
Malam harinya, El tidur lebih awal lagi, karena sejak tadi terus ribut menanyakan kapan pergi ke ragunannya. El sudah tidak sabar ingin melihat secara langsung hewan-hewan yang sering di dengarnya dari buku dongeng dan buku cerita.
Dila sengaja masuk keruang kerja Indra, karena saat masuk ke kamar Indra tidak ada di kamarnya.
Tok...tok...tok..
" Bolehkah aku masuk?, aku mau bicara".
Bukannya menjawab, justru Indra keluar dari ruang kerja, dan berjalan menuju kamarnya, terpaksa Dila mengikuti Indra dan ikut masuk ke kamar.
" Mau bicara apa?", suara Indra terdengar serak.
" Aku minta maaf karena tidak minta ijin dulu sama kamu kalau mau pergi ke rumah ibu. Tadi aku cuma mau nitip hadiah buat anaknya indri, itu saja", ucap Dila berusaha menjelaskan.
" Cuma mau ngomong itu?", tanya Indra.
Dila mengangguk.
" Ya sudah kalau begitu, aku mau tidur, selamat malam", ucap Indra singkat.
Indra tadi memang sudah mendapat telepon masuk dari Indri saat diruang kerja, Indri meminta Indra untuk menyampaikan terimakasih untuk bingkisan yang diberikan oleh Dila, sekaligus memberi selamat untuk pernikahan kedua kakaknya, dan meminta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahan itu. Sedangkan kado pernikahan untuk kakaknya, Indri mengatakan pasti akan memberikannya, hanya saja menyusul, masih dipikirkan hadiah apa untuk kakak satu-satunya itu.
Dila merasa aneh karena malam ini Indra tak seperti biasanya, dia sangat cuek dan berbicara seperlunya.
" Apa mungkin Indra masih marah karena aku tidak pamitan, tapi dia bilang tadi ' ya sudah', bukankah berarti aku sudah dimaafkan?", Dila terus bermonolog dalam hatinya.
Dila menatap Indra yang benar-benar memejamkan mata dan tertidur disampingnya. " Apa dia benar-benar sudah tidur ?, padahal baru jam 8", Dila coba melihat Indra dari jarak lebih dekat.
" Tidak usah mengganggu macan tidur, kalau kamu mau aman, tidur saja, bukankah besok pagi kamu ada janji mau ketemuan sama teman kamu".
Dila kaget dan langsung memundurkan diri saat mendengar Indra bicara, meski sambil menutup mata.
" Sepertinya malam ini Indra lelah dan akan segera tidur, jadi tidak masalah jika aku tidur disini", pikir Dila, yang langsung ikut memejamkan matanya di samping Indra, malam ini Dila tak memasang penghalang karena sepertinya aman.
_
_
Pagi hari Dila sudah bangun dan langsung sibuk mempersiapkan bekal untuk perjalanan bersama El ke ragunan. Meski disana banyak pedagang, tapi Dila sengaja membuat bekal sendiri, untuk dimakan bersama teman-temannya nanti.
Beberapa macam buah-buahan yang sudah dipotong-potong, sandwich, kue basah sisa acara kemarin dan juga beberapa Frozen food dan minuman ringan.
Semuanya sudah tertata rapi di kotak bekal, tak lupa Dila membawa susu murni untuk El nanti.
Hari ini Indra nampak lesu, wajahnya terlihat pucat, tapi dia tetap berangkat ke kantor, dan membawa kendaraan sendiri, karena Ari ditugaskan mengantar Dila dan El ke ragunan.
Setelah Indra berangkat ke kantor, tak lama kemudian Dila mendapatkan pesan dari Asri jika dirinya sudah dalam perjalanan.
Dila pun mengajak Ari untuk berangkat, takut macet kalau kesiangan. Merekapun berangkat bertiga dari rumah.
__ADS_1
Hanya butuh waktu 40 menit perjalanan, itupun dengan laju yang cukup pelan karena jam berangkat kerja, banyak kendaraan berlalu lalang, sehingga mobil beberapa kali terjebak macet, untung tidak terlalu panjang, jadi saat Dila sampai di depan ragunan, teman-temannya yang lain belum sampai.
Dila dan El menunggu di depan ragunan selama hampir 30 menit, El yang berulang kali minta masuk, karena tak sabaran. Dila terus memberi pengertian pada El untuk sedikit bersabar, hingga terlihat Asri, Joko dan Evan melambaikan tangan ke arah Dila. Dila pun langsung membalas lambaian tangan mereka dan tersenyum lebar.
Asri dan Dila langsung berpelukan cukup lama dan begitu erat.
" Ehem...ehem...., mau juga dong dipeluk begitu...", canda Joko.
Dila hanya terkekeh dan menyalami kedua mantan tetangga kontrakannya itu sambil menanyakan kabar.
Tatapan Evan sedikit aneh dan berbeda dari sebelumnya, entah mengapa, Dila pikir karena mereka sudah lama tidak bertemu sehingga ada rasa canggung di awal jumpa.
" Apa sekalang sudah boleh masuk?", suara El mengalihkan perhatian semua.
" Apa ini yang namanya El?, hai El... kenalin, aku Tante Asri, yang ini Om Joko dan itu Om Evan, wah.... ternyata kamu ganteng banget, jangan-jangan ayahnya 'Duren', alias duda keren ", canda Asri.
" Hai Tante, hai om-om, apa El bisa masuk lagunan sekalang?", lagi-lagi El menanyakan kapan masuk, ternyata sejak tadi El sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam.
" Oke, El kita masuk sekarang", jawab Asri.
Ari keluar dari mobil menghampiri mereka sambil membawa bekal yang tadi Dila buat. Teman-teman Dila menatap Ari penuh tanya, mereka mengira Ari adalah ayahnya El.
" Wah ternyata bos kamu ikut juga Dil?", bisik Asri sambil melirik ke arah Ari.
" Owh bukan-bukan, dia temen aku, kenalin ini Ari, supir pribadi Pak Indra, hari ini dia ikut gabung sama kita, sama si bos disuruh nganterin anaknya kesini, nggak papa kan kalau Ari gabung?".
Evan langsung menatap Ari dengan tatapan tak bersahabat, sedangkan Joko merangkul Ari dan mengajaknya ikut bergabung. Mereka semua masuk kedalam ragunan. El langsung berjingkrak-jingkrak merasa sangat senang.
" Teman-teman, gimana kalau kita istirahat di sini saja dulu, kalian pasti capek kan sudah naik bus selama dua jam lebih, kita jalan-jalan kalau sudah istirahat sebentar".
Dila meminta Ari membuka tikar lipat yang sengaja dibawa, dan mereka duduk diatasnya sambil membuka bekal yang Dila bawa.
" Wah banyak banget makanan yang kamu bawa Dil, kita nggak bawa bekal apa-apa", ujar Asri sambil mengambil softdrink dan membagi ke teman-temannya.
" Iya, ini semua ada di rumah, aku cuma bawa yang sudah ada saja", jawab Dila.
" Apa nggak dimarahin sama bos kamu kalau kamu bawa ini semua?", Joko mulai menikmati sandwich buatan Dila.
" Enggak papa, kan aku ngajak El, jadi anggap saja ini bekal El yang dibagi-bagikan ke kita", jawab Dila enteng.
Dila memang belum cerita perihal pernikahannya pada yang lain, lebih tepatnya sengaja tidak cerita, Dila sudah merasa takut dengan tanggapan yang lain sebelum bercerita. Toh mereka jarang bertemu, mungkin lebih baik tidak usah diceritakan dulu, belum tentu pernikahannya akan langgeng, jika nanti dirinya benar-benar bercerai, mungkin baru saat itu Dila ceritakan semuanya. Itupun jika mereka masih ada kesempatan bertemu.
El masih asyik melihat burung-burung dalam sangkar, meski Dila ngobrol dengan yang lain, tapi fokus Dila tetap pada El yang berdiri tak jauh dari posisinya.
Dila lebih banyak mendengarkan Asri bercerita, kehidupan di pabrik ternyata penuh warna, Asri menceritakan bagaimana dia sering dimarahi saat awal bekerja, hingga Asri berkenalan dengan seorang pria bagian mesin di bus antar jemput, dan kini mereka sedang sering berkirim pesan. Dila lebih banyak diam dan mendengarkan Asri bercerita.
Karena El memanggil, Dila pun berdiri dan mengajak Asri mendekat ke kandang burung mengawasi El dari dekat.
Evan yang duduk di samping Ari sengaja mendekat ke Ari untuk mencari informasi tentang Dila. Mumpung Dila dan Asri pergi.
__ADS_1
" Sudah lama kerja di rumah itu Bang?, tanya Evan.
" Sekitar 4 tahun, kalian sepertinya lebih muda dariku", ujar Ari.
" Kami baru 20 tahun Bang, betah kerja di rumah itu?, kok bisa bertahan selama itu, sampai 4 tahun", tanya Joko .
" Betah lah bro, bos nya baik, gaji lumayan , pekerjaan santai, jadi nggak kepikiran mau nyari kerjaan lain. Kalian dari kampung yang sama dengan Dila?", tanya Ari.
" Enggak lah, kita ketemu di kontrakan punya orang yang sama lha iya, kita tetangga kontrakan, sama abangnya paling cuma selisih seminggu duluan kita kenal sama Dila", ujar Joko.
" Owh, aku kira kalian sekampung, cukup jauh juga kampungnya".
Ucapan Ari membuat Evan dan Joko menatap curiga.
" Jangan-jangan Ari naksir Dila juga, sampai mencari informasi kampung asalnya", batin Evan.
" Kok tahu jauh, sudah pernah kesana Bang?", tanya Evan penasaran.
" Hari Minggu kemarin baru saja dari sana".
Jawaban Ari membuat kecurigaan Evan makin besar.
" Abang ngapain ke kampungnya Dila?".
Pertanyaan Evan membuat Ari tertawa.
" Ya nganter bapak sama ibunya Dila".
Evan berpikir Bapak dan ibunya Dila datang ke Jakarta untuk menengok anaknya karena sudah lama tak bertemu, dan Ari mengantar mereka sengaja untuk mengambil hati kedua orang tua Dila.
" Sejak kapan Abang naksir sama Dila?", kini Evan langsung pada intinya.
" Dulu iya aku naksir, sekarang mana berani aku naksir Dila, bisa kehilangan pekerjaan kalau berani naksir Dila", jawaban Ari penuh teka teki.
" Situ naksir juga ya?, Dila mah begitu, mudah membuat cowok tertarik. Padahal dia nggak pernah agresif dan selalu bersikap biasa pada semua temannya, tapi memang dia terlalu baik sama semua orang, kadang bikin orang jadi salah tangkap" , Ari seolah sudah mengenal Dila dengan baik.
" Dila bilang dia sudah punya calon dikampung nya, entah itu asli atau hanya sekedar pengakuan agar tidak didekati cowok manapun", ujar Joko.
Ari mengernyitkan keningnya saat mendengar kalimat Joko, " wah ini kabar baru, aku harus mengatakan pada si bos, jika Dila sebenarnya sudah ada calon di kampung, tapi kenapa Dila mau di nikahin sama si bos kalau dia sudah ada calon di kampung", Ari bermonolog dalam hatinya.
Mereka melanjutkan perjalanan, bekal sudah habis, dan barang bawaan tidak terlalu banyak. Yang lain hanya mengikuti kemana El mau pergi, melihat gajah, rusa, harimau, jerapah, semuanya ingin El lihat, hingga tanpa terasa mereka bermain seharian di ragunan.
" Sudah sore, kita sudahi jalan-jalan kita hari ini, ya ampun sampai jam 5 sore tapi tidak terasa saking asyiknya ngobrol sambil jalan-jalan. Kita balik dulu ya Dil, sampai jumpa di lain kesempatan. Aku pasti akan segera merindukan kamu lagi", ucap Asri sambil memeluk Dila, pelukan perpisahan.
Di perjalanan pulang, El tertidur dengan lelapnya, pasti dia kecapekan karena jalan-jalan seharian.
Dalam mobil Dila dan Ari terdiam, tak ada yang berusaha memulai percakapan, semua sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tadi saat jalan berdampingan, Evan menanyakan jawaban dari suratnya, tapi Dila tidak tahu surat apa. Dila jadi teringat paper bag yang diberikan oleh Evan saat Dila hendak ke Jakarta enam bulan yang lalu. Dila menyimpan di dalam tasnya, diantara kemeja putih dan rok hitam yang tak pernah dikeluarkan dari dalam tas.
__ADS_1
Dila meminta maaf, mengatakan dengan jujur, dirinya lupa belum membuka paper bag itu, dan berjanji akan membukanya sepulang dari ragunan.
" Sebenarnya surat apa?, ya Allah kenapa aku jadi pelupa, aku sampai lupa Evan memberiku hadiah perpisahan", batin Dila.