Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 96


__ADS_3

Waktu selama seminggu di Lombok dimanfaatkan Dila dan Indra semaksimal mungkin, benar kata Lita, hari-hari yang mereka lalui hanya mereka habiskan di sekitaran kamar saja.


Bahkan Lita yang belum menikah, tapi sepertinya dia sangat tahu dan mengerti apa saja yang dilakukan oleh para pasangan yang sedang berbulan madu.


Kadang Dila merasa malu sendiri melihat tubuhnya seperti seorang yang terkena alergi kulit, begitu banyak bekas tanda cinta yang dibuat oleh Indra di sekujur tubuhnya, saat yang satu mulai sembuh, Indra membuat tanda lagi di bagian tubuh lain, dan itu membuat Dila semakin malas untuk pergi-pergi sekedar jalan-jalan di pantai atau keluar melihat suasana Lombok.


Padahal Dila selalu mengingatkan Indra untuk tidak membuat cap kepemilikan di tempat- tempat yang terbuka dan dapat dilihat, namun pada kenyataannya saat mulai beraksi semua itu tidak berlaku, Indra lagi dan lagi membuat tanda-tanda kepemilikan di semua bagian tubuh Dila tanpa mempertimbangkan itu bagian tubuh yang dapat terlihat oleh umum atau tidak.


" Mas sepertinya aku butuh di pijat deh, badanku rasanya capek dan pegel banget", gumam Dila di hari ketiga mereka berada di Lombok.


Indra terkekeh geli mendengar kalimat Dila, entah mengapa jika sudah sedang berhubungan badan dengan Dila, rencana Indra untuk bermain pelan dan lembut tiba-tiba saja terlupakan, dan justru semakin lama berubah menjadi permainan yang panas dan penuh gairah.


" Apa mau telepon pengelola vila suruh kirim service tukang pijat datang kesini?, atau mau Mas yang jadi tukang pijatnya ?, hehehe....", Indra kembali terkekeh melihat Dila yang langsung manyun saat mendengar dirinya yang menawarkan untuk jadi tukang pijat.


" Yang ada bukan jadi rileks dan santai, malah makin capek dan pegel ini badan kalau Mas yang mijitin", gumam Dila.


Indra langsung tertawa lepas, namun sambil menelepon pengelola vila untuk mengirim seorang tukang pijat perempuan untuk memijat tubuh istrinya.


Dan tak lama kemudian datanglah seorang perempuan tua, mungkin usianya hampir 60 tahun, tapi badannya masih segar bugar dan cara berjalannya juga sangat cepat. Beliau adalah tukang pijat yang dikirim oleh pengelola vila.


" Yang mau di pijat mba ini atau mas nya?", tanya Mbah Vivi, entah siapa nama aslinya, tapi Mbah itu mengatakan orang-orang mengenalnya dengan sebutan Mbah Vivi, yang sebenarnya Vivi itu nama cucu perempuannya.


" Saya yang mau di pijat Mbah", jawab Dila, Dila disuruh merebahkan dirinya di kasur, Indra juga berada di dalam kamar, sengaja menyaksikan istrinya yang hendak di pijat oleh Mbah Vivi.


" Apa Mbah itu sudah lama menjadi tukang pijat?", tanya Dila, karena entah mengapa setiap pijatan Mbah Vivi itu membuat pegel-pegel dan rasa lelah di tubuh Dila menjadi lebih baik.


" Sudah hampir 40 tahun Mbah jadi tukang pijat. Di sini Mbah sering di datangi pasangan berbulan madu yang ingin segera punya momongan, karena memang Mbah itu sudah jadi tukang pijat yang cukup lama, mereka datang ke gubug Mbah, dan pijat disana, tapi syukur kepada Tuhan, pulang dari sini sebulan kemudian kebanyakan dari mereka yang pijat cocok, dan sang istri pun hamil. Sebenarnya si itu kehendak Tuhan, hanya saja mungkin Mbah yang jadi perantara kesuburan mereka", ujar Mbah Vivi panjang lebar.


Mendengar cerita dari Mbah Vivi, Dila jadi kepikiran untuk memijatkan Indra juga, siapa tahu jodoh, dan Indra jadi subur dan mereka akan segera di beri momongan. Siapa tahu Allah memberi jalan pada Dila, agar dirinya segera hamil.


" Kalau begitu, sekalian Mbah tolong pijat suami saya juga, dia juga katanya capek", ujar Dila sambil berdiri dan menuntun sang suami untuk merebahkan dirinya di atas kasur.

__ADS_1


Indra yang selama ini belum pernah di pijat oleh seorang perempuan merasa ragu, apalagi yang memijat adalah seorang wanita yang sudah cukup tua.


" Sini Mas nya, biar saya suburkan syaraf syaraf kelelakiannya, biar makin subur dan segera di kasih momongan", gumam Mbah Vivi.


Mendengar ucapan Mbah Vivi, Indra pun merebahkan tubuhnya di kasur, bergantian dengan Dila. " Anggap saja ini ikhtiar, toh hasilnya hanya Allah yang mengaturnya", batin Indra.


Indra pun dipijat oleh Mbah Vivi cukup lama, justru lebih lama dari waktu saat memijat Dila tadi. Memang pijatan Mbah Vivi tidak di seluruh tubuh, hanya di titik-titik tertentu, tapi usai dipijat, entah bagaimana tubuh terasa lebih segar dan seolah tenaga kembali fit.


Dila menyerahkan amplop berisi 5 lembar uang seratus ribuan, bukan maksud Dila untuk bergaya dan sok sokan menjadi orang kaya, pijat saja kasih ongkos 500ribu, tapi lebih ke berharap pijatan Mbah Vivi akan membantu Dila dan Indra mencapai tujuannya.


Bukankah membuat senang seseorang akan membuat orang lain mendoakan yang baik-baik terhadap kita?.


Dan esok harinya, saat Dila dan Indra hendak sarapan pagi, Mbah Vivi kembali datang ke Vila mereka, membawa dua botol jamu, untuk Dila dan Indra, masing-masing diberi jamu yang berbeda. Jamu yang di masukkan ke dalam botol air mineral 1 liter, untuk di minum setiap pagi selama 3 hari berturut.


Untuk Dila berwarna lebih kekuningan dengan aroma rempah segar, sepertinya terbuat dari bahan kunyit dan sejenisnya, dan yang untuk Indra warna jamunya lebih kehitaman, dengan bau seperti daun-daun yang ditumbuk.


Jamu milik Dila terasa segar, ada asam-asamnya, sedangkan jamu milik Indra terasa sangat pahit dan tidak enak. Tapi demi tercapai harapan mereka, Indra dan Dila pun setiap pagi meminum jamu mereka. Rutin selama 3 hari.


Sejak hari itu Dila dan Indra meminum jamu pemberian Mbah Vivi setiap bangun tidur, dan memang tubuh mereka terasa menjadi semakin bugar, bangun tidur hari pertama setelah dipijat, tubuh benar-benar terasa enteng, baik Dila maupun Indra jadi semakin berhasrat untuk berhubungan badan.


Bahkan sehari mereka bisa melakukan berkali-kali penyatuan badan. Dan Dila merasa sangat malu pada Indra, karena seolah dirinya jadi semakin menggebu dan bersemangat untuk mengajak Indra kembali bergulat diatas ranjang.


Sedangkan Indra tidak mempermasalahkan hal itu, Indra justru sangat menikmati kebersamaan mereka, apalagi sikap Dila yang semakin bergairah. Itu membuat Indra makin menyukai Dila.


Entah jamu/ ramuan apa yang diberikan oleh Mbah Vivi, karena sejak memberikan ramuan itu, Mbah Vivi tidak pernah datang ke vila lagi, hingga habis masa bulan madu mereka berdua.


Dila dan Indra kembali ke Jakarta setelah seminggu melakukan bulan madu di Lombok, Dila menyempatkan mampir membeli oleh-oleh terlebih dahulu sebelum ke bandara, ada beberapa baju santai dan juga pernak pernik yang Dila beli untuk semua penghuni rumah, juga untuk ayah dan ibu mertuanya.


Sampai di Jakarta semua merasa begitu bahagia mendapatkan oleh-oleh dari Dila.


Sekarang Dila hanya ingin fokus pada El, namun entah diberi tahu oleh siapa, saat Dila pulang dari Lombok, El menjadi anak yang sangat mandiri, setiap hari menolak disuapi Dila, menolak dimandikan oleh Dila, juga menolak saat Dila hendak membacakan buku cerita/ dongeng sebelum tidur.

__ADS_1


" Bu Dila istirahat saja, El bisa melakukan semuanya sendiri, sekarang El sudah besar, dan El tidak mau Bu Dila kecapekan karena harus mengurus El. Bu Dila harus banyak istirahat biar El bisa cepat punya adik bayi".


Itulah yang di ucapkan El saat Dila bertanya alasan El tidak mau dibantu melakukan aktivitas nya oleh Dila.


Entah harus bahagia atau bersedih, yang jelas Dila sangat terharu karena El menjadi begitu berpikiran dewasa, hanya ditinggal selama seminggu.


Seminggu setelah acara bulan madu, saat Dila seperti biasa mengantar El ke sekolah, di depan ruang tata usaha ada pengumuman lowongan pekerjaan, dibutuhkan seorang guru olahraga dan guru pengajar untuk siswa kelas 5 SD.


Dila yang biasa hidup penuh kesibukan, dan sudah seminggu hanya mengantar jemput El, dan mendatangi beberapa outlet cabang untuk melakukan pengecekan kualitas dan rasa nasi cup ayam suwir dan menu tambahan lainnya, berfikir untuk mendaftar menjadi tenaga pengajar di SD itu. Bukankah sekalian mengantar El, dirinya juga bisa mengajar di sekolah yang sama itu akan sangat menyenangkan.


Esok harinya Dila menyerahkan berkas persyaratan yang dibutuhkan di bagian TU, ternyata Dila adalah orang ke 19 yang mendaftar di sana.


" Banyak juga yang berminat mendaftar", batin Dila.


Dila tidak terlalu berharap dirinya akan diterima menjadi tenaga pengajar disana, karena banyak orang lain yang mendaftar. Dan tentu mereka lebih membutuhkan pekerjaan itu ketimbang dirinya.


" Yang penting sudah mendaftar, tinggal menunggu hasilnya bagaimana", gumam Dila.


Karena Dila belum meminta ijin atau membahas tentang lamaran pekerjaannya menjadi tenaga pengajar pada Indra, Dila rencananya akan memberi tahu saat dirinya sudah jelas di terima, baru Dila akan bercerita pada semuanya. Sementara masih off the record.


Dan jika dirinya tidak diterima menjadi pengajar di sekolah itu, berarti Dila tidak perlu memberi tahu siapapun tentang lamaran pekerjaan yang diajukannya.


Namun ternyata saat Dila memasukkan berkas ke TU, Bima yang juga menjadi guru di SD itu masuk ke bagian TU, dan menanyakan tentang keperluan Dila masuk ruang tata usaha untuk apa.


Entah inisiatif dari mana, Bima secara pribadi menemui kepala sekolah dan menceritakan kebaikan-kebaikan Dila padanya. Seperti seseorang yang sedang mempromosikan temannya agar diterima menjadi.lengajar di sekolah itu seperti dirinya.


" Kamu nggak suka akan sama Bu Dila?, dia itu istri pebisnis muda sukses, jangan macam-macam kamu Bim".


Kepala sekolah yang ternyata masih kerabat orang tua Bima mengingatkan agar Bima bisa mengontrol diri. Karena sejak tadi Bima terus dan terus memuji tentang Dila.


" Bukan begitu Paman, hanya saja akan menyenangkan jika rekan kerja kita adalah seseorang yang sudah kita kenal baik buruknya. Kalau dia adalah seorang istri pebisnis, bahkan dia sendiri seorang pebisnis wanita yang sukses, bukankah itu meminimalisir terjadinya korupsi. Karena dia murni ingin mengajar karena panggilan hati, bukan karena butuh penghasilan".

__ADS_1


Ucapan Bima ada benarnya, sang kepala sekolah hanya mengangguk-angguk tanpa bersuara.


__ADS_2