Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 44


__ADS_3

Dila melajukan motornya tanpa tahu arah, yang Dila tahu dia ingin pergi sejauh mungkin dan mencari tempat yang sepi dan tenang agar kewarasan dirinya bisa kembali normal.


Saat itu lampu lalu lintas menyala warna merah, Dila pun berhenti di perempatan yang sudah cukup padat dengan kendaraan.


Ditatapnya keramaian yang ada di sekitarnya. Begitu banyak orang yang berhenti di sana, tapi tak ada seorangpun yang dikenalinya. Dila merasa dirinya seperti sebatang kara, bahkan dia tidak punya teman sama sekali di tempat seramai ini. Tidak ada tempat untuknya bisa berkeluh kesah. Air mata yang sudah berusaha Dila hentikan, kembali lolos membasahi pipinya yang masih terasa lengket akibat air mata yang keluar saat dikantor Indra tadi.


Dila melajukan kembali motornya dan membelokkan motornya ke kiri saat lampu lalu lintas di perempatan menyala hijau. Dila terus melajukan motornya, menyusuri jalanan Jakarta yang padat, hingga dirinya sampai di sebuah pintu masuk menuju ke pantai.


" Mungkin sejuknya angin pantai dan suara deburan ombak bisa menimbulkan rasa tenang dan damai yang sedang aku butuhkan", Dila melajukan kembali motornya memasuki kawasan pantai di Jakarta Utara.


Setelah memarkirkan motornya Dila berjalan menyusuri pasir pantai yang terbentang luas.


Udara pantai yang sejuk dan suara deburan ombak membuat suasana hati Dila yang sedang keruh menjadi lebih baik.


Ada beberapa panggilan masuk di ponselnya, termasuk dari Indra dan juga Ari, Dila yang butuh ketenangan memutuskan mematikan ponselnya untuk sementara.


Dila terus berjalan menyusuri tepian pantai yang bersih dan terawat, Dila sengaja melepas sendal yang dia pakai dan menyangking nya agar tidak basah, sesekali ombak menerpa kakinya yang kini tanpa alas itu.


Jejak kaki yang Dila tinggalkan di setiap langkah kakinya seketika terhapus oleh ombak yang menerpa. Seperti itu juga yang Dila harapkan, kenangan buruk dan menyedihkan yang pernah terjadi di hidupnya akan terhapus seperti jejak kaki di pasir pantai yang cepat terhapus oleh ombak itu.


" Sendirian neng?", Dila menatap seorang ibu paruh baya pedagang minuman dan bermacam-macam snack keliling.


" Iya Bu, sendirian", jawab Dila singkat.


" Ini buat neng cantik", Ibu-ibu itu menyerahkan sebotol minuman mineral yang ada manis-manisnya pada Dila, " jangan terlarut dalam kesedihan neng, kan eneng masih muda, muka cantik, masih sehat, kalau ada masalah hadapi saja dengan berani. Jangan terus bersedih, takut ada setan yang lewat, bahaya, lagi di pinggir laut, belum lama ini ada nih cewek yang mau loncat ke laut biar tenggelam gara-gara putus cinta, amit-amit deh neng".


Dila tersenyum, menerima air mineral pemberian ibu-ibu itu dan memberikan uang sepuluh ribu, tapi ibu-ibu itu menolak uang yang Dila berikan.


" Sudah, itu gratis buat neng cantik, yang penting jangan loncat ke air ya, mana ombaknya lagi gede, ingat orang tua di rumah yang selalu menyayangi Eneng, anak muda putus sama pacar mah biasa ".


Dila hanya tersenyum dengan ibu penjual keliling yang sok tahu itu. " Ini diterima saja Bu, kan ibu jualan, pasti buat kasih makan anak dirumah kan?, nanti kalau dikasihkan cuma-cuma ke saya, ibu bisa rugi dong".


" Lagian saya nggak lagi patah hati kok Bu, saya hanya ada sedikit masalah, tapi saya nggak punya siapa-siapa di sini". Dila malah jadi curhat.


" Cerita sama ibu saja Neng, ibu kan lagi nggak ada kerjaan, lagian pengunjung pantai sepi, jam kerja dan sekolah begini nggak seramai kalau akhir pekan. Eneng nya nggak kerja?".

__ADS_1


Dila menatap ibu-ibu itu, apa iya harus cerita pada seseorang agar beban dihatinya sedikit berkurang?, tapi Dila tidak kenal siapa ibu-ibu itu. Atau justru mungkin itu lebih baik, kalau yang dicurhati adalah orang asing, mungkin mereka tidak akan bertemu lagi kedepannya.


" Kok malah bengong sih neng, sok cerita atuh...", logat Sunda ibu-ibu itupun keluar, sepertinya dia berasal dari daerah Bandung dan sekitarnya.


" Saya.... saya mempunyai seorang anak laki-laki berusia 4 tahun".


Dila bisa melihat ekspresi ibu-ibu itu yang nampak kaget, mungkin ibu itu mengira jika Dila masih gadis dan masih sekolah atau kuliah.


" Kamu M.B.A ( married by accident)?", tanya si ibu sambil melotot.


" Bukan bukan, saya menikah dengan duda beranak satu, saya baru menikah tiga hari yang lalu Bu. Tapi....". ucapan Dila terhenti, Dila masih belum yakin akan cerita atau tidak pada ibu-ibu asing itu.


" Wah gadis semuda kamu menikah dengan duda beranak satu, seru nih ceritanya, lanjut lanjut", ibu-ibu itupun menyandarkan sepeda dan dagangannya di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari posisi mereka berada.


Akhirnya Dila memutuskan untuk bercerita, berharap setelah bercerita, dia merasa beban di hatinya sedikit terobati.


" Saya terpaksa menikah dengan suami saya, karena kami melakukan kesalahan satu malam Bu..., awalnya aku datang ke Jakarta untuk menjadi pengasuh putranya, tapi sekarang aku menjadi ibu dari anak yang ku asuh", Dila terus bercerita kepada ibu-ibu itu tentang perjalanan dari kampung hingga di Jakarta.


Ternyata ibu-ibu itu adalah pendengar yang sangat baik. Dari awal sampai akhir Dila bercerita, tak sekalipun dia memotong kalimat.


" Jadi Eneng pergi kesini karena khawatir pulang ketemu sama anak sambung, tapi masih dalam keadaan emosi. Emang bener si kalau bikin keputusan begitu, terus perginya ke pantai, yang suasananya damai, dan tenang, bisa bikin pikiran rileks".


" Ibu sih bukan orang pinter atau orang bener, karena ibu cuma manusia biasa ya neng... tapi kalau ibu boleh kasih saran sebagai orang yang sudah menikah lebih lama dari eneng, coba Eneng bicarakan baik-baik dengan suami Eneng, pernikahan itu bukan sebuah permainan yang bisa dimulai dan diakhiri begitu saja, karena ada begitu banyak pihak yang akan terkena imbas dari keputusan itu".


" Pihak itu mencakup anak, orang tua, keluarga besar, teman dan sanak saudara, jadi jangan buru-buru berpikir bahwa perceraian adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah, karena Yang Maha Kuasa juga tidak suka dengan perceraian".


" Siapa tahu memang suami Eneng sudah nolak itu wanita gatel, coba Eneng minta sama suaminya buat ganti sekertaris, kalau suami neng nggak protes, itu berarti emang suami neng beneran cinta sama neng, suami neng mau neng tetap jadi istrinya".


" Tapi kalau pas minta hal itu suami neng kok kebanyakan alesan, dan tetep mempertahankan itu wanita gatel yang jadi sekertarisnya, itu berarti memang neng kudu waspada".


Tak terasa percakapan Dila dan ibu penjual keliling itu seperti sebuah sesi curhat dengan pakar psikolog, ucapan dari ibu itu membuat Dila merasa lebih baik.


" Makasih buat saran dan masukan nya ya Bu, kalau boleh tahu, ibu namanya siapa?, dari tadi kita ngobrol tapi belum berkenalan", tanya Dila.


" Saya Titin, asli mah dari Garut, tapi habis kawin ikut suami, jadi orang Jakarta deh sekarang, neng cantik namanya siapa?", tanya Bu Titin.

__ADS_1


" Saya Dila Bu. Ibu jadi dengerin cerita saya panjang lebar, maaf ibu malah nggak jadi jualan". Dila merasa tak enak, hendak memberi uang seratus ribu pada ibu itu sebagai ganti rugi karena seharian tidak jualan keliling.


" Sudah atuh Neng, ibu dagang mah bukan buat kasih makan anak, tapi buat cari kesibukan. Suami ibu itu kerja jadi ABK di kapal, pulang itu beberapa bulan sekali, anak sudah pada gede, yang cowok ikut bapaknya jadi ABK, yang cewek juga sudah kerja, tapi ngontrak di Bekasi, jarang pulang, karena itu ibu nggak ada kerjaan dirumah. Makanya cari kesibukan ngider, jualan keliling begini", ujar Bu Titin menjelaskan, agar Dila tidak merasa sungkan.


" Kalau begitu makasih banget ya Bu, saya mau pulang dulu, ternyata sudah hampir maghrib, nanti saya coba bicara dengan suami seperti saran ibu tadi. Semoga saja ada jalan keluar dari kerumitan yang terjadi hari ini".


Dila kembali ke parkiran motor, ternyata cukup lama dia berada di pantai, Dila buru-buru pulang, yang ada dipikirannya sekarang justru adalah El. El pasti mencarinya, selama ini Dila belum pernah pergi meninggalkan El selama saat ini.


40 menit perjalanan hingga Dila akhirnya sampai di rumah. Ari sudah menunggu Dila dengan khawatir di teras rumah.


" Kamu dari mana saja Dil?, itu El rewel banget nyariin kamu, Bi Darsih dan bi Ana nggak bisa buat El anteng. Anehnya lagi tadi bos pulang, El nggak mau diajak sama si bos. El kelihatan marah besar sama ayahnya".


Dila langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar El, tapi kamar El kosong. Dila melihat El ada di dapur sedang digendong bi Ana.


" Ibu Dila....!", El langsung merosot dari gendongan Bi Ana dan menghambur ke arah Dila.


" Ibu kemana saja sih, El takut ibu pelgi dan nggak kembali lagi kaya ibu El. Kalau ibu Dila pelgi El mau ikut sama ibu, El nggak mau ditinggal", El langsung memeluk Dila karena merasa takut ditinggal lagi.


" Maafkan ibu ya sayang, ibu tadi ada urusan penting, tapi nggak boleh ajak anak kecil, jadi El nggak ibu ajak. Sekarang kan ibu sudah pulang, kita istirahat di kamar El yuk, ibu capek banget".


Dila langsung membawa El menuju kamarnya. Indra yang berada dilantai atas menatap Dila lekat.


" Makasih ya Bi sudah dibantu jagain El seharian", ucap Dila pada bi Ana dan bi Darsih.


" Iya Dil, nggak papa, sekarang kamu istirahat saja kalau capek, biar El sama kami", ujar bi Ana.


" Nggak papa Bi, El sama aku saja, lagian nanti cuma tiduran di kamar, nggak bikin capek, sekali lagi makasih ya Bi". Dila masuk ke kamar El dan menutup pintu kamar itu.


" Ibu mau bersihin badan dulunya, El tunggu di sini, ibu ke kamar mandi sebentar".


Dila pergi ke kamar Indra untuk mengambil baju ganti, Indra mengikutinya dan masuk kedalam.


" Kamu dari mana saja?, El sejak tadi rewel nyariin kamu", Indra ikut masuk ke kamar mandi, berdiri dibelakang Dila yang sedang mencuci mukanya.


" Kita pasti akan bicara, tapi nanti, sekarang aku mau ngurus El dulu, jadi sekarang kamu keluar aku buru-buru mau ganti pakaian, El sedang menungguku".

__ADS_1


Indra menuruti kemauan Dila keluar dari kamar mandi. Dila langsung menutup pintu kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah bersih Dila langsung menuju ke kamar El, sama sekali tidak melirik, apa lagi menatap ke arah Indra yang berdiri di dekat pintu kamar.


__ADS_2