Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 33


__ADS_3

Pagi ini Dila terus meringkuk di kamarnya, Dila sebenarnya mendengar suara El yang terbangun dan memanggil namanya minta dibuatkan susu.


Namun Indra yang datang ke kamar El dan menyuruh Bi Darsih membuatkan El segelas susu. Indra juga memberi tahu El dan menyampaikan pada semua penghuni rumah, jika Dila sedang sakit, dan harus istirahat total.


Saat mengetahui hal itu, Darsih dan Ana langsung ke kamar Dila dan melihat keadaan Dila yang sangat pucat dan badannya panas. Dila menutup rapat tubuhnya dengan selimut hingga menyisakan kepalanya saja yang terlihat.


" Semalam kamu masih baik-baik saja, saat bersama kami bermain ular tangga, kenapa pagi ini tiba-tiba kamu demam dan pucat sekali. Apa kamu kecapekan mengurus El karena harus begadang semalam?". bi Ana memijat-mijat kening Dila yang sangat panas.


Sebenarnya Dila demam dan hidungnya mampet karena terus berada di bawah guyuran air shower selama dua jam sambil menangis, namun justru keadaannya membuat bi Ana dan bi Darsih percaya dengan ucapan Indra jika Dila sakit.


" Biar saya minta tolong Pak Indra untuk nganter kamu ke dokter saja ya Dil, saya khawatir kamu semakin parah".


Dila menggeleng, " tidak usah Bi Darsih, saya hanya butuh istirahat saja, tadi saya sudah minum obat. Tolong jangan biarkan El masuk kesini, aku khawatir dia tertular, titip El dulu ya Bi...", ucap Dila dengan suara serak.


Ya... tentu saja suara Dila serak, semalam dia terus berteriak minta tolong berkali-kali, tapi tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya, sungguh miris.


Bi Darsih keluar sebentar dan kembali ke kamar Dila dengan membawa semangkuk sup ayam hangat, nasi putih dan segelas susu coklat.


" Sarapan dulu Dil, biar cepet sehat dan pulih lagi".


Dila mengangguk, " makasih Bi, bi Ana dan Bi Darsih keluar saja, kalian kan ada banyak pekerjaan, lanjutkan pekerjaan kalian, nanti aku bisa makan sendiri, tunggu sup nya agak dingin", ucap Dila.


Sebenarnya itu hanya alasan Dila agar bi Darsih dan bi Ana keluar dari kamarnya. Tidak mungkin Dila membuka selimutnya dan duduk bersama dengan yang lain, saat lehernya penuh dengan cap merah hasil perbuatan Indra semalam.


Dila masih meringkuk di atas kasur sambil menatap tembok dengan tatapan kosong, pikirannya berkelana kemana-mana. Ingin sekali pergi dari rumah itu, agar tidak bertemu lagi dengan Indra, laki-laki yang awalnya Dila takuti, kini bertambah status, selain takut Dila juga menjadi benci dan jijik hanya mendengar suaranya saja, apalagi jika harus melihat orangnya, bawaan Dila langsung emosi.


Namun disisi lain, Dila sudah janji pada Bu Fatma akan menjaga El selama Bu Fatma sedang di Malaysia. Dila juga khawatir dengan keadaan El jika dirinya harus pergi dari rumah ini, mungkinkah El akan menemukan ganti pengasuh yang baik nantinya?. Dila sungguh merasa dilema.


Jam dinding bergerak dengan lambat saat Dila harus terus tiduran dikamar tanpa melakukan apapun. Dila memakan nasi dan sup yang dibawakan bi Darsih tadi, dan juga meminum susu coklat yang kini sudah dingin.


Ingin sekali Dila keluar dari kamarnya, tapi beberapa bagian tubuhnya masih sakit dan terasa nyeri.


" Sudah makan?".


Tiba-tiba saja Indra masuk ke kamar Dila tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan kembali menutup pintu kamar itu.


Dila langsung membuang muka, enggan menatap orang yang paling di bencinya itu.


Namun Indra tetap duduk di samping Dila, dan berusaha bicara baik-baik pada Dila.

__ADS_1


" Aku sudah menelepon ibu, dan mengatakan semua kesalahan yang sudah ku perbuat pada kamu semalam. Ibu benar-benar marah dan menyuruhku menikahimu secepatnya. Apa kamu mau menikah denganku Dil?"


" Tentang orang tua kamu, biar aku suruh orang-orang ku untuk menjemput mereka kesini".


Dila mengeratkan giginya menahan amarah yang hampir meledak.


" Sudah ada pemuda yang menantikan saya di kampung, dia sudah berjanji akan menikahi saya selesai kuliah nanti, jadi mohon maaf saya tidak mau menikah dengan anda. Saya tahu Anda tidak mencintai saya, begitu juga sebaliknya, saya tidak mau menikah tanpa didasari rasa cinta", ucap Dila sengaja dengan gaya bahasa formal, sehingga terkesan tidak ada kedekatan diantara mereka berdua.


Jawaban Dila membuat Indra tertawa sinis, " apa kamu juga mencintai pemuda itu?, yang ku dengar dari ceritamu selama ini, semua laki-laki hanya kamu anggap teman, karena kamu sendiri belum yakin dengan perasaanmu".


" Pernikahan berlandaskan cinta katamu?. Apa kamu pikir pemuda yang menantikan mu itu akan tetap mencintai kamu dan menerima keadaan kamu yang sudah tidak perawan lagi?".


Pertanyaan Indra mengingatkan ucapannya pada Kunto kala itu, saat dirinya mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang Indra pertanyakan tadi. Dan Kunto, apakah mungkin dia masih mau menunggu Dila yang sudah tak seperti dulu lagi, dan bagaimana jika Dila juga hamil seperti Sarah mantan pacarnya. Pasti Kunto akan merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya.


Sedangkan Nino, dia adalah pria yang baik, jadi apa Dila tega membohonginya, dan jika Dila menceritakan keadaannya yang sesungguhnya, apa mungkin Nino masih mau menerima Dila?.


Dila memijit keningnya yang semakin terasa pening. Benar sekali ucapan Indra, keadaan Dila kini sudah tidak seperti dulu lagi. Semua berubah hanya dalam waktu semalam.


" Apa iya aku harus menikah dengan Pak Indra, setidaknya setelah menikah aku bisa meminta cerai, dengan status janda, setidaknya aku tidak membohongi laki-laki manapun yang kelak akan menikahiku, itu lebih baik. Dari pada aku bersetatus belum menikah, tapi saat malam pertama ternyata sudah tak bersegel lagi", ucap Dila dalam hati, terus mempertimbangkan baik buruknya.


Tapi menikah di usia muda, baru 17 tahun, itu tidak pernah terlintas di pikiran Dila sebelumnya. Cita-citanya ingin menjadi guru sekaligus pengusaha yang sukses sudah terpatri dihatinya. Dan Dila berharap bisa mewujudkan cita-cita nya itu.


" Aku sudah ber itikad baik dan bertanggung jawab dengan mengajak kamu menikah, jika kamu tetap menolak, itu adalah murni keinginanmu. Jadi jangan salahkan aku di kemudian hari". Indra berdiri dan hendak keluar dari kamar Dila, namun ucapan Dila menghentikannya.


" Namun jika ternyata aku hamil gara-gara kejadian semalam, maka Tuan bisa membebaskan aku setelah anak dari dalam perutku lahir".


Indra mendengus kesal mendengar ucapan Dila, " Kenapa seolah-olah kamu mau menikah denganku karena terpaksa?, apa kamu sadar kamu hanya gadis kampung yang wajahnya pas-pasan, bahkan ada tompel di pipimu, apa kamu pikir kamu sangat cantik dan begitu banyak pria yang memujamu?, masih untung aku mau bertanggung jawab atas perbuatan ku, malah kamu sok-sokan mengajukan syarat !".


" Apa kamu akan menolak pernikahan ini jika aku tidak menuruti syarat yang kamu ajukan?".


" Lagian siapa yang sudi menyentuh gadis kampung sepertimu lagi, kalau tidak gara-gara mabuk dan obat perangsang yang dimasukkan Tania diam-diam ke dalam minumanku, aku juga tidak akan mungkin menyentuh kamu!".


Indra keluar dari kamar Dila dengan hati kesal. Bagi Indra, Dila adalah gadis kampung yang tak tau terimakasih, sudah untung Indra seorang CEO tampan dan bergelimang harta, mau menikahinya yang hanya seorang gadis kampung yang berwajah pas-pasan, bahkan sedikit culun dengan tompel dan kacamata tebal yang selalu dipakainya.


" Gadis kampung itu malah menyatakan setuju menikah dengan mengajukan persyaratan ini itu segala macam. Memangnya dia pikir dia itu siapa?", batin Indra merasa kesal.


_


_

__ADS_1


Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Dila sudah merasa lebih baikan dan bisa beraktifitas seperti biasa.


Hari itu adalah hari sabtu dimana Indra libur dari pekerjaannya di kantor. Indra sudah menyuruh orang suruhannya datang ke kampung Dila dan menyampaikan pesan yang sudah Indra tulis dalam sepucuk surat kepada orang tua Dila.


Toto dan Siti langsung bersedia ikut ke Jakarta bersama orang-orang suruhan Indra. Orang tua Dila yang selama ini tahunya Dila bekerja di PT/ pabrik begitu kecewa saat mengetahui selama ini putri nya itu berbohong.


Selama 7 jam perjalanan, Toto dan Siti merasa begitu emosi sekaligus kecewa dengan sikap putri sulungnya itu. Bagaimana bisa Dila diam-diam menjadi seorang pengasuh anak kecil tanpa sepengetahuan siapapun.


Sampai di Jakarta dan memasuki komplek perumahan elit, Toto mulai khawatir dengan perbedaan statusnya dengan laki-laki yang hendak menikahi Dila.


Toto dan Siti sampai tak lama setelah Bu Fatma dan Pak Rizal sampai juga. Mereka berdua juga menyempatkan terbang dari Malaysia ke Indonesia, karena pernikahan putranya adalah sesuatu yang penting, meski mendadak karena sebuah kesalahan.


Dua keluarga berkumpul menjadi satu di ruang tamu, Indra bisa melihat Dila sangat ketakutan dan merasa bersalah pada kedua orang tuanya, sampai-sampai tak berani menatap wajah bapak dan ibu yang sudah 6 bulan ini tak berjumpa.


" Baiklah sebagai orang yang bertanggung jawab dengan pertemuan mendadak ini, saya yang akan mulai berbicara. Pertama-tama perkenalkan nama saya Indra Pambudi, putra bapak Rizal Pambudi, ini ayah saya, dan disebelahnya ibu Fatma, beliau ibu yang sudah melahirkan saya". Indra memperkenalkan orang tuanya satu persatu.


" Dan ini anak kandung saya El Irsyad Pambudi, dia adalah anak yang diasuh oleh Dila selama 6 bulan ini". Indra pun menceritakan bagaimana sikap El sebelum dan sesudah kehadiran Dila di hidupnya.


" El ingin Dila menjadi ibunya, dan kebahagiaan El adalah yang terpenting dalam hidup saya. Namun bukan karena itu saya hendak mempersunting putri bapak, karena saya juga jatuh cinta pda Dila", ucapan Indra membuat Dila kaget.


Ternyata Indra tidak mengatakan apapun tentang kejadian malam itu, Indra berusaha menutupi kesalahan mereka berdua. Dan bahkan berbohong pada kedua orang tua Dila, mengatakan jika dirinya mencintai Dila. Sungguh akting yang sangat memukau. Pantas menjadi seorang aktor profesional, pikir Dila.


Bu Fatma berusaha bersikap ramah pada kedua orang tua Dila. " Silahkan dicicipi suguhannya, maaf hanya seadanya", ucapan Bu Fatma begitu merendah. Bagaimana dia bilang 'suguhan seadanya', jika meja dengan ukuran besar itu berisi penuh dengan makanan dan minuman yang beraneka ragam.


" Maaf kalau rencana pernikahan ini terkesan sangat mendadak, sebenarnya Indra putra saya ini seorang pemimpin perusahaan, dan selalu disibukkan dengan pekerjaannya, sedangkan saya sendiri sekarang sedang tinggal di Malaysia menemani adik Indra yang baru saja melahirkan tiga hari yang lalu. Ini kami berdua berusaha untuk bisa kembali ke Jakarta hari ini juga, agar bisa bertemu bapak dan ibu nya Dila secara langsung, untuk meminta restu untuk pernikahan mereka".


" Kalau memang harus ada pesta di kampung, itu bisa dibahas nanti, sekarang yang terpenting, mereka berdua menikah dulu, supaya kita semua sama-sama merasa tenang".


Ucapan Bu Fatma memang benar, apalagi Dila dan Indra tinggal dibawah atap yang sama. Sebagai orang tua dari pihak perempuan keadaan ini sungguh beresiko dan meresahkan.


" Terimakasih untuk itikad baik yang telah nak Indra dan bapak ibu lakukan. Saya sebagai orang tua tidak bisa menentukan keputusan, karena ini menyangkut kehidupan putri kami kedepannya, maka kami menyerahkan keputusan mutlak pada Dila".


Toto merasa aneh melihat Dila yang berkacamata tebal dan ada noda hitam di pipinya, sejak kapan Dila minus sebanyak itu?, dan noda apa yang ada di pipi putrinya itu?.


Begitu banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Toto dan Siti saat ini.


" Jadi bagaimana Nak Dila?, apa nak Dila berkenan menjadi ibunya El, anak yang sangat nak Dila sayangi?".


Kini semua mata tertuju pada Dila yang masih menundukkan kepalanya. Dan satu kejadian mengharukan tiba-tiba terjadi. El muncul dari dalam rumah sambil membawa buket bunga yang sangat indah.

__ADS_1


" Kak Dila.... maukah Kakak jadi ibunya El?", tanya El dengan mata penuh harap.


Bukan hanya Dila yang kaget dan terharu, tapi Indra, Fatma dan juga Rizal merasakan hal yang sama. Tidak pernah ada sekenario yang melibatkan El di acara pertemuan keluarga hari ini. Apa El berinisiatif sendiri?


__ADS_2