Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 99


__ADS_3

Dila sampai dirumah jam 4 sore, tepat saat Indra juga sampai di rumah. Tanpa ditanya Dila lebih dulu memberi tahu Indra jika dirinya dari kantor Bram karena ada keperluan meeting.


Indra hanya mengangguk sambil masuk kedalam rumah, sikap Indra yang sedikit acuh membuat Dila bertanya-tanya, ada apa gerangan yang terjadi di kantor Indra barusan.


" Mas mau mandi dulu atau mau makan dulu?", tanya Dila sambil membantu melepas jas dan juga kemeja Indra.


" Aku mau istirahat sebentar, rasanya capek banget, nggak tahu kenapa kepala pusing, badan seperti meriang begini, perasaan Mas sudah lama nggak lembur kerja, nggak sibuk banget dan nggak salah makan juga, tapi ini badan kayak meriang", ujar Indra sambil mengganti celana kerja dengan celana kolor santai dan kaos oblong.


" Mau aku panggilkan dokter biar Mas diperiksa?, jadi nggak kelamaan nggak enak badannya", Dila mengambil ponsel Indra dan menelepon dokter yang biasa menjadi langganan di keluarga Indra.


Setelah mengabari sang dokter, ternyata dokternya baru bisa datang nanti malam, terpaksa Indra mengkonsumsi obat yang disimpan di kotak P3K terlebih dahulu, karena rasa tubuh yang semakin tidak karuan.


Bahkan Indra makan malam di kamar, Dila yang mengantarkan dan menemaninya makan, karena meriang tubuhnya tidak kunjung sembuh. Untung saja El sudah bisa makan sendiri dan tidur sendiri, jadi Dila tidak kerepotan mengurus ayah dan juga sang anak.


" Ayo dimakan sedikit lagi Mas...., nanti jadi nggak perlu makan lagi kalau dokter datang dan suruh minum obat", gumam Dila sambil menyodorkan sendok berisi nasi dan sayur ke mulut Indra.


Indra yang sudah merasa kenyang meski baru menyuap dua sendok nasi justru memuntahkan seluruh makanan yang dimakannya tadi, beserta makanan lain yang dimakan tadi siang.


Dila semakin panik dan khawatir, baru pernah Indra muntah-muntah seperti saat ini, Bi Ana yang mendengar panggilan Dila langsung datang dan membersihkan muntahan Indra di lantai.


" Aduh Pak.... apa mau di antar ke rumah sakit saja, itu Ari masih standby di depan, mau saya panggilkan?", tanya Ana sambil membersihkan lantai dan mengepelnya agar tidak bau amis.


" Iya, apa kita kerumah sakit saja ya Mas?", Dila juga sangat khawatir.


Namun saat bi Ana mau keluar dan memanggil Ari, Dokter keluarga yang tadi ditelepon pas sampai. Jadi Ana mengurungkan niatnya, dan mengantar sang dokter ke kamar Indra.


" Kenapa Ndra?, sudah sangat lama sejak terakhir kamu telepon aku suruh ke sini, dulu karena El sakit, ini sekarang malah kamu yang sakit", ujar Andrew, teman masa SMA Indra yang kini menjadi seorang dokter umum di salah satu rumah sakit swasta.


" Aku periksa dulu ya Ndra...".

__ADS_1


Andrew mengecek tekanan darah, bola mata, denyut jantung dan juga perut Indra.


" Aneh sekali, sepertinya semuanya baik-baik saja, tapi kenapa kamu sampai muntah-muntah?".


Andrew merasa aneh karena tekanan darah, dan perut Indra semuanya normal, baik-baik saja, jadi darimana rasa meriang dan juga mual yang diderita Indra.


" Sementara aku kasih obat pereda nyeri dan juga paracetamol, kalau keadaan kamu sampai besok pagi masih sama, langsung ke rumah sakit saja, biar dilakukan pengecekan lebih lanjut. Kalau sekarang sih dari pemeriksaan tadi, kamu baik-baik saja, saya khawatir ada yang salah di organ dalam tubuh kamu, karena kamu sakit, tapi hasil pemeriksaan ku kamu baik-baik saja".


Indra hanya mengendus kasar, " Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja tadi seperti meriang pas masuk mobil mau pulang dari kantor, padahal dari pagi aku baik-baik saja bro", ujar Indra lirih, sambil mencoba duduk.


" Buruan kasih obatnya, biar aku minum, jadi nanti cepet sembuh, rasanya badanku seperti mau remuk", ujar Indra.


" Anak baru satu, tapi sudah kaya kakek-kakek badan mau remuk, sayang itu bini masih muda, jangan sakit-sakitan, kasihan Dila harus ngurus suami yang tua sebelum waktunya. Kurang piknik kali bro... atau kecapekan?". Andrew menebak-nebak sambil mengambil beberapa butir obat dari dalam tasnya. Memasukkan kedalam plastik obat dan memberi angka 3x1 sebelum / sesudah makan.


" Nggak lah, baru dua minggu yang lalu aku balik dari Lombok, cuti seminggu aku buat santai disana. Masa iya aku kecapekan", Indra meminum obat yang diberikan oleh Andrew setelah dibukakan kemasannya oleh Dila.


Sejak tadi Dila ada di kamar itu, tapi memilih menjadi pendengar yang baik, ketimbang ikut menyela pembicaraan kedua kawan lama itu.


" Kapan-kapan lagi bro, kemarin aku cuma berdua sama Dila, sengaja melakukan honeymoon yang tertunda", ujar Indra, kembali merebahkan dirinya setelah meminum obat.


" Yaelah.... pantas saja kamu meriang, pasti disana kamu gempur si Dila terus, sampe kamu yang KO , Dila si pasti tetep sehat, dia masih sangat muda dan kuat, lah situ sudah kepala 3", ledek Andrew.


" Baru kepala 3, jangan bilang sudah..., kamu sendiri juga sudah kepala 3 malah belum kawin kawin, eh.... aku ralat, belum nikah-nikah, kalau kawin sudah sering pasti".


Andrew mendecak, " Lagi sakit itu jangan banyak ngomong bro...., istirahat yang cukup, dan banyakin minum air putih biar nggak dehidrasi, oke?, atau mau aku infus ni?".


Indra menggeleng," nggak usah di infus, ribet kalau mau ke kamar mandi, aku istirahat dan banyak minum air putih saja", ujar Indra menawar.


" Oke kalau begitu, aku cabut dulu ya bro... semoga cepet sembuh, kalau nggak sembuh juga sampai besok, buruan ke rumah sakit".

__ADS_1


Andrew pamit pada Indra dan Dila. Sejak tadi Dila hanya mendengarkan percakapan kedua teman lama yang sudah sangat lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.


" Makasih ya Dok, sudah memeriksa Mas Indra", ujar Dila sambil berjalan di sebelah Andrew.


" Iya, santai saja, kami itu teman dekat, meski sekarang jarang sekali ketemu, karena sama-sama sibuk dengan pekerjaan".


" Beruntung banget Indra, si Kayla kabur, dapetnya istri baru kayak kamu, semoga kalian langgeng ya, yang setia dan jujur sama suami, jangan kayak Kayla yang hidupnya amburadul nggak jelas", gumam Andrew.


Dila hanya tersenyum, tak lagi menanggapi ucapan Andrew, karena mereka sampai di teras rumah, dan Andrew masuk kedalam mobilnya.


Setelah mengantar Andrew keluar dari kamar menuju mobilnya, Dila langsung kembali ke kamar menemani Indra.


" Mas dulu dekat sama dokter Andrew?", tanya Dila sambil merebahkan diri di samping Indra. El memang sudah tidur lebih awal karena tadi siang tidak sempat tidur siang, usai makan malam, El langsung tidur.


" Dulu kami satu kelas, ada Mas, Bram, Niko, Andrew, dan Faris. Kita nge-band bareng, dan Bram jadi vokalis nya, Mas pegang bas, makanya kalau nyanyi suaranya nggak merdu kayak Bram".


Dila jadi teringat saat di kafe Jogja yang saat itu Indra sangat cemburu pada Bram karena Bram mempersembahkan sebuah lagu untuk nya.


Nama-nama yang Indra sebutkan, sama seperti yang disebut oleh Bram saat di kantornya tadi, saat Bram bertanya siapa ayah El. " Apa Kayla menjadi primadona saat di SMA, sampai-sampai satu grup band personilnya dekat dengan Kayla semua?", kini Dila mulai mengira-ngira sendiri.


" Jika pun iya Kayla menjadi primadona, apanya yang di suka oleh para laki-laki itu, termasuk Mas Indra. Padahal Kayla tidak cantik-cantik amat, gayanya sok kaya, karena memang anak orang kaya sih..., tapi gayanya sengak dan sombong. Apa karena Kayla kaya, terus dia jadi primadona?". Dila jadi terus menerka-nerka.


" Kenapa bengong?, kamu lagi berfikir dan membenarkan kalau suara Bram itu bagus kan?".


Dila menggeleng, karena bukan itu yang sedang dipikirkannya. " Nggak, bukan itu yang aku pikirkan. Mas lagi sakit, makanya aku memilih diam dan tidak melanjutkan percakapan, kan tadi dokter Andrew menyuruh mas banyak istirahat, jadi sekarang Mas istirahat saja, aku juga mau tidur lebih awal", ujar Dila.


Indra akhirnya mengakhiri nostalgia masa SMA nya, karena memang dia juga masih merasa tak enak badan dan harus istirahat.


Sebenarnya Dila sangat penasaran dengan kisah masa SMA Indra dan teman-temannya, hanya saja Dila belum siap sakit hati jika Indra menceritakan sampai di bagian dia berkencan dengan Kayla. Pasti pacaran di masa SMA sangatlah indah, sayangnya Dila tidak pernah merasakan hal itu, karena janjinya kepada sang bapak dulu sebelum mendaftar SMA. No pacar-pacaran.

__ADS_1


Karena itulah mending Dila menyetop Indra yang sedang asyik bercerita masa lalu. Bukankah lebih baik mencegah dari pada mengobati. Dila tidak mau tahu masa lalu Indra, yang penting adalah masa sekarang, karena masa lalu hanyalah sebuah kisah yang perlu dikenang, bukan di ungkit dan dipermasalahkan di masa kini. Jika terus hidup dengan bayang-bayang masa lalu, apa lagi masa lalu yang kelam, pasti tidak akan pernah maju.


__ADS_2