Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 82


__ADS_3

Pagi hari saat adzan subuh Dila terbangun dari tidurnya, karena bunyi telepon masuk yang berulang-ulang, ternyata telepon dari rumah, Dila melihat itu adalah panggilan telepon ke 16.


Dila langsung menerima panggilan masuk itu masih dengan mata mengantuk karena semalam dirinya baru bisa tidur sekitar jam 12. Suara bi Ana terdengar jelas dari dalam ponselnya. Bi Ana mengabarkan jika sejak jam 2 pagi El terus merintih, badannya sangat panas meski sudah diberi penurun panas.


Tanpa bicara panjang Dila langsung menutup panggilan itu, Dila buru-buru mandi dan sholat subuh terlebih dahulu.


" Mas bangun Mas, sudah jam 5 pagi, mandi dan sholat dulu, tadi bi Ana telepon katanya El panas badannya, aku mau pulang sekarang kerumah, kamu mandi dan sholat dulu, nanti nyusul pulang".


Indra mengerjapkan matanya menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi.


" Aku bawa mobil kamu ya Mas, kalau nunggu kamu mandi dan sholat terlebih dulu nanti kelamaan".


Dila langsung mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar hotel. Indra masih belum sadar sepenuhnya, dan mendudukkan dirinya menyandar ke kepala ranjang.


Badannya memang masih sangat sakit seperti remuk, padahal saat semalam merayu dan mencumbu Dila, rasa sakit dan perih itu sudah menghilang, entah mengapa pagi ini bangun tidur langsung terasa nyeri dan sakit semua anggota badannya.


" El panas, kenapa tidak tepat waktunya, aku juga sedang butuh perhatian, kenapa Dila malah pulang ke rumah. Ya ampun Indra... apa sekarang kamu juga cemburu dengan anak kandungmu sendiri", Indra menepuk kepalanya sendiri agar segera tersadar.


Dila yang sudah sampai di rumah langsung berjalan menuju kamar El, disana masih ada bi Ana dan bi Darsih.


" Apa neneknya El nggak nginep disini bi?", Dila langsung menyentuh kening El, memang masih panas.


Darsih dan Ana menggelengkan kepala bersamaan.


" Semalam El baik-baik saja, makanya Bu Fatma pulang setelah El tidur, nggak tahu kenapa ini tiba-tiba tadi panas", terang Ana.


" Kapan El diberi penurun panas bi?".


" Jam 2 dini hari Dil".


" Tolong bi Darsih siapkan sarapan buat El, biar dia sarapan dulu sebelum minum obat lagi".


Dila mengambil kompres dan menyuruh semuanya keluar dari kamar El. El butuh istirahat tenang dan oksigen yang banyak. Dila sengaja membuka pintu jendela kamar El agar udara pagi masuk ke dalam kamar.


Hari ini El terpaksa ijin tidak masuk sekolah karena setelah sarapan dan minum obat penurun panas lagi, Dila mengompres El, hingga El tertidur, karena sejak jam 2 dini hari El terbangun dan tak bisa tidur lagi.


Saat Indra sampai rumah jam setengah 7 pagi, El sudah tertidur dengan pulas, Dila masih menemani di sampingnya, begitu telaten mengganti kompresan jika sudah terasa dingin.


Indra menatap Dila dari pintu kamar El, " Sungguh istri dan ibu idaman, pantas saja El sangat menyayanginya, karena bahkan kasih sayang Dila pada El, melebihi siapapun", batin Indra.


" Apa sudah mendingan?", Indra masuk ke kamar El dan Dila menengok ke arah pintu, memang sejak tadi Dila terus menatap El dan tidak tahu kedatangan sang suami.

__ADS_1


" Ssstt.....".


Dila mengangguk sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir, kemudian berdiri dan mendorong Indra untuk keluar dari kamar El.


" El baru saja bisa tidur, sebaiknya jangan menimbulkan suara di dekatnya, Mas apa sudah sarapan?".


Indra menggeleng, Dila pun terus mendorong Indra sampai mereka berada di ruang makan.


" Kita sarapan dulu Mas, mumpung El tidur, nanti takutnya kebangun nyariin aku, bisa nangis kalau tahu aku nggak nemenin dia".


Dila mengambilkan nasi, lauk, dan sayur untuk Indra, baru dia mengambil untuk dirinya sendiri.


" Makan yang banyak biar kamu cepet sehat, lihat tampilan kamu masih penuh luka seperti ini membuat badanku terasa ngilu Mas".


Dila mulai menikmati sarapannya.


" Aku nanti ijin lagi saja ke kantor, El sakit, kamu juga pasti capek, semalam ngurus aku, terus sekarang harus ngurus El", Indra memang masih saja suka merasa tak enak pada Dila.


" Nggak papa Mas berangkat kerja saja, luka Mas belum sembuh, jangan biarkan El melihat Mas dengan tampilan seperti ini", ujar Dila.


" Selamat pagi semuanya?, kalian sudah pulang rupanya, ibu kira belum pulang karena nggak kasih kabar, makanya ibu kesini buat anter El sekolah", Fatma tiba-tiba muncul dari ruang tamu.


" Ibu, aku sedang makan, jadi ibu lihatnya jangan terlalu dekat seperti itu", Indra memundurkan kursinya menjauhi sang ibu.


" Kalau ibu disini, benar kata Dila, lebih baik aku berangkat kerja saja, dari pada pusing mendengar ceramah dari ibu yang tidak akan selesai sampai berjam-jam", batin Indra.


" Apa karena ini makanya kamu minta ibu buat jemput El kemarin?", Kini Fatma bertanya pada Dila karena Indra tak juga buka mulut saat ditanya.


" Iya Bu, memang karena itu", jawab Dila, " Oh iya..., hari ini El ijin nggak berangkat ke sekolah, karena dia baru bisa tidur, semalam El demam, sekarang juga masih anget", ucap Dila memberi tahu ibu mertuanya.


Fatma pun terkejut, " semalam waktu ibu pulang dari sini El masih baik-baik saja", Fatma berdiri dan hendak menuju kamar El, namun Dila menahan lengannya.


" Jangan membuat suara berisik disana, ibu bisa membangunkan El, kasihan dia baru bisa tidur".


Fatma mengangguk, " Tenang saja, ibu cuma mau melihat keadaan El saja. Kamu hutang cerita sama ibu tentang mengapa Indra sampai seperti itu loh Dil".


Dila mengangguk, " iya, nanti Dila ceritakan semuanya Bu".


Fatma langsung menuju kamar El, sedangkan Indra dan Dila menyelesaikan sarapan mereka.


Saat Fatma kembali ke ruang makan, Indra sudah berangkat ke kantor tanpa pamit pada ibunya. Indra memang sengaja kabur karena malas menjawab pertanyaan ibunya yang begitu banyak.

__ADS_1


" Dasar selalu saja seperti itu, kabur setiap kali ibu mau tanya-tanya, umur si iya sudah kepala 3, tapi kelakuan kaya anak kecil".


Dila meringis mendengar ibu mertuanya ngomel-ngomel karena tingkah laku putranya.


" Dila yang akan cerita sama ibu, Mas Indra sudah kesiangan, jadi buru-buru berangkat, takut kena macet", ucap Dila beralasan.


" Kamu itu selalu saja membela suamimu, padahal memang dia itu tingkahnya seperti anak kecil. Sekarang ayo cerita sama ibu, kenapa Indra bisa mukanya babak belur seperti itu?". Fatma duduk di samping Dila.


Mumpung El belum terbangun, Dila pun menceritakan tentang kejadian kemarin, dengan jujur.


Fatma awalnya nampak kesal pada Dila, karena sikapnya tidak benar sudah menemui laki-laki lain tanpa sepengetahuan Indra, namun mau bagaimana lagi, itu sudah terjadi, dan Fatma tidak bisa protes.


" Kamu itu, lain kali kalau mau ketemuan dengan siapa saja, harus ijin sama suami, karena memang seperti itu ajaran dari agama yang kita anut".


Dila mengangguk sambil meminta maaf. Dila memang sadar dialah penyebab utama dari kejadian saling pukul kemarin.


" Terus apa teman mu itu menuntut Indra karena sudah diserang begitu saja?".


Dila menggeleng mendengar pertanyaan ibu mertuanya. " Mas Kunto ku suruh pulang, sampai sekarang Dila belum menanyakan kabarnya, takut Mas Indra marah lagi".


Fatma mengangguk, membenarkan ucapan Dila.


" Padahal dia lebih parah keadaannya kemarin, Mas Indra mukulinnya tanpa ampun, bahkan giginya sampai ada yang copot pas di tonjok Mas Indra".


" Apa?, benarkah separah itu?, wah kasihan dong anak orang dibuat babak belur sampai giginya copot".


Fatma meminta nomer Kunto pada Dila, bagaimanapun Fatma masih punya rasa bertanggung jawab, karena yang membuat Kunto babak belur adalah putranya.


" Apa ini Nak Kunto?, saya Fatma ibunya Indra, mertua Dila". Fatma sengaja melakukan video call agar bisa melihat Kunto secara langsung.


Fatma memang bisa melihat wajah Kunto lebih parah dari Indra, bahkan matanya bengkak biru, dan bibirnya pecah dan bengkak, pasti sangat sakit.


" Maaf karena putra ibu sudah membuat nak Kunto jadi luka-luka seperti itu, anak saya memang seperti itu, cemburuan kalau ada yang mendekati istrinya, apalagi kalau sampai peluk-peluk, sudah pasti emosinya tidak bisa di kontrol, pengennya main pukul dan tendang begitu saja".


" Saya harap Nak Kunto tidak membawa urusan ini ke jalur hukum, saya sebagai ibunya minta maaf atas kelakuan putra saya".


Dari layar ponsel Fatma, Kunto nampak berdiri dari duduknya. " Maaf ibu, saya sudahi dulu ngobrolnya, saya sudah dipanggil sama dokter, mau masuk dulu". Kunto mengakhiri telepon dari mertuanya Dila. Ternyata sejak tadi Kunto sedang mengantri di klinik, dan tadi mendapat giliran diperiksa.


" Wah... Kunto lagi berobat Dil, jangan-jangan lukanya serius, benar kata kamu, ibu tadi lihat giginya patah satu, bagaimana ini, apa ibu kesana untuk membuatnya setuju agar kejadian kemarin tidak dibawa jalur hukum?", ucap Fatma.


" Nggak perlu Bu, sepertinya Dia tidak akan melaporkan mas Indra ke pihak berwajib, karena dia juga bersalah sudah membuat gara-gara dengan memeluk Dila, dia pantas mendapatkan pelajaran", ujar Dila.

__ADS_1


__ADS_2