Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
bBab 106


__ADS_3

Rumah sakit Medika yang menghadap ke arah barat memang membuat matahari senja terlihat lebih menawan. Lukisan alam dengan latar awan berwarna jingga dan semburat kemerahan di langit barat menandakan siang akan segera berganti malam.


El membuka mata sambil mengernyitkan keningnya karena silau dari sorot matahari senja yang menerobos masuk melalui jendela kaca dikamar nya.


Memang sejak sejam yang lalu El sudah dipindahkan dari IGD ke kamar yang ada di lantai 3, kamar yang menghadap ke barat, dengan dinding kaca lebar yang mengelilingi salah satu sisi ruang kamar itu.


Rizal sudah ada di kamar El bersama dengan Fatma. Tentang masalah dan keruwetan tadi siang Rizal tidak tahu sama sekali. Fatma sudah memberi tahu Dila dan Indra agar tetap merahasiakan kebenaran jika El bukan darah dagingnya.


Dan tentang kehamilan Dila juga sudah Rizal dengar kabarnya, karena itulah Rizal membiarkan Indra tetap bersama Dila, dan dirinya beserta istri yang akan menemani El.


" Nenek, bisakah nenek menutup tirai jendela itu?, mata El silau melihatnya", suara lirih El membuat Fatma yang tengah berdiri di dekat jendela segera menutup tirai dan menghampiri El yang sudah sadar.


Rizal sejak tadi masih sibuk menscrol layar ponselnya, membaca kabar terbaru yang sedang trending di portal berita online yang sedang dibukanya.


" Cucu kakek sudah siuman". Rizal menghampiri El dan duduk di tepian ranjang, perlahan Rizal mengusap kening El yang sedikit berkeringat. Padahal nyala AC sudah cukup dingin, tapi El masih tetap saja berkeringat.


Fatma menatap perlakuan Rizal yang begitu menyayangi El. Mungkinkah sikapnya akan tetap sama jika suaminya itu mengetahui kebenaran bahwa El bukan cucunya?.


" Apa yang sekarang El rasakan?, apa ada yang sakit?", tanya Rizal dengan lembut.


" El mengangguk, kepala El sakit, tubuh El terasa perih Kek", jawab El dengan polosnya.


" Bu Dila bagaimana Kek?, apa ibu baik-baik saja?". El sempat melihat Dila langsung mengejar nya saat El masih sadar usai kecelakaan. El juga melihat saat Dila limbung dan jatuh di tengah jalan sepertinya. Karena itulah El menanyakan kabar Dila.


" Ibu Dila sedang istirahat, sama seperti El, Ibu Dila butuh istirahat, karena tadi Bu Dila pingsan saat melihat El ditabrak mobil", ujar Fatma menjelaskan.


" Maafkan El karena El tidak menuruti perintah Bu Dila agar tetap menunggunya di kelas. El melihat Lili makan es potong, karena ingin makan es potong juga, El jadi menghampiri penjual es potong di depan sekolah". El berusaha menjelaskan kronologi kejadiannya.


" Iya sayang, nggak papa, untung saja luka El nggak parah banget, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang penting, mulai sekarang El harus nurut sama orang tua, El harus banyak makan dan minum obat yang teratur biar cepet sehat".


" Apa El tahu... sudah ada adik bayi di dalam perut Bu Dila, dan kita harus menunggu 8 bulan lagi sampai adik bayi keluar, dan El akan segera punya adik bayi yang lucu", Fatma sengaja memberi tahu El jika Dila sedang hamil agar El senang dan semangat untuk sembuh.


" Benarkah Nek?, wah.... El mau punya adik, El harus cepat sembuh agar bisa sholat dan berterima kasih sama Allah".

__ADS_1


" Allah sudah sangat baik mengabulkan doa El selama ini". El tersenyum sumringah meski keadaannya masih banyak perban dan luka-luka.


Bahkan Rizal dan Fatma begitu terharu melihat reaksi El saat mengetahui dirinya akan punya adik.


" Terus mulai sekarang, El sudah nggak boleh minta gendong sama Bu Dila, soalnya kasihan Bu Dila kalau El minta gendong, ada adik bayi di perut Bu Dila, itu saja sudah berat, jadi El nggak boleh minta gendong, kasihan Bu Dila jadi tambah berat", imbuh Fatma.


El mengangguk mengerti, memang sudah saatnya El punya adik, sebentar lagi dirinya masuk SD, dan kebanyakan temannya sudah punya adik, bahkan ada yang sudah punya adik dua, karena adiknya kembar.


" Apa El boleh ketemu sama Bu Dila Nek?", pinta El pada Fatma, El nampak ingin sekali melihat keadaan Dila, namun Fatma menggelengkan kepalanya, belum mengijinkan El kemana-mana. El masih sakit, tentu saja Fatma tidak mengijinkannya untuk keluar dari kamar rawatnya.


" Kita Videocall saja sama Bu Dila ya, biar El bisa ngobrol sama Bu Dila dan bisa melihat keadaannya, tapi El nggak perlu keluar dari kamar ini, El masih sakit sayang....".


El mengangguk setuju, Fatma pun langsung mengambil ponselnya, namun Rizal menyerahkan laptopnya, karena pulang kerja langsung ke rumah sakit tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu, jadi laptop terbawa sampai kamar El, " pakai ini saja, biar lebih jelas dan lebih gede gambarnya".


Rizal menyambungkan Skype melalui laptopnya. El pun langsung mengobrol dengan Dila dan Indra. Saling menanyakan kabar dan mencurahkan segala kerinduan dan kekhawatiran karena sama-sama saling perduli satu sama lain.


El lebih merasa tenang setelah Dila memberi penjelasan tentang keadaannya, dan juga meminta agar El menurut pada nenek dan kakek agar lekas sembuh, dan bisa bersama-sama lagi.


Begitu juga di grup yang Dila ikuti, sangat banyak pertanyaan yang berusaha mengklarifikasi berita tersebut. Akhirnya setelah selesai ngobrol melalui Skype dengan El, Dila memilih mematikan ponselnya.


Terlalu banyak pertanyaan dan terlalu banyak orang yang mengirim pesan, Dila bahkan belum membuka satupun pesan di WhatsApp nya. sudah mencapai ratusan pertanyaan, belum lagi chat yang mengalir begitu cepat di grup, membuatnya merasa tidak nyaman, dan memutuskan untuk mematikan ponselnya.


" Kenapa dimatikan?, pada ribut nanyain keadaan kamu dan El ya?". Indra kembali menemani Dila setelah selesai sholat Isa di kamar itu.


" Iya mas, jaman sekarang cepet banget berita menyebar. Aku bingung mau bales yang mana dulu, kepalaku pusing untuk membaca begitu banyak pesan yang masuk", ujar Dila sambil meletakkan ponselnya yang sudah dimatikan di meja samping ranjangnya.


" Ya... begitulah, semakin canggih teknologi, semakin cepat informasi tersebar. Kalau malas membalas begitu banyak chat, memang mending dimatikan saja. Keputusan mu sudah tepat sayang", Indra menggenggam tangan Dila, seolah menyalurkan semangat agar Dila merasa tenang karena dukungan dari suaminya.


" Sekarang sebaiknya kamu tidur lebih awal, agar keadaanmu segera sehat. Mas akan tidur di sini sama kamu", Indra naik ke ranjang Dila, padahal ranjang dengan lebar hanya 90 cm, tapi Indra tetap ingin tidur berdampingan dan berdesakan dengan Dila.


" Sini tidur disini, menurut browsing yang Mas lakukan tadi, lengan suami adalah bantal ternyaman untuk istri, mau dicoba?", Indra mengulurkan lengan tangannya agar Dila menindihnya kepalanya di lengan Indra.


" Nanti Mas bisa kesemutan kalau posisinya seperti ini sampai pagi", Dila justru tertawa karena posisi mereka.

__ADS_1


"Ini ranjang kecil banget, gimana akan nyaman kalau kita tidur berdua seperti ini Mas, sebaiknya Mas tidur di sofa itu saja, disana juga empuk. Dila cuma khawatir Mas akan terjatuh karena tidur di tepi ranjang seperti itu, tidak akan nyaman Mas".


" Mungkin benar lengan Mas adalah bantal paling nyaman untukku, tapi kalau tempat tidur sendiri, di kamar kita, ini ranjangnya terlalu sempit", ujar Dila. Belum lagi akan sangat canggung dan malu jika ada perawat atau dokter yang tiba-tiba masuk untuk melakukan pengecekan atau pemeriksaan terhadap Dila.


" Ya sudah kalau begitu, Mas tidur di sofa saja, khawatir juga kalau Mas tidurnya nggak tenang dan nendang perut kamu", ucap Indra seraya bangkit dari posisinya dan berpindah tidur di sofa yang tidak kalah empuk dengan kasurnya.


Malam ini semua keluarga Indra tidur di rumah sakit, meski berbeda kamar, karena El bersama nenek dan kakeknya, dan Indra bersama Dila hanya berdua.


Pagi harinya Dila terbangun saat Fatma mengetuk pintu kamarnya. Ternyata Fatma menyuruh ART dirumahnya untuk menyiapkan sarapan pagi yang bergizi untuk Dila, ada salad buah dan juga jus segar yang sengaja di pesan untuk Dila.


" Bu, nanti kan Dila juga dapat jatah makan dari rumah sakit, kalau ibu nyiapin juga dari rumah, Dila jadi dua kali makannya", Dila tentu saja tetap memakan sarapan yang dibawa ibu mertuanya sebagai rasa hormat, tapi nanti jatah makanan dari rumah sakit bisa mubadzir.


" Nanti makan lagi kalau jatah dari rumah sakit sudah datang, kan orang hamil itu cepat lapar, meski kemarin-kemarin belum paham, tapi setelah mengetahui ada perut lain di dalam perutmu, pasti rasa lapar jadi lebih cepat datang, ibu ini sudah berpengalaman", ujar Fatma menjelaskan.


Dila tentu saja tidak berani membantah, mungkin yang diucapkan ibu mertuanya memang benar, orang hamil akan cepat lapar karena ada dua perut yang menyerap sari makanannya. Dila berharap ibu mertuanya segera kembali ke kamar El agar Dila tidak harus menghabiskan semua makanan itu.


" Oh iya, Mas sudah mengabari sekertaris Mas kalau untuk beberapa hari kedepan Mas disini, jadi kalau ada laporan mendesak yang harus di tanda tangani sekertaris Mas akan datang kesini, nggak papa kan sayang?", tanya Indra yang sudah terlihat segar usai mandi pagi di kamar mandi rumah sakit.


" Iya Mas, nggak papa, kalau Mas mau berangkat ngantor juga nggak papa, Dila hanya butuh istirahat saja", ujar Dila.


" Siapa bilang boleh ke kantor, sebagai suami siaga, Indra harus tetap disini, istri lagi lemah karena hamil malah mau di tinggal ngantor, ibu nggak setuju kalau seperti itu", ujar Fatma.


Baru selesai Fatma bicara, Dila sudah merasa perutnya sangat mual, seolah makanan yang baru selesai dimakannya memberontak ingin dikeluarkan lagi. Dila duduk dan meminta Indra membantunya ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi Dila langsung memuntahkan semua isi perutnya.


Huek....huek....huek....


Dila sampai merasa lelah karena telah muntah-muntah cukup lama di kamar mandi, Indra masih merangkul dan menepuk-nepuk punggung Dila, agar Dila merasa nyaman.


" Ini yang ibu khawatirkan, morning sickness, gejala yang biasa terjadi pada ibu hamil di trimester pertama. Pasti Dila sudah merasakan mual sejak kemarin-kemarin, hanya saja pasti Dila hanya mengira dirinya mual karena masuk angin atau karena sebab makanan yang dimakan"


Dila sudah selesai mengeluarkan isi perutnya dan kembali ke ranjang, Ibu mertuanya sangat berisik sejak tadi, Dila sedang muntah-muntah justru Fatma terus bicara.


" Sebaiknya ibu kembali ke kamar El, Dila biar Indra saja yang menjaganya", ujar Indra, karena Indra juga merasa ibunya terlalu banyak bicara pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2