal karena berani menceramahi ku!", Kayla teriak-teriak nggak jelas, membuat pengunjung kafe yang baru datang melihat kearahnya sambil berbisik-bisik.


" Apa kalian lihat-lihat !, nggak pernah lihat orang lagi kesel hah!", bahkan Kayla meneriaki para pengunjung kafe yang baru saja datang.


Dila sampai di jalan raya dan menyetop taksi yang sedang lewat, sepanjang perjalanan Dila berusaha mengatur emosinya, karena saat di dalam kafe tadi Dila sudah lepas kontrol, bukan Dila banget sampai emosi seperti itu saat menghadapi ucapan tidak menyenangkan tentang dirinya. Tapi kata-kata Kayla tadi sudah sangat menyinggung perasaan nya.


Dalam hati Dila sudah berniat untuk tidak menggunakan lagi mobil merah milik Kayla itu, sejak awal Dila memang sudah tidak suka memakai mobil itu, seandainya tidak terpaksa karena El baru sembuh, pasti Dila akan naik motor seperti biasanya.

__ADS_1


Tiba-tiba Dila jadi terpikir untuk membeli mobil sendiri, memang tidak terlalu butuh karena masih ada satu mobil lagi yang tidak terpakai di garasi. Tapi itu juga mobil Indra, selama ini Dila hanya tinggal memakai tanpa berfikir untuk membeli sendiri.


" Tenang Dila, jangan terpancing ucapan wanita nggak waras itu", Dila berusaha menenangkan hatinya sendiri dengan menyebut Kayla wanita tak waras, karena mana ada wanita sehat dan waras yang meninggalkan suami dan anak kandungnya begitu saja tanpa sebab yang jelas, dan tanpa memberi kabar selama bertahun-tahun.


__ADS_2