Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 151


__ADS_3

" Sudah selesai Nek, semua barang-barang belanjaan El tadi sudah masuk ke dalam koper. Nanti El bantu bawakan koper nenek saat mau kebandara, nenek tenang saja, El sudah besar dan kuat membawa barang yang berat".


Ucapan El hanya mendapat anggukan dari Fatma, sejak tadi El memang sudah merasa kalau sikap neneknya sedikit aneh. Semua bermula dari saat tadi di Central market bertemu dengan Om Bram. El ingat betul apa yang dikatakan Om Bram, jika ada sesuatu yang dirahasiakan oleh sang nenek. Tapi rahasia apa itu?".


El yang penasaran jadi ingin mencari tahu tentang rahasia yang neneknya sembunyikan. Karena El juga merasa jika Bu Dila mengetahui rahasia itu, rahasia yang sengaja disembunyikan darinya. Saat ini El bukan lagi anak balita yang tidak tahu apa-apa, usianya sudah hampir 10 tahun, dan dia tentu bisa bertindak seperti layaknya orang dewasa, saat rasa penasaran nya tidak bisa dibendung.


Karena itulah kadang Dila khawatir karena El anak yang cerdas dan rasa ingin tahunya cukup tinggi terhadap sesuatu yang membuatnya penasaran. Selama ini Dila juga ingin memberi tahu kebenaran pada El, namun Dila belum dapat momen yang pas untuk mengatakannya, dan lagi menurut Dila Indra dan Bu Fatma lah yang lebih berhak memberi tahu.


Semua berkumpul jam setengah 2 siang, untuk berangkat ke bandara internasional di Kuala lumpur. Indri dan suaminya menyetir mobil sendiri-sendiri, karena harus mengantar ayah, ibu dan seluruh keluarga Indra ke bandara, mobil 1 saja tidak akan muat membawa semua orang sekaligus barang-barang mereka.


Indri melambaikan tangan saat El melambaikan tangan setelah melewati boarding pass.


" Sampai ketemu lagi El...!", seru Indri sambil melambaikan tangan berdada-dada.


El membalas lambaian tangan Indri, " Sampai jumpa lagi Tante Indri, El tunggu kedatangannya di Jakarta", ucap El sambil terus berjalan mengikuti keluarganya.


" Bu Dila, sepertinya Arsy akan rewel lagi di dalam pesawat, lihatlah, baru mau masuk saja , dia sudah mewek-mewek begitu", El yang sedang berjalan di samping Dila langsung menebak, karena melihat Arsy sudah siap menangis.


" Nggak kok sayang, Arsy kan anak baik dan nurut sama ibu, kalau ibu bilang Arsy nanti harus anteng dan nggak boleh rewel, itu berarti Arsy akan anteng", ujar Dila berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Arsy memang sudah tidur siang tadi, dan mungkin meski nanti di dalam pesawat Dila memberi ASI untuknya, Arsy tidak akan tidur seperti saat di pesawat keberangkatan. Namun untungnya perjalanan pulang, Dila duduk bersama ibu mertuanya, Bu Fatma, sehingga Fatma sengaja bertukar tempat duduk dengan Indra, duduk di samping Dila dan membantu Dila bermain-main dengan Arsy.


Beruntunglah Arsy tidak jadi rewel dan dua jam perjalanan dalam pesawat Arsy terus bermain-main dengan ibu dan neneknya.


Saat sampai di Jakarta, Ari dan supir pribadi Bu Fatma sudah menjemput mereka di bandara.


" Nenek, El nitip dulu barang-barang El yang ada di koper nenek, nanti atau besok El main kerumah nenek buat ngambil", ucap El saat mereka harus berpisah karena tujuan pulang yang memang berbeda.


Di rumah El bukannya istirahat seperti ayah dan ibunya, tapi justru El mengobrol dengan Ari di teras depan. Seperti orang dewasa yang sedang mencari informasi tentang sebuah kebenaran.

__ADS_1


" Mas Ari apa Mas Ari punya nomer HP nya Om Bram?, teman ayah yang katanya saudara dari ibu Kayla?", tanya El dengan hati-hati.


" Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan dia?", Ari langsung curiga dengan pertanyaan El. Apalagi Ari tahu, El adalah anak kecil yang cerdas.


" Tidak apa Mas Ari, hanya saja kami sempat bertemu saat di Malaysia, dia mengatakan ingin memberi mainan untukku saat bertemu di Jakarta, karena itulah El ingin menghubungi Om Bram dan menanyakan hal itu".


Alasan El masih kurang meyakinkan bagi Ari, karena tidak mungkin hanya karena sebuah mainan El sampai begitu ingin meminta nomor Bram kepadanya, karena ingin bertemu dengan Bram.


Kenapa justru meminta nomor Bram kepada Ari, bukan pada Indra ayahnya, atau pada Dila yang jelas sudah pasti menyimpan nomernya.


Ari sebenarnya bisa menanyakan pada Lita adiknya Kayla tentang nomer ponsel Bram, karena Ari punya nomer Lita, hanya saja Ari masih ragu dengan alasan yang El katakan.


" Maaf El... sayang sekali, aku tidak punya nomer Mas Bram, kenapa kamu tidak coba tanyakan pada ayah atau ibumu yang jelas-jelas pasti punya nomer Mas Bram", ujar Ari.


" Tidak, ayah sekarang tidak berhubungan baik dengan Om Bram, kalau Bu Dila sekarang sedang sibuk mengurus Arsy, jadi aku minta nomer sama Mas Ari, kalau tidak ada tentu saja nanti El akan meminta pada Bu Dila".


Esok harinya El berpamitan pada Dila untuk pergi kerumah neneknya, mengambil barang-barang belanjaan yang kemarin di titipkan di koper sang nenek.


Indra sudah mulai bekerja, begitu juga dengan Ari yang pagi tadi mengantar Indra ke kantor, El mengatakan akan naik ojek online ke rumah neneknya, Dila yang sedang sibuk mengurus Arsy yang entah kenapa sejak pulang dari Malaysia jadi rewel, jadi mengiyakan begitu saja saat El berpamitan untuk pergi ke rumah neneknya.


El benar-benar naik ojek online menuju rumah neneknya, tapi El teringat pernah diajak ke apartemen tante Lita oleh Bu Dila dulu, karena itu El merubah tujuannya, El justru pergi ke apartemen Lita terlebih dahulu sebelum ke rumah neneknya.


Lita begitu kaget saat membuka pintu rumahnya, ada El yang datang seorang diri. Lita yang sedang hamil besar pun menyuruh El segera masuk ke dalam apartemennya. Kunto sedang bekerja saat itu, dan Lita hanya seorang diri di apartemen nya.


" El... ada apa pagi-pagi begini kamu ke apartemen tante?, apa terjadi sesuatu pada Bu Dila?", tanya Lita dengan ekspresi panik, karena El baru pernah datang seorang diri ke apartemennya.


" Ibu tidak tahu El pergi ke apartemen Tante Lita, sebenarnya El mau minta tolong sama Tante Lita", ucap El dengan nada memelas.


" Minta tolong apa sayang?".

__ADS_1


Lita menatap El dengan seksama, dari raut wajah El, sepertinya tidak sedang ada masalah, " Kenapa El meminta tolong padaku?, kenapa aku?", batin Lita.


El duduk mendekat di samping Lita, dan menceritakan pertemuannya dengan Bram di Malaysia.


" Bolehkah aku minta nomer om Bram?, El ingin bertemu dengannya".


Lita nampak bingung, " Tante nggak bisa ngasih, kalau sampai ibu atau ayah kamu tahu kalau Tante yang kasih nomer Mas Bram sama kamu, bisa jadi masalah kedepannya. Bagaimana kalau kamu yang masih nomer kamu sama Tante, biar nanti Tante kirim nomer kamu ke Mas Bram", ujar Lita nyari aman.


El mengangguk setuju, dan langsung memberikan nomer ponselnya pada Lita. setelah Lita menyimpan nomor El. Lita menghubungi Bram dan menceritakan jika El sedang di apartemennya. Lita juga mengirimkan kontak nomer El pada Bram.


Bram memang sudah kembali ke Indonesia, tapi saat ini dirinya sedang ada di kantor, banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya sehingga belum bisa bertemu dengan El pagi ini.


El mengerti akan kesibukan para orang dewasa, karena itu El meminta Bram untuk meluangkan waktu siang ini, saat istirahat bertemu dengan El di kafe RX. Bram setuju.


Karena sudah berhasil menghubungi Bram, dan sudah janjian ketemu nanti siang, El pun pamit pada Lita, karena hendak pergi ke rumah neneknya terlebih dahulu, agar alibinya kuat.


" Jangan bawa-bawa Tante kalau nanti kamu kena omel sama ayah dan ibu kamu loh El. Tante nggak ikut-ikutan", ujar Lita tidak mau disalahkan dan tidak mau ikut campur.


Sebenarnya Lita kasihan pada El, karena ucapan Bram, El harus mencari tahu tentang rahasia tentang dirinya yang sebenarnya sudah cukup banyak yang mengetahui. Hanya saja semuan yang tahu masih bungkam karena tidak mau mendapatkan masalah dengan mencampuri urusan orang lain.


Apalagi jika El sendiri yang tahu, entah bagaimana perasaannya, mungkin El akan merasa menjadi anak yang dibuang oleh kedua orang tua kandungnya.


Lita menyadari jika saudara perempuannya memang sangat keterlaluan selama ini. Sudah tahu salah tapi tidak pernah meras bersalah dan tidak mau mengakui kesalahannya.


Bahkan sekarang Kayla kembali tinggal di Jerman, beberapa bulan setelah pernikahan Lita, Kayla kembali ke Jerman dan mungkin akan menetap disana. Entah ibu macam apa Kayla itu, yang tidak pernah merindukan putra kandungnya sendiri.


" Dan satu lagi pesan Tante, mungkin keluargamu memang merahasiakan sesuatu kepadamu, tapi Tante Lita pikir, mungkin itu semua mereka lakukan karena mereka benar-benar menyayangi kamu. Jadi jangan pernah salahkan keluargamu apapun yang kamu dengar dan kamu ketahui setelah ini El...".


El mengangguk mengerti dan pergi dari apartemen Lita, menuju ke rumah neneknya.

__ADS_1


__ADS_2