
Dita dan kedua orang tuanya berangkat dari stasiun kereta api Purwokerto sekitar jam 3 lebih, beruntung Dita bisa memesan tiga karcis online secara mendadak.
Saat kereta yang Dita naiki hendak melaju, Dita bisa melihat dari jendela, Nino yang tengah bersalaman dengan seorang bapak-bapak paruh baya, mungkin itu Pakde nya Mas Nino yang tadi dikatakan akan dijemputnya. Namun Nino juga bersalaman dengan dua orang wanita yang datang bersama Pakde nya, seorang wanita paruh baya dan satunya lagi wanita cantik yang terus tersenyum setiap kali menatap Nino. Gadis hitam manis berambut panjang yang umurnya mungkin beberapa tahun lebih tua darinya.
" Siapa gerangan gadis itu?, mungkinkah gadis yang hendak dikenalkan pada Mas Nino, agar Mas Nino bisa move on dari Mbak Dila?". Dita tahu persis jika Pakde Mas Nino hanya memiliki dua anak laki-laki. Dita memang tahu cukup banyak karena dulu dia tidur sekamar dengan Dila. Dita sering mendengarkan obrolan Dila dan Nino melalui telepon di malam hari, saat dirinya hendak tidur.
Namun pikiran itu hanya terlintas sejenak di otak Dita, Dita lebih memilih menikmati perjalanan di dalam kereta api dengan tidur.
Berada di dalam kereta selama 5 jam 15 menit, Dita gunakan untuk tidur sepanjang perjalanan. Bukan karena Dita pemalas, hanya saja Dia sedang datang bulan di hari pertama, biasanya perutnya akan terasa nyeri dan kram, cara terbaik untuk menghilangkan rasa nyeri dan kram pada perutnya adalah dengan tidur. Apalagi goncangan saat naik kereta, membuat darah haid yang keluar lebih banyak dari biasanya.
Apalagi Dita malas di tanya-tanya atau disalahkan lagi oleh bapaknya perihal dia yang menerima tawaran tumpangan dari Nino. Bukannya apa-apa, Dita menerima tumpangan juga demi kebaikan bersama. Bukankah lebih cepat sampai di Jakarta akan lebih baik.
Mbak Dila pasti butuh seseorang yang mendampinginya, Dita tahu betul wanita yang baru melahirkan sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya. Meski Dita yakin Mas Indra dan Bu Fatma sudah pasti selalu siaga di samping kakaknya, namun Dita juga ingin menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap Dila yang begitu baik dan sangat memperhatikan Dita sejak dirinya masih kecil.
Apalagi bagi Toto dan Siti, anak Dila adalah cucu pertama mereka, tentu saja mereka berdua tidak sabat ingin segera melihat dan bertemu dengan cucu mereka, berbeda dengan keadaan sang besan, yang setahu Toto dan Siti ini adalah cucu ketiga mereka. Meski yang sebenarnya ini baru cucu kedua Bu Fatma dan Pak Rizal.
" Dit... bangun, kita sudah sampai di stasiun Pasar Senen, kamu tidur terus kayak orang pingsan", Siti membangunkan Dita yang sejak tadi terus tidur.
Dita membuka mata, " sudah sampai ya Bu?, kita turun sekarang", ujar Dita sambil mengedarkan pandangannya keluar dari gerbong kereta api. " Ibu dan Bapak tunggu disini dulu, Dita ke toilet umum sebentar, nanti kita naik taksi saja ke rumah sakitnya.
Namun saat berada di toilet umum, Ari menelepon Dita, karena Dita membuat status di WhatsApp nya foto di stasiun Pasar Senen dengan caption, " Welcome back to Jakarta".
~ Halo Mas Ari, ada apa?~ Dit mengangkat telepon sebelum masuk kamar mandi. Dita memang sengaja tidak memberitahu Ari bahwa dirinya sudah sampai, pasti Ari akan menjemputnya ke stasiun, sedangkan Dita tidak enak terus merepotkan.
__ADS_1
~ Kamu sama bapak dan ibu sudah sampai di Jakarta Dit?~ suara Ari nyaring terdengar di ponsel Dita.
Dita pun terpaksa mengiyakan, dan akhirnya tetap Ari yang menjemput mereka ke stasiun. Tentu saja atas permintaan Indra dan Dila.
" Mas Ari, bawa ibu dan bapak pulang kerumah saja dulu, mereka pasti bawa tas besar buat bawa baju ganti, kesininya besok pagi saja, suruh bapak, ibu, dan Dita istirahat di rumah. Di sini sudah ada Mas Indra dan juga suster, ajak El pulang kerumah juga, dia pasti seneng karena Dita ada di rumah",pesan Dila pada Ari, saat Ari hendak menjemput keluarga Dila yang baru datang dari kampung.
" Ibu tetap disini ya Dil, kan nanti El sama Dita dirumah", pinta Fatma yang ingin menemani Dila malam ini. Dila mengangguk setuju.
Benar saja El ikut bersama Ari menjemput Dita dan kedua orangtuanya ke stasiun kereta.
" Tante Dita...!".
Teriakan El membuat Dita yang baru saja keluar dari toilet umum menengok ke arah asal suara.
El dan Ari sudah bersama bapak dan ibunya di bangku tunggu. Dita memang cukup lama berada di toilet umum karena harus berganti pembalut terlebih dahulu.
" Kita baru saja sampai kok Tante. Apa Tante kesini buat lihat adik bayi El yang lucu?", tanya El dengan polosnya.
Dita mengangguk. " Betul banget tebakan El, jadi sekarang kita ke rumah sakit yuk... Tante sudah nggak sabar pengen cium dan gendong adik bayi yang lucu", ucap Dita dengan gemas.
Ari membantu membawakan tas Dita dan Siti, sedangkan Dita menuntun El masuk ke mobil. Toto naik di depan bersama Ari, sedangkan El dan Siti di belakang bersama El.
" Maaf, tapi Dila berpesan, suruh bawa kalian pulang kerumah dulu, karena Dila pikir bapak, ibu dan juga Dita harus istirahat terlebih dahulu. Sekarang sudah jam 9 malam, dan di rumah sakit sudah ada Bu Fatma dan juga Bos Indra. Kalau kebanyakan yang jaga juga nggak boleh di rumah sakit".
__ADS_1
" Nggak papa kan ini kita pulang ke rumah dulu?, besok pagi akan saya antar ke rumah sakit, biar gantian begitu jagain nya, kan besok Bos Indra harus ke kantor, dan Bu Fatma juga butuh istirahat, kalau bisa gantian kan jadi semua kebagian jaga dan bisa istirahat juga", gumam Ari.
Awalnya Siti mau protes, karena dia buru-buru datang ke Jakarta karena ingin sekali melihat cucu pertamanya, namun malah disuruh pulang ke rumah terlebih dahulu. Namun benar juga yang dikatakan Ari, besok dirinya bisa sepuasnya menjaga Dila dan bayinya, dan sekarang biarkan Indra dan Bu Fatma yang menjaganya.
" Ya sudah kita pulang ke rumah dulu nggak papa, tapi sebenarnya saya pengen banget lihat seperti apa wajah cucu saya, apa kamu sempet ambil foto anaknya Dila Ar?", tanya Siti.
" Oh, iya, saya punya banyak fotonya Bu, soalnya bayinya lucu dan sangat menggemaskan, benar-benar cantik mirip Dila, putih bersih dan bibirnya merah, anak artis mah kalah kalau menurut saya", ujar Ari terus memuji putri Indra dan Dila.
" Tentu saja dong Mas Ari, adik siapa dulu, kan adiknya El, jadi harus cantik, El nya saja cakep begini", gumam Dita sambil mencubit pipi El dan menggelitiki perut El, membuat El tertawa karena kegelian.
Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol, hingga tak terasa mobil sudah memasuki kawasan perumahan elit.
" Wah tidak terasa sudah sampai, ayo kita masuk El, kita langsung istirahat ke kamar. Malam ini El akan bobo sama Tante Dita, oke?", ujar Dita sambil menggandeng tangan El saat turun dari mobil.
Ari membantu membawa barang-barang milik keluarga Dila ke dalam rumah bersama Mang Santo.
" Apa kabar Pak Toto?, selamat ya, sekarang sudah punya cucu. Sudah sah jadi kakek-kakek, sama seperti saya", ujar Mang Santo yang menyambut kedatangan keluarga Dila.
" Silahkan masuk Bu Siti, tadi Pak Indra telepon suruh bersihin kamar tamu, katanya bapak dan ibu akan datang, aduh cepet banget sampai, apa langsung berangkat ke sini waktu denger cucunya sudah lahir?", tanya Bi Ana yang juga menyambut kedatangan keluarga Dila.
" Iya betul, tadi langsung berangkat ke sini waktu tahu Dila sudah lahiran. Sebenarnya sudah paking baju sejak kemarin, tapi rencana ke Jakarta nya kan besok, karena tanggal perkiraan Dila melahirkan tiga hari lagi. Tapi malah maju dari perkiraan, ya alhamdulilah kalau sudah lahiran, dan semuanya sehat, malah jadi adem pikirannya", ujar Siti sambil berjalan masuk bersama yang lain.
" Aduh.... tamu jauh, ayo makan malam dulu, sudah saya siapkan makan malamnya, pasti lapar kan sudah melakukan perjalanan jauh", ajak Darsih yang keluar dari dapur sambil membawa piring kosong, ke meja makan, karena semua makanan sudab siap tersaji di meja makan.
__ADS_1
Indra memang langsung menyuruh ART di rumahnya untuk menyambut kedatangan keluarga Dila dengan baik. Apalagi ART di rumahnya sudah cukup dekat dengan keluarga Dila, karena itulah, semua penghuni rumah menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.
Semuanya langsung berkumpul dan duduk mengitari meja makan. Karena memang semuanya belum sempat makan malam, dan akhirnya merekapun makan malam bersama.