Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 131


__ADS_3

" Sudah dimasukkan semua bekal makan siangnya, padahal nggak usah repot-repot bawa bekal segala, disana juga banyak yang jualan makanan Bu, kalau begini kan barang bawaan jadi banyak, kayak liburan keluarga pakai bawa bekal", Dita menggerutu karena Siti membuatkan bekal buah buahan yang sudah di potong dan juga minuman, Fatma juga membuatkan sandwich dan nasi kepal, semacam sushi, tapi hanya nasi biasa yang di gulung dengan isian daging.


" Kamu itu bagaimana Dit..., makanan disana pasti nggak sehat dan nggak baik untuk El, mending bawa bekal, jadi lebih higienis, lagian nanti yang bawa tas bekal kan Mas Ari, bukan kamu, kamu cukup jalan-jalannya dan mengawasi El. Ingat..., jangan ceroboh, perhatikan El baik-baik, jangan sampai dia ilang di sana, bisa repot kamu".


Siti terus menceramahi Dita sebelum Dita pergi bertamasya. Karena itulah Dita buru-buru mengajak El masuk ke dalam mobil, agar sesi ceramah bisa segera berakhir.


" Ayo El buruan masuk mobil", El masuk melalui pintu depan, begitu juga dengan Dita, mereka berdua duduk di samping Ari yang bertugas menyetir.


" Hati-hati menyetir mobilnya ya Ar, nggak usah ngebut, santai saja, utamakan keselamatan", pesan Fatma saat Ari mulai melajukan mobil secara perlahan. Ari hanya mengangguk saat ibu sang majikan memberi pesan padanya.


Fatma dan Siti melambaikan tangan membalas lambaian tangan El saat mobil keluar melewati gerbang rumah.


Fatma dan Siti kembali masuk kedalam rumah dan menghampiri Dila yang tengah menggendong Arsyila. Ternyata Arsy sudah bangun dan saat ini Dila sengaja mengajaknya keluar untuk berjemur di bawah matahari pagi.


Dokter memang berpesan demikian saat Dila hendak kembali dari rumah sakit, harus mengajak si kecil berjemur tiap pagi minimal 5 menit, karena matahari pagi sangat bagus untuk bayi.


" Apa nggak papa keluar cuma pakai popok begitu?, nanti bisa kedinginan kena angin", protes Siti yang melihat ternyata di dalam selimut, Arsy hanya mengenakan popok saja saat digendong ke luar rumah.


" Nggak papa Bu, kan diluar mau berjemur, pasti akan hangat, lagian kan ini ditutup pakai selimut, nanti dibukanya kalau sudah kena sinar matahari langsung, jadi hangat", gumam Dila sambil berjalan keluar.


Dibelakang Dila ada bi Ana yang tadi dimintai tolong oleh Dila untuk membawakan bantal dan kaca mata hitam kecil untuk dipakaikan ke Arsy. Khawatir akan silau karena pagi ini matahari sangat terik.


Dila memilih duduk di kursi yang berada di wilayah terbuka, Kursi yang di buat mirip seperti batu, ada empat kursi yang mengitari sebuah meja bundar yang juga dibuat bentuknya seperti sebuah batu.


" Berjemur sebentar, minum Asi, baru mandi, jadi badan akan terasa segar dan sehat ya sayang", gumam Dila sambil memposisikan Arsy tengkurap di pangkuannya yang sudah dialasi bantal terlebih dahulu. Dila sengaja menghadap ke timur agar Arsy terkena sinar matahari pagi secara langsung.

__ADS_1


Fatma dan Siti mengikuti Dila keluar rumah dan membawa kertas kosong serta pulpen untuk mendata siapa saja tetangga, kenalan dan juga saudara yang akan dikirim saat Arsy aqiqah nanti.


" Jadi yang mau di kirim nasi aqiqah siapa saja Dil?", tanya Fatma sambil meletakkan kertas yang dibawanya ke meja.


" Di catat saja kenalan ibu semuanya, terus tetangga disini, paling berapa puluh rumah di perumahan ini, nggak sampai ratusan, kalau teman ngajar Dila nggak terlalu banyak, teman kuliah juga sudah jarang ketemu, hanya saling berhubungan di grup chat saja jadi temen kuliah nggakn usah di kasih", ujar Dila memaparkan.


Fatma pun mulai mendata siapa saja yang akan mendapat kiriman masakan aqiqah. Meski untuk bayi perempuan hanya di haruskan menyembelih seekor kambing saja, namun karena banyak yang harus di bagi, akhirnya mereka memotong 3 ekor kambing dengan ukuran yang besar.


Sudah sekitar sepuluh menit mereka berdiskusi di taman samping sambil berjemur di bawah matahari pagi, Dila memilih mengajak masuk Arsy karena sudah cukup lama Arsy berjemur.


" Dila dan Arsy masuk dulu ya Nek...", pamit Dila, sambil menutup tubuh mungil Arsy dengan selimut tebal dan menggendongnya.


Siti dan Fatma mengangguk, dan menyuruh Bi Ana untuk membantu Dila membawa bantal yang tadi digunakan untuk alas Arsy saat berjemur. Kedua nenek itu masih sibuk merekap nama-nama yang akan mendapatkan jatah kiriman aqiqah.


Awalnya Dila tidak perduli dengan apa yang sedang di bicarakan, namun saat nama Nino disebut oleh Indra, Dila mendadak menghentikan langkahnya.


" Bantalnya taruh kamar saja, makasih bi", ucap Dila lirih. Ana pun menuruti perintah Dila dan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah meletakkan bantal itu di kamar.


Dila duduk di kursi yang berada di balik tembok ruang tengah, menuju ruang makan. Di sana Dila sengaja memberi Asi pada Arsy agar putrinya tenang dan tidak rewel. Dila memang berniat ikut mendengarkan pembicaraan para laki-laki itu. Namun secara diam-diam tentunya.


Dila mempertajam pendengarannya, agar suara dari ruang yang berbeda tetap terdengar jelas.


" Apa nak Indra serius dengan yang tadi di sampaikan?".


Dila mendengar bapaknya bertanya pada Indra.

__ADS_1


" Saya serius pak, karena Nino menyatakan nya saat saya juga ada di samping Dita semalam. Awalnya sebenarnya saya hanya ingin mengetahui kejelasan untuk perasaan Nino pada Dila, jujur saya tidak nyaman selama ini terus merasa bersalah karena sudah menikahi calon istri orang lain".


" Tapi saya sangat mencintai Dila, saya tidak bisa merelakan Dila dengan laki-laki lain. Tapi sayangnya laki-laki itu, sampai saat ini masih saja belum menikah, bahkan tidak dekat dengan perempuan lain. Semua orang tentu akan mengira jika Nino masih mengharapkan Dila".


" Karena itu semalam saya meminta pada Dita untuk menghubungi Nino, kami ngobrol bertiga, dan semalam justru Nino mengatakan hal yang sangat mencengangkan, ya itu yang saya sampaikan pada bapak tadi".


" Saya harap bapak tidak memarahi Dita, karena saya yang menyuruhnya menghubungi Nino semalam, apalagi sepertinya Dita juga seperti shock semalam mendengar kejujuran Nino, buktinya semalam Dita tidak bisa tidur, El yang memberi tahu kita semua tadi pagi, alasan kenapa Dita bangun kesiangan. Saya yakin Dita kepikiran ucapan Nino selama semalaman".


Kalimat Indra membuat Dila bertanya-tanya, sebenarnya apa yang di ucapkan Nino semalam?, jadi diam-diam Dita dan Indra menelepon Nino semalam, tanpa sepengetahuan dirinya. Apa yang Indra rencanakan. Dan kenapa Dita sampai tidak bisa tidur semalaman?. Apa yang suami dan adiknya tanyakan pada Nino, dan apa jawaban Nino sebenarnya.


Berbagai pertanyaan seketika muncul di benak Dila. Dila memilih kembali ke kamar karena Arsy mulai tak nyaman, khawatir tiba-tiba Arsy menangis dan membuat obrolan para bapak-bapak itu terganggu. Dila juga sebenarnya tidak mau ketahuan sedang mendengarkan pembicaraan mereka secara diam-diam.


" Apa sebaiknya aku tanya langsung pada Mas Indra apa yang Nino katakan semalam, sampai membuat Dita tak bisa tidur, apakah itu mengenai aku, atau tidak. Tapi tentu Mas Indra tidak akan jujur begitu saja, atau aku tanya saja pada Dita. Kalau Dita pasti akan jujur kepadaku, tapi dia lagi jalan-jalan, harus nunggu seharian sampai dia pulang, aku sudah sangat penasaran. Atau aku telepon saja Dita nya?", Dila terus bertanya-tanya dalam hatinya.


" Nggak nggak... nanti malah kelihatan banget aku penasaran kalau aku nelepon Dita sekarang, Dita bisa saja salah sangka dan mengkhawatirkan aku lagi jika aku masih bertanya dan membahas tentang Nino".


Dila kini sudah duduk di ranjangnya, Arsy sudah tidur dengan lelap setelah meminum ASI barusan, karena itu Dila menemaninya dan menunda acara memandikan si kecil, karena yang mau mandi malah tidur.


Di raihnya ponsel yang tergeletak diatas nakas, Dila menyalakan dan membuka chat dengan Dita, awalnya ingin menelepon, tapi di urungkan, Dila hendak menulis pesan, namun kembali di urungkan. Bahkan akhirnya ponselnya kembali di letakkan di atas nakas karena ketukan kamar dan suara Indra yang masuk kamar membuat Dila membatalkan rencananya.


" Belum mandi putri cantikku?", Indra mengecup kening Arsy dan juga kening Dila bergantian.


" Tadi sudah berjemur, di kasih ASI malah tidur, jadi mandinya sebentar lagi kalau sudah bangun", jawab Dila.


Dila memang tidak tampak kaget mengurus bayi kecil, karena dulu sering membantu ibunya saat Dita bayi. Seolah sudah punya pengetahuan mengurus bayi sejak masih kecil. Dan saat dirinya punya bayi sendiri, Dila sudah sangat siap dan terlatih.

__ADS_1


__ADS_2