Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 56


__ADS_3

Makan mie rebus ditambah telor dan sayuran saat malam hari begini memang sangat enak, apa lagi kalau makannya berdua dengan orang yang sangat dirindukan.


" Besok aku ada kuliah pagi Mas, aku harus tidur lebih awal malam ini, besok juga harus siapkan bahan-bahan buat jualan, kamu nanti kurang istirahat kalau tidur disini, tiap jam 3 pasti akan berisik dengan suara mesin penghalus bumbu, dan juga suara denting spatula karena aku harus membuat sambal dan bumbu ayam suwir", ujar Dila memberi tahu sambil mengaduk-aduk mie rebus di mangkoknya.


" Apa mau aku carikan penginapan yang paling dekat, disini banyak sekali penginapan, harganya juga murah, dengan fasilitas lengkap", terang Dila.


" Aku mau tidur disini, nggak masalah dengan suara mesin penghalus bumbu dan denting spatula, bahkan aku bisa membantumu jika ada yang bisa ku kerjakan", jawab Indra enteng.


" Aku bisa tidur di kantor besok, atau saat di pesawat".


Dila menghembuskan nafas panjang. " Kamu masih saja sama Mas, tidak pernah menyerah".


Indra tersenyum, bagaimana bisa dia tidur di tempat lain setelah sekian lama melakukan pencarian terhadap istrinya, dan hari ini usahanya berhasil.


" Hidupmu di sini, selama ini pasti sangat sulit Dil, sedikit tidur dan banyak bekerja, maafkan aku karena aku tidak bisa menemukanmu lebih cepat".


Dila menggeleng, " tidak ada yang sulit mas, bahkan bagiku hidupku sekarang sangatlah dipermudah, kamu sendiri tahu kan aku sudah menjalin kerjasama dengan BrFood, sebenarnya aku tidak perlu bersusah payah lagi bekerja keras. Tapi toko ini, aku masih ingin mengurusnya, dua outlet cabang yang didepan kampus ABC dan kampus UVW sudah ditangani oleh BrFood, karena itulah pekerjaanku sekarang lebih ringan", ujar Dila.


" Jadi apa Bram sering datang kemari?", Indra meminum air putih yang Dila siapkan untuknya, setelah mie di mangkuknya habis dimakan.


" Tidak sering, dia kan orang sibuk, lagian Jakarta kesini itu lumayan jauh, jadi cuma ketemu beberapa kali saja", jawab Dila jujur.


" Apa dia juga melakukan rayuan mautnya sama kamu?, awas saja kalau dia berani mendekati istriku!", ucap Indra dengan geram.


Dila hanya tersenyum tipis, " Kamu kan lebih mengenalnya dari pada aku mas, mungkin memang sudah bawaannya dia suka merayu, jadi ketemu siapa saja dia akan melancarkan aksinya", ujar Dila.


" Tapi aku percaya sama kamu Dil, kamu itu istriku, kamu beda dari perempuan lain, meski Bram merayu kamu dengan jurus gombalannya, aku yakin nggak akan mempan untuk meluluhkan hatimu", ucap Indra begitu yakin.


" Kamu berekspektasi terlalu tinggi tentangku Mas, nggak takut malah jadi kecewa nantinya?", Dila membereskan mangkok kotor bekas makan mereka dan membawanya ke tempat cuci piring.


" Nggak dong sayang, kan aku tahu kamu, dan aku lah laki-laki yang paling tahu tentang kamu, bahkan sampai tahu jika di bawah pusar mu ada tahi lalat juga, aku yakin cuma aku yang tahu", bisik Indra sambil kembali merengkuh tubuh Dila dari belakang.


Entah mengapa Indra ingin terus dan terus memeluk Dila. Rasa hangat setiap kali memeluk istrinya itu membuatnya ketagihan seperti candu.


" Ish... kamu ini Mas", Dila menepuk tangan Indra yang melingkar di perutnya. Dila selesai mencuci mangkok dan gelas. " Aku mau ngerjain tugas kuliah dulu, besok pagi ada kelas, jadi harus di kerjakan sekarang Mas", Dila melepas pelukan Indra dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Setelah mengambil laptop dan tasnya, Dila mulai mengerjakan tugas kuliah dengan serius. Indra memilih untuk bertulang guling di kasur Dila sambil mengetik pesan untuk dikirim ke ibunya. Mengatakan dirinya tidak pulang malam ini, karena masih sibuk, begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Ya kesibukan mengerjai Dila, sudah sangat lama mereka tak bersama, bagaimana bisa Indra membiarkan pertemuan itu berakhir begitu saja.

__ADS_1


Indra terus menatap punggung gadis yang sangat dicintainya itu, Dila memilih menyalakan musik dari laptopnya agar bisa fokus belajar karena tidak harus mendengarkan suara Indra yang terus merayunya.


Pukul 9 malam, tugas kuliahnya sudah selesai. Dila menyimpan buku dan laptop ke tempat semula. Suasana menjadi sepi karena musik yang tadi diputar dari laptop juga sudah dimatikan.


Dila tersenyum menatap Indra yang tidur di ranjangnya. " Kamu pasti kecapekan Mas, sudah kerja seharian, malah memilih jauh-jauh datang kesini cuma pengen numpang tidur", Dila menyelimuti Indra yang sudah tertidur di kasurnya. Dila mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan lampu tidur yang ada di atas nakas di samping ranjangnya.


Karena sudah malam, Dila pun merebahkan diri di samping Indra, namun setelah Dila merebahkan dirinya, tangan Indra langsung meraih tubuhnya untuk lebih mendekat.


" Kamu nggak tidur Mas?", tanya Dila kaget, saat tiba-tiba Indra menarik tubuhnya ke dalam pelukan Indra.


" Aku terbangun karena mencium aroma tubuh kamu yang memabukkan", Indra langsung menarik Dila dan menghujami Dila dengan ciumannya. Dila begitu kaget dan merasa kegelian, tubuhnya refleks meliak liuk di atas kasur.


Tak menunggu waktu lama Indra mulai melepaskan satu demi satu pakaian yang mereka kenakan, entah karena juga sangat merindukannya, atau karena Dila menikmati setiap sentuhan yang Indra lakukan padanya, Dila hanya diam dan pasrah dengan yang Indra lakukan.


Mungkin benar ucapan Indra tadi, jika dirinya sudah sembuh dari traumanya dimasa lalu. Karena Dila terus merasakan kenikmatan dan kepuasan setiap kali Indra menyentuhnya.


Indra mencoba melakukan penyatuan mereka berdua, dan benar, Dila tidak kembali mengingat malam kelam dimana Indra merampas keperawanan nya dulu. Bahkan Dila seperti dibawa Indra terbang ke awang-awang, begitu indah dan tak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Meski ada rasa nyeri di bawah sana saat Indra melakukan penyatuan mereka, tapi Indra melambatkan gerakan, membiarkan Dila merasa nyaman, baru Indra kembali menggempur Dila dengan begitu semangat.


Dila bisa mencapai puncak hingga beberapa kali dalam satu permainan, sungguh baru kali ini Dila mengetahui, ternyata melakukan 'hubungan suami-istri' itu bisa terasa nikmat, dan ada kepuasan tersendiri saat mencapai puncak.


Indra merebahkan diri di samping Dila sambil memeluknya dan mengecup kening Dila usai dirinya mencapai puncak yang baru kali kedua ini Indra rasakan setelah malam pertama yang penuh pemaksaan bersama Dila dulu.


Dila yang juga masih mengatur nafasnya hanya mengangguk dan menyandarkan kepalanya ke dada Indra yang sangat bidang. Karena sama-sama lelah, mereka berdua kini tidur dengan begitu nyenyak, sampai Dila tidak terbangun saat alarm ponselnya berbunyi.


Namun saat adzan subuh berkumandang Dila membuka matanya, betapa terkejut Dila saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah 5 pagi, Dila terlambat bangun, dan langsung buru-buru beranjak dari kasurnya, namun rasa nyeri dibawah sana membuat langkahnya tertatih.


Indra terbangun karena mendengar bunyi air dari kran kamar mandi. Perlahan Indra membuka matanya sambil tersenyum mengingat kejadian percintaannya semalam.


" Dila pasti sedang mandi besar, sebaiknya aku ganggu dia pagi ini", ucap Indra iseng.


Indra mengetuk pintu kamar mandi dan semakin lama semakin keras, " Dil, buka pintunya cepat, perutku sakit banget nggak tahan!", teriak Indra terus menggedor pintu.


" Sebentar Mas, nanggung aku sudah lagi pakai shampo!, dibawah ada kamar mandi satu lagi, kamu ke kamar mandi bawah saja!", seru Dila.


" Nggak bisa aku belum pakai apa apa", seru Indra terus menggedor pintu kamar mandi, terpaksa Dila mempercepat mandinya dan buru-buru keluar, di depan pintu sudah ada Indra yang berdiri benar-benar belum memakai apa apa.


" Ini tutupi pakai handuk, kamu itu Mas, nggak malu apa jalan nggak pakai apa-apa begitu", Dila menyerahkan handuk pada Indra.


" Awas jangan deket-deket aku sudah wudhu, nanti batal!", ucap Dila, sambil keluar kamar mandi.

__ADS_1


Dila memilih mencuci beras dan memasukannya ke mesin penanak nasi terlebih dahulu dan membuat bumbu dan memasukkan ayam untuk di ungkep, setelah itu Dila baru kembali ke atas untuk sholat subuh, saat itu kebetulan Indra sudah selesai mandi, mereka berdua pun sholat berjamaah.


Untung saja penjual ayam potong meninggalkan ayamnya di depan ruko setelah mengirim pesan pada Dila, jadi Dila tetap bisa jualan hari ini.


Selama ayam masih di ungkep, Dila mempersiapkan bahan untuk sambal ayam suwir.


" Aku bantu ya, maaf karena membuat kamu jadi bangun kesiangan", Indra ikut membuang gagang cabai dan mengupas bawang putih dan bawang merah yang cukup banyak.


Setelah ayam selesai di ungkep dan sudah tidak terlalu panas, Indra ikut membantu menyuwir-nyuwir ayam itu sebelum dimasak.


Dila memilih membuat sambelnya terlebih dahulu, baru memasak ayam setelah Indra selesai menyuwir ayam-ayam itu.


Setengah 7 baru selesai semua masakan. Pas saat kedua karyawannya sampai di ruko.


Hana dan Mia langsung bisik-bisik sambil cengengesan melihat Indra dan Dila yang sama-sama rambutnya masih basah, karena mandi keramas pagi-pagi sekali.


Keduanya memang tidak sempat mengeringkan rambutnya terlebih dahulu karena bangun kesiangan dan begitu banyak pekerjaan yang menanti.


" Mba Hana, mba Mia, kalian yang buka toko ya, aku mau sarapan dulu, ada kuliah pagi, nanti jangan lupa kalian juga harus sarapan, biar semangat kerjanya", ujar Dila sambil mengambil nasi di piring dengan ayam suwir buatannya.


" Mas mau yang pedes apa nggak?", tanya Dila pada Indra, saat Indra sedang memesan tiket pesawat online melalui ponselnya.


Indra menjawab dengan menggelengkan kepalanya. " Yang sedeng saja Dil".


Dila datang sambil membawa dua piring nasi yang sudah di beri lauk ayam suwir.


" Buruan sarapan Mas, aku mau langsung berangkat ke kampus, ada kuliah pagi".


Indra mengangguk, usai makan sudah ada taksi online yang berhenti di depan toko.


" Ayo sekalian aku anter Dil, biar lebih cepat dari pada jalan kaki", Indra membukakan pintu taksi untuk Dila, baru dirinya ikut masuk.


" Sebelum ke bandara tolong mampir ke kampus ABC dulu Mas", ujar Indra pada supir taksi online.


" Baik Pak", jawab sang supir singkat, dan langsung melakukan mobilnya.


Ini kali pertama Indra dan Dila berangkat bersama, Dila tak lupa berpamitan dan mencium tangan Indra saat taksi sampai di depan kampusnya, saat Dila hendak keluar dari taksi, Indra mengecup bibir Dila dan sedikit menekan kepala Dila, supir taksi yang melihat ciuman mereka dari kaca spion pura-pura tak tahu dan menghadap ke depan.


" Sampai jumpa akhir pekan sayang, semoga harimu berjalan lancar", ucap Indra melepas Dila yang keluar taksi sambil menutupi bibirnya yang merah dan basah setelah Indra tadi menghisapnya.

__ADS_1


" Jalan Mas, langsung ke bandara, dan tadi itu, dia adalah istriku, jadi jangan berpikir yang bukan-bukan", ujar Indra. Supir taksi mengangguk paham.


__ADS_2