
" Apa kamu nggak bisa tetap tinggal disini Dil?, bersama kami".
Dila menatap Kunto yang ternyata sejak tadi sedang menatap dirinya.
" Nggak bisa Mas, aku harus nyari kontrakan yang dekat dengan rumah majikan ku, lagian ini sudah seminggu aku tinggal disini, berarti sewa kamarku juga sudah selesai".
" Sebenarnya aku merasa nggak enak sama Asri, karena mulai minggu ini dia harus bayar biaya kamar sendirian, tapi mau bagaimana lagi, perjalanan dari sini ke rumah majikan aku itu dua jam perjalanan. Kalau aku tetap tinggal disini aku capek dijalan nya, belum lagi ongkos bolak-baliknya, makanya aku mau nyari kontrakan dekat perumahan elit itu besok".
Kunto mengangguk pelan, " padahal aku itu jarang bisa punya teman cewek yang dekat seperti sama kamu sekarang".
" Dari kecil semua teman dekat ku itu cowok, dari dulu aku nggak pernah bisa ngobrol santai dengan cewek seperti ngobrol sekarang ini sama kamu".
" Karena dari dulu setiap ada cewek yang deket sama aku, ujung-ujungnya malah bikin ribet. Ada yang minta dikenalin sama temen cowok aku, ada juga yang sengaja deketin aku karena pengen jadi cewekku".
" Tapi kalau kamu beda Dil, perasaan kamu itu tulus, menganggap aku hanya seorang teman, meski cowok kamu di kampung belum terang-terangan menyatakan cinta, tapi kamu tetap berusaha menjaga kepercayaannya. Aku salut sama kamu".
" Mungkin hal itu yang membuat aku nyaman sama kamu, dan kadang sepintas terpikir dalam benakku, bagaimana jika kamu jadi pacar aku. Jika itu terjadi, pasti aku menjadi laki-laki paling beruntung di dunia ini".
Dila tahu ucapan Kunto sengaja nyerempet-nyerempet ke arah sana, mungkin Kunto mulai tertarik padanya karena dia merasa nyaman saat bersama Dila, sama seperti perasaan Dila setiap kali bersama Kunto, nyaman.
Tapi Dila belum bisa memutuskan untuk berhubungan lebih jauh lagi dengan lelaki manapun, karena ada Nino yang jelas-jelas sudah mengatakan akan mendatangi bapaknya dan meminta restu saat waktunya tepat nanti.
" Aku yakin, laki-laki tulus, dan baik hati seperti Mas Kun pasti akan mendapatkan pasangan yang baik dan tulus juga, karena aku pernah dengar kata-kata orang bijak, kalau pasangan kita itu adalah cerminan diri kita".
" Mas Kun orang baik, maka akan menemukan jodoh orang yang baik juga".
" Kenapa Mas Kun sekarang putus dengan mba Sarah?, itu karena mba Sarah bukan gadis yang baik untuk Mas Kun".
" Memang lebih baik mengetahui kepedihan itu di awal, agar kita bisa mengobatinya perlahan. Seperti sebuah vaksin yang dimasukkan ke tubuh kita, efeknya perlahan akan menyakiti kita, tapi tubuh kita akan meningkatkan anti body, sehingga kita bisa melewati masa kritis, setelah itu tubuh kita akan semakin kuat jika memang harus menjumpai masalah yang sama, bahasa mudahnya sudah jadi kebal ".
Kunto tersenyum mendengar ucapan Dila,
" Kamu sendiri, apa kamu juga sudah kebal dengan keadaan menyedihkan semacam itu?".
Dila menggeleng, " Sebenarnya aku belum pernah benar-benar pacaran, dari dulu bapakku melarang ku pacaran, bahkan perjanjian sebelum aku mendaftar ke SMK itu, aku harus setuju untuk tidak berpacaran sampai aku lulus sekolah. Karena itulah sampai sekarang aku belum pernah merasakan yang namanya sakit hati".
" Dulu saat SMK aku merasa bapak ku itu kejam, dan tidak sayang sama aku, karena kebanyakan anak seumuran ku sudah berpacaran, bahkan ada temanku yang sering gonta ganti pacar".
" Tapi sekarang aku tahu, bapak melakukan hal itu karena ingin menjagaku agar tidak sakit hati terlalu dini, anak usia SMK masih terlalu labil, jika putus dan patah hati apa yang dipikirkan oleh anak seumuran itu?"
" Sekarang justru aku jadi bersyukur, karena peraturan yang bapak terapkan kepadaku saat itu, membuatku tidak perlu merasakan sakit hati, karena jika dipikir-pikir apa sih pacaran itu?, hubungan yang membebaskan kita untuk saling berpegangan tangan, berteleponan dan berkirim pesan setiap saat, itu sih sebenarnya hanya menghabiskan waktu"
" Mending waktu bertelepon, berkirim pesan, atau waktu berduaan dengan pacar itu di pakai untuk melakukan kegiatan lain, menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman, ikut berorganisasi, bukankah itu lebih seru".
Mendengar ucapan Dila panjang lebar, kini Kunto terkekeh, sekilas melupakan kesedihannya.
" Itu karena kamu belum pernah sungguh-sungguh menyukai atau mencintai seseorang, makanya kamu mengatakan seperti itu Dil".
" Saat kamu sudah merasa cinta atau sayang pada seseorang, pasti kamu ingin menghabiskan waktumu bersama orang yang kamu cinta, kamu ingin terus bertelepon dan berkirim pesan dengannya saat tak bersama, bahkan tidak melihatnya sebentar saja kamu akan merasakan rindu yang sangat besar padanya", ujar Kunto.
__ADS_1
" Apa itu yang Mas Kun rasakan saat pacaran dengan Mba Sarah?".
Pertanyaan Dila membuat Kunto kembali teringat dengan Sarah.
" Mungkin dulu iya, sekarang dia sudah memilih laki-laki lain, jadi tugasku selanjutnya adalah melupakannya. Dia pasti sudah bahagia dengan pria itu, dan bukankah aku juga harus bahagia disini".
Kunto dan Dila terus mengobrol berdua di atas gedung hingga jam 3 pagi, Dila berulang kali menguap, karena sudah mulai tak bisa menahan kantuknya.
" Kalau kamu ngantuk tidur saja, nanti aku gendong kamu kebawah kalau kamu sudah nyenyak".
Dila terkekeh mendengar ucapan Kunto.
" Memang Mas Kun pikir aku nggak berat apa?, mau gendong sambil nurunin tangga".
" Kita turun sekarang yuk Mas, aku sudah ngantuk, pengen tiduran, kepala mulai pusing kalau sudah ngantuk tapi nggak di bawa tidur".
Akhirnya Dila dan Kunto turun dari atap gedung, dan kembali ke kamar mereka, saat mereka sampai di depan kamar, bertepatan dengan Intan yang baru saja pulang kerja.
" Loh Dil, jam segini belum tidur?", tanya Intan sambil melirik ke arah Kunto yang hendak membuka pintu kamarnya.
" Belum Kak, ini baru mau tidur, nggak tahu kenapa semalaman nggak bisa tidur", jawab Dila jujur.
Kunto pun masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya, agar Dila dan Intan lebih leluasa mengobrol, namun diam-diam Kunto memasang telinga agar mendengar percakapan Dila dan Intan.
" Kamu mungkin kepikiran karena besok hari pertama kamu bekerja. Oh iya... besok kamu nggak usah naik bus ke Jakartanya, kata kenalanku, jam 8 pagi besok supir bos kamu akan jemput kamu kesini, aku mau ngomong sama kamu dari kemarin, tapi baru ingat", ucap Intan seraya menepuk jidatnya.
" Benarkah Kak?, wah kebetulan kalau begitu, jadi hemat pengeluaran, karena besok aku juga harus nyari kontrakan untuk tinggal didekat sana", ujar Dila.
" Tapi aku dengar ibunya bos kamu juga sering nginep sih sekarang, karena belum ada baby sitter yang jagain cucunya, tapi kan kamar di rumah itu sangat banyak Dil, jadi kamu nggak perlu nyari kontrakan, semua yang bekerja di rumah itu juga tinggal di sana, kecuali supir pribadi bos kamu yang pulang kalau selesai kerja".
" Ya sudah sekarang kamu tidur, jangan sampai besok kesiangan pas dijemput sama supir bos kamu". Intan hendak masuk ke kamarnya, namun Dila memanggilnya lagi.
" Kak Intan, makasih banyak ya, aku akan berusaha bekerja dengan baik".
Intan mengangguk sambil mengacungkan jempol tangannya.
" Oh iya Dil, satu lagi... kalau aku boleh kasih saran, kamu kerja kesana jangan dengan wajah kamu yang cantik ini, karena Aku dengar bos kamu itu nggak suka kalo lihat gadis cantik di rumahnya, suka marah-marah kalau lihat ada penghuni rumahnya yang terlihat cantik, mungkin karena mengingatkan pada mantan istrinya, jadi mending besok kamu kuncir saja rambut kamu jadi dua, biar kelihatan culun, dan pakai ini".
Intan memberikan kacamata tebal dan tompel palsu pada Dila.
" Apa harus pakai ini Kak?".
Intan mengangguk, " pakai saja, dari pada kamu sudah sampai disana dan di suruh pulang lagi gara-gara bos kamu ilfil melihat wajah kamu yang cantik, mending buat jaga-jaga kamu pakai kacamata dan tompel palsu ini".
Dila akhirnya setuju dan menerima kacamata tebal dan tompel palsu itu.
Kunto bisa mendengar semua percakapan Dila dan Intan, muncul begitu banyak pertanyaan dalam hatinya setelah mendengar percakapan kedua wanita itu.
Suasana kontrakan sepi, semua sudah tidur dengan nyenyak, hingga pagi pun tiba, Dila bangun kesiangan, jam setengah 7 Dila baru bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Dila buru-buru lari ke kamar mandi karena tadi belum subuh, tapi ternyata sampai di kamar mandi Dila mendapati dirinya datang bulan, jadi Dila kembali ke kamar untuk mengambil baju ganti, sabun, juga pembalut.
" Dil, aku berangkat dulu ya, doain aku semoga hari ini lancar, aku juga akan doakan kamu semoga harimu lancar, anak kecil itu menyukai kamu dan betah di rawat kamu".
" Mungkin saat aku pulang kamu sudah nggak ada di kamar, mungkin ini pertemuan terakhir kita hari ini, maafin aku untuk semua kesalahanku selama kita hidup bersama".
Asri memeluk Dila begitu erat, " semoga kita berdua sama-sama sukses, terus hubungi dan kirim pesan padaku, kabari kalau kamu ganti nomer HP".
Dila hanya bisa mengangguk-angguk terus, saat ini Asri sudah menjadi sahabat baiknya, meski baru mengenal dalam hitungan hari.
Asri berangkat lebih awal karena dia harus ke LPK terlebih dahulu bersama teman-temannya. Dila hanya melambaikan tangan melepas kepergian Asri.
" Aku juga mau berangkat Dil, mungkin ini juga pertemuan terakhir kita hari ini, aku mau dipeluk juga kaya Asri tadi", canda Kunto.
" Sudah dipeluk lama kan semalam, apa masih kurang?, bukannya sudah bisa move on?", ucap Dila meladeni candaan Kunto.
Kunto hanya nyengir kuda.
" Aku nggak mau mengucapkan selamat tinggal sama kamu, karena mungkin kita akan bertemu lagi, dan aku akan sering menelepon dan mengirim pesan sama kamu".
" Jaga diri kamu baik-baik di lingkungan yang baru, jika kamu nggak betah, balik kesini saja, jangan ke tempat lain, pintu kontrakan ini selalu terbuka buat kamu".
Lagi-lagi Dila hanya bisa mengangguk mendengar ucapan perpisahan dari teman dekatnya.
Kunto pun pergi berangkat kerja sambil cengar-cengir setelah mencuri pelukan perpisahan pada Dila. Dila yang tidak terima, terus marah sambil menggerutu dengan kelakuan Kunto yang punya hobi baru diam-diam mencuri pelukan darinya.
Dila bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta, jam setengah 8 Dila sudah memasukkan semua barang-barang yang semalam belum dimasukkan ke dalam tasnya.
Evan baru saja sampai di kontrakan, dia terlihat buru-buru pulang, seperti takut kehilangan momen terakhirnya dengan Dila.
" Untung kamu belum pergi Dil, aku sudah takut banget nggak liat kamu lagi"
" Ini buat kamu, jangan dilihat dari harganya ya, tapi lihat dari ketulusannya, buka nanti saja saat kamu sampai di Jakarta".
Dila menuruti keinginan Evan, disimpannya paper bag dari Evan kedalam tasnya karena masih ada ruang kosong.
Saat Evan masuk kamar untuk berganti pakaian, Dila melihat ada seorang pemuda berpakaian rapi sedang bertanya-tanya alamat. Dila buru-buru memasang tompel dan kacamata tebalnya.
Intan keluar dari kamar dan terlihat sedang mengobrol di telepon, lalu melambaikan tangan ke pemuda itu.
Tak lama kemudian pemuda itu mendekati Dila.
" Mbak Dila benar?", tanya pemuda itu sambil menatap Dila, mengernyitkan keningnya, melihat tampilan Dila yang berkacamata tebal dan bertompel di pipi sebelah kiri.
" Iya, ini Dila. Mas supir yang mau jemput Dila?", tanya Intan. Pemuda itu mengangguk.
" Mari Mba, kita berangkat sekarang ke Jakarta", sang supir mengangguk pada Intan sekedar menyapa, dan berjalan menuju mobilnya. Dila menatap kontrakannya sejenak, seperti tatapan perpisahan, kemudian mengikuti langkah supir itu dan ikut masuk ke dalam mobil. Mobil langsung melaju membelah jalan raya.
Evan kembali dari kamar mandi dan tak menjumpai keberadaan Dila yang tadi duduk didepan kamarnya.
__ADS_1
" Kamu sudah berangkat Dil, semoga kita dipertemukan lagi suatu hari nanti".