Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 51


__ADS_3

Minggu pagi Dila dan ketiga teman barunya selesai joging, mereka hanya memutari rute yang tidak terlalu jauh.


Suasana di Jogja memang sangat asyik, entah itu malam, atau pagi hari, selalu terlihat ramai. Dila suka dengan keramahan semua orang di sana.


" Nanti kita sarapan nasi uduk saja ya Dil,Deket kosan kita ada yang jualan nasi uduk, ni mereka berdua katanya mau tanding bola sama anak-anak teknik lainnya", ujar Lita terlihat kecewa karena kebersamaan dirinya dengan lelaki yang di taksirnya hanya sebentar.


Dila mengangguk,


" Iya, aku sarapan apa saja bisa masuk kok Lit, apalagi kalau nasi, itu cocok di perut aku", jawab Dila. Mereka ber empat pun akhirnya kembali ke kosan, Dila tahu Lita sedang dalam Suasana hati kurang baik, jadi Dila mencoba menghibur Lita.


" Gimana kalau kita nonton Felik dan Marko tanding bola, kamu tahu kan dimana mereka tanding kan Lit?".


Lita yang mulutnya penuh nasi uduk buru-buru menelannya. " Ide bagus, kenapa aku nggak kepikiran untuk nonton mereka tanding. Ya sudah buruan habisin sarapannya, kita mandi, laku berangkat ke lapangan". Lita begitu bersemangat.


Dila yang rencananya hari ini ingin keliling Jogja mencari kampus yang biayanya tidak terlalu mahal, dan bisa menerimanya, akhirnya harus mengurungkan niatnya karena harus menemani Lita ke lapangan.


30 menit Lita dan Dila sudah siap untuk pergi ke lapangan. Tidak lupa Lita sudah memakai makeup agar terlihat lebih fresh dan cantik. Dila sampai tersenyum melihat Lita yang masih sangat polos dalam hal mendekati cowok yang ditaksirnya.


Mereka berdua sampai di lapaangan tempat Felik, Marko dan teman-temannya bertanding bola.


Setelah usai pertandingan, Felik dan Marko mendekat ke tribun dimana Lita dan Dila duduk menonton mereka. Namun ternyata beberapa anak teknik lainnya ikut gabung, mereka begitu tertarik saat melihat Lita membawa teman yang cantik dan belum pernah mereka lihat di kampus.


" Temen kamu Lit?", tanya salah seorang teman Lita.


" Iya, dia baru datang kemarin, mau daftar kuliah di Jogja, sekarang jadi tetangga kamar ku, tapi nggak di kampus kita ya, jadi.jangan ngarep bakal sering lihat Dila di kampus", ucap Lita memberi informasi.


Dila hanya mengangguk memberi salam pada teman-teman Lita yang baru pernah dilihatnya.


" Yah... sayang banget padahal bening gitu, bisa jadi primadona kampus kalau masuk ke kampus kita, emang mau daftar dimana mba?", tanya teman Lita yang lain.


Dila masih diam karena belum tahu mau kuliah dimana, " baru mau nyari hari ini, apa ada yang tahu kampus yang bisa nerima anak yang nggak pinter-pinter banget, nilainya pas-pasan, duitnya juga pas-pasan?", tanya Dila tanpa basa-basi.


Teman-teman Lita menatap Dila dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Entah apa yang mereka pikirkan sekarang, Dila tidak mau sok pintar, apalagi sok kaya di depan orang lain, karena memang begitulah Dila, otak pas-pasan, duit juga pas-pasan. Tapi kerja keras dan semangat Dila memang perlu diacungi jempol.


" Ke kampus ABC saja, temenku ada yang disana, biaya kuliah nggak terlalu mahal, tempat nggak terlalu jauh dari kosan kamu, dan yang penting bisa masuk ke sana dengan nilai pas-pasan, yang penting setelah masuk kesana, kamu harus bisa meningkatkan pemahaman kamu, biar ada perkembangan".

__ADS_1


Dila mengangguk, dan meminta tolong pada Lita untuk menemaninya ke kampus ABC itu, karena Dila belum paham jalanan di Jogja.


Akhirnya setelah dari lapangan, Dila dan Lita pergi ke kampus ABC, Felik, dan Marko juga ikut menemani.


Setelah membaca brosur dari kampus ABC tentang biaya dan lainnya Dila memutuskan untuk kuliah disana. Letak kampus juga tidak terlalu jauh dari kos-kosannya, jalan kaki 30 menit, kalau naik motor paling 5 menit sudah sampai.


_


_


Hari-hari berlalu dengan cepat, Dila sudah resmi menjadi mahasiswi baru di kampus ABC, ternyata teman-teman yang lain kebanyakan seumuran dengan Dila yang baru berusia 18 tahun, itu berarti memang Dila yang lulus SMA terlalu awal.


Dila disibukkan dengan kegiatan kampus selama menjadi mahasiswa baru, hingga dirinya bisa sedikit demi sedikit mulai melupakan kesedihannya tiap kali teringat dengan El.


Kini sudah 6 bulan tepatnya Dila minggat dari rumah Indra, Dila sudah menghubungi orang tuanya di kampung dan menceritakan beberapa bagian dari perjalanan hidupnya, Dila mengatakan pergi dari rumah Indra karena merasa tidak pantas berada disana. Namun Dila tidak menceritakan ke burukan Indra sedikitpun pada kedua orang tuanya.


Awalnya Siti dan Toto marah besar pada Dila, tapi mau bagaimana lagi, Dila sudah membuat keputusan dan tidak ada yang bisa dilakukan kedua orangtuanya, apalagi Dila masih tetap tidak memberitahukan dimana keberadaannya saat ini, Dila hanya mengatakan dirinya sedang kuliah sambil memulai usaha baru di kota lain.


Ya.... Dila sudah memulai usahanya satu bulan yang lalu. Berawal dari percobaannya membuat rice bowl/ nasi cup ayam suwir, dengan level pedas 1-10 sesuai selera pembeli, Dila yang cukup terkenal di kampus karena wajah cantiknya seketika mendapat banyak orderan. Bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tapi juga mahasiswi yang kini menjadi temannya.


Bahkan untuk kedepannya Dila mungkin akan membutuhkan tenaga kerja untuk membantunya, akhir-akhir ini Dila cukup keteter antara kesibukan kuliah, dan juga membuat pesanan.


Untung ibu kosnya baik hati, membiarkan Dila menggunakan dapur bersama untuk memasak ayam suwir nya, dan dengan membeli satu buah magicom yang ditaruh di kamar.


Saat ini di kamar Dila selain ada banyak tumpukan buku, juga banyak tumpukan cup nasi juga. Namun bagi Dila semua itu sungguh membuat hidupnya merasa bersemangat.


Dila dikenal sebagai gadis yang apa adanya di kampus, tidak jaim atau malu dengan keadaannya yang memang membutuhkan biaya tambahan untuk kuliahnya.


Tidak dipungkiri mungkin ada lusinan mahasiswa yang tertarik ingin mendekati Dila, namun lagi-lagi Dila hanya sekedar ber- sopan santun pada mereka, tanpa mencoba memberi harapan palsu. Dila tidak mau direpotkan dengan urusan hati lagi, waktunya sudah dihabiskan untuk kuliah dan berbisnis.


Hingga pada libur semester pertama, Dila memutuskan membuat label untuk nasi cup buatannya dan mengajukan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT), agar nasi cup nya lebih meyakinkan karena sudah ada ijin produksi dari dinas, yang alhamdulilah ijin itu berhasil didapatkan dalam waktu 2 minggu.


Tak tanggung-tanggung setelah setahun Dila berada di Jogja, dan karena usaha nasi cup miliknya semakin berhasil dan semakin dikenal, Dila memilih untuk menyewa ruko yang berada tak jauh dari lokasi kos-kosan nya yang dulu. Dila sudah mempunyai empat karyawan, dua di ruko miliknya dan dua lagi di outlet cabang yang ada di depan Kampus ABC dan kampus UVW.


Tiap pagi Dila bangun pagi dan memasak nasi, juga membuat ayam suwir dan sambel. Dila sungguh bersyukur karena Yang Maha Kuasa memberikan jalan mulus untuk kelancaran usahanya.

__ADS_1


Hingga pada suatu hari di kampus ABC, Dila yang sudah masuk semester 3 harus mengikuti beberapa kegiatan seminar yang diadakan dari pihak kampus, seminar terbuka untuk semua jurusan. Dengan pembicara seorang pengusaha terkenal dari Jakarta.


Dila yang waktu itu tidak berniat untuk ikut seminar karena kegiatannya yang sudah sangat padat, terpaksa mengikuti seminar karena rekomendasi salah seorang dosen pembimbingnya.


Ternyata oh ternyata pembicara yang berasal dari Jakarta itu bernama Bram, seorang pengusaha olahan makanan yang sukses di usia muda. Mungkin usianya sekitar 30 tahunan, sepantaran dengan Indra.


Bram yang terkenal seorang playboy langsung tertarik untuk mengenal lebih dekat saat melihat Dila yang duduk di bangku belakang di acara seminar.


Usai seminar Bram langsung mengejar Dila dan mengajaknya ngobrol sebentar di ruang yang sudah panitia siapkan.


" Maaf kalau saya kurang sopan, tapi wajah kamu itu terasa familiar banget, apa kita pernah bertemu sebelumnya?".


Dila menggeleng, Bram mungkin orang ke sekian puluh yang mengatakan hal seperti itu pada Dila, yang sebenarnya hanya untuk modus, namun Dila masih tetap duduk di ruang itu, menghormati Bram yang seorang pembicara di seminar tadi, Dila berpikir siapa tahu usahanya bisa semaju Bram jika ngobrol dengan pakarnya.


Namun sayangnya semakin lama ngobrol, Bram hanya memuji kecantikan Dila, dan mengatakan gombalan-gombalan receh untuk merayu Dila.


" Maaf masih banyak kegiatan yang harus saya lakukan, kalau Anda sudah tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, maka saya pamit untuk keluar", Dila berusaha sopan.


Baru kali ini ada seorang gadis yang terang-terangan menolak pesona Bram sang pengusaha muda sukses yang berwajah tampan. Namun justru itu membuat Bram semakin tertarik pada Dila.


" Baiklah kalau begitu, silahkan melanjutkan kesibukannya, tapi bolehkah saya tahu nama kamu?". Bram mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


" Karina Nadila, itu nama saya. Kalau begitu saya pamit, permisi ". Dila keluar dari ruangan dan beberapa pasang mata melihatnya dengan tatapan curiga, pasalnya beberapa mahasiswi ABC banyak yang terpesona dan ingin mendekati Bram, namun Bram menolak sesi bicara secara pribadi.


Dan melihat Dila diundang secara khusus ke ruang peristirahatan Bram, membuat yang lain merasa iri. Apalagi Dila cukup lama di dalam, dan hanya berdua saja dengan Bram.


Namun Dila tidak ambil pusing, dia masa bodo dengan yang lain, toh tidak ada yang Dila lakukan di dalam sana.


Dila pun langsung kembali ke ruko miliknya. Sedang ada beberapa pembeli di sana, Dila langsung membantu karyawannya, meski baru pulang dari kampus. Mungkin karena jam makan siang dan seorang karyawan lainnya sedang DO nasi pesanan ke pembeli, jadi yang satu di ruko terlihat keteter.


Selama dua jam Dila akhirnya membantu karyawannya di toko, dan baru naik ke atas menuju kamarnya saat pembeli mulai sepi karena jam makan siang sudah berlalu.


" Mba, aku mau istirahat dulu ya, kalau ada temenku nyari suruh langsung ke atas saja".


Yang Dila maksud adalah Lita, ya... Lita memang sering datang ke ruko, kadang ikut bantu-bantu juga, tapi kali ini Lita mengatakan mau datang ke ruko karena ada saudara sepupu dari Jakarta yang datang dan pengen mencicipi rice bowl ayam suwir buatan Dila.

__ADS_1


Lita sering sekali menceritakan tentang Dila pada sepupunya itu. Sehingga sepupunya penasaran dengan teman Lita yang berhasil berbisnis di usia muda.


__ADS_2