Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 107


__ADS_3

Dila merasa tiba-tiba perutnya seperti di aduk-aduk. Dan terpaksa memuntahkan semua isi perut yang baru saja berhasil dimasukkannya. Saat dirinya sedang merasa tidak karuan karena mual yang dirasakan, justru sang ibu mertua terus bicara tanpa henti, membuatnya semakin tidak karu-karuan.


Untung saja Indra mengerti keadaannya, dan menyuruh sang ibu untuk kembali ke kamar El. Sejak tadi Dila juga ingin sekali agar ibunya segera pergi agar tidak terus berisik, namun mau mengusirnya tentu saja tidak enak.


Dan akhirnya Fatma pergi, karena harus kembali ke kamar El, Rizal akan segera berangkat ke kantor dan El tidak boleh ditinggal sendirian.


Ternyata morning sickness sangat melelahkan, setiap pagi harinya Dila harus muntah-muntah, meski hanya saat pagi hari, tapi itu cukup menyiksanya, sudah seminggu Dila di rumah sakit, tapi belum ada perubahan, setiap pagi Dila masih terus muntah-muntah.


Bahkan kata dokter keadaan itu mungkin akan terus dirasakan hingga beberapa bulan kedepan. Karena ada beberapa kasus ibu hamil yang memang mengalami fase itu.


Keadaan El sudah semakin membaik, dan sudah diperbolehkan pulang, luka-luka di tubuhnya sudah kering, tinggal jahitan di keningnya yang belum boleh dibuka, hanya dibersihkan dan diganti perban setiap hari oleh perawat.


Dokter sudah memperbolehkan El untuk pulang kerumah, dan masih tetap harus kontrol dua minggu lagi untuk membuka jahitan. Juga untuk mengecek apakah ada gejala lain yang muncul.


Dila memang sudah baikan, hanya saja muntah-muntah nya yang belum berhenti setiap pagi. Tapi Dila minta untuk pulang dan istirahat di rumahnya saja, apalagi Dila sudah tidak berangkat mengajar selama satu minggu, Dila sudah merasa tidak enak pada pihak sekolah. Meski pihak sekolah memaklumi keadaan nya.


Saat diperbolehkan pulang ke rumah, Dila dibekali beberapa macam obat-obatan yang salah satunya adalah obat mual. Dila harus minum obat itu tiap malam, tiap kali Dila mau tidur. Dan hasilnya tiap pagi Dila tidak lagi muntah-muntah hebat seperti saat di rumah sakit.


Dila mulai bisa berangkat ke sekolah lagi, begitu juga dengan El, semuanya mulai kembali beraktivitas normal.


Saat sampai di sekolah, tidak lupa Dila mengucapkan banyak terimakasih atas kunjungan rekan-rekan kerjanya ke rumah sakit saat Dila sedang dirawat kemarin. Memang hampir semua guru-guru dari sekolah Mulia menjenguk Dila.


Bahkan seperti Evan dan Bima menjenguknya sampai beberapa kali. Karena memang mereka sudah cukup dekat dengan Dila, bahkan sebelum menjadi rekan sesama guru. Waktu pertama datang Bima mengajak Ninda, teman KKN dulu, dan Evan mengajak seorang wanita cantik yang katanya adalah temannya.

__ADS_1


Indra tidak mempermasalahkan hal itu, karena Dila tahu bagaimana harus bersikap. Teman-teman Dila juga ternyata asyik-asyik, mereka suka bercanda dan membuat Dila tersenyum saat di rumah sakit. Karena itulah Indra tidak membatasi siapa saja yang ingin menjenguk istrinya itu.


Lita bahkan kembali menjenguk Dila dan El hari ke tiga El dan Dila di rawat di rumah sakit, bahkan Lita datang bersama Kunto. Mereka datang berdua saja, tanpa Kayla. Mungkin Kayla masih belum berani menampakkan batang hidungnya di depan Indra dan Fatma.


Lita dan Kunto terlihat sangat akrab, tapi tentu saja Dila belum berani bertanya hubungan apa yang sedang mereka berdua jalin. Yang jelas saat ini Dila sedang malas untuk banyak berfikir dan mencampuri urusan orang lain. Apalagi Lita adalah adik Kayla, dan Kunto pernah adu jotos dengan Indra beberapa waktu lalu, karena itulah Dila tidak berani mengobrol lama dengan mereka berdua, Indra terus memperhatikan mereka, karena Indra selalu siaga di samping Dila selama satu minggu Dila dirawat di rumah sakit.


Bram juga menjenguk Dila bersama Vino dan Andrew, mereka janjian bertiga, hanya Faris yang tidak tampak. Indra mengira Faris sedang sibuk, padahal yang sebenarnya Faris tidak berani menampakkan wajah nya di depan Indra. Sampai saat ini Indra memang belum mengetahui siapa ayah kandung El, sebenarnya Indra sengaja tidak mencari tahu, tidak berniat bertanya kepada sang ibu dan pada Andrew yang kemarin melihat proses transfusi darah El.


Indra sudah tidak perduli lagi dengan masa lalunya dengan Kayla dalam hal apapun. Karena itu Indra lebih memilih menutup mata selamanya. Biarkan Yang Maha Kuasa yang akan membalas kejahatan dan kesalahan orang-orang jahat seperti mereka.


_


_


" Bagaimana keadaan kamu, apa sudah lebih baik?". Evan berdiri di samping meja Dila saat istirahat jam 12 siang. Evan meletakkan rujak dan sop buah yang dibawanya di meja Dila. " Ini buat kamu, kata orang-orang, ibu hamil itu suka makanan yang seger-seger, jadi aku belikan ini".


Dila menerima pemberian Evan sambil mengucapkan terimakasih. " Kamu nggak perlu repot-repot begini Van, tapi makasih sudah beliin ini semua. Oh iya, yang kemarin datang sama kamu pas jenguk aku ke rumah sakit, siapa?", tanya Dila pura-pura tidak tahu, padahal Bima sudah cerita jika gadis yang bersama mereka adalah sesama guru olahraga yang mengajar di SMA negeri. Evan bertemu saat seminar bersama dan jadi lebih akrab dan lebih dekat sekarang.


" Oh... itu, namanya Mesi, dia sesama guru olahraga, kenapa, cantik ya?", tanya Evan sambil nyengir kuda.


Dila mengangguk, " Kalau dia belum ada yang punya, deketin saja Van, dia gadis yang cantik, dan sepertinya dia ada feeling sama kamu", Dila sengaja menggoda Evan.


Evan hanya diam sambil menatap Dila," Sebenarnya lebih cantik kamu Dil, dan yang paling penting sebenarnya bukan kecantikan fisik, tapi mencari gadis yang cantik hatinya seperti kamu yang lebih sulit saat ini", batin Evan.

__ADS_1


" Sudah lagi PDKT kok Dil, tadi pagi saja aku lihat mereka berdua berangkat bersama, aku lihat Mesi ada di bus yang sama dengan Evan, janjian berangkat bareng kan?". Bima yang baru saja masuk ruang guru ikut bergabung dan mengobrol dengan Evan dan Dila.


" Siapa yang janjian, itu cuma kebetulan Bim, karena ternyata kontrakan kami berada di satu daerah yang sama, dan saat aku sedang menunggu bus, dia juga sedang menunggu bus di halte yang sama, karena itulah kita naik bus yang sama, orang tujuan kita searah", Evan berusaha menjelaskan. Karena dirinya dan Mesi belum sedekat yang Bima dan Dila bayangkan.


" Aku juga lihat kamu kemarin jemput Ninda di Bank XYZ, Hem... gerak cepat, yang lagi pendekatan".


Ninda memang sekarang bekerja di salah satu Bank swasta di Jakarta, usulan Bima agar Ninda mendaftar di perusahaan Indra tidak dilakukan, karena Ninda akan merasa kurang nyaman jika bekerja karena koneksi. Ninda lebih suka diterima kerja karena kemampuannya sendiri. Itulah yang membuat Bima lebih respect terhadap Ninda. Dan kini mereka berdua semakin akrab dan sering ketemu sekedar nongkrong menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka.


Dila membuka rujak dan mulai menikmatinya sambil mendengarkan Bima dan Evan saling menggoda satu sama lain, seperti seorang ABG yang ketahuan lagi PDKT, padahal kedua laki-laki di hadapan Dila adalah laki-laki dewasa yang sudah cukup umur untuk menikah.


Istirahat di jam 12 memang lebih lama, istirahat selama setengah jam, karena selain makan juga diperuntukkan shalat duhur, karena itu mereka bisa saling mengobrol cukup lama.


Hingga Dila menghabiskan rujak dan juga SOP buah pemberian Evan, dan sempat duhur sebentar, bel masuk baru terdengar berbunyi.


Dila masih terus mengajar meski dirinya sedang hamil, sampai dirinya hamil besar Dila masih tetap mengajar.


Beruntung gejala morning sickness tidak lagi dirasakannya, jadi Dila bisa lega karena tidak harus muntah-muntah setiap pagi. Indra juga sudah tidak mempermasalahkan pekerjaan Dila, yang penting Dila bisa menjaga diri dan tidak terlalu capek.


Mungkin sejak kemarin-kemarin, Indra kurang setuju karena Dila belum juga hamil, namun sudah mencari kesibukan lain. Saat ini Dila sudah mengandung anak nya, dan Indra kini jadi tidak lagi mempermasalahkan pekerjaan Dila.


Guru-guru lain dan murid-murid Dila juga banyak membantu nya, misal Dila sedang membawa buku tebal dalam jumlah banyak, siapapun yang melihat akan membantunya membawakan ke kelas. Atau semisal dari kelas membawa peralatan peraga usai praktek, murid-muridnya pasti membantu membawakan benda-benda praktikum ke laboratorium atau ke tempat penyimpanan.


Dila setiap hari berangkat dan pulang sekolah di antar jemput oleh Ari, supir pribadi Indra, kini Indra lebih sering membawa mobil sendiri, karena menghawatirkan keselamatan Dila. Awalnya Dila hendak menolak, tapi tentu saja tidak berani, sejak kecelakaan yang menimpa El, kini Indra menjadi sangat hati-hati dengan keselamatan mereka berdua.

__ADS_1


Dila selalu pulang on time karena tidak diperbolehkan mampir-mampir sepulang kerja. Itulah syarat dari Indra saat mengijinkan Dila untuk tetap bekerja, karena itu Dila harus mematuhinya. Demi kebaikan bersama.


__ADS_2