
Nino menyalakan motornya, dan El naik di depan Nino, karena motor Nino jenis motor matic, memudahkan El untuk naik dan berdiri didepan.
" Loh, kok El naiknya disitu sih?, dibelakang saja sama Tante", Dita menepuk jok motor belakang menyuruh El naik di belakang, selain takut El masuk angin jika naik di depan, Dita juga tidak enak berboncengan dengan Nino tanpa penghalang. Jika ada El di tengah- tengah mereka pasti akan lebih nyaman.
" Nggak mau disitu Tante, sempit, dan panas, kalau disini kan kena angin, jadi sejuk. El mau naik di sini saja", El kekeh mau naik di depan Nino.
" Ya sudah nggak papa Dit, lagian perjalanan ke rumah nggak terlalu jauh, cuma 5 menit naik motor juga sudah sampai, jadi El didepan nggak masalah, nggak masuk angin karena cuma sebentar". Nino berusaha mendukung kemauan El. Dari pada kelamaan berunding, dan tidak pulang-pulang.
Dita terpaksa setuju, dan naik ke atas motor. Karena dirinya menggunakan baju trening, Dita pun membonceng dengan menghadap kedepan, karena akan aneh jika dirinya membonceng menyamping seperti jika dirinya membonceng teman saat pulang sekolah. Itu karena dirinya memakai rok.
Nino menjalankan motornya, jalanan yang mereka lewati cukup ramai.
" Mas, apa bisa lewat jalan terobosan saja?, kalau lewat jalan raya hari minggu begini pasti ramai, nggak enak kalau banyak orang lihat", ujar Dita.
Nino pun membelokkan stang motornya dan menuruti keinginan Dita untuk melewati jalan terobosan, yang melalui jalan kecil pinggiran sawah.
" Kenapa minta lewat terobosan?, apa rumah pacar kamu di sekitar jalan raya?, kamu khawatir pacar kamu salah sangka karena kamu berboncengan dengan cowok lain?", tanya Nino yang memperlambat laju motor, karena jalan terobosan adalah aspal yang rusak dan banyak lubangnya.
" Pacar.... ?, mana boleh Dita pacaran, kalau sampai Dita pacaran bisa-bisa bapak nggak mengijinkan Dita sekolah lagi. Disuruh nikah sekalian, masih sekolah pacaran", gumam Dita.
" Jadi sama ya peraturannya?", tanya Nino.
" Apa?, sama peraturannya gimana maksud Mas Nino?", tanya Dita bingung.
" Iya, kamu dan Dila, mendapat peraturan yang sama, nggak boleh pacaran saat sekolah. Apa jam malamnya juga berlaku buat kamu?", Nino seolah tahu apa saja peraturan yang Toto buat, karena dulu dia dekat dengan Dila, jadi sudah sangat paham peraturan dari Pak Toto, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
" Dulu, setiap jam 9 malam, Dila pasti ijin pamit pulang duluan kalau sedang ngobrol santai, karena kalau ketahuan bapak mu, pasti Dila langsung disuruh pulang, atau Dila tidak akan dapat ijin keluar malam lagi", lanjut Nino.
Dita terkekeh mendengar perkataan Nino, " Bener banget Mas, ya sama saja seperti itu, cuman aku kan nggak seaktif mba Dila, paling ikut kegiatan hanya beberapa saja, jadi kalau malam lebih sering di rumah. Nggak kaya Mba Dila dulu yang sering keluar karena mengikuti kegiatan sosial, hehehe".
" Sudah sampai rumah, makasih Om !".
__ADS_1
Ucapan El membuat Nino dan Dita yang sama-sama sedang tersenyum baru menyadari jika mereka sudah sampai di depan rumah Dita.
Nino mengerem motornya dengan mendadak karena hampir saja kelabas masih terus jalan, padahal sudah sampai pada tujuan.
Ckiiiit...,
" Duk...!".
Karena mengerem secara dadakan, kepala El tak sengaja membentur bagian stang motor. Bersamaan dengan Dita yang terpental kedepan hingga bagian dadanya membentur punggung Nino.
Nino bisa merasakan dua gundukan kenyal melekat di punggungnya meski hanya sesaat, karena Dita buru-buru mundur dan turun dari motor seperti orang yang salah tingkah.
" Aduh.... Om gimana sih, kok malah ngerem mendadak !, kan El jadi kejedot nih....", El mengusap-usap dahinya yang membentur bagian tengah antara stang motor, El pun turun dari motor Nino.
" Maaf-maaf, Om nggak sengaja, Nino justru masih merasakan seolah dua gundukan kenyal milik Dita masih melekat di punggungnya, padahal Dita sudah turun sejak tadi.
" Sudah-sudah...., Om Nino nggak sengaja, tadi lagi asyik ngobrol jadi nggak sadar sudah sampai rumah", Dita mengusap-usap dahi El yang tadi terbentur dengan telapak tangannya.
" Makasih mas Nino, sudah dianter sampai rumah" ucap Dita tanpa menatap langsung ke mata Nino, ada perasaan canggung karena senggolan tak sengaja yang baru saja terjadi.
Karena melihat Dita tetap diam tak menyuruhnya mampir, Nino pun langsung berpamitan.
" Saya langsung balik ya Dit, jangan lupa nanti malam ke rumah, nanti akan ku sampaikan pada ibu kalau kamu akan datang", ucap Nino sambil melajukan kembali motornya.
Dita mengangguk, " Iya Mas, sekali lagi saya ucapkan terimakasih", ucap Dita sambil menggandeng tangan El untuk masuk kedalam rumah. Tapi justru El mendahului Dita berlari masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
Belum sampai Dita masuk ke rumah, ada motor bapaknya yang berhenti di depan teras. Setelah menyetandar motor nya, Toto mengangkat sekarung beras dari boncengan motor nya. Ternyata sang bapak habis menyelip padi di gilingan. Untuk dibawakan Dila nanti ke Jakarta.
" Kamu kok bisa boncengan sama Pak Kades, Dit?", tanya Toto sambil mengangkat sekarung beras menuju kursi yang ada di teras.
" Ternyata bapak lihat ya ?, tadi Dita nggak sengaja ketemu di taman, waktu habis senam. Mas Ninonya disuruh mengisi sambutan di acara senam tadi, buat mengumumkan akan dimulainya pembangunan pasar badog", Dita lebih dahulu menjelaskan, sebelum bapaknya memberikan banyak pertanyaan.
__ADS_1
" Nggak bisa apa kamu pulang sendiri?, harusnya kamu mempertimbangkan sebelum pergi, kamu mampu apa tidak berlari sampai pulang ke rumah lagi, bukan malah merepotkan dan nebeng orang lain. Kamu tahu kan dia itu siapa?", Toto nampak tidak suka Dita pulang diantar oleh Nino.
" Dita sebenarnya masih mampu untuk pulang sendiri Pak, cuman tadi dia nawarin tumpangan, dan nanyanya sama El, bukan sama Dita, karena El setuju, jadi sekalian Dita ikut", jawab Dita menjelaskan.
" Kamu itu pinter cari alasan, bapak cuma nggak mau kamu sering berhubungan dengan dia, bapak khawatir akan berpengaruh pada rumah tangga kakak kamu yang sudah adem ayem, damai dan tentram, bapak tidak mau rumah tangga Dila berubah jadi kacau karena sikap kamu".
Toto masih sangat ingat bagaimana Dila menitikkan air mata di resepsi pernikahan nya saat Nino datang dan memberi selamat kepadanya. Toto tidak mau kalau sampai putri sulungnya kembali bersedih jika bertemu dengan laki-laki itu lagi, karena itulah Toto langsung menceramahi Dita karena berani membawa Nino sampai ke rumah.
Tanpa berpikir panjang, Toto malah jadi menceramahi Dita, membuat Dita kesal, sudah capek lari, pulang-pulang dimarahi sama bapaknya, Dita sungguh menyesal menerima tawaran tumpangan dari Nino.
" Iya, bapak tenang saja, Dita nggak akan ada lagi urusan sama Mas Nino, itu tadi benar-benar cuma kebetulan saja ketemu di taman", Dita melangkah masuk kedalam kamarnya dan berpapasan dengan Dila yang keluar dari kamarnya.
Dita tetap diam dan langsung masuk kamar. Mengetik pesan untuk Mei teman sesama panitia pengajian.
~ Mei, nanti kamu ajak teman siapa saja terserah kamu buat narik sumbangan ke rumah pak Kades, sepertinya aku nggak bisa kesana, ada acara mendadak~ send.
Dita langsung mengirim pesan itu dan merebahkan dirinya diatas kasur.
" Cuma diantar pulang sama Mas Nino saja bapak marahnya sampai begitu!", gerutu Dita.
" Tapi benar juga yang dikatakan bapak barusan, Mas Nino adalah masa lalunya mba Dila, tidak seharusnya aku membawa pulang masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam oleh mba Dila. Seharusnya sebagai adik yang baik, aku harus berusaha menjaga hati kakakku. Baiklah, aku terima omelan bapak pagi ini, anggap saja aku yang salah", batin Dita, terus memikirkan tentang sikapnya hari ini.
Dila menyadari ada sesuatu yang tidak beres, saat El masuk tadi, El langsung menunjukkan jika dahinya terbentur stang motor milik Om-om temannya Bu Dila. Namun saat Dila hendak bertanya pada Dita, justru Dita nampak kesal, begitu juga dengan ekspresi ayahnya yang juga terlihat kesal.
" Dit, mba masuk ke dalam ya?", Dila mengetuk pintu kamar Dita.
" Masuk saja mba ", jawab Dita masih dengan posisi rebahan di kasur.
" Kenapa?, habis joging sama El kok malah kaya kelihatan nggak happy?, apa El banyak berulah disana?", tanya Dila sambil duduk di tepian ranjang Dita.
" Nggak papa kok mba, tadi cuma capek saja, makanya langsung aku bawa rebahan, biar ilang capeknya, mandinya nanti agak siangan saja. Mba jangan deket-deket Dita, Dita bau asem", ucap Dita, yang tak mau memberi tahu kebenarannya.
__ADS_1
" Ya sudah, kamu istirahat saja. Mba keluar dulu kalau begitu". Dila tahu bukan karena capek Dita merasa kesal, pasti ada sebab lain. Tapi Dila tidak mau memaksa Dita untuk bercerita jujur padanya.
" Dita sudah semakin dewasa, pasti dia tahu bagaimana harus bersikap", pikir Dila.