Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 72


__ADS_3

Dila kembali ke panggung resepsi bersama Indra, menyelesaikan sesi foto-foto. Sampai sore hari, barulah acara resepsi pernikahan Dila dan Indra selesai Dan acara masih terus berlanjut dengan penampilan dari biduan dangdut yang tampil di atas panggung.


Pihak keluarga dan juga pengantin memilih pulang kerumah untuk beristirahat, rasa lelah setelah bertemu dengan tamu seharian membuat mereka tidak berminat untuk menonton pertunjukan hiburan organ tunggal di lapangan. Meski masih banyak sekali warga yang berada di depan panggung hiburan untuk menikmati persembahan dari sang biduan dangdut yang cantik dan seksi.


Petugas keamanan masih terus berjaga, karena pertunjukan organ tunggal masih terus berlangsung hingga malam hari.


Dila sudah mengenakan pakaian biasa, kemeja motif bunga-bunga dan bawahan rok rimpel panjang berwarna putih.


Malam ini Dita sengaja menemani Dila duduk di ruang tengah untuk bersantai dan bersenda gurau dengan El. Sejak sampai kemarin El langsung lengket dengan Dita, karena Dita yang suka sekali bermain dengan anak kecil.


" Nanti kalau Tante Dita kangen sama Bu Dila, Tante Dita datang saja ke Jakarta, di Jakarta nanti El akan ajak Tante Dita jalan-jalan ke ragunan, atau Dufan, disana kita bisa main seharian, tenang saja ayah El yang akan traktir Tante Dita", El menggelayut di punggung Dita yang tengah duduk di kasur lantai depan rak TV.


" Tentu saja, Tante Dita pasti akan kangen sama Bu Dila dan El, suatu hari nanti pasti Tante Dita sampai ke rumah El di Jakarta, tapi tunggu sekolah Tante Dita libur, jadi masih lama, sekarang saja lagi liburan tengah semester, pas nanti libur kenaikan kelas, Tante akan main ke Jakarta, oke? ".


El tertawa kegirangan sambil mengangguk-angguk.


Dila yang melihat interaksi El dan Dita. yang bisa langsung akrab merasa senang, sekarang Dita sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, tingginya sudah sejajar dengan Dila, padahal saat ditinggal dulu, tinggi Dita masih sebahu Dila. Hanya saja bentuk tubuh Dita masih langsing, seperti jaman Dila SMA dulu, belum terbentuk secara sempurna, karena memang masih dalam masa pertumbuhan.


" El sayang.... sekarang bobo yuk, kan sudah malam, besok sore kita sudah harus kembali ke Jakarta lagi, karena banyak pekerjaan ayah yang terbengkalai di kantor", Dila mengajak El untuk masuk kamar.


Memang sudah 3 hari Indra tidak masuk kantor. karyawannya tentu saja tahu jika Indra sedang melakukan resepsi pernikahan di kampung istrinya. Terbukti dari banyaknya karangan bunga ucapan selamat menempuh hidup baru yang datang. Bahkan karangan bunga memenuhi halaman sampai ke jalanan disekitar rumah Dila.


" El bobo sama Tante Dita saja yuk.... Bu Dila kan pasti capek sudah berdiri seharian, terus kamar Bu Dila juga sempit, sudah ditempati sama Bu Dila dan ayah El, kalau kamar Tante Dita kan masih longgar tempat tidurnya, cuma ditempati sama Tante Dita saja, gimana, apa El mau?", bujug Dita sambil menggendong El dan membawa El untuk masuk ke kamarnya.


Tentu saja El langsung setuju, memang benar kamar Bu Dila sudah sempit karena ditempati dua orang dewasa, sedangkan kasur yang digunakan yang berukuran 160, sedangkan El sudah terbiasa tidur di kasur yang luas. Karena itu dengan senang hati El setuju tidur dengan Dita.


" Ajak El ke kamar mandi dulu Dit, biar nggak ngompol", seru Dila yang masih berada di ruang tengah.


Indra yang sejak tadi mengobrol dan menemui tamu bapak-bapak di ruang tamu kini masuk kedalam karena sudah mengantuk dan merasa lelah.


Pak Toto dan Pak Rizal yang masih menemani tamu-tamu yang baru datang. Semua memaklumi jika Indra capek, karena banyak berdiri selama resepsi pernikahan tadi siang.


Bu Fatma sudah berada di rumah Asna karena disana asyik ngobrol dengan ibunya Asna dan ibunya Dila, begitulah ibu-ibu, meski baru kenal, ada saja topik yang bisa mereka obrolkan. Dari resep masakan, membicarakan harga kebutuhan, gosip artis, dan berbagai macam topik yang selalu ada saja untuk dibahas.

__ADS_1


" Kita istirahat sekarang ?", Indra menatap Dila yang masih duduk di ruang tengah. Dila berdiri dan mengikuti langkah Indra masuk ke dalam kamarnya.


" Apa kamu punya nomor telepon Nino?, aku ingin bertemu dan bicara dengannya besok sebelum kita kembali ke Jakarta", tanya Indra sambil menutup pintu kamar Dila yang sempit karena hanya berukuran 3x3 meter, sedangkan kamar itu penuh dengan kado dan hadiah dari teman-teman Dila.


Dila menggeleng, " Coba datang ke balai desa saja, paling juga ada disana setiap pagi. Apa perlu Mas bertemu sama Nino?, tadi kan sudah ketemu", ucap Dila berhati-hati, jangan sampai Dila salah ngomong.


" Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadanya. Kalau kamu besok pagi sibuk mau bongkar kado dan berkemas, besok aku bisa menemuinya sendiri, itu justru lebih baik dan lebih nyaman untuk kami berdua".


Dan ternyata apa yang dikatakan Indra bukan hanya bualan semata, pagi-pagi Indra berpakaian rapi dan menanyakan letak balai desa pada ayah mertuanya.


Awalnya Toto khawatir kenapa Indra ingin menemui Nino, karena Toto tahu Indra sudah tahu siapa Nino di masa lalu Dila. Apalagi semalam begitu sering dibahas oleh para tamu yang datang, menyayangkan Dila yang berjodoh dengan orang jauh, padahal ada orang dekat dan berkualitas yang juga mau mempersuntingnya.


" Untuk apa pergi ke balai desa, bukankah nanti sore kalian sudah harus kembali ke Jakarta?", tanya Toto sengaja mengulur waktu.


" Saya mau minta dibikinkan surat pengantar pindah untuk Dila Pak, rencananya Dila mau pindah domisili menjadi warga Jakarta, memang setelah ini Dila akan ikut tinggal di rumah saya, karena itu harus diurus sekarang juga, sebelum kami berangkat ke Jakarta", Indra sengaja mencari alasan yang tepat, padahal Indra sebenarnya tak perlu repot-repot mengurus surat pengantar kepindahan Dila, karena biasanya akan diurus oleh orang kepercayaannya, itu hanya sebagai alasan agar ayah mertuanya tidak menaruh curiga mengapa dirinya menanyakan letak balai desa.


Toto pun memberi tahu letak balai desa dari rumahnya. Awalnya Toto hendak menemani Indra ke balai desa, namun sayangnya ada tamu lagi yang datang, sehingga tidak enak jika tamunya di tinggal begitu saja.


Dan setelah mengikuti petunjuk dari ayah mertua, Indra kini sudah berada di pelataran balai desa, yang cukup luas. Indra keluar dari mobil dan langsung masuk ke ruang pelayanan.


" Tentu saja bisa Pak, silahkan masuk ruang pak Kades saja", ujar salah satu pegawai desa yang sedang bertugas jaga.


Indra mengetuk pintu dan masuk ruangan Nino, sebelumnya Nino sudah diberi tahu terlebih dahulu oleh bawahannya jika ada suami Dila ingin bertemu dengannya.


" Pagi Mas Indra, ada apa gerangan pagi-pagi datang kemari?", Nino berdiri dan menjabat tangan Indra, berusaha berdamai dengan keadaan.


" Mau minta surat pengantar buat boyong Dila pindah ke Jakarta, sudah sedang di proses sama petugas di luar. Bolehkah saya minta waktunya sebentar, duduk disini dan bicara berdua saja dengan Pak Kades?", tanya Indra yang sejak tadi belum dipersilahkan duduk oleh Nino.


" Oh iya, tentu saja boleh, silahkan duduk". jawab Nino dengan cepat.


Kini Indra dan Nino saling berhadapan dalam satu ruangan, hanya meja kerja Nino yang menjadi pembatas mereka berdua.


" Apa mau ngopi?".

__ADS_1


Indra mengangguk, " Boleh".


" Mas Imam tolong buatkan dua kopi hitam, bawa kesini", Nino meminta tolong pesuruh balai desa untuk membuatkan kopi untuk dirinya dan Indra.


Indra nampak mengamati beberapa piala dan juga piagam yang dipajang di dinding dan lemari kaca yang ada di ruangan Pak Kades.


Bahkan ada foto Dila dan Nino bersama beberapa rekan yang lain dibelakang mereka, yang sedang mengangkat piala penghargaan dari bupati untuk karang taruna terbaik tingkat kabupaten tahun 20xx.


" Jadi apa ada yang mau dibicarakan?", Nino sengaja membuka percakapan mereka karena ruangan mendadak sepi.


Indra langsung kembali fokus pada Nino.


" Kemarin saat di resepsi pernikahan kami, saya baru tahu kalau Pak kades...".


" Maaf, karena hanya ada kita berdua disini panggil Nino saja, sepertinya usia Mas Indra jauh lebih dewasa dari pada usia saya", sanggah Nino menjeda ucapan Indra.


Indra mengangguk, " Baiklah Nino, saya kesini karena mau minta maaf secara langsung sama kamu, bagaimanapun kamu yang jauh lebih dulu mengenal dan dekat dengan Dila ketimbang saya", Indra menatap foto dimana ada Dila, Nino dan beberapa teman mereka di ruangan itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Ekspresi Nino nampak kaget mendengar permintaan maaf yang diucapkan oleh Indra.


Namun Nino masih tetap diam mencoba mendengarkan apa saja yang akan dikatakan oleh orang yang sudah merebut Dila darinya.


" Saya sendiri bingung mau memulai cerita ini dari mana, intinya, kamu tida perlu mengkhawatirkan Dila lagi, aku pasti akan membahagiakannya, karena aku juga sangat menyayanginya, begitu juga dengan semua keluargaku, anakku, ibuku, ayahku, semua menyayangi Dila, ku harap kamu bisa mengikhlaskan Dila menjadi milik ku. Seperti kata Dila kemarin, masih banyak gadis baik lainnya yang pasti bersedia dipersunting oleh kepala desa muda dan tampan seperti kamu", ujar Indra.


Nino hanya menghembuskan nafas panjang.


" Bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan, dan tolong di jawab dengan jujur".


Indra kembali mengangguk. Namun percakapan terjeda saat Mas Imam pesuruh balai desa menyajikan kopi untuk mereka berdua.


" Apa Dila langsung menerima lamaran Mas Indra saat Mas Indra mengajaknya menikah?". Nino ingin tahu apakah Dila berusaha menjaga janji pada dirinya atau langsung mengingkari begitu saja.


Indra awalnya tidak ingin membahas mengenai hal ini, tapi dia sudah terlanjur berjanji untuk bicara jujur, sebagai sesama laki-laki Indra pun bersikap fair.

__ADS_1


" Dila... sempat menolakku", jawab Indra sedikit tersendat.


Entah mengapa ada rasa bahagia yang tiba-tiba merasuk ke dalam hati Nino saat mendengar jawaban Indra barusan. Setidaknya Dila pernah berusaha memperjuangan janjinya. Tentang mengapa akhirnya Dila merubah keputusan dan menerima Indra, hanya Dila yang tahu jawabannya.


__ADS_2